
Pikiran Len kalut dengan keadaan sekarang dan khawatir dengan anya yang sempat ia lupakan tadi, ia takut berfikir macam-macam tentangnya, apa lagi mendengar wanita lain yang memiliki anak darinya.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel di tengah-tengah pikiran kalut nya.
"Katakan! " dingin Len dari sambungan telpon.
"Nona membawa mobil bugatti anda tuan! " kata penjaga garasi mobil.
"Kenapa kau berikan! " marah Len yang takut anya meninggalkannya, karena untuk pertama kalinya anya membawa mobil sendiri.
"Kata nona ada sudah mengijinkannya!! jadi saya melaporkan seperti biasanya tuan!! "
"Sial! " kata Len langsung mematikan sambungan telpon mereka.
Noberto yang biasanya tenang dalam menghadapi masalah sekarang juga terlihat cemas apa lagi melihat raut wajah tuannya yang semakin suram.
"Tuan!! bagamai.... " kata Noberto terpotong.
Bugh....
Satu pukulan mendarat indah di rahang noberto sampai terdorong ke belakang, tak ada niat untuk membalas ataupun marah, hanya diam memaklumi kekesalan tuannya.
"Ahhhhkkkkkkk". teriak kesal Len pada dirinya sendiri.
Tak lama dari teriakannya, masuk Norbert dan Dante dengan satu tangannya membawa ice cream, tersenyum pada sang papa, menghilangkan sedikit keresahan di hatinya.
Tapi senyuman pria kecil itu memudar saat tak melihat keberadaan mamanya.
"Mama? " kata Dante mulai akan menangis mencari ibunya.
Berjalan menghampiri papanya, dengan mata yang mulai berair. "Mama mana? " tanya Dante di hadapan papanya.
"Sayang!!!" kata Len sambil mengangkat tubuh kecil itu di gendongannya. " Mama pulang!! hari ini Dante sama papa oke? " kata Len menjelaskan.
"Mama gak akan ninggalin Dante seperti papa dulu kan!! " Dante memastikan.
"Hei, sejak kapan papa ninggalin kamu!! bahkan papa baru tahu kalau anak pintar ini anak papa, papa tidak mungkin ninggalin anak selucu Dante ? " kata Len memberikan penjelasan yang mudah di mengerti.
"Benarkah?? kata mama, papa ninggalin kami! Dante takut mama juga ninggalin Dante! " kata Dante dengan air mata yang jatuh.
"Tidak ada yang meninggalkan Dante. " kata Len sambil memeluk anaknya yang sedang menangis.
Dua pria kembar yang melihat kemesraan ayah dan anak menjadi terharu, setidaknya ada yang menghibur tuannya di saat keresahan nya.
"Kita pulang sekarang oke!! " kata Len yang baru menyadari matahari sudah tenggelam cukup lama.
__ADS_1
Ia merasakan waktu berlalu dengan cepat saat bersama putra yang baru ia ketahui. Memangku sayang pria kecil yang tertidur di perjalanan.
Mata tajam, rahang, hidung, hingga bibirnya mirip dengan dirinya waktu kecil, hanya saja dia tak se cengeng putranya saat ini.
Mungkin Len sangat membenci ibunya, tapi bukan berarti ia juga akan membenci keberadaan pria kecil di pangkuannya, Dante bahkan tak tau masalah orang dewasa, Len berjanji Dante akan menjadi prioritas utamanya, meskipun di hatinya juga ada anya seorang.
Flashback off
Baru saja menidurkan anaknya di kamarnya, terdengar dering ponsel milik Len dari bodyguard bayangan yang mengikuti anya.
"Ada apa? " tanya Len pada penelpon sambil menjauh dari putranya tidur.
"Nona masuk ke dalam club tuan! " lapor bodyguard.
"Jaga gadis nakal itu, aku akan ke sana sekarang!! " kata Len marah tak menyangka gadis kecilnya sudah mulai nakal.
Tanpa sempat mengganti pakaiannya, Len bergegas turun kebawah yang tak sengaja berpas pasan dengan Norbert.
"Kau ikut aku club rose! " kata Len pada Norbert.
Norbert mengikuti langkah Len meski tak tau kenapa tuannya pergi ke club.
Mobil mewah Len terus melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan perkotaan, hingga sampai di tempat tujuan.
Berjalan masuk kedalam club di ikuti Noberto dan beberapa bodyguard bayangannya yang sedari tadi sudah ada di club itu, menunjuk seorang wanita yang duduk pojokan bersama salah satu sahabatnya yang terlihat sedikit mabuk.
