
Dengan Anya yang memangku sayang anaknya, bersabar membantu sang anak dalam proses belajarnya, belum ada niat untuk masuk karena masih betah melihat pemandangan yang membahagiakan calon istri dan putranya.
Len sudah berani mengatakan calon istri karena sudah mengantongi restu dari kedua orang tua gadis kecilnya.
Hingga guru privat Dante mendekat pada kedua orang yang di sayanginya, sedikit menundukkan badannya agar sejajar dengan sang anak. Terlihat normal bagi orang biasa, tapi tidak dengan Len yang mulai terbakar api cemburu.
Apa lagi mereka terlihat kompak mengajari sang anak yang terlihat seperti keluarga bahagia.
"Apa-apaan ini! " batin Len dan mendekat pada tanpa ada yang menyadari.
"Apa yang kalian lakukan! " marah Len saat melihat kedekatan Anya.
"Saya sedang mengajar putra anda tuan! " kata guru privat itu dengan santai, karena ia merasa tak melakukan kesalahan apapun.
"Kenapa harus dekat-dekat! dan kamu, kenapa harus duduk di situ! biarkan Dante mandiri! " kata Len menyalahkan semua orang karena sifat cemburu dan posesif nya.
Mau tak mau Anya menurunkan Dante dari pangkuannya.
"Dante harus belajar sendiri ya! kalau tidak tahu tanyakan semuanya pada pak guru! tidak boleh menangis seperti tadi! pria kan harus kuat, tidak boleh cengeng! dan tidak ada yang akan memarahi Dante kalau Dante terus bertanya oke? " nasehat Anya yang di angguki Anya.
Anya lalu keluar tanpa menghiraukan Len di sana, terlalu malas meladeni pria yang selalu marah-marah tak jelas yang ujung ujungnya menyakitinya.
"Dante baik-baik belajar! papa keluar dulu! " kata Len berpamitan pada sang anak, dan mengejar Anya yang keluar lebih dulu.
Saat akan mengejar, ternyata yang di kejar berdiri di luar pintu dengan bersendekap dada menatap tajam Len.
"Baby! " kata Len dengan tersenyum hangat.
"Di mana kamar papa sama mama? " tanya Anya tanpa basa basi.
"Kenapa? jangan ganggu mereka! mungkin mereka lagi istirahat! " kata Len yang sebenarnya tau maksud pertanyaan Anya.
"Ya sudah! " kata Anya berlalu begitu saja, tentunya tak Len biarkan begitu saja.
"Mau ke mana? " tanya Len.
__ADS_1
"Mau makan! " kata Anya yang pergi ke dapur tempat anya membuat cake nya tadi.
Yang tetap di ikuti oleh Len, Pria yang biasanya gila kerja itu menjadi bingung saat memiliki waktu luang seperti sekarang, hobi saja membunuh yang tak mungkin ia lakukan di rumahnya, yang bisa ia lakukan hanya mengikuti kemana Anya pergi, gadis kecilnya yang suka memasak, belajar, dan mengurus hal-hal kecil, yang merupakan idaman setiap pria.
Apa lagi di usia matang dan berbuntut sepertinya, sangat cocok memiliki partner hidup yang keibuan seperti Anya.
"Ga ada kerjaan lain apa, ngikutin Anya terus! " kata Anya sambil memakan sepotong brownis coklat kesukaannya.
"Memang hari ini meliburkan diri! sekarang jadi bingung ngelakuin apa baby! " terang Len.
Anya mulai tak peduli saat setiap suapan kenikmatan masuk di mulutnya, sampai tak menyadari ada sisa-sisa coklat yang tertinggal di bibirnya, seolah mengundang Len untuk mencicipi bibir berlapis coklat di depannya.
"Bukannya sayang kalau harus di buang! " pikir Len melihat coklat di bibir Anya.
Berlahan Len mendekat tanpa di sadari Anya, dan nyelonong ******* bibir Anya untuk menghilangkan coklat di bibir Anya.
"Semakin manis! " kata Len setelah menyesap sebentar bibir Anya.
