
KLEK..
Suara pintu terbuka “Huh aku tidak tahu ternyata sudah jam 10.00 malam bisa-bisanya aku pergi sampai selarut ini.”
Dan baru juga membuka pintu Arvin langsung dihadapkan dengan keberadaan Ashira yang baru saja keluar dari toilet.
“Apa kau sudah makan?” Arvin tiba-tiba jadi nge blank, sampai menanyakan Ashera sudah makan atau belum di jam tidur seperti ini.
Ashra menggelengkan kepalanya, “Aku sedang menunggu untuk dimakan olehmu,” jawab Ashera.
“Apa?” Arvin yang merasa pendengarannya ada masalah dia pun jadinya bertanya lagi “Kau tadi bilang apa?”
“Aku ingin makan,” karena Ashera baru sadar kalau ucapannya tadi salah, dia pun jadinya meralatnya dengan cepat. ‘Ternyata aku bisa mencium aroma parfum milik perempuan lain. Apa ini kemampuan terpendamku? Bukan satu atau dua kali sih, tapi kenapa cukup mengganggu ya saat aroma parfum khas miliknya itu malah bercampur dengan parfum lain?’
“Ashera bukan itu jawaban yang pertama. Kau tadi bilang apa? Ingin aku memakannmu?”
Ashera menggelengkan kepalanya lagi, dia tidak mau menjawab ulang karena dia malu.
Arvin yang tidak peduli soal tersebut, dengan senang langsung melepaskan jaket kulit miliknya, melepaskan kaosnya, sepatu, kaos kaki, dan setelah separuh telanjang, Arvin segera mengejar Ashera yang sebenarnya salah bicara.
Ashera yang jujur saja baru bangun tidur dan baru saja menyelesaikan meditasinya, langsung lari terbirit-birit.
“Hei kau mau pergi ke mana? Katamu kalau ingin aku memakanmu ayo Kenapa kok malah lari
“Aku salah bicara aku mohon aku baru bangun tidur jangan membuat aku berolahraga seperti itu aku masih lelah,” Ashera mencoba menjelaskan keluhan dirinya.
“Kalau kau masih lelah, tidak mungkin kau bisa lari-lari seperti itu. Hei ayo!” Arvin terus mencoba untuk mengejar Ashera di ruang tamu yang satu ruangan dengan dapur.
__ADS_1
‘Selalu saja seperti ini. Kenapa ucapanku terus aja disalahkan dan malah balik ke aku?’ tidak mau tertangkap oleh Arvin, dia pun pergi menuju dapur karena tempat itu adalah tempat di mana ada jarak yang cukup lebar gara-gara ada meja.
“Ashera kau tahu tugasmu itu apa? Kau harus menuruti ucapankau. Aku juga lelah, aku baru saja mencari uang untuk kita, apa kau setega ini?” ungkap Arvin, tiba-tiba jadi seperti seorang korban.
“Tega bagaimana? Justru kaulah yang lebih tega kepadaku, kau pasti habis membonceng perempuan lain kan?” terka Ashera.
Tapi tebakannya memang benar-benar tepat sasaran.
‘Hah kenapa Ashera bisa tahu aku baru saja membonceng perempuan lain?’ tetapi Arvin pun langsung menjawab : “Aku memang membonceng perempuan lain, tapi aku hanya mencoba untuk menyelamatkannya.”
“Iya iya terserah kau deh, tapi aku tetap tidak mau melakukannya denganmu cukup! Punyaku sudah sangat sakit kau tidak tahu ya? Kalau punya aku bengkak?”
Ups, Ashera lagi-lagi salah bicara, dan dia langsung menutup mulutnya sendiri dengan menggunakan tangannya agar tidak keluar lagi, segala omongannya yang begitu menodai harga dirinya.
“Ashera, kau tadi? Apa? Jika kau tidak mengatakan, aku juga tidak akan tahu. Coba lihat sini aku ingin melihatnya.” Pinta Arvin dengan wajah tenang.
“Ashera, kau bisa diam tidak? Aku hanya bercanda kenapa kau menganggapnya terlalu serius?”
“Bagaimana tidak serius, padahal kau yang tiba-tiba membuka pakaianmu terus mengejarku itu kenapa? Itu sama saja kalau kau mau menangkapku.” Ashera pun jadinya terus mengoceh di bawah ketakutannya sendiri.
