
"Maaf! apa masih sakit? " tanya lirih Anya yang merasa bersalah itu.
"Sangat!!! ssshhhhhhttttt!!!! " Len pura-pura merintih kesakitan yang semakin membuat panik Anya. "Kau berniat balas dendam?? rasakan akibatnya!!! hahahhahaha!!! " batin Len bahagia.
"Aku minta tolong pak Pet untuk membawa paman Bastian kesini oke! " ucap Anya yang panik langsung berlari keluar tanpa menunggu jawaban dari Len.
"Bastian?? tunggu!!! bab! baby!!! " teriak Len yang tak setuju ucapan Anya , tapi Anya sendiri tak mendengar teriakan Len dari dalam kamar. " gawat! dia pasti mengolok-olokku setelah ini! " kesal yang tadinya ingin mengerjai Anya malah mendapatkan getahnya sendiri.
Tak berselang lama Anya kembali dengan nafas naik turun begitu cepat, yang tentu saja Len tau apa yang terjadi pada gadisnya.
"Kenapa lari-lari hm? " tanya Len menatap gadis yang mendekat di sisi ranjang yang ia tempati.
"Aku takut terjadi hal serius padamu! aku.. aku juga meminta memanggil paman Bastian secepatnya! maafkan aku, aku tak berniat mencelakai mu atau merugikan mu seperti ini! maaf! " sesal Anya.
"Aku sebenarnya tak apa, tak ada yang sakit sekarang! " ucap Len mendapat gelengan kepala Anya.
"Jangan menahannya untuk tak membuatku merasa bersalah, biarkan di periksa dan di obati agar merugikan mu nanti! maaf! kalau pun nanti kamu tak bisa memberikanku keturunan, tidak apa-apa, masih ada dante di antara kita, dia kan putraku juga! aku tak akan meninggalkanmu sampai kapan pun! " ucap Anya yang menjadi sangat serius.
Len yang mendengar perkataan Anya hanya bisa melongo sendiri, Kata-kata yang terdengar hanya omong kosong itu membuat Len kaget karena tak akan berekspektasi sejauh ini, sepertinya niat membalas Anya malah akan menjadi boomerang sendiri untuk nya.
"Aku benar tidak apa-apa baby! kalaupun mau buat anak sekarang pun juga bisa! Aaakkkkkhhhhhh!!! " teriak pelan Len sakit saat tangannya tak sengaja terpelintir saat Anya duduk di atas ranjang sebelahnya tempat tangannya berada.
"Tuh kan sakit! diam lah oke! " ucap Anya salah paham.
"Tidak baby, yang sakit ini.... "
Ceklek...
Suara pintu kamar Len terbuka memotong ucapan Len dengan Bastian masuk tanpa permisi karena panik dengan laporan pak Pet barusan.
"Ada apa? kenapa dengan raja terakhir ini? " ucap Bastian.
"Emmm... dia!! dia..!!! " bingung Anya menjelaskan.
Anya saja bingung apa lagi Bastian yang melihat tingkah dia manusia itu yang aneh bahkan Len hanya memijit pelipisnya dari pada menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang sakit di tubuhnya.
"Hei kalian kenapa? jelaskan dengan baik! mana yang sakit? " tanya Bastian.
"emmm!!! sebenarnya aku tadi memukul mr. P nya daddy! dia bilang nanti tidak bisa memiliki keturunan lagi atau tak bisa melayani ku saat jadi istri nanti!! bisakah periksa dia jadi impoten atau tidak? tapi tadi aku tak memukulnya dengan keras kok!!" tanya Anya dengan serius sedikit malu.
"Buuffttt!! buhhahahahahhajahaa!!!! " tawa Bastian yang sudah di duga oleh Len. "Kau percaya dengan ucapannya?? " tanya Bastian bersusah payah menghentikan tawanya yang di jawab anggukan oleh Anya. " hahahahhahahahahahahaha!!! tawa nya pecah kembali melihat jawaban Anya.
"Tolong periksa daddy, aku takut ada apa-apa padanya!! aku tak ingi
n dia berkecil hati nantinya walau aku akan tetap menerimanya dengan keadaan apapun dia nantinya! " ucap Anya serius tanpa mempedulikan tawa Bastian.
"Ehem! mari saya periksa tuan! " ucap Bastian membuat Anya bergeser sedikit dari samping Len.
__ADS_1
"Tak perlu! " ucap Len menatap tajam pria yang menertawai nya tadi, lalu menatap melas pada Anya. " aku sebenarnya tak apa baby! tadi aku hanya acting saja! " ucap Len untuk menyudahi drama sore ini.
"Tidak, tolong periksa daddy! aku tadi benar-benar memukulnya!! aku bisa merasakannya! " ucap jujur Anya, membuat Bastian menahan tawa.
"Hahaha... ini jadinya jika berbuat mesum dengan gadis kecil yang bahkan tak memiliki pengalaman apapun! " batin Bastian
"****! kenapa jadi seperti ini? " batin Len kesal. " Baby! dengarkan aku baik-baik! Aku tak apa! tak ada sakit atau merugikan ku! aku hanya acting tadi! dan aku sama sekali tidak impoten, aku juga bisa membuatmu hamil sekarang juga! " ucap len serius.