Karena terlalu singkat membuat Anya tak sempat memberontak, tapi menatap tajam Len yang asik mengomentari rasa bibirnya, dan tanpa di sadari len, Anya mencubit kecil penuh tenang di pinggang Len.
"Rasain! jangan cium-cium sembarangan!! "
"Salah sendiri nyisahin coklat di mulut, tau sendiri daddy tak bisa di goda sedikit!! " kata Len malah menyalahkan Anya.
"Yeee! siapa yang ngegoda!! enak aja!! situ yang mesum!! Ada kodong nungging juga bakalan berfikir mesum!! Apa lagi ada papa mama di sini!! "
" Jadi kalau tidak ada papa mama boleh dong? " goda Len.
"Ogah!! lagian Anya ga mau ngecewain papa mama nantinya saat tau anaknya udah sering ciuman. "
"Kenapa kecewa!! bahkan daddy sudah dapat restu dari mereka! " jawab Len santai yang membuat melongo Anya.
"Apa an sih, siapa juga yang mau nikah sama paman!!! " kata Anya sewot, menutupi kegugupan nya, baru memulai mengindari pria di depannya malah sekarang mendapatkan restu dari orang tuanya. " Lagian Anya sudah punya rasa sama orang lain! " kata Anya agar Len menyerah.
"Jangan bohong! aku tau kamu sangat mencintaiku dulu dan sampai sekarang, bahkan selama 6bulan yang lalu tidak ada yang menggeser namaku di hatimu!! kau tak pandai berbohong baby! " kata Len menatap lekat wajah Anya. " Kau masih ragu padaku? " tanya Len serius.
__ADS_1
" Sangat! " jawab Anya dengan kembali memfokuskan pada brownis nya.
"Aku akan membuktikannya! tapi jangan pergi dari hidupku, apa lagi membuka hatimu untuk pria lain., aku sangat mencintaimu! " kata Len dengan tulus.
"Aku juga mencintaimu! " jawab Anya yang hanya berani dalam hati saja.
"Kenapa Dante tadi nangis? " tanya Len karena tak kunjung ada kata yang terucap dari bibir Anya.
"Dia hanya bingung, tapi tak berani mengatakannya, entah ketakutan apa yang di berikan dulu, yang membuatnya tak percaya diri, bahkan untuk mengungkapkan perasaan sendiri saja tak berani. " jawab Anya jujur.
"Apa parah? " tanya Len.
"Menurutku iya, Tolong jika ada harapan kecil yang Dante inginkan, kabulkan saja jika itu baik untuknya, jika tidak baik katakan dengan pelan dan berikan solusi yang ia mengerti! jangan langsung katakan tidak!! penolakan adalah faktor besar ketidak percayaan dirinya. " kata Anya panjang lebar.
"Apa harus aku bawa ke psikolog?" tanya Len.
"Tidak perlu, sepertinya aku bisa mengatasinya dan di bantu orang di sekelilingnya!! Jangan langsung mengatakan tidak agar tak mematahkan harapannya, karena itu kunci kepercayaan dirinya! " nasehat Anya lagi yang membuat hati Len terenyuh.
Dengan Anya yang mencoba memandang wajah tampan pria di depannya, saling bertatapan cukup lama, sampai Anya tersadar dengan perbuatannya, menunduk kembali dan fokus pada brownis nya.
Sejatinya mereka saling mencintai dari dulu, karena kesalahan-kesalahan Len yang menumbuhkan keraguan di hati Anya, Len memang mengatakan akan berubah, tapi kalau hanya dari mulut siapa yang akan percaya, bahkan orang bisa bilang dia kaya kapan pun ia mau.
Benar jika lidah tak bertulang, yang di takutkan Anya lain di mulut lain juga di hati. Walau tak ada kebohongan yang ia ucapkan, tapi hati juga bisa berubah kapanpun tuannya mau, karena pada dasarnya sudah tertanam keraguan di hatinya.
Hanya satu yang di butuhkan orang yang sudah ragu, yaitu sebuah bukti mulut dan hatinya selaras yang nantinya akan memunculkan kepercayaan baru dari pasangan.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...