
CESSS....!
Suara dari telur yang sedang di masak di atas teflon itu membuat rasa lapar yang dari tadi mendera perutnya langsung merasakan harapan bisa hidup lebih lama lagi menjadi muncul.
"Aku sudah bilang, kau tidak usah melakukan apapun, biar Daseon saja yang melakukannya," sela Arvin di tengah-tengah Ashera yang kini malah justru sudah berada di area dapur, dan tengah memasak telur gulung untuk mereka berdua.
"Aku tidak mau menyusahkan orang lain lagi," jawab Ashera dengan ketus.
Tidak seperti biasanya, akan mendapatkan deretan panjang dari omelannya Ashera, karena ketahuan sudah minum alkohol, sekarang justru tidak seperti itu.
Ashera benar-benar merajuk, dia sedang marah, tapi tetap bersikap sok kalem.
"Jadi apa kau benar-benar tidak ingat dengan apa yang sudah terjadi padamu selama ini?" tanya Arvin, mengalihkan topik pembicaraannya.
"Sudah aku bilang, tidak ya tidak, mau berapa banyak lagi aku harus menjawab jawaban yang sudah jelas seperti itu. Walaupun aku tetaplah aku, tapi karena aku punya satu kepribadian lagi, dia dengan sengaja menyegel ingatanku sebelum ini." jawab Ashera. Dengan begitu lihai, meskipun dia hanya bisa menggunakan satu tangannya, tapi dia tetap bisa melakukan pekerjaan dapur dengan baik. "Ini, aku ke depannya akan berusaha agar bisa masak lebih dari ini," imbuh Ashera, menyodorkan sandwich yang sudah dia buat untuk Arvin tersebut.
Arvin terdiam, melihat wajah polos milik Ashera kali ini, benar-benar berbeda dari pada yang biasanya.
Membuat Arvin sebenarnya ingin sekali menampol wajah itu agar bisa di make over.
Yah, sebenarnya cukup penasaran lagi, akan jadi seperti apakah wajah tanpa make up itu tiba-tiba di rias?
"Tidak usah, karena sebentar lagi kita berdua akan pergi ke sini, kau tidak perlu melakukan apapun selain membuat nenekku percaya kalau kita berdua benar-benar liburan," ucap Arvin memberitahu seraya melempar dua tiket pesawat, pasport, dan juga amplop coklat yang berisi berkas-berkas lain.
Ashera yang tidak tahu apapun itu, langsung mengambil berkas yang ada di atas meja makan itu, dan melihatnya dengan seksama, "Hah? Kita ke korea?!"
__ADS_1
Negara yang paling di idam-idamkan oleh semua orang, Ashera yang sebenarnya hanya punya angan-angan saja, ketika tiba-tiba mendapatkan tiket tersebut, dia tanpa sadar jadi tersenyum-senyum sendiri.
"Kalau mau senyum, senyum saja yang lebar sekalian, tangung sekali," ledek Arvin, menyesap secangkir teh sambil memakan sandwich sederhana tersebut.
Ashera yang tersinggung itu, langsung berbalik, karena saking malunya di tatap oleh Arvin yang sedang menikmati sarapan paginya.
"T-tapi ada acara apa sampai Nyonya besar membuat kita pergi liburan?" tanya Ashera dengan ragu-ragu.
GLUK...
Menelan suapan pertama yang dia makan, Arvin pun menjawab : "Nenekku menyuruh kita berdua untuk bulan madu, jadi apa kau siap dengan aturan kewajiban dari pernikahan kita?"
"Apa?! Bulan madu?" tanya Ashera bingung, "Kenapa minum madu saja, harus sampai pergi ke korea? Bukannya itu pemborosan ya?" tanya Ashera, benar-benar bertanya dengan mata polosnya.
"Uhukkk..uhukk.." Arvin yang mendengar itu pun hampir tersedak minumannya sendiri, "K-kau, apa kau tidak tahu bulan madu itu apa?!" pekik Arvin, dia benar-benar tercengang dengan pertanyaan dari Ashera itu.
"Memangnya apa? Kue bulan di campur madu?" tanya Ashera sekali lagi dengan sedikit memiringkan kepalanya ke arah kanan.
