Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
160 : Uang Ganti


__ADS_3

Tanpa memperdulikan apa yang di katakan oleh Ashera itu, Arvin pun menundukkan kepalanya dan langsung mencium roma tubuh yang dari tadi terus menyita perhatiannya, dan benar saja dia pun seketika itu juga merasakan aroma harum yang melebihi sebuah sabun biasa.


'Tubuhnya, rambut, bahkan-'


Saat Arvin menjentikkan jarinya, dan membuat lampu di kamarnya itu seketika langsung menyala dengan sangat terang, Arvin dengan buru-buru langsung mengambil kedua kakinya Ashera dengan cepat, sampai Ashera yang hampir terjungkal itu, di saat yang sama juga ujung dari lingerie nya langsung menyingkir dari tempatnya dan memperlihatkan pakaian da lam yang menutupi asetnya yang berada di sana.


Akan tetapi, Arvin yang tidak begitu peduli dengan itu, langsung bertanya detik itu juga, saat Arvin melihat hal aneh yang sudah di lakukan oleh Ashera kepada dirinya sendiri. "Kau, menggunakan kutek?"


"Heh?" Ashera yang bingung itu pun segera memposisikan tubuhnya untuk melihat kedua kakinya sendiri.


Betapa mengejutkannya saat dia melihat kalau kedua tangan dan kakinya, itu, justru benar-benar sudah di hias dengan kutek?!


"Kenapa aku bisa kutekkan?" tanya Ashera penasaran dengan dirinya sendiri.


TING..


Sampai Arvin yang sedang memperhatikan tingkah polos Ashera yang benar-benar tidak terlihat mengetahui apa yang terjadi kepada dirinya sendiri, tiba-tiba saja dering dari notifikasi handphonenya itu sukses membuat Arvin langsung mengambil handphone nya sendiri.


Arvin langsung melihat pesan macam apa yang baru saja masuk itu, dan sekaligus melihat pesan lainnya yang belum dia baca selama dirinya semalam tidur.


Dan ketika melihat pesan yang sedang dia baca itulah, kesan mendalam dari setiap untaian kalimat itu menjadikan ayat yang sangat bermakna untuk Arvin sendiri.


"Ashera~" dengan nada yang begitu rendah, Arvin langsung melirik ke arah Ashera dengan tatapan yang cukup tajam.


"Apa?" sahut Ashera dengan wajah bingung.


"Apa kau semalam pergi?"

__ADS_1


"Tidak, atau entah-" Ashera yang tidak bisa menjawab pertanyaannya Arvin dengan pasti, matanya langsung beralih ke ke pakaiannya sendiri yang ternyata tergeletak di depan lemari. 'Sejak kapan aku bisa ganti pakaian? Aku bahkan tidak ingat sama sekali, selain kalau aku malam tadi sedang tidur.'


"Lalu apa maksudnya dengan ini?" tanpa mengalihkan perhatiannya, Arvin langsung merebut dua buah kartu ATM yang di selipkan didalam dua gunungan kembar milik Ashera.


Ashera yang terkejut dengan tangan Arvin yang tiba-tiba saja menyusup masuk untuk mengambil dua barang itu tanpa rasa bersalah, langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dengan ekspresi wajah horornya.


"Lalu bagaimana bisa uang dalam dua kartu ATM aku bisa berkurang sebanyak ini?!" kata Arvin dengan nada yang sedikit tinggi, seraya memperlihatkan handphone nya kepada Ashera juga


Di sana tertera ada notifikasi pengeluaran uang dari dua ATM yang berbeda, dan hal itu membuat Arvin dan Ashera sendiri langsung terkejut dengan nominal angka yang sebenarnya tidak sedikit itu, apalagi di tambah dengan bukti nyata, dimana kedua kartu ATM itu terselip di pakaian piyamanya.


"Jika bukan karena kau yang memakainya?" imbuh Arvin, kali ini intonasinya sedikit lebih lambat dan penuh dengan penekanan, yang mengartikan kalau ucapannya itu benar-benar di tunjukkan kepada Ashera.


"T-tapi aku kan benar-benar tidak tahu! Kenapa kau menuduhku seperti itu?! Kalau kau mau aku mengganti uang yang hilang itu, aku akan memberikannya kepadamu!" ungkap Ashera, lalu dia pun buru-buru turun dari tempat tidurnya dan segera mengambil dompet yang dia letakkan di dalam tas kecil, begitu sudah menemukan ATM miliknya, dia pun langsung melempar kartu ATM itu ke wajah Arvin. "Itu! Kau ambil saja semuanya, aku tidak peduli jika aku tidak punya uang lagi, yang penting masalah uangmu sudah aku selesaikan, dan yang penting aku masih bisa hidup dan makan, jadi ambil saja semuanya!"


Selesai bicara dengan menggebu-gebu, Ashera pun akhirnya jadi ngos-ngosan sendiri.


Arvin yang bahkan tidak mengatakan untuk bayar ganti rugi itu, tapi tiba-tiba di lempari kartu ATM milik gadis ini tepat ke arah wajahnya, seketika itu juga Arvin pun langsung melongo.


