Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
24 : Posisi yang tidak adil


__ADS_3

Mata yang tajam, di susul dengan suara yang keras tadi, sukses membuat suaranya itu membungkam semua orang di dalam kelas tersebut. 


“A-arvin,”


“Wadidaw, tamat sudah, Arvin sudah datang.”


“Hei, cepat duduk …, duduk.”


“Suaranya garang sekali. Aku jadi langsung takut.” 


Satu persatu diantara mereka segera duduk di kursinya masing-masing setelah kedatangan orang paling terkenal di sekolah tersebut. 


Arvin Akhtair Bagaskara. Dia terkenal dengan ketegasannya, apalagi jika sudah ada yang namanya keributan di area sekolah, jika anak buah Arvin menemukan keributan itu, Arvin akan langsung turun tangan sendiri. 


Awalnya dulu Arvin pernah menjadi calon ketua Osis, tapi di karenakan saat pemilihan ketua Osis itu sendiri Arvin merasa kalau hasil pemilihannya berdasarkan tampangnya, karena Arvin adalah anak yang lebih dulu populer sebelum menjadi calon ketua Osis, Arvin pun mengundurkan diri, meskipun Arvin memegang suara terbanyak. 


Maka dari itu, sebagai ganti karena tidak mau jadi ketua Osis, dia pun mendapatkan posisi sebagai seksi keamanan yang di tunjuk langsung oleh Ketua Osis sendiri. 


Dan hasilnya, sekarang dia pun berada di kelas IPS 11-B, tempat dimana Ashera berada. 


“Apa kalian bertiga bisa menjelaskan asal mula keributan kalian?!” Tanya Arvin seraya berjalan dengan tegas ke tempat kejadian perkara berada. ‘Lagi-lagi dia membuat keributan. Dia suka sekali membawa masalah kepada orang lain yah? Sellau saja merepotkanku.’ Pikir Arvin. 


Arvin menatap Dini, Lidia, dan Ashera secara bergantian dengan tatapan membunuhnya. Meskipun ia melihat Ashera kini tengah terbaring di lantai sebab baru saja terjatuh gara-gara Dini yang menarik paksa salah satu kakinya, ia tidak begitu memperdulikannya, sebab ia tidak akan pernah memperlihatkan dirinya bersimpati kepada orang lain, bahkan sekalipun Ashera itu sekarang sudah menjadi Istrinya. 


“Arvin, dia yang memulai duluan.” Kata Lidia, mulai angkat suara. "Dia mencuri dompetku, tapi dia malah tidak mau mengaku terus, siapa yang tidak kesal coba? Padahal aku lihat dengan mata kepalaku sendiri dia memegang dompetku." Jelas Lidia, membuat suatu alasan untuk membela dirinya sendiri.


“Dan aku hanya membantu Lidia, karena dia hampir saja menendang perutnya Lidia.” Dini pun memberikan penjelasannya juga sambil menujuk wajah Ashera yang sudah separuh menangis. “Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja ke semua orang yang ada di kelas ini. Ya kan? Kalian semua melihat Ashera hampir menendang perutnya Lidia, dan aku hanya bergabung untuk melerai perkelahian mereka berdua.” 


Lantas, Arvin pun merotasikan arah pandangannya ke segala arah. Satu persatu wajah, mata, bahkan ekspresi ataupun penampilan, hanya dalam sekali lihat Arvin segera tahu jawabannya. 


Maka dari itu, Arvin pun kembali berkata : “Kalian bertiga, ikut aku.” Bahkan sepasang matanya itu juga sempat menatap Ashera yang baru saja berdiri kembali. 


Sakit karena jatuh? Nangis karena di caci maki? Kesal tapi tidak bisa melakukan hal lebih jauh dari ini. Semuanya seakan sudah tertulis di wajahnya Ashera. 


Setidaknya untuk saat ini, karena Arvin sendiri sudah tahu seperti apa tempat ia menimba ilmu itu. Jika tidak memiliki mental kuat, lebih baik keluar, itulah yang Arvin harapkan kepada Ashera ini.


Ya, alih-alih bahwa semuanya kembali kepada dirinya masing-masing sanggup atau tidak hidup dan mencari ilmu di sekolah seperti ini, sebenarnya ada rasa kekhawatiran, kalau Ashera bisa saja mengatakan rahasia mereka berdua.

__ADS_1


“T-tapi Arvin, apa aku harus ikut juga?” Tanya Dini.


“Apa kau tuli? Aku tidak akan mengatakannya untuk yang kedua kalinya, turuti saja apa yang aku katakan tadi.” Cetus Arvin, langsung berbalik. "Kalau kau memang tidak bersalah, tentu saja kau seharusnya tidak mempermasalahkanku menyuruhmu pergi denganku.


Sampai sebelum ia berjalan pergi meninggalkan tempatnya tadi, Arvin sempat menjeling ke arah kiri sedikit ke belakang. Mata yang mengisyaratkan kepada Ashera agar Ashera menutup rapat hubungan diantara mereka berdua. 


Setidaknya hanya itu yang bisa ia kode kan kepada perempuan yang ada di belakang sana.


‘Aku tahu kok. Lagi pula, aku mana sudi menggunakanmu untuk melindungi diriku sendiri. Aku kan memang tidak punya hak apapun selain tugasku sendiri.' Benak hati Ashera.


Dari awal, yang Ashera inginkan hanya satu, yaitu mendapatkan keadilan. Mendapatkan perlakukan setara, tanpa adanya bullying seperti ini.


Hanya itu saja.


