Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Berdebat Kembali


__ADS_3

Carl semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh senta bergetar karena tangisannya. Carl tak menyangkan Senta adalah wanita yang sangat kuat dari apa yang ia lihat sebelumnya, bagaimana tidak, Senta harus melihat orang tuanya membawa sugar masing-masing di kerumah yang sebenarnya tak pantas di sebuah rumah itu, bahkan tak segan - segan bermesraan di depan putri mereka.


Anak mana yang tak hancur hatinya saat melihat kegiatan orang tuanya, saat sang anak mengidam-idamkan keluarga utuh dan harmonis seperti keluarga yang lainnya.


"Sudah! " ucap senta yang masih di peluk Carl.


"Benar sudah tak apa? " tanya Carl yang masih khawatir dan merasa berat melepaskan pelukan mereka.


"iya! Terima kasih pelukannya!! itu membuatku jauh lebih baik! " ucap senta membuat Carl tersenyum hangat.


"Aku akan memberikan pelukan ini setiap hari kalau itu selalu membuatmu jauh lebih baik! " ucap Carl.


"emmm!!! ide bagus! " ucap senta dengan tertawa kecil. " aku akan masuk! kau pulanglah, Hati-hati di jalan! " ucap senta yang akan keluar mobil tapi di tahan oleh Carl. " Apa? " tanya senta dengan mode awal.


"Jangan terlalu bersedih karena mereka! ada aku di sini, kau bisa cerita padaku jika itu di perlukan, apapun itu, dan aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun oke! " ucap Carl menatap serius senta.


"Oke! terimakasih Carl! " ucap senta yang kembali akan turun dari mobil tapi kembali juga di tahan oleh Carl. " apa lagi? " kata senta lagi.


"Tak ada kiss untukku? " pinta Carl.


Cup...


"Sudah! " ucap senta setelah memberikan ciuman di pipi Carl dan berlalu keluar mobil begitu saja.


Sedangkan Carl tersenyum bahagia meski hanya mendapatkan nya di pipi, walau dia seorang player dan biasa akan sentuhan, tapi rasanya sangat berbeda jika di dapatkan dari wanita yang sangat ia cintai walau nya sekedar di pipi, ada kebahagiaan yang tak tergambarkan jauh dari sebuah hasrat sesaat.


Dengan ciuman di pipi yang sangat membekas di hatinya, Carl melajukan mobilnya kembali ke apartemennya dengan senyuman yang seolah tak pernah memudar.


*****


Di sebuah pulau pribadi tak berpenghuni, hanya terdapat mangunan megah dari luar dan seperti penjara dari dalam.

__ADS_1


Audrey, ibu yang melahirkan anak len itu tak hanya di kirim ke luar jerman, tapi juga di tempatkan di pulau pribadi, kehidupan terjamin, dan tentu saja mendapatkan tempat tinggal, hanya saja minusnya ia akan menjadi tahanan tampa bisa pergi, yang bisa di lakukan hanya bertahan atau mati.


Bukan Len tak tega membunuhnya, seperti yang di katakan di awal, ia tak ingin menyakiti perasaan sang anak jika harus melihat kenyataan menyakitkan itu, yang bisa ia lakukan yaitu mengurung wanita ular itu seolah ia pergi tanpa mengingat putranya lagi, walau sebenarnya Audrey memang tak seperti itu.


"Apa-apa an ini? " tanya Audrey marah saat tau ia di bawa kemana.


Tak ada jawaban dari anak buah Len yang dengan kasar memaksa Audrey untuk masuk ke sebuah kastil yang terlihat mewah itu, dan Audrey semakin marah saat tau isi kastil itu.


"Kalian menipuku?? tuan sialan mu itu menipuku! liat saja!!!aku akan keluar dari sini nanti, dan membalas perbuatan sialan kalian ini!!!" teriak Audrey marah sebelum di masukkan ke dalam kamar yang lebih terlihat seperti penjara.


"Ck, kau terlalu meremehkan tuanku! kau pikir dia masih peduli dengan mu? sampai meminta bantuan padanya!! kalau ia mau membunuhmu itu bisa ia lakukan dari dulu!! kau bahkan tak tau gerak-garikmu selama ini di pantau oleh tuan, dan itu juga terjadi oleh pria yang kau cintai itu!!! kalian bodoh! " ucap anak buah Len.


