
'Mulutnya itu, aku ingin menjahitnya.' detik hati Arvin, merasa tersinggung dengan ucapannya Ashera yang cukup menusuk nuraninya juga.
'Tapi ini benar-benar jadi kotor, dia dapat tikus dari mana coba? Pasti banyak kumannya.' Langsung berekspresi wajah horor jika mengingat tikus itu ada banyak penyakitnya, Ashera buru-buru pergi untuk mandi.
"Tunggu! Kau mau kemana? Aku sengaja membangunkanmu agar kau masak makan malam." mencegat Ashera pergi.
"Tentu saja mandi. Apa? Mau ikut? Jika bukan karena tikus tadi, aku juga malas mandi. Jadi jika memang mau makan, sebaiknya kau mulai latihan masak sendiri." setelah menyelesaikan kalimatnya, Ashera langsung menepis tangannya Arvin. 'Pasti banyak bakterinya, aku harus cepat-cepat mandi.'
Dan Ashera pun pergi dari sana dan mandi.
Tapi ada satu masalah lainnya. Di saat Ashera sudah membawa pakaian barunya juga handuk untuk ia bawa ke dalam kamar mandi, pintu yang hendak di tutup itu langsung di tahan oleh Arvin.
'Apa yang sedang coba dia lakukan?' Tangan yang tertahan di tepi daun pintu, membuat Ashera yang geram, langsung mendorong kuat pintu itu agar di tutup.
"Kau ini, tadi kau bilang menawariku mandi bareng."
"Tawaranku sudah kadaluarsa. Minggir, atau tanganmu akan aku jepit lebih dari ini." Ancam Ashera, terus bertahan pada posisinya agar Arvin tidak mendorong pintunya balik.
"Tidak bisa begitu, tawaran baru tiga menit yang lalu tidak bisa kadaluarsa sesingkat itu."
"Ya, kan ada jangka waktunya. Jangka waktunya jelas pendek, minggir, jangan halangi aku mandi." kesal Ashera, dia berusaha agar pintunya tertutup, tapi rupanya tenaga Arvin untuk mendorong balik pintu itu jauh lebih besar.
"Turuti dulu kemauanku."
"Tidak, aku tidak akan pernah menuruti kemauanmu lagi selain kau harus menuruti kemauanku." jawab Ashera, masih beradu kekuatan dengan pintu kayu itu.
Arvin tersenyum kecut, dan berkata : "Ternyata kau orang yang keras kepala."
"Bukannya kau sendiri keras kepala?" Sahut Ashera detik itu juga.
__ADS_1
"Hahah, jadi maksudmu kita berdua memang pasangan yang serasi untuk beradu siapa yang lebih keras kepala?"
"Anggap saja begitu." Seringai Ashera, merasa tertantang dengan ucapannya Arvin barusan. "Itu kau yang bilang sendiri." Imbuhnya. 'Anak ini kuat sekali. Ya, bahkan saking kuatnya, waktu itu dia sampai enam ronde lebih. Arvin, dia sudah berpengalaman, sayang sekali, dia sudah menodai tubuhnya sendiri karena pergaulan bebasnya. Kenapa orang tuanya sama sekali tidak peduli dengannya?' pikir Ashera.
'Aku tidak percaya, tapi aku harus akui dia memang kuat, tidak seperti anak yang waktu itu sukanya menangis.
Tapi, jika terus seperti ini, bukannya sangat merepotkan? Ashera, walaupun aku mengatakan aku bisa menurutimu, tapi tetap saja, yang menjadi Bosmu itu aku, bukan nenekku lagi.' Begitu seterusnya, saling adu kekuatan dengan pintu yang bahkan tidak memiliki salah sama sekali, akhirnya kunci dari engsel pintu itu terlepas, dan satu perkara di dalam kamar mandi pun datang juga.
BRAK....
Terkejut bukan main dengan suara engsel yang akhirnya lepas dari tempatnya, pintu itu pun roboh.
Dan Ashera yang ada di dalam kamar mandi itu, sontak langsung tercengang. 'E-eh? Kenapa pintunya mau rubuh ke sini?'
Di karenakan lantai kamar mandinya licin, Ashera yang masih memasang wajah terkejutnya itu, langsung terpeleset.
"Kyaa!" Dan pintu itu pun rubuh ke arahnya.
'Kenapa hari ini apes sekali sih? Pan*atku, sakit pula.' Rutuk Ashera, dia jatuh sampai terbaring di lantai kamar mandi.
"Makannya, jangan pernah melawanku." ucapnya dengan nada sombong.
