
Hanya dalam waktu 20 menit Anya bisa menghabiskan 2 potong brownis sekaligus, Len yang melihatnya sampai menelan ludahnya sendiri, ia kira wanita cantik seperti Anya akan menjaga pola makannya.
"Kau tak takut gendut? " tanya Len yang melihat makannya Anya.
"Aku akan rakus kalau dengan coklat, besok aku akan olahraga!! tak akan gendut jika seimbang! " kata Anya santai yang masih sempat mencuil sedikit.
"Mau kemana? " kata Len yang melihat Anya beranjak.
"Mencuci ini! " tunjuk Anya pada piring kotor yang baru ia pakai.
"Biar pelayan saja! " kata Anya dan len bersamaan, bedanya Anya dengan nada mengejeknya.
"Aku bukan kamu yang apa-apa harus di layani!! dan sekali lagi aku bisa melakukan sendiri! " tekan Anya yang muak melihat tingkah Len.
"Aku hanya tak ingin kamu kelelahan baby! " kata Len yang sebenarnya mengkhawatirkan Anya.
"Hanya satu ini! apanya yang lelah! " sewot Anya.
Len tak berani menjawab perkataan Anya lagi setelah mendengar nada tak enak dari perkataan Anya, sepertinya bibit-bibit suami takut istri sudah mulai terlihat, Len terus membiarkan Anya melakukan pekerjaannya sendirian.
Dari mencuci piring sampai mengembalikan brownis nya ke tempat semula, tak terdengar protesan Len sampai sebuah tangan bertengger cantik di pinggang Anya.
Tapi tak berlangsung lama karena sebuah teriakan sang anak yang mencarinya.
"Papa!! nyanya!! " panggil dante dari kejauhan.
"Ck, pengganggu! " batin Len melihat anaknya yang mulai mendekat, bukannya tak sayang tapi waktunya tak tepat.
"Hai Dante!" sapa anya pada pria kecil dengan membawa bukunya.
"Apa belajarnya sudah selesai? " tanya Len yang menurutnya memang belum waktunya selesai.
"Belum! Dante mau menunjukkan ini! " kata Dante sambil menunjukkan tulisannya yang berantakan. " Dante bisa menulis, dan tadi bisa sedikit membaca! " kata Dante dengan bahagia.
"Wahhh hebat sekali!! dalam sehari sudah bisa menulis!! tapi besok-besok harus lebih rapi sedikit biar tambah cantik!! " kata Anya yang di angguki senang Dante.
"Benar kata nyanya!! tapi putra papa sudah lumayan jago! " Len menimpali.
"Siap!! Dante akan belajar lagi! " kata Dante berlari ke ruangannya lagi.
Ada rasa hangat di hati kedua orang dewasa yang melihat tingkah Dante yang begitu menggemaskan.
"Dia punya semangat belajar yang tinggi! " kata Anya sambil tersenyum pada Dante yang berlari, yang mengingatkan Anya pada kaki Dante yang sakit. " jangan lari! kakinya masih sakit! " teriak Anya agar bisa di dengar.
"Baik nyanya! " jawab Dante dari kejauhan, dan berjalan pelan seperti yang nyanya nya mau.
"Kau selalu perhatian pada anaknya, pada papanya juga dong! " protes Len.
"Anaknya lebih membutukanku dari pada papanya! " jawab Anya santai.
__ADS_1
"Siapa bilang!! papanya juga butuh! " kata Len dengan manja.
" kalau butuh tidak akan di sakiti kan! " sindir Anya.
"Maaf, aku sedang berusaha berubah sekarang! maafkan aku! " kata Len dengan menunduk.
"Buktikan! " kata Anya tanpa sadar memberikan kesempatan pada pria di depannya.
"Benarkah? " kata Len mendongakkan wajahnya dengan berbinar bahagia.
"Apa?" tanya Anya bingung.
"Kau minta bukti bukan?? kau memberikan aku kesempatan lagi kan? iya kan? yeeeeeee!!! " kata Len bahagia mengangkat tinggi-tinggi tubuh Anya tanpa mendengar jawaban Anya.
Tapi di hati Anya ada terbesit kebahagian melihat orang yang di cintainya bahagia, walau masih ada keraguan di hatinya.
"Bukankah dia akan membuktikannya!! aku tunggu hari itu akan tiba!! " batin Anya meyakinkan dirinya sendiri.
Cup, cup, cup...
Tiga suara kecupan di kening dan kedua pipi Anya yang di berikan oleh Len, ia ingin mencium bibir Anya lagi sebenarnya, tapi ia tak akan merusak momen bahagianya hari ini. Mulai dari restu hingga kesempatan untuknya.