"Tapi tadi aku sudah me....! "
"Dan kau keluarlah! " ucap Len menunjuk Bastian dan sengaja memotong ucapan Anya.
"Hanya begini saja? bahkan aku tak melakukan tugasku! padahal aku sudah siap siaga sampai mengendarai mobilku dengan cepat tadi! " protes Bastian.
"Aku akan transfer lebih nanti! " ucap Len.
"Oke! semoga hari kalian menyenangkan! " ucap Bastian bahagia dengan segera pergi dari kamar Len.
"Tunggu paman!! aku takut... "
"Dengarkan perkataanku tadi baby! " tekan Len memotong ucapan Anya lagi. "Kalau kau tak percaya, cium aku sekarang dan dia pasti akan berdiri setelahnya! " ucapnya lagi saat hanya ada mereka berdua di kamar.
Anya terdiam mendengar perkataan Len, walau masih khawatir sepertinya cara yang Len katakan bisa membuktikan beda itu bisa berfungsi atau tidak setelah apa yang ia lakukan tadi.
"Mau mencoba? " tanya Len lagi yang sepertinya mendapatkan keuntungan dari kejadian barusan.
Di barengi dengan Anya yang mulai mendekat pada bibir Len, jarang-jarang Anya memulai duluan yang membuat Len merasa mendapatkan jekpot sekarang.
Cup. ..
Satu kecupan tertempel yang tak lama di barengi *******, cukup lama, sangat lama sampai Anya menyudahi sendiri acara ciuman mereka, menatap pria yang juga menatapnya dengan mata tajamnya yang terlihat sayu.
"Apa sudah? " tanya Anya lalu menatap si boy dari balik celana Len.
"Kau bisa melihatnya bukan? " ucap Len yang di angguki Anya. " dia masih bekerja dengan baik baby! " ucap Len terbukti. "Mau coba memegangnya? " tanya Len.
"Ti.. tidak!! aku tak berani memegangnya! " ucap jujur Anya yang hanya melihat benda yang terlihat besar dan panjang.
"Mau lihat? " tawar Len lagi.
"Ti.. tidak!! aku belum siap juga melihatnya!! " jujur Anya tak siap melihat benda yang hanya pernah ia lihat di pelajaran biologi itu.
"Baiklah! sekarang tak apa tak siap! tapi nanti saat menikah siap tidak siap kamu harus melihatnya baby! " ucap Len merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjangnya.
"I... iya!! " gugup Anya.
Tok, tok, tok
__ADS_1
"Dad, mom? " teriak Dari luar kamar.
"Masuk sayang! " ucap Anya sedikit berteriak.
ceklek....
"Aku mencari mommy ke mana-mana! " ucap Dante melangkahkan kakinya menghampiri Anya, tanpa mempedulikan pria yang sedang telentang memperhatikan gerak-geriknya. " Apa puding mangganya sudah jadi?? " tanya Dante.
Membuat Anya otomatis menatap sedih pria yang melarangnya ke dapur tadi, lalu menatap ke arah putranya kembali.
"Maaf, mommy.... "
"Lihat jari mommy mu, daddy tak memperbolehkan nya ke dapur lagi, kalau mau apa-apa minta ke pak Pet! " ucap Len memotong ucapan Anya, yang sepertinya pria itu sekarang gemar memotong ucapan Anya.
"Mommy terluka?? jangan masak lagi kalau begitu! mommy istirahat saja, aku di masakkan siapa saja juga tak masalah mom! " ucap Dante khawatir melihat dia perban di dua jari ibu sambungnya.
"Tepat sekali! " ucap Len setuju.
" Baiklah, kau mau puding mangga mu hm? " tanya Anya yang dia angguki Dante. " Minta ke pak Pet, mommy sudah memesannya tadi? " ucap Anya.
"Terimakasih mom! bye!" ucap Dante berlari keluar tanpa berpamitan pada ayah kandungnya.
"Hati-hati, jangan lari-lari sayang! " teriak Anya yang tak ada jawaban dari pria kecil yang jauh keluar dari kamar daddynya.
"Dia selalu lupa dengan ku saat bersamamu! " ucap Len.
"Tidak, dia tak sejahat itu!" bela Anya. "ini sudah sore, mandilah! aku juga akan mandi!! dan turun nanti, akan aku siapkan puding untukmu nanti! " ucap Anya beranjak dari ranjang Len.
"Ya!! aku akan mandi baby! " jawab Len.
cup..
"Mandi daddy! " ucap Anya mencium pipi Len sebelum pergi.
Membuat len semangat mandinya jika mendapatkan perhatian kecil seperti barusan, apa lagi mendapatkan ciuman yang begitu berharga bagi Len, dengan segera beranjak dari ranjangnya untuk melakukan rutinitas sorenya.
.
.
.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
__ADS_1