Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Kamar Baru


__ADS_3

Menekan sesuatu yang keras di bawah bokong Anya, tidak sampai di situ, berontakan Anya menciptakan gesekan-gesekan yang semakin membuat Len gelisah.


Yang pada akhirnya melepaskan Anya dalam pangkuannya.


"Besar dan keras! " kata Anya dalam hati.


Berdiri menatap Len yang terlihat menahan sesuatu.


"Kau bisa tidak menahannya sedikit saja boy, kau murahan sekali !! tau saja mana sarang yang ori dan berkualitas!! " batin Len yang berbicara pada boy, benda yang hanya bisa berdiri dan lemas.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan pintu terdengar membuat dua anak manusia yang hanya diam dengan pikiran masing-masing itu menoleh ke sumber suara bersamaan.


"Biar aku saja. " kata Len yang akan membuka pintu kamar.


Saat di buka muncul pak pet kepala pelayan yang mengantarkan dua koper besar milik Anya. Karena memang hanya pak pet pelayan yang boleh naik di lantai paling atas milik Len pribadi.


"Saya mengantarkan koper nona kecil tuan! " kata pak pet.


" Bawa masuk! " perintah Len, lalu melebarkan daun pintu yang Len buka tadi.


"Kenapa membawa sendiri!! sini Anya bantu! " kata Anya yang akan membantu malah di cegah oleh Len. "Ck, kau tidak berperi kemanusian! " kata Anya lagi.


Pak pet memasukan 2 koper Anya di ruang ganti, tanpa berani menatap lebih lama nona kecil dengan banyak tanda merah di lehernya.


"Astaga tuan, kau ganas sekali!! " batin pak pet syok sekaligus senang, karena tuannya sudah mulai merajut cintanya kembali.


"Saja permisi tuan nona! jika nona butuh apa-apa bisa panggil saya dengan telpon di sana! " kata pak pet akan keluar, tapi di hentikan oleh Anya.


"Tunggu, nama bapak siapa? " tanya Anya.


"Dia pak pet kepala pelayan di sini! " Len yang malah menjawab. "keluar dari sini pak pet! " perintah Anya.


"Kau juga keluarlah! Anya capek!! " usir Anya.


"Baby, yang tadi kan belum selesai! " kata Len dengan memelas.


"Yang tadi apa? " tanya Anya yang memang tak mengerti.


"Yang seperti ini. " kata Len menarik Anya menuju ranjang.

__ADS_1


Mendudukkan badan kecil Anya di atas pangkuannya yang saling berhadapan, tapi tak lama karena Anya langsung berdiri dari pangkuan Len.


"Jangan macam-macam paman! " kata Anya memperingatkan Len.


Len yang terlanjur kecewa, berdiri menghampiri Anya mengangkat tubuh Anya lalu ia lempar pelan ke arah ranjang.


"Stop! " kata Anya yang sedikit takut.


Tapi tak di gubris oleh Len, saat akan merangkak menjauh, kaki Anya di tarik dengan kuat sampai membuat Anya kembali seperti semula, telentang dengan dua kaki yang di lebarkan.


Len menindih tubuh kecil Anya tanpa memperdulikan berontakan Anya, mencium bibir kecil Anya, melahap semuanya seolah bibir Anya adalah makan yang lezat.


Anya yang sedari tadi diam mulai terlena berlahan yang akhirnya membalas ******* Len. Len yang merasakan itu tentu sangat senang, mulai lebih memperdalam ciumannya karena Anya sudah mulai tak berontak lagi.


Berlahan tapi pasti, Len menaikkan kaos yang di kenakan Anya tanpa di sadari sang pemilik. Ia memasukkan tangannya ke dalam bra yang masih terpakai, meremas pelan benda gantung cukup besar itu.


"Shhhhhhh... ssssttooppp!! " kesah Anya saat ciuman mereka lepaskan.


Bibir dan otak Anya seolah tak singkron saat ini, ia meminta berhenti tapi menikmatinya. Tentu saja membuat Len semakin suka , ******* kembali bibir Anya dengan satu tangannya yang memilin pucuk kecil berwarna pink sari balik bra.


