
"Tuan muda, Nyonya besar sudah datang." Ketukan pintu itu pun terdengar, menarik segala pemikiran Arvin saat itu juga untuk segera keluar dari kamar.
KLEK....
Penampilan sempurna dari Tuan muda Arvin, sukses menarik perhatian semua orang yang ada di sana. Sampai menganggap bahwa laki-laki yang baru saja keluar dari pintu ajaib itu, berhasil merubah sosok Tuan muda mereka menjadi sosok yang terlihat lebih dewasa.
"..........." Arvin hanya terdiam sambil mengamati satu per satu wajah dari orang yang masih berada di dalam apartemen nya. 'Aku akan menikah? Kenapa sangat konyol sekali, hari ini statusku bukan lagi lajang. Aku benci ikatan ini, tapi jika aku tidak menerima keputusan dari nenek, aku tidak akan mendapatkan apapun. Wanita licik, dalam sekejap kau berhasil menghancurkan masa mudaku. Awas saja dia. Karena kau awalnya memang pelayan, sekalipun di atas kertas kau adalah Istriku, aku kan tetap menganggapmu pelayan.
Walaupun aku tadi sempat tidak terima dengan ucapannya Daseon, tapi saran dan rencana yang dia katakan kemarin, aku terpaksa menjalani ini.
Setidaknya, aku akan mendapatkan dua keuntungan. Pertama, dia adalah pelayan, rumah ini sudah pasti akan di urus dengan baik oleh wanita itu, sedangkan yang kedua, aku tidak akan mendapatkan kerugian lain, selain aku bukan lagi seorang lajang.'
Semua persiapan sudah selesai, bahkan dekor pun sudah di tata dengan rapi. Maka sekarang yang diperlukan adalah kedatangan dari tamu utamanya.
KLEK
Pintu yang terbuka itu berhasil memperlihatkan para tamu utama yang hadir untuk mengikuti resepsi pernikahan?
"Hah~" Arvin tertawa konyol, karena tamu undangannya benar-benar orang yang sesuai dengan perkiraannya.
Selain nenek, Ayah, Ibu, ada juga Ibu nya Ashera.
Mereka masuk satu per satu. Tapi ekspresi wajah mereka terlihat biasa saja, karena pernikahan di hari ini memang pernikahan yang tidak di inginkan, alias pernikahan yang cukup mendadak.
Hingga tamu utama yang akan menjalin hubungan dengannya ke depannya, akhirnya memperlihatkan batang hidungnya, yaitu Ashera.
'Hah~ Dia benar-benar memakai baju pengantin? Sebenarnya takdir macam apa ini? Kita berdua masih SMA, tapi bisa-bisanya nenek menuntut untuk membuat kami berdua menikah. Kira-kira apa yang di pikirkan oleh Ayah dan Ibu tentang ini?' Lirik Arvin.
Kedua orang tuanya pun hanya memilih untuk diam, karena mereka berdua juga tidak berani mengusik keterdiaman dari sang nenek.
"Hah~ Lagi pula karena sudah seperti ini, sebaiknya aku cepat selesaikan saja." Gumam Arvin, menjeling ke arah Ashera yang terus saja menunduk, sehingga wajah yang tertutup dengan kain putih berjaring yang di gunakan sebagai kerudung, membuat Arvin benar-benar tidak bisa melihat wajahnya dengan begitu jelas.
'Kenapa dia terus menatapku seperti itu? Jangan-jangan setelah ini selesai, aku akan di bunuh.' Ashera memejamkan matanya, rasa gugup, takut, pun bercampur menjadi satu. Sangat menyesakkan, itulah yang Ashera rasakan.
Apalagi ketika melihat ke arah Ibu nya yang ada di sampingnya itu, Ashera pun benar-benar merasa bersalah dengan masalah yang ia dapatkan, karena harus menyeret keluarga dari majikannya sendiri.
"Arvin, kau sudah siap kan?" Tanya sang nenek.
Arvin hanya menoleh dan melihatnya secara sesaat, sebelum akhirnya Arvin kembali di buat menghela nafas lagi.
Tanpa sepatah kata, Arvin pun berjalan menyusuri karpet mewah berwarna merah yang sudah di taburi dengan kelopak bunga mawar berwarna merah, putih, dan pink.
__ADS_1
"Sedangkan kalian semua, tetap disini." Perintah selanjutnya dari Nenek Tina kepada semua anak buahnya.
"Ashera, Ibu ada di sini, jangan gugup lagi." Ibunya Ashera mengusap punggung tangan Ashera, karena Ashera terus merangkul salah satu tangannya, sebab saking gugupnya.