'Padahal sekolahnya bagus. Tapi kenapa isinya semua hanya orang-orang yang sombong? Sampai membuatku mendapatkan kekerasan, aku benci sekolah ini. Sebenarnya aku dari awal sudah tidak mau sekolah di sini. Tapi karena Nyonya besar-’ Ashera memejamkan matanya, ia tidak bisa melanjutkan pikirannya itu, karena pada akhirnya semuanya tidak ada gunanya. 


Sekolah yang mahal, Ashera bisa masuk ke sekolah SMANJA ini karena nenek nya Arvin lah yang memasukkannya. 


Ashera sebenarnya tidak suka, tapi ia juga harus ingat bahwa memang, tidak ada kebaikan serta kesempatan yang sama seperti ini jika bekerja di tempat lain. 


Tapi pada akhirnya, disekolah, ia selalu mendapatkan perlakukan yang tidak adil. 


Karena ia tidak mau membuat masalah jika mereka tahu kalau dirinya bekerja di keluarga Ravarden. Jika mereka tahu, tentu saja jelas, apa yang akan terjadi selanjutnya adalah, hal tersebut akan di gunakan sebagai kesempatan mereka untuk membuat Ashera dijadikan jembatan penghubung dari tujuan mereka yang ingin berhubungan dengan cucu dari keluarga Ravarden. 


Tentu, tidak ada yang tahu juga kalau sebenarnya cucu dari keluarga Ravarden adalah Arvin, sebab keluarga Ravarden sendiri tidak pernah mengekspose anak mereka di khalayak umum. 


Di sini, Arvin hanya mempunyai posisi sebagai keluarga kaya yang biasa, dan karena tampang, sifat, serta tempramen yan tegas tapi juga buruk, hal itu tidak membuat Arvin kesulitan bersekolah di SMANJA ini, karena Arvin sudah populer sebagai pangeran di kalangan perempuan. 


Maka dari itu, tidak ada satu pun orang yang memanggilnya Tuan muda, sebab mereka sama sekali tidak tahu identitas sebenarnya Arvin.


Dan di satu sisi lain, Arvin sendiri memang sudah tidak tinggal di rumahnya lagi, sebab sudah pindah ke apartment.


Itulah keuntungannya, bahwa baik itu identitas Ashera sebagai pelayan, identitas Arvin yang merupakan Tuan muda Ravarden, maupun rahasia bahwa mereka berdua mempunyai hubungan lebih yang sudah di akui agama juga hukum, tidak ada satu pun yang tahu kecuali mereka berdua dan sekeluarga.


Kembali lagi ke mereka berempat.


Arvin, berjalan memimpin dan membawa mereka bertiga ke ruang BK.

__ADS_1


Dan di sanalah, bimbingan dan keputusan, di ambil saat itu juga.


Salah satunya adalah soal pencurian itu sendiri, membuat Ashera hanya bisa diam dan mempertaruhkan dirinya sendiri pada suatu keadilan yang entah akan ia dapatkan atau tidak.


_____________


Sepulang sekolah.


Seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain, Arvin yang lebih dulu sampai di apartment nya, segera masuk dan mengabaikan Ashera yang baru saja keluar dari lift.


KLEK....


Ashera yang melihat Arvin begitu cuek kepadanya, memilih diam dan terus berjalan menyusuri koridor yang terlihat sepi itu.


Koridor tersebut cukup mewah, sampai siapapun yang berjalan melewatinya, akan membuatnya seolah berada di sebuah istana kekaisaran.


Hanya saja, kesan sepi itu, untuk ke depannya akan selalu ada.


Karena apa? Itu karena Arvin mengkhususkan lantai tersebut untuk tidak di huni oleh orang lain kecuali dia sendiri.


Maka dari itu, Ashera yang sudah tertekan karena kejadian yang ada di sekolah, jadi semakin tertekan, sebab ketua unggulan dari geng seksi keamanan sekolah, sekarang ada di apartment ini, dan bahkan tinggal bersama dengannya.


"Tuan muda. Bisakah anda membukakan pintu untuk saya?" Tanya Ashera dengan bahasa formal. Dia terus menatap pintu berwarna coklat itu dengan penuh harap.


Tetapi, sampai dua menit berlalu pun, Ashera sama sekali tidak mendapatkan sahutan.


'Kenapa dia tidak membukakan pintu? Apa suaraku kurang keras? Tapi tadi sudah cukup keras kok, atau-' Belum sempat menyelesaikan kalimat di dalam pikirannya itu, Ashera tiba-tiba saja merasakan kehadiran seseorang di ujung koridor, dan orang itu adalah Daseon.


Dengan wajah bingung, Ashera pun membalas senyuman yang di berikan Daseon dengan senyuman canggungnya.


Dan karena melihat Daseon akhirnya terus berjalan ke arahnya, Ashera memutuskan untuk memutar tubuhnya ke samping kiri, hingga ketika Daseon menghentikan langkahnya, mereka berdua pun berdiri saling bertatap muka dan menunggu Daseon angkat bicara.


"Apa anda mau minum teh bersama saya sebentar?" Tanya Daseon kepada Ashera secara langsung.


'Kenapa Kak Daseon malah menunjukkan ekspresi wajah seperti itu?' Batin Ashera terhadap ekspresi wajah Daseon yang nampak seperti orang yang sedang menaruh rasa simpati kepadanya. "Memangnya ada apa ya?"


Tapi, lagi-lagi Daseon hanya merespon pertanyaannya Ashera dengan senyuman lemah.

__ADS_1


'Tujuannya apa? Kenapa tiba-tiba ingin bicara empat mata denganku?' Pikir Ashera, langsung mengerti akan senyuman lemah yang terlihat tulus itu.


__ADS_2