Len yang merasa kurang puas, mulai mengeluarkan satu buah gunung Anya dari dalam bra, memandang sebentar keindahan yang belum seberapa itu, apa lagi dengan wajah Anya yang penuh gairah, terlihat sangat seksi.


Len mulai mendekat akan melahap satu buah gunung Anya yang keluar, tapi kepalanya di tahan oleh tangan kecil Anya.


"Baby!! maaf baby, daddy kelewatan ya, maaf!! " kata Len yang melihat air mata Anya.


Meski kecewa permainan menyenangkannya terhenti, tapi Len tak akan egois memaksakan keinginannya.


Len memasukan buah gunung itu kembali pada tempatnya, lalu menurunkan baju Anya yang sempat ia buka tadi. Menghapus air mata gadis kecilnya itu dengan lembut.


"Maafin daddy ya! " kata Len mengecupi kening Anya, sambil merebahkan tubuhnya ke samping gadis kecilnya yang belum selesai menangis, ia mengesampingkan boy nya yang sudah tegak sempurna itu.


Tak ada jawaban dari bibir Anya, Len menarik tubuh Anya kedalam pelukannya, menciumi kepala Anya dengan sayang.


"Anya murahan! " kata Anya di sela tangisannya.


"Tidak!! Anya bukan wanita murahan baby! " tegas Len yang tak suka dengan kata- kata Anya.


"Bahkan tadi Anya menikmatinya!! Anya murahan dengan mudah mau melakukan seperti itu. " kata Anya lagi.


Ada rasa bahagia saat Anya mengakui bahwa ia juga menikmatinya tapi Len juga kesal dengan perkataan Anya di akhir.

__ADS_1


"Dengar baik-baik, kau bukan wanita murahan, wanita murahan itu mau melakukan dengan banyak pria, sedangkan kamu hanya pada daddy baby, kau bukan murahan. " terang Len.


Yang lagi- lagi tidak ada jawaban dari Anya, Len hanya pengusap-usap punggung Anya dengan pelan untuk meredakan.


"Anya tak mau seperti itu lagi. "


"Baiklah! " kata Len tanpa pikir panjang. "Tapi tidak janji!! " lanjut Len dalam hari.


Tak ada percakapan lagi antara mereka berdua, tapi Len tetap menepuk-nepuk punggung Anya pelan, yang tak lama mendengar dengkuran harus dari bibir Anya.


Len melepaskan pelukannya dengan hati-hati, lalu menghapus air mata yang tersisa di area mata Anya, memandangi wajah ayu Anya yang tertidur.


"Kau se imut ini jika tidur gadis kecil, aku akan memperjuangkan mu sampai hati ini menjadi milikku kembali, kau harus ingat itu!! " kata Len pada wanita yang tertidur.


Beranjak dari ranjang anya lalu menyelimuti gadis kecil yang saat ini sedang mengarungi mimpinya. Mencium kening dan bibir Anya sekilas sebelum beranjak pergi.


Setelah menutup pintu Anya dari luar, Len dengan buru-buru masuk ke dalam kamarnya, tak lupa menguncinya dan berjalan ke arah kamar mandi.


Yang ternyata sedang menuntaskan si boy yang ternyata sedari tadi masih berdiri tegak.


"Ahhhhh.... Anya. " kata Len di akhir pelepasan.


Dengan nafas yang tersengal-sengal Len menatap si boy yang tadinya berukuran jumbo berubah menciut, dengan cairan putih kental di lantai makar mandi.


Ia selalu memakai Anya sebagai fantasi liarnya selama ini.


"Sabar, kau akan bisa memasuki sarangmu nanti jika sudah waktunya!! aku tak habis pikir, kau murahan sekali jika dekat-dekat baby ku, awas saja kau membuat baby ku menangis seperti tadi lagi. " kata Len pada si boy yang sudah mengerucut, dan menyentil si boy.


"Akkkhhhhh!! " jerit Len, dia yang menyentil , dia sendiri yang kesakitan.


Sudah tau sakit jika di sentil masih saja di lakukan. Cinta memang membuat orang menjadi bodoh.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2