Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
165 : Ashera


__ADS_3

Setelah pagi itu berubah menjadi siang, Daseon yang merasa khawatir dengan keadaan dari dua anak muda itu, karena belum keluar juga setelah jam sudah hampir menunjukkan jam dua belas siang, dia pun segera mencoba untuk mencari tahunya sendiri. 


“Tuan muda?” panggi Daseon sambil mengetuk pintu. 


KLEK….


“Apa?” ketus Arvin, dia segera muncul sambil mengenakan kaos berwarna putih yang baru saja terpasang di tubuhnya. 


Hanya dalam sekali lihat saja, Dason tahu kalau Tuan muda nya ini belum lama ini mandi. Orang yang bahkan tidak pernah sekalipun kesiangan sampai pukul dua belas siang seperti ini, Daseon pun di buat penasaran. 


“Makanannya, anda melewatkan jam sarapan pagi, dan-”


Arvin yang melihat sudut mata Daseon sempat mengintip di balik punggungnya, segera menyela : “Biarkan saja, kau bawa saja makanannya ke kamar, aku sedang tidak ingin keluar, selain sore nanti.” perintah Arvin. 


“Apakah hanya untuk anda saja?”


Arvin langsung mengerutkan keningnya dan berkata : “Ya iyalah, apa aku harus membangun-”


“Tapi- anda melupakan agar dia tidak boleh telat makan?” pertanyaannya itu tertuju pada Ashera yang nampak kelelahan, sampai yang hanya terlihat dari tempat Daseon berdiri itu, hanyalah rambutnya Ashera saja. 


Arvin yang baru saja ingat jika tidak diingatkan oleh Daseon itu, dia pun segera mengambil keputusan lagi. “Ya sudah, bawa dua piring, aku akan bangunkan dia, tapi akan lebih baik jika kau mengambilkanku alkohol juga,” imbuhnya dengan tangan kanannya melambai-lambai kepada Daseon sebagai kode untuk segera pergi dari hadapannya, sebab dia sendiri lumayan muak karena melihat wajah Daseon yang mana keberadaan dari orang tersebut jadi nampak seperti seorang kakak. 


Dan Arvin sangat benci jika setiap mereka berdua saling bicara seperti itu, pikirannya jadi punya semacam peringatan untuk segera mengusir orang ini. 


“Baik, saya akan mengantarkannya sekarang juga,” jawab Daseon dengan penuh hormat, bahkan setiap kali dia menjawab perintah dari atasannya itu, dia selalu memejamkan matanya sesaat sebelum dia akhirnya berbailik dan segera pergi dari sana. 

__ADS_1


Karena Daseon sendiri sudah memasak ulang untuk makan siang dari kedua anak yang sudah jadi majikannya tersebut, Daseon pun hanya tinggal mengantarkannya, termasuk dengan alkohol yang diinginkan oleh sang Tuan muda tersebut. 


Ada beberapa menu makanan yang disajikan oleh Daseon kepadanya, dan salah satunya adalah alkohol yang benar-benar Daseon bawa atas perintah yang diberikan oleh Tuan muda Arvin kepadanya. 


“Apa anda butuh yang lain?”


“Hmm, pergilah,” jawab Arvin dengan tatapan matanya yang begitu serius kepada Ashera. 


Melihat tatapan mata sang Tuan muda Arvin begitu serius untuk menatap Ashera yang sudah resmi menjadi Istri dari Tuan muda nya itu, Daseon pun perlahan undur diri dengan langkah yang begitu senyap. 


KLEK….


Begitu pintu kamarnya sudah tertutup, Arvin yang dari tadi diam di tempatnya itu, tiba-tiba saja secara perlahan berjalan menghampiri Ashera yang masih bersembunyi di dalam selimut tebal itu, yang mana hanya tinggal menyisakan rambut panjang berwarna hitam saja. 


‘Apa ini akan baik-baik saja? Dia yang tidur seperti itu, benar-benar mengingatkanku soal kejadian itu. Yah, walaupun aku sudah mau bertanggung jawab, hanya saja kenapa aku masih saja merasa janggal dengan keberadaan Ashera ini? Setelah Ayahnya meninggal, sekarang dia hanya punya Ibu tanpa punya kerabat.’ begitu Arvin sedang memikirkan soal Ashera, tangannya pun menyibak selimut yang di gunakan untuk menutupi tubuh Ashera. 


“Ashera, bangun,” panggil Arvin, dia sempat melihat salah satu jari dari tangan kiri Ashera yang benar-benar masih terbalut dengan perban dan juga gips. ‘Apa semalam aku terlalu kasar? Tapi untungnya dia sudah bersih dari darah Haid. Hanya saja-’


“Aku masih ngantuk,” jawab Ashera, dia pun sudah mulai terusik dengan posisinya sendiri yang mana tubuhnya itu benar-benar merasakan dingin yang cukup mengerikan, karena AC masih saja menyala di bawah dua puluh empat derajat, dan Arvin yang memang sehat itu seolah sudah terbiasa dengan rasa dingin itu sendiri, sehingga Arvin pun sama sekali tidak peka dengan hal tersebut. 


