
"Hoammhh..." Dengan mata terpejam, Ashera pun menguap lebar dan segera menghabiskan ice cream pertamanya, dan tidak lama kemudian dia mengambil bagian milik Arvin untuk ia makan sendiri. 'Rasanya sepi, dan canggung juga.' Pikir Ashera.
Karena dia merasa bosan jika hanya duduk dan menunggu orang makan, padahal ia tidak bisa menemaninya makan selian menunggu saja, lalu ia pun mengangkat handphone nya ke arah TV dan tidak lama setelah itu Tv nya pun menyala dan memperlihatkan berita terkini yang menyiarkan soal bekas pabrik kaca yang sedang terbakar di lalap habis.
//Berita terkini, sebuah pabrik kaca yang sudah tidak beroperasi mengalami kebakaran yang hebat. Karena keterlamabatan pemadam kebakaran untuk memadamkan api, bangunan sudah sepenuhnya terbakar, dan pihak pemadam berusaha agar api tidak merambah lebih besar ke area pemukiman sekitar.
Belum di pastikan apa penyebab dari kebakaran ini, jadi polisi sedang dalam proses penyelidikan lebih lanjut.//
Berita itu terus menyiarkan kebakaran dari pabrik tersebut.
"Kebakaran, nambah-nambah polusi saja." Gumam Ashera setelah ia melihat berita itu dengan mata terpejam, tapi telinganya sendiri terus mendengarkan apa yang bisa ia dengar. "Udara segar nya tambah berkurang, polutan semakin bertambah, kalau nanti bumi kehabisan oksigen gara-gara banyak kebakaran, manusia pasti mati. Apapun caranya, ujung-ujungnya pasti mati.
Seperti waktu itu.-" Mengatakan kalimat yang begitu menggantung, perlahan Ashera membuka kelopak matanya.
Matanya yang sayu menyiratkan mata yang sedang mengulas masa lalu miliknya sendiri.
Dan Arvin hanya diam mendengarkan apa yang di ucapkan oleh perempuan itu.
_______________
"Apa yang sedang kau senyum-senyumkan? Tidak biasanya anak mama ini senyum-senyum sendiri seperti gula yang meleleh. Awas loh, semut nya pada datang." Ucap wanita paruh baya ini dengan nada bercandanya.
Dia berjalan memasuki kamar anaknya, yaitu Fajar sambil membawakan susu yang masih hangat itu ke dalam kamar untuk di berikan kepada Fajar.
"Jangan-jangan kau akhirnya punya orang yang kau sukai ya?" Ketika wanita ini melirik ingin mengintip gambar yang sedang di tatap oleh Fajar sesaat tadi, tiba-tiba saja Fajar dengan gesitnya langsung keluar dari aplikasi galeri dan meletakkan handphone nya ke atas nakas.
"Apaan sih Bu, aku hanya merasa-"
"Ya, kau merasa tertarik pada seorang perempuan, itulah yang sedang kau perlihatkan dengan wajah tampan ini." Dengan gemas ia pun mengusap wajah Fajar yang begitu halus dan ketampanannya itu tidak bisa di hilangkan meskipun penampilannya masih acak-acakan, sebab Fajar memang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih separuh basah.
"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil lagi." Menepis tangan Ibu nya yang suka sekali pegang-pegang wajahnya, jika sudah saling bertemu.
"Tapi di mata Ibu, kau ini memang masih anak kecil kok. Sampai mau mengadakan pesta ulang tahun, bukannya kau masih kecil, karena ingin ulang tahunmu meriah?" terka wanita ini, lagi-lagi terus saja menggoda Fajar.
Dia tersenyum lembut melihat anaknya itu perlahan memperlihatkan sosoknya yang akan menjadi pria sejati. Setidaknya di matanya, Fajar akan jadi seseorang yang hebat.
"Ibu ingin lihat, siapa perempuan yang berhasil menarik perhatianmu itu." Sudut matanya kembali melirik ke arah handphone nya.
"Tidak usah. Walaupun aku suka, aku akan tetap memprioritaskan belajarku ketimbang masalah hati."
"Hohoho, akhirnya kau mengaku kalau kau suka? Jatuh cinta?" Dengan tawa nakalnya, wanita ini tertawa dengan mulut yang sedikit ia tutup dengan telapak tangan kanannya.
__ADS_1
Di goda oleh Ibu nya sendiri, Fajar pun tersipu merah, tepat di belakang lehernya.
Sangat mendominasi sekali, perasaan itu tumbuh dan membuat pria yang awalnya tidak terlihat begitu berminat pada seorang perempuan, sekarang tiba-tiba saja hati dari anak ini jadi meleleh.
