Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Dante Sakit


__ADS_3

Len merasa kasian dengan Anya yang terus di tempeli oleh anaknya selama di perjalanan tadi, yang untungnya Dante mengangguk setuju dan beralih ke gendongan daddynya.


dan pada akhirnya para rombongan pulang ke masing-masing rumah, dengan Senta yang di antar Carl, dan pria kembar yang memilih satu mobil dengan tuan dan nona nya.


Sesuai apa yang di janjikan Len tadi, di dalam mobil Dante kembali ke dalam pelukan Anya, walau dalam ke adaan sangat lelah telah melakukan perjalanan panjang tadi, Anya dengan sayang memangku Dante yang perasannya belum membaik.


"Kenapa hm? " ucap Anya dengan lembut mengelus pelan kepala yang bersandar di dadanya itu.


"Tidak! " jawab Dante.


"Baiklah, sekarang Dante boleh sedih, tapi tidak untuk besok oke? " ucap Anya yang di angguki Dante. " Mau tidur lagi? " tawar anya yang hanya dapat gelengan kepala. " Baiklah! " ucap Anya lagi dengan sedikit menghela nafas untuk menetralkan rasa lelahnya.


"Lelah baby? " tanya Len mengusap sayang pipi tunangannya.


"Tidak! " ucap Anya dengan tersenyum manis.


Walau Anya mengatakan tidak hanya takut Dante merasa tak nyaman padanya, Len bisa tau dari mata Anya yang mengisyaratkan kalau di sangat lelah, membuat len sangat kasian melihatnya.


"Dante dengan daddy oke? " ucap lembut Len yang mendapat gelengan kepala dari Dante. "Lebih nyaman pelukan daddy! sini dengan daddy! " rayu Len yang tetap mendapat gelengan kepala dari Dante, malahan memalingkan pandangannya ke arah kaca pintu mobil.


" Biarkan saja! " ucap Anya di akhir


Saat sudah di depan kediaman Becker Anya mulai merasakan tubuh Dante yang panas tapi Dante memeluknya dengan erat seolah ia kedinginan, yang membuat Anya mulai panik.


"Sepertinya Dante demam! " ucap Anya sebelum Len turun dari mobil, sembari menyentuh dahi putranya yang memang panas.


"Apa? " kaget Len menatap sang anak. " Dante sakit? apa yang kamu rasakan hm?" tanya Len dengan lembut walau wajahnya penuh kepanikan, tapi lagi-lagi hanya ada gelengan kepala oleh Dante.


"Bawa masuk ke dalam dulu Dante nya! " perintah Anya yang di angguki Len.


Dengan segera Len membawa tubuh panas anaknya ke dalam kamarnya, ia sangat panik berhadapan dengan situasi yang baru ia rasakan, apa lagi menyangkut tentang anak, ia lebih memilih panik saham perusahaan menurun dari pada mendengar sang anak sakit sampai-sampai meninggalkan Anya yang masih di bawah.


Sedangkan Anya yang masih di bawah, memerintahkan pak pet untuk mencarikan nya obat penurun panas untuk anak-anak beserta kompresan, dan air hangat untuk Dante. Setelah memerintahkan pak pet, Anya bergegas naik ke atas menuju kamar Len.


"Baby! " ucap Len yang panik berlebihan.

__ADS_1


"Tak apa! aku sudah meminta obat dan kompresan pada pak pet, Dante akan baik-baik saja setelahnya! " ucap Anya yang setidaknya mengurangi rasa panik Len.


"Mom! " panggil Dante yang membuat anya bergegas berbaring di samping tubuh kecil yang tiba-tiba sakit itu.


"Iya! mommy di sini sayang! " ucap Anya memeluk dente seperti sebelumnya, mengusap punggung Dante dengan sedikit memijat. "Jangan tidur dulu! Dante minum obat dulu sebelum tidur ya! " ucap Anya lembut yang di angguki Dante. " Mungkin ini yang ngebuat Dante diam sedari tadi! dia sedih meninggalkan grandma nya sampai sakit seperti ini! " ucap Anya pada pria yang berdiri dengan wajah yang masih khawatir. " Tak apa! besok juga akan sembuh! putraku ini anak yang kuat tau! " ucap Anya lagi mencoba menghibur Len .