“Ini bukan soal kau masih mengantuk atau tidak, tapi perhatikan perutmu,” ucapan Arvin yang begitu ambigu itu sontak membuat Ashera langsung membuka matanya lebar-lebar dan saat itu juga tubuhnya segera terbagun sambil menyentuh perutnya sendiri. 


“Ada apa dengan perutku?!” panik Ashera, tanpa sadar dia pun jadinya duduk dengan posisi tubuh polos yang membuat sudut bibir Arvin diam-diam terangkat, karena begitu polosnya ekspresi dari Ashera ini, begitu terkejut saat membahas soal perut. 


“Kau hamil-” ledek Arvin, dia sengaja mengatakan itu dan hasilnya, ekspresi wajah Ashera pun langsung horor. Wajahnya jadi semakin pucat pasi dengan perkataan dari Arvin itu. 

__ADS_1


“T-tidak mungkin, bagaimana kau tahu? Aku bahkan sudah minum obat kontrasepsi yang sempat kau berikan kepadaku.”


“Pfftt…, sebegitu seriusnya percaya dengan ucapanku?” sindir Arvin dengan seringaian liciknya. Bahkan senyuman miring itu tiba-tiba saja nampak seperti kalau Ashera baru saja menerima kutukan dari seorang raja Iblis kepadanya. 


Betapa gilanya ucapan Arvin saat bilang kalau dirinya (Ashera) hamil?


‘Hah? Dia bahkan menatapku dengan santai saat aku baru sadar aku belum berpakaian.’ Ashera yang kelabakan setengah mati, karena baru saja sadar bahwa dirinya tidak memakai apapun, dengan buru-buru dia segera mengambil selimutnya dan membaut tubuhnya dengan selimut yang sempat Arvin hempaskan pergi dari tempatnya. 


Ashera bahkan benar-benar tidak menginginkan itu, sebab dia ingin lebih fokus untuk belajar dan setidaknya bisa lulus dengan normal. 


“Kau- kalau bicara jangan suka bercanda kenapa?! Aku tidak mau hamil, aku bahkan masih tidak ingin punya itu, itu merepotkan, aku akan terkekang jika hal itu benar-benar terjadi,” ungkap Ashera dengan raut wajah murung, bahkan saking takutnya saat dia bicara demikian kepada Arvin, Ashera sampai menyembunyikan wajahnya itu di atas tumpukan tangannya yang dia letakkan di atas lututnya yang dia tekuk itu. 


Mendapatkan posisi yang sama, tapi entah kenapa ada rasa sakit saat mendengar Ashera tidak menginginkannya, senyuman Arvin pun langsung pudar dan langsung tergantikan dengan kalimat lain. 


“Walaupun nenekku sebenarnya mengharapkannya, kau tidak usah khawatir, selama kau menuruti semua ucapanku, kau tidak akan hamil. Tapi bukan berarti jatahku akan di pangkas- tahu sendiri aku ini orangnya seperti apa, bahkan kau sudah menyebutku kalau aku dapat tips uang dari perempuan lain karena layananku. 


Apa yang kau katakan itu tidak salah, dan aku memang pernah melakukannya dua kali dengan orang lain, tiga kali dengan Marlina, tapi selain itu, kaulah satu-satunya orang yang aku tiduri tanpa menggunakan alat pengaman waktu itu. 


Aku membangunkanmu karena kau harus sarapan, jangan buat penyakit maag mu itu mengganggu jadwal yang sudah di atur oleh nenekku ini.” setelah menjelaskannya dengan panjang dan lebar, Arvin langsung melempar handuk kimono yang dia dapat dari lipatan yang sudah di persiapkan oleh Daseon sebelumnya, dan melemparnya ke arah Ashera. “Pakai itu, kita makan siang bersama,” imbuh Arvin, dia sejenak pergi ke kamar mandi meninggalkan Ashera yang dilanda kebingungan serta rasa ragu yang sangat mendalam.


Tapi, bahkan Arvin yang suka bercanda tapi juga bisa terbawa suasana serius yang di buatnya sendiri, tidak pernah tahu kalau ucapannya yang hanya sekedar bercanda itu, adalah sebuah ungkapan doa yang tidak pernah Arvin sadari, bahwa kalimat itu suatu hari nanti akan benar-benar terkabul. 


KLEK….


‘Arvin? Kenapa suaranya terdengar sangat dingin? Apakah aku mengatakan hal yang salah?’ pikir Ashera seraya terus menatap pintu kamar mandi tersebut. 

__ADS_1



__ADS_2