"Ibu, sudahlah. Jangan menggoda anakmu lagi." Ucap Fajar.
"Kalau kau memang suka, kenapa tidak di kejar saja sekalian, dari pada nantinya di rebut oleh laki-laki lain, nanti kau baru menyesal loh." Ucap Ibu nya Fajar sekali lagi.
"Aku tahu itu Ibu. Tapi ujung-ujungnya, saat orang sepertiku menyukai gadis biasa, nanti apa pandangan orang-orang kepadaku, bahkan terhadap Ibu?"
Ibu nya Fajar dalam sekejap langsung diam. "Ternyata begitu, kau memilih untuk menjaga kehormatan Ibu. Kau anak yang sangat baik, bahkan sangat pengertian, seandainya saja Ayahmu masih ada, mungkin dia juga akan senang dengan keputusanmu." Jelas Ibu nya Fajar sambil mengusap ujung kepalanya Fajar itu dengan penuh perasaan. "Kalau begitu, minumlah susu ini, biarkan tubuhmu jadi lebih tinggi lagi dari ini, dan lebih banyak perempuan di luar sana tertarik kepadamu."
Dengan buru-buru, ia mengambilkan gelas berisi susu putih itu dan memberikannya kepada Fajar, seketika suasana yang tadinya jelas terasa nyaman untuk di ajak saling bercanda, berubah menjadi kecanggungan.
Fajar pun hanya diam saja seraya menerima gelas tersebut dan meminum susunya sampai habis.
"Selamat tidur ya, semoga mimpi indah." Senyumnya lagi, lalu ia pun pergi meninggalkan Fajar sendirian di dalam kamar.
KLEK.....
"Ibu." Lirih Fajar, ia mengusap ujung kepalanya yang baru saja di usap lembut tadi. 'Apa aku salah bicara? Kenapa Ibu raut wajahnya jadi terlihat seperti kecewa?' Pikir Fajar. 'Padahal biasanya juga apa yang di sukai oleh anaknya, pasti harus di pilih-pilih, terutama perempuan, demi menjaga kehormatannya, aku tentu saja harus menahan diriku agar tidak begitu menyukai perempuan yang tidak sesuai dengan status keluarga ini. Tapi, kenapa Ibu makah berekspresi seperti itu?'
Esok harinya.
"Nah! Ashera, apa yang kau bicarakan dengan Fajar kemarin?" Tanya Dini kepada Ashera yang baru saja duduk di kursinya.
Dan tentu saja, seperti biasa, di dalam lacinya ada cukup sampah untuk sebagai tempat pembuangan sampah paling unik, karena di simpan di dalam kolong meja.
Tapi begitu saja ia baru duduk, Dini tiba-tiba saja pergi menghampirinya dengan ekspresi kesal.
Dini, dia memang sudah mengincar Fajar sebagai orang yang di sukai nya. Tentu saja, ketika Fajar sang pujaan hatinya tiba-tiba saja melakukan kontak dengan Ashera, ia pun jadi kesal, sebab Dini saja sudah beberapa kali menarik perhatian nya Fajar, tapi tidak ada satu pun yang berhasil menarik perhatian laki-laki itu selain pengabaian.
"Padahal aku juga baru masuk dan duduk, kenapa kau begitu sewot padaku?" sahut Ashera dengan tenang, bahkan ucapannya itu berhasil menarik perhatian seisi kelas, karena terdengar seperti Ashera sedang bersikap sombong juga mencoba untuk tidak peduli dengan rasa kesal yang sudah mendarah daging di tubuh Dini, karena ia memang tidak menyukai Ashera ini, yang ia rasa cukup mengganggu pemandangan.
Ketika banyak teman-temannya terlihat cantik dengan berhias diri, serta laki-laki yang mencoba sebaik mungkin untuk bisa berpenampilan rapi juga tampan, tapi hanya Ashera saja satu-satunya yang di matanya terlihat begitu udik, karena tidak memakai riasan apapun serta rambut yang selalu saja di kuncir satu ke belakang.
Dia benar-benar muak dengan Ashera yang miskin ini, dan tidak ada menarik-menariknya sama sekali di matanya.
"Apa salah jika aku sewot? Jawab saja pertanyaanku tadi, apa yang kau bicarakan dengan Fajar kemarin? Kau tahu sendiri aku sedang mengincar dia, tapi kau-"
"Aku dirasa seperti batu penghalang ya?~" Lirik Ashera, dan sudut matanya yang seketika langsung bertemu dengan matanya Dini, membuat Dini seketika tersentak dengan aura milik Ashera yang jelas cukup berbeda dari biasanya.
