Cinta Pria Kejam

Cinta Pria Kejam
Dante tes


__ADS_3

Anya berlahan membuka pintu kamar Dante setelah memberikan morning kiss untuk papanya dan berniat memberikan kejutan untuk sang anak karena dua hari ini ia sibuk sampai tak bertemu Dante selain pagi hari di meja makan.


Ceklek..


Suara pintu terbuka, memperlihatkan pria kecil yang masih tidur di ranjangnya dengan begitu pulas, Anya berjalan menghampiri Dante berniat membangunkannya.


"Dante!! " panggil Anya dengan menepuk pelan pipi halusnya. " Bangun Dante! " panggil Anya sekali lagi sembari beberapa kali menepuk pelan pipi Dante.


Yang tak lama Dante membuka matanya, menatap wanita yang tak ia sangka akan ada di kamarnya pagi-pagi, menggercap gercapkan matanya lucu menyesuaikan sinar di sekitarnya.


"Pagi nyanya! " sapa Dante yang sudah terduduk di ranjangnya.


"Pagi sayang! ayo mandi!! hari ini ada tes kan! " kata Anya mengajak pria kecil itu ke kamar mandi.


"Iya!! Dante bisa ke kamar mandi sendiri nyanya! " kata Dante yang tau maksud ajakan Anya.


"Baiklah, nyanya tunggu di sini oke! " kata Anya yang mendapatkan gelengan kelapa. " kenapa? " sedih Anya yang mendapatkan penolakan, takut kalau Dante marah karena kesibukannya dua hari ini.


"Dante malu saat berganti pakaian nanti jika ada nyanya di sini! " kata Dante yang membuat Anya lega.


"Oke, oke!! Anya tunggu di luar!! panggil Anya jika membutuhkan sesuatu! " kata Anya mengelus sayang kepala Dante, dan berjalan keluar dari kamar Dante.


Saat Anya keluar dari kamar Dante pas bertepatan dengan Len yang berdiri di depan kamar sang anak, tersenyum hangat dengan wajah segar dan pakaian santainya.


"Kenapa keluar??? Kemana Dante nya? " tanya Len tak melihat sang anak ikut keluar dari kamar.


"Masih mau mandi, malu kalau aku ada di dalam kamarnya! " kata Anya menjelaskan, membuat Len tertawa kecil mendengar tingkah anaknya.


"Seperti orang dewasa saja! " cibir Len.


"Dia memang lebih dewasa di banding papanya! " sarkas Anya untuk orang di depannya.


"Mana ada!!! ayo kita tunggu di bawah saja! " ajak Len .


"Tidak mau, aku udah janji mau tunggu Dante di sini, kalau mau turun dulu ya turun aja!! " tolak Anya.


"Ya udah, daddy tunggu di sini juga saja! " kata Len yang mengikuti Anya.


Tak butuh waktu 10 menit Dante keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi, menatap dua orang dewasa yang ia sayangi sedang menunggunya di luar.


"Ada papa juga! " kata Dante yang kaget papanya juga menunggunya apalagi dengan pakaian santainya yang padahal bukan hari libur.


"Ya! ada pria kecil yang berkata malu!! jadi kami berdua harus menunggunya di luar demi pria kecil yang malu tadi! " kata Len yang semakin membuat Dante malu sampek pipinya merah merona.


"Sudah, sudah!! jangan dengarkan papamu!! kita turun sekarang!! " kata Anya mengajak Dante pergi agar tak membuatnya semakin malu.


"Ck, di tinggal lagi! " kata Len yang kembali tertinggal di belakang, tapi dengan segera ia mengikuti langkah dua manusia yang paling ia cintai.


"Papa tidak ke kantor hari ini? " tanya Dante saat sudah memasuki lift.

__ADS_1


"Tidak!! hari ini papa mau dampingi kamu tes! " kata Len yang membuat Dante tersenyum bahagia karena di limpahkan kasih sayang yang ia idamkan dari dulu.


"Bagaimana dengan nyanya? " tanya Dante bergantian menatap Anya.


"Sudah papa bilang kalau nyanya ak.... "


"Tentu saja nyanya bisa! " kata Anya memotong perkataan Len.


"Benarkah?? " binar bahagia yang tak berlangsung lama. " Bukanya nyanya akan mengikuti ujian semester?? Dante tak mau nyanya ternganggu dengan menemani Dante! " kata Dante yang pengertian walau tak sebahagia tadi.


"Nyanya memang mau ikut semesteran tapi hari ini memang tidak ada jadwal kuliah, jadi bisa temani Dante! " kata Anya berbohong di akhir.


"Anya! " panggil Len dan menggeleng pelan karena ia tau Anya ada kuliah pagi hari ini, yang bahkan ada kelas tambahan untuk mempersiapkan ujian semester mendatang.


"Lets go!!!! kita makan sekarang! " ajar Anya penuh semangat dengan menghiraukan gelengan kepala Len.


"Lets go! " jawab Dante tak kalah semangat.


"Bagaimana aku tak semakin cinta dengan mu baby, kalau kau selalu mengutamakan kebahagiaan putraku dari segalanya! " kata Len melihat Anya yang berjalan beriringan dengan Dante yang mulai menjauh dari tempat ia berdiri.


"I love you! " kata Anya tanpa suara dari kejauhan yang menyempatkan menoleh sebentar pada Len yang masih berdiri di depan lift.


"Tuh kan!! jadi makin cinta! " kata Len yang gemas melihat tingkah Anya yang berada atau jauh darinya. Dengan semangat 45 Len melangkahkan kakinya yang satu tujuan dengan Anya.


*****


"Kau gugup sayang? " tanya Anya saat guru pembimbing Dante sudah datang.


