
"Lalu kau dengan sengaja datang ke perusahaan ku hm? dengan berlahan meminta pengakuan juga hm!! kau pikir aku tak punya calon istri dan anak di rumah ha! siapa kau dengan mudahnya mengklaim aku papa anakmu ha, kau pikir kau pantas ha! nama belakangku bahkan tak pantas bersanding dengan nama anak mu yang bahkan tak tau siapa papa kandungnya!!" ucap len mulai menunjukkan kemarahannya .
Jleb...
"Akkkkhhhhh!!!! " jerit wanita itu takut bercampur sakit.
Satu tusukan len arahkan pada leher samping yang memang ia sengaja untuk lebih membuat wanita itu takut.
"Kau ingin bermain-main dengan ku kan dengan menganggap ucapanku hanya bualan saja hm?" ucap Len menatap wanita yang ketakutan itu.
"Ti.. tidak, ma.. akan aku, beri kesempatan sekali lagi, aku akan benar-benar pergi dari hidupmu, da.. dan aku akan mengatakan pada putriku kalau kau bukan papanya, hiks!! maaf, lepaskan aku! " mohon wanita itu dengan menahan rasa sakit di lehernya.
"Maafkan aku juga, karena aku tak sebaik itu! sudah ku katakan, kalau kita bertemu lagi dengan atau tanpa sengaja kau akan mati di tanganku, aku juga tak akan segan untuk membunuh orang yang mengusik kehidupan ku, dan kau mendapatkan dua kesalahan itu yang otomatis kau akan mendapatkan rasa sakit dua kali lipat dari siksaan yang biasanya! " ucap len tersenyum sumbang.
"Hiks!! maaf.. maaf , demi putriku aku mohon beri kesempatan sekali lagi! " ucap wanita itu dengan penuh permohonan.
"Harusnya kau berfikir dua kali untuk bermain-main dengan ku! " ucap Len bersamaan dengan ia menunjukkan sebuah foto anak perempuan yang sangat lusuh pada wanita yang berbaring dengan darah yang terus mengucur di lehernya. " Demi dia?? benarkah demi dia?? dia bahkan seperti pengemis dan berbanding terbalik dengan mu sebagai ibunya!! " ucap Len yang sempat miris dengan keadaan gadis kecil di ponselnya. "KAU BOHONG! " tekan Len di akhir.
Dengan beberapa kali sayatan Len mulai memberikan goresan di kedua lengan wanita itu hingga terdengar suara jeritan berkali kali dan cukup kencang di bibirnya, tak hanya sampai di situ, Len membuka satu botol wine di tangannya yang bukannya untuk di minum tapi dia tuangkan ke arah luka sayatan yang ia buat tadi.
"Akkkkkkhhhhh... ampun!!!!! akkkkkhhhhhh!!! ampun, sakit!!! tolongggg!! " jerit wanita itu yang merasakan begitu perih yang tak bisa di gambarkan akibat Len menuangkan satu botol wine nya tadi.
Tanpa memusingkan jeritan demi jeritan yang Len dengar, ia tetap melakukan hal yang sama di beberapa bagian tubuh wanita itu dan kembali menuangkan wine di luka yang ia buat, sampai tak bisa membedakan mana warna merah darah dan mana warna merah wine, sangking begitu banyaknya noda merah di sekujur tubuh dan lantai di sekitar wanita itu.
Tak henti-hentinya jeritan itu terdengar walau Len menghentikan kegiatan yang menurutnya menyenangkan, dengan tenang Len duduk di kursi sambil menuangkan satu botol wine ke dalam gelas untuk ia minum, menikmati kesakitan yang sengaja ia tonton untuk beberapa lama.
Tapi dengan berlahan suara jeritan itu mulai menurun sampai terdengar hanya sebuah rintihan, Len yang merasa kurang puas, berdiri dari posisi duduknya dan berjalan mendekat pada wanita yang terlihat tak berdaya itu.
__ADS_1
Dengan senyum cerahnya, Len mulai menyayat kembali di luka yang sama yang membuat yang tadinya hanya sayatan sekarang terlihat lebih menganga.
"Aakkkkkhhhhhhhh!!! sa.. sakit!!! ampun!!! " jerit wanita itu kembali terdengar yang sepertinya belum benar-benar sekarat.
