
"Ashera, kau nyu-"
KLEK...
Tanpa ketukan pintu, Ashera pun masuk kedalam kamar, dimana Arvin saat ini baru saja ganti baju.
Melihat beberapa pakaian anak itu berantakan, Ashera langsung menangkap tangannya Arvin yang mau pergi itu. "Kau mau pergi kemana?"
"Itu bukan urusanmu."
"Tidak, ini sudah jadi urusanku, malam-malam seperti ini jangan keluar jika tujuanmu hanya untuk nongkrong dengan teman atau bahkan dengan pacar-pacarmu yang lain." Tegas Ashera, tanpa menatap lawan bicaranya itu, Ashera langsung menyeret Arvin kembali masuk kedalam kamar, lalu langsung menyuruh Arvin untuk memungut baju-bajunya lagi.
"Siapa yang mau nongkrong? Atau kau cemburu? Mau aku tongkrongin di ataskummphh..!" Mulut Arvin tiba-tiba saja di bungkam dengan popocky oleh Ashera. 'Darimana dia dapat ini?!'
"Heh~" Dengan senyumannya, Ashera yang tahu ekspresi wajah apa yang sedang di perlihatkan kepadanya itu, ia segera menjawab : "Kau suka makan ini kan? Bahkan untuk beli saja kau harus tunggu berjam-jam, jika kau mau pergi berarti kau tidak akan dapat pintu rumah, makanan ini jadi milikku, dan kau harus tidur di luar. Mana yang ingin kau pilih? Aku bisa merubah nomor sandi pintumu saat kau keluar, jadi silahkan pilih yang mana?" Ancam Ashera.
Popocky termasuk makanan favorit dari Arvin. Ya, walaupun tubuhnya saja yang gede, dan galak ke sana dan kesini, tapi jangan berpikir kalau dia tidak akan menyukai makanan manis dan simpel seperti itu.
Ashera kebetulan menemukannya di di atas lemari pakaiannya Arvin yang ada di dalam kamar lantai bawah, maka dari itu, ia pun menggunakannya sebagai ancaman untuk Arvin, karena Popocky edisi spesial rasa redvelvet itu hargnya selain mahal, jika mau dapat, harus punya nomor antriannya lebih dulu lewat online.
Arvin menelan salivanya sendiri, melihat ada satu tas besar di ambang pintu yang isinya hanya Popocky.
'Padahal aku dapetinnya susah, tapi dia mudah sekali menemukan barang privasi dan bahkan makanan kesukaanku saja dia sudah tahu semua. Apa aku akan terus menerus di ancam seperti ini oleh perempuan ini?' Pikir Arvin.
Padahal ia sudah siap untuk pergi berkencan, setidaknya ia akan berkencan dengan Marlina secara pribadi, dengan kata lain ingin menginterogasinya sendiri.
__ADS_1
Tapi karena ia bahkan tidak bisa keluar gara-gara Ashera ini, ia pun memilih untuk mengundurkan niat itu itu lebih dulu, setidaknya ia akan mengamankan makanan kesukaannya itu lebih dulu, barulah ia akan pergi untuk tujuannya yang tertunda itu.
"Ashera, kau benar-benar deh, kenapa selalu saja menghentikan urusan pribadiku?" Arvin menepis kasar tangannya Ashera. "Kalau mau membatasiku, aku juga bisa membatasimu untuk tidak keluar sejengkalpun, bahkan dari kamar ini, se.ka.rang. juga."
Arvin pun menatap wajah Ashera yang tidak ada tanda-tanda takut kepadanya.
Tentu saja tidak takut, Ashera saja punya kemampuan untuk bela diri. Jadi bahkan jika ia mau mengikat perempuan ini, sudah pasti akan ada waktu membalas dendam yang tidak tanggung-tanggung juga.
"Kalau itu memang bisa membuatmu pergi malam-malam seperti ini, coba saja." Mata penuh keberanian itu terus saja tertanam pada sepasang mata yang begitu cerah itu.
"Ok, bahkan jika aku memang tidak bisa keluar dari rumahku sendiri, bagaimana jika kau yang akan jadi objek percobaanku lagi?"