"Kau baru putraku! " bangga Len melihat sang anak yang mulai menunjukkan kepercayaan dirinya.


"Sayang, nanti pelan-pelan jawab lembar soal nya ya, di teliti baik-baik, di cek kembali sebelum di jawab, jangan lupa berdoa juga, kalau tidak bisa jangan di paksakan, jawab yang kamu bisa saja!! kalau mau menyerah tinggal bilang saja, nyanya dan papa ada di sini sampai tes Dante selesai, dan satu lagi jangan lupa tulis nama Dante di lembar jawaban nanti, itu sangat penting sayang!! dan dengarkan penjelasan guru di dalam oke! " kata Anya mirip ibu-ibu yang khawatir dengan tes pertama sang anak.


"Lupa nama pun tak masalah! tok di dalam hanya Dante saja yang melakukan tes! " kata Len yang jengah mendengar nasehat yang membuatnya muak.


"Baik nyanya! Dante masuk dulu! " kata Dante pamit dengan kedua orang dewasa di depannya.


"Iya sayang! " kata Anya sedikit khawatir.


"Jangan terlalu khawatir! dia pasti bisa mengatasinya! " kata Len sambil melangkah tubuh kecil Anya dengan satu tangannya.


"Bagaimana tidak khawatir, ini tes pertamanya bagaimana kalau di dalam ia kesulitan nanti!! " omel Anya.


"Doakan saja!! jangan ngomel terus oke! " kata Len membuat Anya menghela napas panjang.


"Baiklah! " kata Anya yang sudah pasrah.


Setelah 2 jam menunggu, Anya menjadi resah karena Dante tak kunjung keluar dari ruangan, yang tadinya duduk diam sekarang mondar-mandir tak jelas.


"Kamu kenapa sih? " kesal Len dengan sikap lebay Anya.

__ADS_1


ceklek...


Suara pintu terbuka dan akhirnya keluarlah Dante dengan senyum kecilnya, yang membuat Anya berjalan cepat menghampiri pria kecil itu, tanpa mempedulikan papanya yang sedari tadi kesal melihat tingkahnya.


"Dante sayang! " panggil Anya sambil memeluk tubuh Dante dengan perasaan lega. " Kamu baik-baik saja kan sayang? " tanya Anya.


"Dante baik!! " jawabnya meski bingung dengan pertanyaan Anya.


"Lebay! " cibir Len lalu menatap guru pembimbing Dante yang malah asik memandang wajah gadisnya. " Ehem!! " dehem Len mengalihkan perhatian guru muda itu. " Bagaimana dengan kemampuan putraku? " tanya Len dengan menatap tajam pria yang berani-beraninya memandang gadis yang ia cintai.


"Emmm... se.. seperti yang di harapkan tuan!! pu...putra anda adalah anak yang cerdas!! dan la.. layak untuk mengikuti pembelajaran sekolah se usianya! " jawab guru muda itu sedikit takut dengan tatapan tajam pria yang di kenal kejam itu.


"Jadi mulai kapan Dante akan masuk sekolah seperti biasa? " tanya Anya menatap guru muda itu, yang tanpa ia sadari prianya merasa cemburu dengan tatapan Anya.


"Setelah semester yang akan datang nona!! tapi dalam 2 minggu ke depan Dante akan tetap homeschooling dulu, untuk mengasah kemampuannya yang hebat itu! " jawab guru muda itu sembari menatap juga wajah ayu Anya, mengagumi sikap ramah dan penyayang nya. "Sangat cocok di jadiin ibu dari anak-anak ku nanti! " batin guru muda itu yang tak tau bahayanya mengidamkan seorang Anya.


"Berarti setelah ini masih lanjut pembelajarannya? " tanya Anya lagi.


"Untuk hari ini sudah cukup, karena Dante sudah bekerja dengan keras!! " yang di jawab anggukan pelan Anya sembari mengelus sayang kepala Dante. " Sa.. saya permisi dulu nona dan tu.. tuan! " gugup guru muda itu berpamitan yang tak sengaja menatap wajah Len yang semakin suram, sepertinya ia mengurungkan niatnya untuk menjadikan Anya sebagai ibu dari anak-anak nya jika harus bersaing dengan pria sempurna dan menyeramkan itu.


"Ya!! Hati-hati pak! " ramah Anya tersenyum hangat.


"Kau melupakan seseorang? " tanya Len dingin setelah kepergian guru pembimbing Dante.


"Ha? " bingung Anya membalikkan badannya menatap pria yang sedari tadi berdiri di belakangnya yang juga di ikuti Dante.


"Kau melupakanku! " kata Len dengan wajah marahnya.


"Ha? " jawab Anya yang masih bingung dengan kemarahan dan kata-kata yang keluar secara tiba-tiba. " Kapan? " tanya Anya yang tak peka.


"Papa cemburu! " cletuk pria kecil di samping Anya yang memang sangat peka dengan sekitar.


"Cemburu? " tanya Anya pada Dante yang semakin membuatnya bingung, dan kembali menatap wajah marah Len. " Kenapa bisa cemburu?? dengan siapa coba? " bingung Anya menjadi-jadi.


"Entahlah!! dengan guruku mungkin, karena hanya dia pria dewasa yang sedari tadi ada di sini selain papa! " Dante yang malah menjawab.


"Astaga!! kamu cemburu aku bicara dengan guru tadi? Ck, tak masuk akal sekali cemburumu itu!! " kata Anya yang malah membuat Len semakin marah. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Len pergi menjauh dari Anya dan Dante.


"Lah!!!! " melongo Anya melihat sikap kekanakan Len yang semakin hari semakin menjadi jadi.


.


.


.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2