"Kau-" Arvin jadi menepuk jidatnya sendiri, ternyata perempuan yang bahkan di kepribadian satunya lagi benar-benar pintar dan tahu segalanya, tapi ketika harus menghadapi orang sama tapi kepribadian yang berbeda, Arvin benar-benar jadi frustasi sendiri. 'Ashera, kemana perginya kepribadianmu yang satunya lagi? Kau bahkan lebih keren di sisi itu ketimbang ini.' kata hati Arvin.
"Kenapa kau diam?! Kalau tidak mau menjelaskannya, setidaknya jangan buat raut wajah seperti itu," keluh Ashera, dia pun meletakkan tiket pesawat itu kembali ke atas meja, dan segera pergi ke kamarnya, karena ngambek.
BRAK....
________________
__ADS_1
"Nak, liburan nanti kau mau pergi kemana?" tanya wanita ini kepada satu-satunya anak semata wayangnya yang sedang mempersiapkan kopernya untuk pergi berlibur, sebab ujian nya sudah selesai, jadi cukup ada waktu untuk bisa menghibur diri di tempat lain dengan teman-temannya.
"Sebenarnya ada yang mengajakku pergi ke korea, sampai sudah mendapatkan tiket untukku, aku jadi tidak bisa berani menolaknya," jawab Fajar, mengemasi pakaian dan beberapa barang pribadinya kedalam koper hitam tersebut.
"Wah, baik sekali temanmu, sampai mau membelikanmu tiket sekalian kesana, harganya pasti sedang mahal-mahalnya kan?" tanya Ibu nya Fajar. "Tapi apa kau yakin tidak butuh bantuan Ibu untuk menemukan penerjemah, agar perjalanan kalian bisa lebih enak lagi?"
Fajar yang mendengar hal tersebut, hanya tersenyum simpul. Tanpa memperhatikan sang Ibunda, dia pun terus merapikan pakaiannya kedalam koper, "Ya, itu karena temanku kaya, jadi dia bisa leluasa membelikanku dan dua temanku lainnya pergi bersamanya. Dan iBu tidak perlu mengkhawatirkanku, lagi pula anakmu ini bisa bahasa korea juga,"
DEG....
'Dia bisa belajar bahasa korea? Padahal aku sama sekali tidak mengambil les privat untuknya, apa dia belajar sendiri?' pikirnya, dia bahkan sebenarnya tidak terlalu menuntut dengan apa yang harus di lakukan pada Fajar. Justru yang ada, dirinya sebenarnya memberikannya kebebasan kepada Fajar, untuk melakukan apapun yang di sukainya.
Akan tetapi, semua itu justru berakhir bertolak belakang dengan harapan.
Berharap Fajar bisa menikmati kebebasan seperti anak-anak lainnya, justru hal tersebut tidak di lakukan oleh Fajar sendiri. Yang ada, Fajar malah memaksa mengurung diri pada tuntutan untuk menjadi penerus keluarganya yang sempurna, sampai pelajaran yang tidak begitu harus di pelajari di ambil, membuat batasan sendiri tanpa di perintah, bahwa yang kaya harus berada di lingkungan orang yang kaya pula.
Ibunya Fajar, dia pun jadi merasa miris dengan anaknya tersebut, karena belum apa-apa sudah mau menanggung beban berat sendirian tanpa di perintah sedikit pun.
"Kalau sudah sampai di sana, hubungi Ibu ya, biar tidak khawatir,"
"Jelas lah Bu. Aku berangkat dulu ya," sahut Fajar, dengan sopan dia pun mencium punggung tangan kanan Ibunya, lalu dia pun pergi untuk menemukan tujuan dari liburannya.
Setelah kepergian dari anaknya itu benar-benar sudah membuat sosoknya menghilang dari pandangannya, wanita ini pun tiba-tiba saja memanggil namanya dengan begitu pelan, "Fajar, kenapa kau terus begini? Aku harap kau tidak terjebak pada aturanmu sendiri," gumamnya.
Berharap kalau Fajar tidak terlalu membebani diri dengan membatasi sosialisasinya pada orang-orang, dan hanya menganggap orang yang setara dengannya adalah orang yang cocok dengan keluarga mereka yang kaya, karena semua itu, bagi wanita ini, sebagai Ibunya jadi merasa cukup bersalah sendiri dengan sikap yang di perlihatkan oleh Fajar.
__ADS_1