"I love you baby! " kata Len dengan penuh cinta, meski tak ada jawaban dari kata cintaanya, Len tak mempermasalahkan itu, karena suatu kesempatan sudah cukup baginya untuk saat ini.
"Semoga keputusanku tak salah lagi " batin Anya berdoa agar pria di depannya tak menyakitinya lagi.
*****
"Bagaimana dengan belajarnya tadi? " tanya mama Rosa.
"Sangat menyenangkan! Dante bisa membaca dan menulis grandma! " kata Dante menjawab antusias.
"Bibit cerdas mu menular Len! " kata papa oscar yang di setujui Len.
"Dante tidak kangen mama? " tanya mama Rosa yang membuat anya khawatir, apa lagi melihat perubahan wajah Dante yang tiba-tiba sedih.
"Apa-apa an ini!! " batin Len yang melihat raut wajah sedih anaknya karena ucapan mama Rosa.
"Kenapa mama bicara seperti itu! " batin Anya sebal, sekaligus khawatir.
Tak hanya Anya, Len juga khawatir sebagai seorang ayah yang tau kelakuan ibunya, ia bingung termasuk semua orang di sana dengan arah pembicaraan mama Rosa yang mendadak.
"Dante kangen, tapi dante takut kalau ada di samping mama! " kata Dante dangan suara pelan.
"Bagaimana dengan mama baru? " tanya mama Rosa yang malah membuat Anya bingung kecuali dua pria dewasa di sana.
Len mulai paham arah pembicaraan mama Rosa yang mulai mengenalkan mama baru pada Dante, yang sempat membuatnya berfikir negatif tadi.
"Apa mama baru akan jahat juga? " tanya Dante yang tak tau.
__ADS_1
"Tidak, mama barunya baik hati, dan suka sekali dengan Dante! " kata mama Rosa dengan santai.
"Siapa yang suka Dante selain aku?? tunggu!!! bukankah paman tadi bilang papa dan mama sudah merestui kami!! jadi itu aku kan!! " pikir anya yang baru sadar.
Dante yang mendengar perkataan grandma barunya mulai menatap papanya, ada rasa tak rela papanya bersanding dengan wanita lain, tapi ia tak mau papanya bersama ibunya yang jahat, ia mau papanya bahagia dengan orang baik tak seperti ibunya.
"Tak apa jika tidak mau Dante! " kata mama Rosa dengan lembut yang memupuskan harapan dua sejoli yang duduk di hadapannya.
"Tidak, tidak!! tak apa ada mama baru, asal dengan orang yang baik! " kata Dante dengan cepat memberikan harapan baru untuk Len dan Anya.
"Ibu seperti apa yang Dante inginkan selain baik? " tanya mama Rosa memancing, ia tahu Dante sangat menyukai anaknya.
"Seperti nyanya! " kata Dante yang mengembangkan senyuman Len.
"yes!! terimakasih mama! maaf tadi sempat berfikir buruk ma!! " kata Len dengan bahagia.
"Tapi apa nyanya bisa jadi mama Dante! " kata Dante sekali lagi penuh harap.
" Tentu saja bisa! " jawab Len dengan sengat. " Auuu!!! " aduh Len yang malah mendapatkan cubitan di pinggangnya.
"Papa kenapa? " tanya Dante khawatir.
"Papa tidak apa-apa, sepertinya ini sudah malam, Dante tidak ingin tidur? " tanya Anya mengalihkan.
"Mau, malam ini Dante mau tidur dengan grandma!! boleh kan pa? " ijin Dante pada sang papa.
"Boleh, asal tidak menyusahkan grandma! " jawab Len.
"Boleh grandma! " kata Dante pada mama Rosa.
"Iya, lets go kita tidur! " kata mama Rosa menggandeng Dante menuju ke kamarnya meninggalkan sang suami dengan wajah sebabnya.
"Putramu menganggu saja! " kata papa Oscar sebelum beranjak mengikuti langkah istrinya.
Yang di sambut tawa anya dan Len setelah papa Oscar pergi, pria paruh baya itu marah karena kesenangannya harus di tunda karena kehadiran Dante.
"Kita juga tidur sekarang! " kata Len sambil menarik pergelangan tangannya. Mengantarkan Anya sampai ke depan pintu kamarnya. "Selamat malam baby! " kata Len memberikan kecupan di kening Anya, yang di jawab anggukan kepala.
Len kembali ke kamarnya sendirian tak seperti beberapa hari ini yang selalu di temani putranya, belum juga lama ditinggal sang anak sudah merasa kangen, apa lagi terbayang-bayang wajah Anya yang sangat cantik.
Tak ingin larut dalam lamunannya, Len mulai menidurkan tubuhnya di ranjang mahalnya.
.
.
.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...