“Namanya juga bercanda, kenapa kau terus dibawa serius. Memangnya aku salah jika aku tidak memakai pakaian di rumahku sendiri? Dan lagian kau juga bisa menikmati tubuhku, jadi kenapa kau heboh sendiri seperti itu?” Arvin yang mencoba untuk membujuk Ashera untuk tidak takut lagi kepadanya, mencoba berjalan mendekati perempuan tersebut. ‘Tapi anehnya, kenapa aku penasaran ya? Aku memang langsung pergi tanpa melihat kondisinya miliknya itu sih, jadi aku tidak tahu. Apa aku gila, kenapa aku seperti orang yang tidak pernah melihat punyanya?’
Arvin yang merasa aneh dengan perasaan dan sikapnya itu, dia jadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu dengan cepat dia langsung menyelipkan kedua tangannya itu di bawah ketiaknya Ashera.
“Ehh?!” Ashera panik, tubuhnya yang tiba-tiba saja diangkat oleh Arvin, kemudian Ashera pun di letakkan di atas meja makan dan langsung menyekap posisi tubuh Ashera di antara kedua tangan dan tubuhnya yang sudah berdiri di depan Ashera persis. “K-kau mau apa?”
Ashera melindungi kedua aset yang terpampang persis di depan wajahnya Arvin dengan menyilangkan kedua tangannya itu di depan dada.
__ADS_1
“Kau mau perawatan kulit sekalian tidak?” tanya Arvin dengan tubuh yang hanya bertelanjang dada itu. Topiknya jadi berubah, agar suasanya juga ikutan berubah.
Benar, Arvin emmang orang yang bgeitu lihai dalam merubah suasana orang lain, dan caranya sungguh menakjubkan.
“Kenapa kau menawarkan hal seperti itu kepadaku?” lirih Ashera, dia malu sendiri karena di tatap serius oleh Arvin.
Maka dari itu, agar dirinya tidak salah tingkah, dia tidak bisa membalas tatapan matanya Arvin. Karena setiap kali menatapnya, justru matanya akan beralih ke arah bahu nya Arvin yang begitu lebar itu.
“Karena aku ingin,”
“Kalau aku tidak mau, bagaimana?”
“Kau sendiri saja bahkan tidak mau menemaniku tidur, jadi kau harus menuruti keinginanku yang lainnya dong. Tapi jika kau bahkan menolak untuk menerima tawaranku tadi itu, kau harus menerima kewajibanmu malam ini juga. Aku tahu mesti bengkak ya?”
BLUSHH….
Matanya menatap ke arah apa yang ada di balik rok tersebut. Ashera pun kelabakan langsung merapatkan kedua kakinya itu.
“Kau hanya tinggal pilih saja, tugasmu itu kan harus setara dengan keinginanku. Padahal kemarin malam aku sudah memberikanmu peringatan, tapi apa hanya dalam puluhan jam saja, kau sudah melupakannya?” tatap Arvin lagi, Ashera pun jadi semakin takut sendiri, karena peringatan nya Arvin kali ini membuat semua history di dalam kepalanya bermunculan, terutama dari segi kepantasan.
“Masa aku yang tampan ini terus bersama dengan wajah jelek ini? Kau harus dipermak, agar kau bisa lebih enak dipandang, Ashera.” kata Arvin, sambil mencengkram rahangnya Ashera dengan cukup kuat, sampai mulutnya Ashera pun jadi manyu bagai mulut belakang ayam.
“Apa harus?” tanyanya lagi.
“Ya, harus. Karena mau bagaimanapun kau itu harus bisa setara denganku. Aku punya banyak uang, bahkan uang yang kau berikan waktu itu saja masih aku simpan, jadi dari pada aku tidak menggunakannya, lebih baik kau gunakan untuk merawat tubuhmu,” sebuah penjelasan yang begitu panjang dan lebar, namun sayangnya Arvin tidak hanya berbicara saja, tapi juga bertingkah, dan salah satunya tatapan matanya yang begitu sendu itu justru nampak seperti orang yang sedang membayangkan sesuatu yang bagus, sampai lidahnya Arvin, tiba-tiba saja menjulur keluar dan menjilati bibirnya sendiri.
‘Dia sudah tidak bisa di tolong lagi, kalau seperti ini, yang ada akulah yang akan jadi rusak. Dia harus di edukasi.’ gumam Ashera dalam benaknya.
__ADS_1