Len terus melakukan hal yang sama di beberapa luka yang sudah ia buat tadi, dan menambah genangan cairan merah di sekitar tubuh wanita itu, setelah kembali mendengar jeritan kesakitan itu, Len duduk dan menikmati suara itu dengan wine nya tadi.
Hal itu kembali ia ulang-ulang sampai suara jeritan tadi berubah suara rintihan yang hampir tak terdengar, apa lagi beberapa daging yang seperti akan memisah dari tulang-tulangnya dan yang membuat hebat adalah sang wanita yang masih bernafas walau dengan begitu lemah.
Len yang juga sudah puas malah meninggalkan tubuh wanita itu walau masih hidup sekalipun.
"Biarkan dia seperti itu sampai pagi, jika masih hidup tembak mati saja! " ucap Len pada anak buahnya yang selalu berdiri di luar pintu, dengan kejam Len masih memberikan siksaan di ujung hidup wanita itu.
"Baik tuan! " ucap anak buah Len sebelum sang tuan pergi.
Satu jam berlalu semenjak menyiksa wanita itu, Len sudah berganti pakaian bersih dan tubuh yang juga bersih dari noda darah dan bau amis darah, dan kembali duduk bergabung dengan Noberto di bar mininya yang saat ini juga terdapat adik kembar dan Mike di sana.
"Apa rencanamu untuk gadis kecil itu? " tanya Noberto yang masih membahas anak dari wanita yang baru saja ia siksa.
"Kau tau sendiri dia tak mau pindah di tempat terkutuk itu karena ibunya bilang kalau papanya akan menjemputnya di sana suatu saat nanti! " ucap Noberto .
"Ck, apa yang tak basa kalian lakukan untuk memaksa anak berusia 5 tahun! jangan banyak beralasan untuk membuatmu turun tangan , aku tak sudi! " kesal Len lalu menatap Norbert adik dari Noberto. " Kau carikan panti asuhan terbaik untuk perkembangan gadis kecil itu. " ucap Len lalu menatap Mike. " kau yang memindahkan nya dengan paksaan sekalipun dan ambil beberapa helai rambut dan berikan pada Dia! " ucap Len menunjuk Noberto. " dan kau tau tugasmu kan? " tanya nya lagi menatap sang asisten sekarang.
"Ya, Melakukan tes DNA! " jawab asisten Noberto.
"Tepat sekali, dan lakukan dengan cepat, bagaimana pun dia hanya anak yang tak mengerti apapun masalah orang dewasa! walau sangat kesal kalau mengingat aku lah yang dia anggap papanya! ingat tugas kalian masing-masing! " ucap Len mengingatkan di akhir.
"Baik tuan! " ucap ke tiga pria bawahannya bersamaan.
__ADS_1
"Aku pulang dulu! jangan lupa hadir di acara pernikahanku! " ucap Len kembali mengingatkan anak buahnya.
"Sudah pasti kami akan datang! kalau tidak sama aja menyerahkan nyawa kami! " ucapan Norbert mewakili abang dan temannya itu.
"Tepat sekali!! " ucap Len yang terlihat ceria itu. " Bye guys! " ucap Len melambaikan tangannya sebelum pergi.
Sedangkan 2 pria yang ada di bar mini itu menyaksikan dengan jelas keanehan tuannya menjadi merinding sendiri, dengan wajah syok yang tak bisa di gambaran, sedangkan Noberto hanya terlihat biasa saja seolah memang sudah biasa.
"Oh God, boss kalian kenapa? " Ucap Norbert di tengah rasa syoknya.
"Dia boss mu juga sialan! " jawab mike. " Bubar-bubar, jadi merinding berada di sini! " ucapnya lagi dan beranjak pergi lebih dulu.
Norbert yang melihat itu langsung menatap kakak kembarnya yang terlihat biasa saja.
"Ayo pulang! aku juga merinding di sini lama-lama! " ucap Norbert mengajak sang kakak beranjak pulang.
Noberto hanya bisa geleng geleng pelan mengikuti langkah sang adik untuk pulang.
"Bagaimana denganku yang setiap hari melihat ke random an nya setelah menjalin hubungan dengan nona!" batin Noberto yang sebenarnya sempat di posisi adik dan temannya itu.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...