Dan pintu yang seharusnya sudah menimpa Ashera yang sudah terbaring di lantai, berhasil di kendalikan oleh Arvin yang lebih dulu mendorong dan menahan ujung pintu bagian bawah itu ke depan, sehingga saat pintu itu bisa saja rubuh menimpa Ashera, pintu itu jadinya berhenti karena ujung atas pintu itu tersangkut di dinding.
Walaupun Arvin memang berkata dengan nada sombongnya, akan tetapi di lain hati yang paling dalam, Arvin berkata : 'Untung saja. Tadi itu hampir, dia hampir terluka. Walaupun aku bersikap keras dengannya, meskipun begitu aku tidak mau dia kenapa-kenapa, karena yang ada aku akan berurusan dengan Nenekku.'
'Untung dia menolongku, bagaimana jadinya nanti jika aku ketimpa pintu?' Sama seperti Arvin, Ashera pun merasa lega juga.
"Jadi, apa kau akhirnya mau mandi bersama tanpa penghalang seperti pintu ini?" Sindir Arvin, kembali memunculkan suasana menjengkelkan untuk Ashera yang seharian ini terus ketiban masalah yang terus datang.
__ADS_1
Lalu Ashera yang masih berada di bawah pintu itu, sedang berekspresi datar.
'Dia memang sangat niat sekali ya, ingin mandi bersama? Padahal dia sendiri yang katanya tidak menyukaiku, tapi kenapa jadi seperti ini?' Ashera pun diam saja, dan memutuskan merayap keluar dari kolong pintu sebelum pintu akhirnya rubuh dan jatuh ke lantai juga setelah kakinya Arvin dia jauhkan.
BRUKK.....
"Kelihatannya kaulah yang seharusnya memperbaiki pintunya." perintah Arvin, melihat betapa mengenaskan nya pintu kamar mandi miliknya yang harus kena imbas dalam pertengkaran mereka berdua tadi.
"Kau juga yang salah, kenapa aku yang di lampiaskan?" sela Ashera. Tapi sayangnya ia tidak bisa bangkit karena punggungnya yang cukup sakit. 'Kenapa juga harus di saat-saat seperti ini? Kira-kira aku sudah jatuh berapa kali? Tiga? Empat? Tidak tahu lagi ah, tapi ini sangat sakit. Semoga tidak ada tulang yang retak, gara-gara beberapa hari yang lalu aku jatuh karena kakiku di tarik oleh Dini itu.'
Begitu Arvin tiba-tiba saja melangkah masuk, dan benar akan mandi lagi di sana dengan melepas handuk mandinya, Ashera pun memegang pergelangan kakinya Arvin, sebelum anak ini benar-benar memperlihatkan tubuh telanjangnya itu di depan matanya.
"Bantu aku."
"Hei Ashera, kau lucu sekali, padahal tadi kau bilang tidak akan menuruti apapun kemauanku, dan kau selalu bilang bisa mengatasi masalahmu sendiri, lalu sekarang kau sedang apa? Memohon?"
"Tapi ini benar-benar sakit." Ashera yang sedang tidak ingin bergerak banyak, tetap menundukkan wajahnya ke bawah, dan membuat Arvin yang tadinya sedang berlagak sombong itu, nyali untuk membuat ribut lagi dengan Ashera, langsung menciut.
'Apa bicaraku terlalu berlebihan?' Merasa khawatir Ashera tidak bergerak sama sekali selain sudah mencengkram salah satu kakinya Arvin, Arvin pun berjongkok. "Hei-"
Arvin menekan-nekan pipi yang terasa kenyal itu dengan jari telunjuknya. Tapi tidak ada respon yang Arvin harapkan.
"Ashera, jangan berpura-pura, bangun." Ucap Arvin lagi, berusaha untuk memecah keheningan diantara mereka berdua.
'Dia tidak merespon, apa aku harus membawanya ke rumah sakit?' ketika Arvin berpikir demikian, Arvin pun masih mengingat saat Ashera terjatuh tersungkur ketika Dini menarik salah satu kakinya Ashera.
Itu menjadi awal dari tubuh yang sudah pasti kalau jatuh tentu akan sakit.
Dan tadi siang, lalu malam ini, mau berapa lagi perempuan yang ada di depannya ini jatuh di depannya?
__ADS_1
Perempuan yang menunjukkan rasa keras kepalanya, punya kekuatan untuk melawannya, ujung-ujungnya perempuan di depannya ini tetap saja seperti gelas kaca yang cukup rapuh.
Karena Arvin merasa ini sudah cukup buruk untuk sekedar di tonton saja, Arvin pun dengan terpaksa membopongnya pergi dari sana.