__ADS_1
'Kenapa dia terlihat bukan seperti Ashera yang biasanya suka diam itu? Lihat saja, matanya yang terlihat berani itu, aku jadi ingin sekali menusuknya dengan pulpen.' Pikir Dini kepada Ashera yang menjadi awal paginya terasa jengkel.
"Yah~ Aku akan menjawabnya, dia kemarin bicara soal ulang tahunnya, dan dia mengundangku. Apa kau puas? Atau tidak puas karena kau tidak mendapatkan undangan sepertiku?" Ashera dengan sengaja memperlihatkan undangan yang ia terima dari Fajar kemarin kepada Dini.
Dan Dini sendiri, dia langsung merebut undangan itu dan segera membacanya dengan cukup cepat.
"Lidia, perasaan kau juga dapat undangannya kan?"
"Iya, kenapa?" jawab Lidia.
Pertanyaan dari temannya Lidia itu pun jadi semakin memancing emosi milik Dini yang menjadi satu-satunya orang yang tidak mendapatkan undangan.
"Nanti kalau mau berangkat, aku ikut denganmu ya? Aku juga punya undangannya."
"Memangnya kalian saja yang punya, aku juga punya nih, tadi baru juga di beri."
"Aku juga sih, tapi tidak tahu mau ikutan atau nggak, karena aku juga punya urusan dengan bokapku."
"Eh, tapi aku tidak menyangka, Ashera ternyata dapat juga. Padahal dia tidak terlihat begitu dekat, dan bahkan aku pikir Fajar tidak kenal dengannya."
Satu per satu, semua ucapan yang keluar dari mulut mereka pun berhasil menyindir Dini yang terlihat memang tidak mendapatkan undangan dari Fajar, padahal sebagian besar kelas dua, mereka di berikan undangan, bahkan termasuk seperti Ashera, itu membuktikan bahwa Fajar sudah membuat pengecualian.
"Dini, kenapa kau diam? Kau pasti di undang kan? Dan kau terlihat marah seperti itu, pasti karena Ashera dekil itu, bisa punya undangan juga." Tanya salah satu teman Dini. "Anak pelayan seperti dia bisa punya undangan, pasti hanya sekedar rasa simpati Fajar karena Ashera terlihat menyedihkan." Imbuhnya lagi.
Dini yang begitu mendengar bahwa dirinya punya undangan, seketika membuat Dini berputar otak. Sebab sebenarnya Dini sama sekali tidak mendapatkan undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun.
"Sini, semakin kau genggam, undangannya nanti jadi semakin kusut." Ashera langsung merebut undangan tersebut dari tangannya Dini.
"Aku punya undangannya, tapi sayangnya aku sama sekali tidak bisa berangkat, karena Ibu ku sedang sakit." Jawab Dini sambil melepas undangan miliknya Ashera tadi.
'Padahal dia memang tidak punya undangannya. Mau saja berbohong pada mereka semua.' Detik hati Doni, ia sebenarnya punya undangannya juga, tapi melihat saudarinya tidak memilikinya, artinya Fajar memang sudah membuat pengecualian. 'Tapi jika dia bahkan saat di rumah tahu kalau aku punya undangannya juga dan merebutnya, dia pasti akan membuat kekacauan di pesta nya Fajar.
Fajar ini bukan orang biasa juga, sedangkan kami berdua yang juga sama-sama anak pelayan, jika Dini mengacaukannya, nama baikku juga ikut tercoreng.
Yah, kecuali Arliana mengajaknya juga tanpa membuat syarat harus ada undangan juga, Dini juga pasti bisa ikut pesta.
Tapi memangnya mungkin? Arliana, majikan kami sendiri. Dia juga tidak mungkin akan mengambil resiko untuk membawa Dini yang suka membuat ulah di semua tempat.' pikir Doni, dia tetap diam sambil menonton saudarinya sedang di landa kepanikannya sendiri, karena Dini merasa malu untuk melihat kenyataan sebenarnya bahwa ia tidak di undang ke pesta dan membuat alasan lain dengan mengatasnamakan Ibu mereka sedang sakit.
'Sial, aku bahkan tidak punya undangannya. Dari pada si udik ini datang, mending aku curi saja undangannya dan aku akan menyuruh orang untuk mengeditnya agar aku bisa datang.' pikiran licik pun tertanam pada otaknya Dini.
Dia akan diam-diam membuat kesempatan untuk dirinya sendiri untuk mendapatkan undangannya juga, dan itu dengan membuat Ashera tidak bisa pergi, sebab karena pesta nya di adakan di sebuah Villa dan setiap tamu harus menunjukkan undangan mereka, maka Dini pun akan benar-benar membuat Ashera tidak punya pilihan lain selain duduk diam di kamar, karena tidak ada undangannya.
__ADS_1