Sedangkan Audrey yang mendengar fakta itu langsung syok, ia tak tau kalau Len akan sekuat itu, ia pikir pria itu akan mudah ia bodohi seperti yang sudah-sudah dan ternyata itu salah besar, dialah yang bodoh selama ini.


"Kau sudah di berikan kesempatan oleh tuan tunjuk pergi, tapi kau kembali dan kembali menyerahkan nyawamu sendiri padanya!! nikmati hidupmu sekarang, karena itu balasan dari apa yang kau lakukan selama ini! " ucap anak buah itu sebelum pergi dari sana.


"Tidak! aku tidak mau di sini!! keluarkan aku dari tempat sialan ini!!? " teriak Audrey tak ada yang menggubris .


*****


5 hari setelah kejadian jari Anya yang sempat terbakar, dan 2 hari sebelumnya ia sudah di perbolehkan masak di dapur dengan segala bujuk rayunya tapi tetap dalam pengawasan Len tentunya, tapi hari ini juga ia kembali tak di perbolehkan memasak atau hanya sekedar masuk ke dapur.


Alasannya hanya karena jari anya kembali terluka karena goresan sangat kecil karena pisau dapur yang bahkan darahnya tak menetes sedikitpun. Tapi respon lebay Len membuat Anya benar-benar muak dengan kelakuan pria itu.


"Come on! ini luka kecil yang bisa terjadi saat di dapur! jangan melebih-lebih kan!! aku saja tak merasakan sakit! " ucap Anya yang kesal walau sebenarnya goresan sekecil apapun pasti merasakan sakit.


"Benarkah tak sakit? " ucap Len juga kesal gadisnya membangkang. Dengan sengaja Len menekan luka yang di plester itu dengan cukup kuat.


"Akkkkhhhhh! sakit!! kau benar-benar ya! " marah Anya menatap tajam pria yang sengaja menekan lukanya.


"Apa? kau bilang tak sakit tadi! pokoknya jangan ke dapur lagi sampai kapanpun!! kau cukup duduk dan nikmati semua!! ini yang membuatku melarang keras kau masuk ke dapur, aku tak suka melihatmu terluka baby! " kata Len seperti ibu-ibu yang sedang marah.

__ADS_1


"Astaga! ini hanya luka kecil, dan ini bisa untukku!! kau terlalu lebay dengan mengatakan tak boleh kedapur lagi! aku hanya ingin menyenangkan perut putraku! " ucap Anya yang tak mau mengalah.


"Dengan resiko kau yang terluka seperti ini?? bahkan bakar mu yang dulu saja belum sembuh, kau sudah menambah luka kembali!!! aku sangat tak suka itu, lebih baik tak usah ke dapur lagi! lagian chef juga bisa menyenangkan perut putraku! " ucap Len teguh pada pendiriannya.


Tanpa mereka sadari banyak pasang telinga yang mendengarkan perdebatan mereka, tak luput juga pak Pet dengan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang taun yang banyak bicara saat bersama nona nya.


"Tapi aku juga mau menyenangkan perut putraku, jangan larang-larang aku lagi iiiiiihhhh!! " ucap Anya yang hampir menangis sangking kesalnya menghadapi pria aneh di depannya.


"Tidak bisa,kalau kau selalu terluka saat di dapur seperti ini mending tak usah ke dapur sekalian! " ucap Len tegas.


"Aku janji tak akan terluka lagi! jangan larang oke? " ucap Anya bernego dengan hati dongkol nya.


"Janji apa? kau saja sudah terluka lagi, untuk apa janji-janji!! lebih baik tak usah ke dapur, selamanya pun tak usah! kau cukup duduk dan nikmati saja apa susahnya sih, kau tak akan terluka kalau menurut padaku! " ucap Len yang tetap tak mau mengalah walau ia bisa melihat wajah wanitanya yang memerah menahan amarahnya.


"Hiks!! ya sudah jangan nikahi aku! untuk apa menikah dengan pria yang menghalangi kebahagiaanku!! hiks! " kesal Anya yang bahkan menangis , menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil dan berjalan meninggalkan Len.


"Hei, tunggu!!! baby! kau tak boleh bicara seperti itu!! " ucap Len panik mengejar langkah tunangannya itu.


Meski tak di hiraukan, Len tetap mengikuti kemanapun Anya melangkah, yang ternyata masuk ke dalam kamar sang putra, yang sepertinya ia akan menjadi bahan bullyan putra dan tunangannya setelah ini.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2