"Ashera, kau- kau ini! Apa kau tahu kalau yang kau katakan sama saja dengan merendahkanku? Kau menganggap aku ini gigolomu ha?!" Arvin yang akhirnya terpancing dengan ucapannya Ashera, dengan buru-buru dia pun langsung menghampiri Ashera.


Ashera yang baru sadar dengan ucapannya itu adalah hal yang tidak pantas untuk di katakan kepada anak itu, dengan cepat dia buru-buru lari pergi dari sana agar tidak tertangkap.


"B-bukannya kau sering dapat tip saat kau pergi ke bar, seharusnya kau kan terbiasa dengan uang itu?- Ups," sontak mata Ashera langsung membulat lebar dengan mulutnya yang tidak bisa di kontrol.


Bukan sekedar itu saja, bagaimana bisa dirinya tahu kalau Arvin biasa ke bar?


Padahal sebenarnya Ashera yang ini adalah orang yang tidak tahu apapun soal hubungan Arvin dengan teman-temannya di bar, tapi mulutnya seolah justru lebih mengetahui apa yang di lakukan oleh Arvin di tempat seperti itu.

__ADS_1


Arvin yang sudah kehilangan kesabaran dengan apa yang dia dengar dari mulutnya Ashera, tiba-tiba saja jadi diam.


"Ashera, kau benar-benar sedang menguji kesabaranku ya?" tanya Arvin, lalu kepalanya tiba-tiba saja menoleh ke arah samping kanan, dimana Ashera sudah menempatkan diri di seberang sofa, sehingga mereka berdua pun terpisah oleh jarak serta meja juga kursi yang menghalangi mereka berdua untuk bisa bicara dengan jarak dekat.


Ashera yang tiba-tiba jadi takut dengan tatapan mata Arvin yang begitu tajam itu, langsung berjongkok dan berharap bisa bersembunyi dari tatapan selang Arvin itu, tapi tidak membuat kepalanya ikut bersembunyi, karena matanya ingin terus mengawasi keberadaan dari Arvin yang sedang dalam mode bahaya.


'Baru juga pagi, kenapa aku harus berdebat dengan Arvin lagi? Apalagi ini gara-gara masalah uang, sebenarnya apa yang sudah aku lakukan ketika aku tidak sadar sih? Bisa-bisanya aku sudah memakai piyama seperti ini, dan bahkan semua jariku di kutek habis.


Kuteknya memang cantik, tapi aku kan bahkan tidak butuh di kutek, apalagi lihat saja tadi, pengeluarannya kenapa sangat banyak? Jangan-jangan malam tadi kepribadian gandaku bangun dan dia juga yang membuat ulah dengan tubuh juga uangnya Arvin?' Ashera pun jadinya berpikir cukup keras, mengingat apa yang dia lakukan itu sebenarnya sudah di luar kendalinya, dan yang menjadi tersangkanya tidak lain adalah dirinya sendiri dalam artian kepribadian ganda miliknya itu. "A-aku tarik lagi semua ucapanku tadi, kau bisa memiliki uang itu, dan lupakan apa yang katakan di bagian kalimat terakhir itu," bujuk Ashera kepada Arvin.


Tapi, melihat Arvin terus diam membisu seperti itu, Ashera pun jadi semakin khawatir.


Ya, dia khawatir dengan nasibnya sendiri, mengingat Arvin adalah orang yang bisa melakukan apapun yang di inginnya tanpa pandang bulu.


'Sekalinya aku diam, dia akhirnya takut juga. Tapi ucapannya tadi, benar-benar- apa dia menganggapku tidak punya uang sampai dia membayar ganti rugi uangku dengan melemparkan kartu ATM nya ke wajahku langsung?


Sial, ini bahkan pertama kalinya aku di lempari uang sebanyak itu dari seorang pelayan, bisa-bisanya dia punya nyali melempari kartu ATM ke wajahku.' gerutu Arvin, dia terus merutuki nasibnya yang benar-benar terlihat sedang di rendahkan oleh Ashera secara tidak Ashera sadari itu. 'Apa dia tidak menggunakan kepalanya lebih dulu kalau aku ini siapa?'


Arvin pun kembali melirik ke arah Ashera dengan tatapan matanya yang cukup tajam itu.


"...!" Ashera yang melihat wajah seram Arvin, seketika langsung tersentak kaget dan mundur ke belakang, 'Dia mau apa? Kenapa terus menatap ke arah sini?' batin Ashera, merasa gelisah dengan sikap Arvin yang tiba-tiba saja menjadi ganas seperti itu.


"Tch, permintaan maafmu itu sudah terlambat," tutur Arvin dengan delikan tajamnya.


'Waduh, j-jadi kalau permintaan maafku saja tidak di terima lagi olehnya, dia mau apa?' takut dengan situasi diantara mereka berdua, Ashera memutuskan untuk mulai waspada dengan keberadaan dari anak itu, yang nampak sedang mengincar sesuatu?


Ya, sesuatu, tepatnya sesuatu yang sudah di perlihatkan oleh Ashera semenjak tadi.

__ADS_1


Menyadari hal itu, Ashera langsung menyilangkan kedua tangannya ke depan dadanya lagi, sebab dia masih tidak bisa menghapus memori beberapa waktu lalu, ketika Arvin tiba-tiba saja menerobos menyentuh miliknya dengan sangat sembarangan.


__ADS_2