Bersamaan suara ketukan pintu dari luar kamar Len, dan bergegas membukanya karena Len tau siapa yang datang.


"Biar aku saja! " ucap Len menerima nampan di tangan pak Pet.


"Baik tuan! permisi! " ucap pak pet sebelum beranjak dari depan pintu kamar Len.


Len kembali melangkahkan kakinya ke arah ranjang miliknya mendekat sang anak yang berbaring di sana.


"Dante minum obat dulu sayang? " kata Anya yang mulai duduk di ikut Dante tanpa mengatakan sepatah katapun.


Dan tanpa drama apapun Dante meminum obatnya dengan mudah, yang tak lupa kompresan di keningnya tertempel dengan baik, kembali merebahkan tubuh kecil itu yang meminta di peluk kembali oleh mommy nya.


Len sedih melihat pemandangan di depannya, sampai pikirannya melayang saat sang putra belum bertemu dengannya, bagaimana nasib anaknya saat sakit dulu dengan ibu yang tak pernah mempedulikannya, merasakan sakit sendiri di usianya yang begitu kecil, dengan melihat Dante yang hanya diam saja saat sakit, Len tau kalau sang anak terbiasa memendam sakitnya sendiri tanpa sengaja memperlihatkan sebuah tindakan yang sudah biasa ia lakukan, memikirkannya hal itu membuat Len tanpa sadar meneteskan air matanya.


Yang tentu saja Len merebahkan tubuhnya ke sisi yang anak tunjuk tadi, memeluk kedua orang yang begitu berharga baginya.


"Kenapa jadi cengeng gini sih! " ucap Anya mengelus rahang berbulu milik Len.


"Aku mencintaimu baby! " ucap Len yang tiba-tiba dengan mencium kening Anya.


"Aku tau itu! " songong Anya yang membuat Len tersenyum kecil. "Aku tau kau sangat tergila-gila pada gadis ingusan ini tuan Becker! " ucapnya lagi dengan lebih sombong.


"Ya! semua karenamu nyonya Becker! " balas Len.


"Huuuffttt! aku tak menyangka akan bertunangan dengan umurku yang semuda ini! dan mencintai pria yang berumur jauh dariku! " curhat Anya .


"Ya, dan aku juga tak menyangka akan begitu mencintai daur muda yang cantik dan seksi ini! " balas Len.


Tapi percakapan mereka terhenti saat mendengar rengean kesakitan dari pri kecil di pelukan Anya.

__ADS_1


"Mommy! " ucap Dante dengan suara serak.


"Ya sayang! " jawab Anya.


"Mommy! " ucap Dante lagi yang merasa tak nyaman untuk berbaring.


Dengan berlahan Anya bangun dari tidurnya, berniat menggendong Dante tapi di hentikan lebih dulu oleh Len.


" Biar aku saja! " ucap Len menggendong anaknya tentunya di angguki Anya.


Dante tak menyadari siapa yang menggendongnya, sampai pria kecil itu merasa beda dengan pelukannya sekarang, membuka matanya sedikit dan melihat siap yang menggendongnya.


"Mommy! " ucap Dante yang hanya ingin menempel pada Anya.


"Dengan daddy sama saja! " ucap Len.


"Mommy! " ucap Dante dengan suara bergetar.


"Berikan padaku! " pinta Anya pada Len.


"Ck, manja sekali kalau sakit hm?? jangan sakit-sakit kalau kau tak ingin malu melihat daddy saat kamu sembuh nanti! " ucap Len sambil memberikan Dante ke gendongan Anya, ia tau betul anak nya yang sering membuatnya mati kutu itu berubah manja jika sedang sakit merusak citra cool nya yang susah bayah Dante bangun.


Anya mulai menimang-nimang agar bayi besar yang sedang sakit itu bisa tertidur kembali, karena tak mungkin ia terus-terus menggendong Dante dengan berat lumayan untuk ukuran Anya.


Sedangkan Len memandangi pemandangan haru di depannya, tunangannya dan anaknya yang begitu saling menyayangi walau tak ada darah di antara mereka, ia sangat beruntung memiliki Anya dan Dante menjadi keluarga kecil bahagia tanpa ia pikir sebelumnya.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2