
"Huft..., huft...., huft...."
Arvin dan Ashera, setelah dua hari yang lalu mereka membuat keributan sendiri, sekarang mereka berdua sedang perang dingin.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua.
Namun, dari pada itu, mereka berdua tetap sama-sama saling memperhatikan satu sama lain dengan maksud saling mengawasi.
Dan di malam ke dua ini, Arvin selalu mendapati Ashera yang tadinya tidur di dalam kamar bawah, paginya selalu saja sudah pindah tempat ke atas sofa yang ada di depan ruang tv.
Dan Arvin akhirnya tahu asal muasal Ashera bisa pindah karena perempuan ini tidur berjalan, dan tanpa sadar jadi berpindah tempat.
BRUKKK...
Baru saja, Arvin akhirnya melihat Ashera baru saja berjalan dan sekarang dia sudah mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang tidak kalah empuknya juga, tapi masih tergolong nyaman untuk tidur.
"Huft...huft..." dan dengkuran halus pun datang juga.
"Apakah saat di rumah nenek, dia juga akan seperti ini?" Gumam Arvin melihat betapa lelapnya perempuan tersebut dalam menggapai mimpi di alam bawah sadarnya sendiri.
____________
KRIIINGGG....
Alarm tanda bel sekolah pun berbunyi, setiap pagi kewajiban dari setiap murid selalunya adalah pergi ke sekolah, dan karena ujian masih berlangsung, sekarang giliran Ashera lah yang pergi sekolah untuk mengerjakan ujiannya.
Dan Arvin?
"Gara-gara ujian, aku jadi tidak tahu harus apa. Untuk pertama kalinya aku sama sekali tidak punya rencana keluar rumah." Gumam Arvin sambil berkacak pinggang. Dia terus menelisik ke seluruh sudut rumah, dan karena dia jarang masuk kedalam kamar yang ada di lantai bawah, dia pun pergi masuk kedalam sana.
Selama Ashera tinggal di tempatnya, bahkan kamar itu tidak ada perubahan sedikit pun.
Baik itu soal skincare, perabotan, lemari tambahan, atau semua barang serta kebutuhan yang biasanya ada sangkut pautnya dengan seorang perempuan yang sudah menginjak usia remaja.
Tidak ada sama sekali barang-barang seperti yang di harapkan itu, selain ruangan kamarnya yang cukup monoton.
__ADS_1
"Ah, aku jadi lupa dengan orang itu. Tapi karena Arin juga Divrin ikut ujian, aku tidak bisa menggunakan mereka berdua." Merasa bosan dengan semua pikirannya yang ada, Arvin kemudian membuka lemari pakaiannya.
Mungkin saja dia bisa menemukan sebuah harta karun, karena ia penasaran dengan barang-barang yang di bawa Ashera itu di letakkan di mana.
"Box itu?" Karena ada box yang belum pernah Arvin lihat, dia mencoba menggeser box yang terletak di pinggir lemari untuk dia bawa keluar. Ada dua, dan saling berjejer. Bahkan box berwarna abu itu bisa di jadikan pijakan kaki, tempat duduk, sekaligus tempat penyimpanan.
Dan ketika di buka, Arvin akhirnya menemukan pakaiannya Ashera yang rupanya di letakkan di dalam box tersebut.
'Dia bahkan tidak menuntut ingin lemari sendiri, atau mengeluarkan semua pakaianku di sini untuk di gantikan dengan pakaiannya. Dia perempuan yang berbeda.' benak hati Arvin.
Tapi, beberapa detik setelah berpikiran demikian, Arvin sempat tersentak kaget, karena berpikir kalau Ashera berbeda, sekaligus ia mengingat kalau dirinya cemburu pada Fajar, hanya karena hadiah.
'Aku sangat kekanakan. Padahal jelas-jelas aku menuliskan surat kontrak sebagai batasanku dengan dia, tapi justru aku sendiri yang melanggar kontrak tersebut.
Walaupun aku bisa membuat berbagai alasan, karena akulah si pihak A, dan akulah yang memegang kekuasaan di sini, tapi tetap saja aku merasa apa yang aku lakukan ini tidak benar.
Padahal aku sering melakukan tidak benar juga. Tapi jika itu ada sangkut pautnya dengannya, aku merasa ada yang salah.' Seolah kalau Ashera itu benar-benar orang yang cukup berbeda, Arvin pun merasa tidak diperbolehkan untuk melakukan hal salah pada Ashera.
Hanya itu saja, dan itu juga cukup mengganggunya pula.