"Maaf ya Bu, aku tidak tahu, kenapa aku bisa jadi menyeret aku dan Ibu dalam situasi seperti ini. Aku sungguh mempermalukan Ibu." Bisik Ashera, tangannya lebih mengeratkan pelukan ke tangan sang Ibunda, karena ia benar-benar merasa kecewa terhadap dirinya sendiri sampai harus mempermalukan Ibu nya, dengan masalah yang di luar kemampuan mereka sebagai seorang pelayan.
"Ashera--" Sang Ibunda melirik wajah murung serta mata sayu milik anak satu-satunya.
Seharusnya pernikahan adalah sebuah ikatan yang di dasari cinta, dan setidaknya juga, harus memiliki satu kesepakatan yang di terima oleh kedua pihak.
Ya, pernikahan ini memang terjadi setelah Arvin akhirnya membuat sebuah keputusan untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
Namun- Ashera sama sekali tidak senang. Walaupun Arvin memang memiliki wajah tampan dengan berjuta pesona itu, akan tetapi hati tidak memihak untuk menyukai laki-laki ini.
Bagaimanapun- dirinya adalah seorang pelayan rendahan, sedangkan laki-laki ini adalah majikannya, Tuan muda Arvin dari keluarga Ravarden.
Sungguh memalukan, dirinya harus menikah muda, di sela-sela dirinya masih menginjak bangku SMA.
"Ashera, sini. Berdiri di sini dengan Arvin." Kata Nenek Tina, merebut rangkulan tangan Ashera dari ibunya sendiri.
Ahsera pun dengan berat hati mengikuti apa yang di inginkan oleh Nyonya besar.
Ashera- dia tidak begitu mempercayai kalau Nenek nya Arvin benar-benar akan menerima dirinya (Ashera) begitu saja masuk ke dalam keluarga besar Ravarden, bahkan kedua orang tua Arvin, Ashera sama sekali tidak begitu berharap bahwa mereka akan baik-baik saja melihat anaknya menikah dengan seorang pelayan.
Tidak seperti biasanya, dirinya akan memiliki penampilan biasa, kali ini ia diberikan kesempatan untuk memakai gaun yang terlihat sederhana, namun memiliki harga mahal, yang mampu menghidupinya selama lima tahun ke depan.
"Hmph, kau pasti senang kan? Bisa memakai pakaian mahal, bahkan harganya bisa membuatmu membeli rumah sederhana di kota besar ini." Ucap Arvin mencibir.
“...........” Hati Aresha begitu kecil sehingga ia tidak memiliki nyali untuk membalas ucapannya. Dan lagi, kepalanya terus saja menunduk ke bawah, merasakan bagaimana dalam dua hari ini, kehidupannya serasa berubah seratus delapan puluh derajat. ‘Rasa sakit di selangkanganku juga masih cukup terasa. Ini memang membuktikan kalau aku memang sedang tidak bermimpi.’ Batin Ashera.
“Arvin, apa yang barusan kau katakan tadi?” Tanya sang Nenek, sempat mendengar ucapannya Arvin, tadi.
“Tidak, bukan apa-apa.” Ketus Arvin. Tetap saja merasa berat hati kalau dirinya akan berpisah dengan yang namanya lajang.
‘Arvin, kenapa anak itu malah membuat ulah. Aku tidak percaya kalau dia akan menikah dengan pelayan rumahnya sendiri. Apa kata orang lain?’ Pikir Ibunya Arvin, melihat anaknya saat ini sudah berdiri di atas altar bersama dengan seorang perempuan tidak terduga, karena calon pengantinnya berasal dari pelayan rumah mereka sendiri.
‘Kelihatannya Istriku tidak suka. Yah…, siapa yang akan suka melihat anaknya sendiri menikah dengan seorang anak dari pelayannya? Pasti ada alasan kenapa Ibu mau menikahkannya dengan secepat ini.’ Benak hati Ayahnya Arvin.
‘Kira-kira apa yang akan terjadi setelah ini? Aku sudah tidak tinggal lagi di rumah Nyonya besar.’ Kecemasan lain pun muncul, sebab di tempat dimana dirinya melaksanakan resepsi pernikahan ini adaah apertemen sekaligus rumah milik Arvin, dan tidak lain adalah tempat kesuciannya di renggut, hanya karena masalah sepele.
Hanya karena mengantarkan makanan dari Ibu nya Arvin kepada Arvin, justru dirinya yang menjadi santapan sarapan pagi untuk Arvin kemarin pagi sampai siang.
__ADS_1
‘Dia seperti bina*ang. Bagaimana dia bisa punya tenaga sebesar itu? Aku bahkan sampai kewalahan menghadapinya. Entah …, dia sudah melakukan apa saja terhadapku saat aku tidak sadarkan diri.’ Pikir Ashera.