'Objek percobaan apa?' Ashera semakin waspada dengan Arvin yang tiba-tiba saja berjalan mendekatinya. Dengan satu langkah ke depan, mereka pun sudah saling berhadapan tanpa jarak
lagi.
"Husttt, jangan di makan dulu." Ucap Arvin dengan anda menggoda. "Ada satu aturan yang tidak bisa kau lewati, sebagai majikanmu, kau harus menuruti perintahku.
Permainan ini cukup sederhana, jika kau dan aku sama-sama makan dan sebelum habis tapi stick ini patah dulu, maka permainan akan di anggap gagal, dengan kata lain kau tidak bisa tidak bisa mencegahku keluar, tapi sebaliknya, jika stick nya dimakan sampai benar-benar habis, kau akan di anggap menang.
Apa kau terima tantanganku?"
KRAUK...KRAUK...KRAUK....
"Aku menang." Tanpa pikir panjang, Ashera malah sudah memakan popocky itu sampai habis.
__ADS_1
Arvin pun tertawa geli melihat Ashera malah memakannya sendirian, padahal aturannya sebenarnya satu stick di makan berdua.
Karena dua stick pertama sudah di makan habis, Arvin pun meletakkan satu stick di mulutnya sendiri. Dan karena perbedaan tinggi mereka berdua yang cukup signifikan, Arvin pun membungkuk ke depan dan langsung menawari ujung stick popocky itu ke depan Ashera.
"Apa? Aku kan sudah memakannya tanpa patah, dan bahkan cepat, jadi aku menang dong." Ucap Ashera berpura-pura tidak tahu sambil edikit mendur ke belakang.
"Bukan itu, aturannya satu stick dimakan berdua. Jika kau takut, aku anggap kau kalah dariku." ancam Arvin.
Dan seperti itulah mereka berdua pun saling membalikkan keadaan mereka masing-masing dalam urusan mereka berdua yang suka berdebat.
'Kenapa malah di ancam balik seperti ini?' Ashera pun tidak mau, ia memilih untuk menguasai semua popocky mahal itu dari tangan Arvin, dan langsung pergi keluar dari kamar itu dan langsung mengunci pintu kamarnya Arvin.
BRAK....
KLEK....
'Tidak seru, padahal aku ingin mengerjai dia. Tapi alhasil, aku tidak mendapatkan popocky lagi.' batin Arvin. 'Seharusnya untuk berjaga-jaga, agar dia tidak kabur seperti itu saat aku membuat tantangan, aku memesan borgol dulu dari Daseon. Ok, malam ini aku tidak akan mempermasalahkannya, tapi yang kedua kalinya, akan aku pastikan dia bahkan tidak akan bisa mengaturku jika aku tidak mau ikut taruhan denganku.' Pikirnya.
Sedangkan di luar kamar.
'Saat dia membuat tantangan seperti itu, aku sudah merasa janggal kalau dia pasti akan melakukan sesuatu kepadaku bahkan jika aku yang menang. Untung saja aku lebih dulu pergi dan mengunci dia di kamar dulu.' Benak hati Ashera. Dia yang berhasil keluar dari kamarnya Arvin, kini dengan satu tas belanja berukuran besar di atas meja, ia pun langsung membukanya, dan betapa hebatnya Arvin ketika ia berhasil membeli makanan edisi terbatas sampai satu box besar seperti itu. "Apa dia bahkan beli ini sampai di borong?" Gumam Ashera.
Dia berpikir kalau ada makanan edisi terbatas seperti popocky ini, dan Arvin membelinya sampai sedemikian banyak, maka berarti banyak pelanggan yang mengantri hanya dapat satu saja, ada kemungkinan seperti itu.
'Tapi ini enak loh, laki-laki tapi suka makanan seperti ini. Lucu juga dia, padahal tampang saja seperti anak jalanan.'
__ADS_1
KLAK....
Karena sudah beres, ia berhasil mengurung Arvin untuk tidak pergi dari kamarnya, Ashera pun menikmati semua makanan itu sendirian, sampai ia tidak menyadari bahwa Arvin akhirnya memutuskan rela untuk memberikan popocky itu untuk Ashera, sebab ia bisa keluar dari jendela kamarnya dan pergi ke balkon dari apartemen sebelahnya.