Tapi dengan rasa penasarannya yang aneh, dia justru mengambil salah satu bra yang ada di sana.
Dan sepersekian detik itu pula, wajah Arvin jadi datar.
'Aku jadinya lagi-lagi memikirkan dia. Apa dia tidak lelah terus saja mengaturku seakan dia itu Ibuku.' gerutu Arvin di dalam hati.
Lalu dengan pikiran licik yang ada di dalam kepalanya, Arvin pun mengambil semua bra itu.
'Hahaha, biarkan dia tidak usah memakainya, jadi dia tidak akan bisa keluar dari manapun.' Batin Arvin.
Setelah mengambilnya, Arvin penutup box itu dan tinggal membuka yang satunya lagi.
Dan yang satu ini cukup mengejutkan. Sebab di dalam box itu ada satu bingkai yang masih utuh berwarna hitam.
"Ini? Dia membuat satu lagi?" Arvin pun mengambilnya, dan melihat kalau di dalam bingkai itu ada seni Quilling yang sudah di kerjakan oleh Ashera sendiri yang di hiasi nama Arvin dan Ashera.
__ADS_1
Seakan itu adalah sebuah mahar, Ashera benar-benar melakukannya dengan cukup baik, dan kalau di jual bisa sampai setengah juta lebih, bahkan bisa sampai satu juta tergantung dengan kesulitannya.
"Jadi dia membuat dua? Apa ini untuk dirinya sendiri? Tapi sejak kapan dia membuat ini? Padahal dari kemarin dia berusaha membuat satu lagi untuk di hadiahkan untuk Fajar." Lirih Arvin.
Dia buru-buru memasukkannya lagi, dan tetap mengambil harta pribadi milik Ashera keluar dari kamar untuk mengerjai perempuan itu.
______________
"Lelah, sakit, panas, lapar dan gerah." Gerutu Ashera, dia akhirnya pulang, tapi yang harus dia hadapi sekarang saat dia masuk kedalam kamarnya dan ingin mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih, dia akhirnya sadar baru saja kehilangan sesuatu di dalam box miliknya. "D-dimana? Bukannya aku meletakkannya di sini setelah aku mencuci semuanya?" Ucap Ashera pada dirinya sendiri.
Matanya jadi jelalatan, melihat ke sana kemari, dan mengeluarkan pakaiannya dari dalam sana, kali saja tertindih dengan pakaiannya.
Tapi asli, apa yang dia cari sama sekali tidak ketemu.
"Dan, kotak itu juga letaknya berubah, aku lihat isinya, bingkai ini sudah bukan ada di posisi ini lagi." Berhasil memperhatikannya dengan seksama, Ashera pun akhirnya tahu dalang dari semua itu adalah kerjaannya Arvin.
Ashera bergegas pergi dari sana untuk mencari Arvin yang kemungkinan saja ada di dalam kamar. Tapi begitu masuk, dia sama sekali tidak menemukan batang hidung dari laki-laki itu.
"Arvin! Kemanakan bra ku!"
_____________
"Khehehe, dia pasti kesulitan." kata Arvin sambil menatap kantong plastik yang berisi bra milik Ashera.
"Tuan, kenapa anda malah pergi membawa barang seperti itu kesini?"
"Aku hanya ingin mengerjai dia. Pasti sulit, dia tidak bisa keluar rumah jika tidak memiliki ini." Jawab Arvin, dia saat ini sedang bermain catur dengan Daseon di rumah nya Daseon yang letaknya ada di lantai bawa persis.
Dan Daseon sendiri hanya diam sambil terus memperhatikan gerak gerik dari majikannya itu yang tidak bisa melepaskan kebiasaan buruknya untuk membuat onar.
Apalagi karena di rumah majikannya tersebut ada mangsa yang bisa di jadikan bulan-bulanan oleh sang Tuan muda, Daseon sudah jelas dengan pikirannya itu, bahwa semua hari yang akan di lewati oleh dua orang itu tidak akan pernah luput dari drama kehidupan yang tidak ada habisnya.
Entah senang, maupun duka.
"Nanti bisa kena karma, jadi lebih baik hati-hati."
__ADS_1
"Hmm, kau selalu saja begitu. Bicara yang benar kenapa, tidak usah membuat teka-teki seperti itu." jawab Arvin, dia menendang pion nya Daseon dan akhirnya membuat Daseon kena skakmat.
"Maafkan saya Tuan, ini sudah jadi ciri khas saya, jadi jika anda mau protes, juga tidak ada gunanya lagi." jawab Deseon.