"Oh, Hai! " sapa anya santai dan kembali meminum minuman bersoda nya.
"Kau pulang sekarang!! " marah Len menarik tangan anya, tapi sebelum keluar Len menatap norbert, " Antar sahabat anya pulang! " perintah Len lalu menarik anya keluar dari club.
Tak ada penolakan dari anya, hanya ringisan sakit pada pergelangan kecilnya yang di genggam cukup kuat oleh Len.
"Mana kuncinya? " pinta Len pada anya yang tadi membawa mobil miliknya.
Anya langsung memberikan tanpa protes apapun, bahkan menatap dingin pada Len. Di dalam mobil pun tak ada yang berbicara,
Dengan Len tak tahu harus memulai bicara dari mana, dan anya yang lebih ke malas untuk berbicara pada pria kejam di sampingnya.
Bahkan sampai di dalam kediaman Backer pun masih tak ada pembicaraan, sampai ada pria kecil yang keluar dari kamar Len dengan menangis.
"Papa!! " tangis pria kecil itu di hadapan Len dan anya.
"Papa?? kau benar-benar sudah memiliki anak?? apa ibunya ada di dalam?? " pikir anya yang sudah ke mana-mana.
Anya melihat bagaimana ayah dan anak itu saling berpelukan, ia tak bisa membayangkan jika sang ibu juga ikut berpelukan bersama mereka, nantinya perih membayangkan itu.
__ADS_1
Tak ingin melihat adegan terlalu jauh, anya berlalu pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apapun bersamaan dengan tangisannya yang kembali tak tertahan.
Len menatap punggung anya yang bergetar sambil berjalan.
"Dia menangis Len!! kau tak menjelaskan apapun sedari tadi!! kau bodoh!!! " pikir Len menyalahkan dirinya.
"Papa, jangan tinggalkan Dante, jangan tinggalkan Dante! " kata pria kecil di gendongan Len yang membuyarkan lamunannya.
"Tidak!! papa hanya keluar sebentar kok!! kita tidur lagi ya!! " kata Len membawa sang anak masuk ke dalam kamarnya
Tak butuh waktu setengah Len menidurkan Dante kembali, yang sepertinya pria kecil itu kelelahan hari ini, dengan berlahan ia beranjak dari kamarnya, dan masuk ke dalam kamar anya yang ternyata tidak di kunci.
Bersamaan dengan Len masuk, keluar anya dengan rambut basah yang hanya mengenakan kimono, menatap dingin ke arahnya.
"Baby! " kata Len dengan lembut.
Membuat kening anya berkerut melihat perubahan sikap pria di depannya.
"Bukankah paman memanggilku anya tadi?? Aku lebih nyaman dengan panggilan anya!! " kata anya dengan dingin.
"Kenapa keramas malam-malam begini baby!! kamu juga baru sembuh kan! " kata Len perhatian.
"Jangan memberikan cinta palsu lagi paman!!! katakan intinya saja! " kata anya dengan dingin.
"Tidak ada yang palsu dengan perasaanku! " kata ken sedikit marah dengan tuduhan anya.
"Wow, aku percaya! " ledek anya dengan tersenyum sumbang yang memang tak akan mempercayai perkataan pria di depannya.
"Kau!!" geram Len. "Kenapa masuk ke dalam club, bahkan memakai pakaian seperti tadi!! apa kau mau jadi pelacur di sana. " kata Len yang marah malah memperkeruh masalah.
"Pelacur ya??? bagaimana dengan ibu dari anakmu??? sembarangan menumbuhkan benih?? " sindir anya juga membuat len meradang dan melenceng dari tujuan awalnya.
"Jangan bawa-bawa putraku!!! " kata Len dengan berteriak pada wajah anya.
"Aku mengatakan ibunya anak mu, bukan anakmu!!! kenapa kau harus semarah ini sialan!! jika kau peduli pada mereka untuk apa kau di sini sekarang!! jangan tunjukkan lagi sok kepedulianmu itu, jangan tunjukkan cinta palsumu lagi!!! Aku membencimu!! sangat membencimu!! selamanya akan membencimu!! keluar dari kamar pelacur ini sekarang sialan!! " teriak anya menggebu gebu, mata merah dengan bercucuran air mata.
Anya sudah di ambang batas rasa perihnya sekarang, ia sudah tidak kuat menerima rasa sakit yang sekali lagi di berikan pada pria di depannya.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...