‘Seperti yang Daseon katakan, dari pada Istri, dia memang lebih pantas untuk tinggal di sini sebagai pelayanku. Aku jadi tidak perlu khawatir aku dengan rumah ini berantakan lagi, dan sekalian saja, dia akan jadi pesuruhku yang harus menuruti semua perkataanku.
Walaupun aku memang tidak sudi menikah dengan perempuan udik sepertinya, dia tetap bisa aku manfaatkan.
Dia harus membayar harga yang aku berikan karena aku jadi melepaskan statusku semuda ini.’ Pikir Arvin, mendelik tajam pada Ashera yang sama sekali tidak mau mengangkat wajahnya ke depan.
“Kalau begitu, saya akan memulai upacaranya ya?” Seorang laki-laki paruh baya dengan setelan jas berwarna hitam, berdiri di depan mereka berdua.
Ikatan suci, ya..itu memang ikatan yang di dasari perjanjian yang harus mereka berdua buat untuk menyempurnakan hubungan diantara mereka berdua.
Hubungan, untuk membuat mereka menjadi sepasang suami Istri, secara sah baik dari segi agama maupun hukum.
‘Karena mendadak seperti ini, kesannya jadi pernikahan paksa. Tapi kalau bukan sekarang, mau kapan lagi? Mereka berdua juga bukan orang tua yang begitu perhatian kepada anaknya. Jadi setidaknya aku mewakili kedua orang tua nya Arvin.’ Batin Nenek Tina, melihat sepasang pengantin yang sedang berdiri di depan sana, sudah mulai melakukan ritual janji suci. ‘Walaupun menjadi awal yang buruk, tapi aku yakin, kalau mereka berdua punya akhir yang lebih bagus daripada ini.’
_______________
Siang itu.
“Arvin, kenapa kau mau menerima Ashera begitu saja Istrimu?” Tanya Ibunya Arvin, yaitu Nurisya.
“Ibu, aku juga bukan mau menerimanya dengan lapang dada seperti ini. Ini semua karena nenek. Jika aku tidak menerima pernikahan ini, Ayah dan Ibu tahu kan apa yang akan terjadi kepadaku? Aku akan dicoret dalam daftar keluarga karena menentang keputusan nenek.” Jawab Arvin, dia sedang berada di dalam kamar ditemani kedua orang tuanya yang ingin berbicara secara pribadi dengannya.
“Kau benar. Ayah juga tahu itu, karena Ayah juga pernah mengalaminya. Keluarga Ravarden memang keluarga yang menjunjung tinggi arti kata dari tanggungjawab, makannya setiap keputusan, setiap tindakan yang akan di lakukan, harus di pikirkan dengan matang.
Dan sesuai dengan cerita dari nenekmu, Ayah hanya tidak menyangka, kalau kau bisa-bisanya meniduri Ashera. Apa yang sebenarnya kau pikirkan saat itu, Arvin?” Tanya Ayah Arvin, yaitu Darwin.
“Kenapa aku harus mengatakannya? Lagi pula sudah terlanjur juga.” Cetus Arvin, sikapnya pun begitu acuh tak acuh kepada kedua orang tuanya.
Hubungan yang bisa di katakan berada di tengah-tengah.
Arvin memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan yang memang pantas di panggil sebagai Ayah dan Ibu. Tapi di satu sisi lagi, peran dari mereka berdua sebagai orang tua juga tidak begitu terlalu kental terhadapnya, jadi Arvin pun sama sekali tidak memiliki hubungan spesial antara dirinya dengan mereka berdua.
Dan mereka berdua juga sudah sadar akan hal itu, sebab kedua orang tuanya menikah di dasari karena hubungan politik, jadi keluarga kecil itu pun sama sekali tidak mempunyai dasar dari kata saling menyayangi atau mencintai, selain saling menghargai, memahami dan pengertian saja.
Semua itu hanyalah formalitas, agar mereka tidak memiliki pertengkaran di dalam hubungan mereka.
“Ya sudah, Ayah tidak akan bertanya soal itu. Tapi Arvin, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Dia bukanlah perempuan yang kau cintai juga, apa kau tetap akan menganggapnya sebagai pelayan?” Tanyanya lagi.
“Mau bagaimana lagi? Dia kan pada dasarnya seorang pelayan. Tentu saja dia harus memenuhi tugasnya itu dengan baik, lagi pula tidak ada bedanya dengan tugas sebagai Istri yang baik, ya kan?” Kata Arvin dengan tatapan mata paling dingin.
__ADS_1
Sebab, hari ini adalah awal dari hubungan mereka sebagai keluarga kecil yang harus saling melengkapi.
‘Aku akan membuatnya, melakukan tugasnya dengan sangat-sangat baik.’ Benak hati Arvin.