Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
121 : Perjanjian Dalam Taruhan.


__ADS_3

"Julio! Kau harus menang!"


"Julio! Julio! Julio!" teriak para penonton yang ngefans sekali dengan Julio.


"Julio! Aku terus mendukungmu!"


Julio yang ada di posisi paling pinggir, dengan mobil sport miliknya yang berwarna hitam, rupanya hal tersebut tidak menyulutkan keberadaannya yang berhasil mengguncang banyak fans nya.


"Dia artis ya?" gumam Ashera, tanpa sadar jadi memperhatikan Julio yang baru saja mengaktifkan agar atap mobilnya naik dan menutup.


"Apa kau mulai naksir padanya?" tanya Arvin, dia menyangga kepalanya dengan tangan kanannya, tapi tangan kirinya justru terus bermain di permukaan dadanya Ashera yang di bilang datar seperti papan kayu.


"Mungkin karena aku lemah pada pria tampan, aku bisa naksir pada siapapun asal wajahnya lumayan," jawab Ashera, tangan kanannya akhirnya mencengkram pergelangan tangannya Arvin, dan mencoba untuk bangkit, duduk di posisinya sendiri.


"Kau-" Arvin secara tidak langsung merasa tersinggung dengan ucapannya Ashera barusan.


Padahal di awal pertemuannya, dia cukup membenci, dengan kata lain dirinya benar-benar tidak suka dengan keberadaan dari perempuan ini.


Tapi sekarang?


Apapun yang berkaitan dengan Ashera dan orang lain, sering kali hatinya secara tidak langsung jadi tersinggung.


"Ya? Aku kenapa?" tanya Ashera dengan senyuman simpulnya.


"Tidak, lihat saja ke depan, awas saja kalau kalah," ketus Arvin.


"Siap sayang~" sahut Ashera dengan tepukan pelan tepat di dadanya Arvin. "Aku akan memberikan kemenangan untuk suamiku ini," senyuman Ashera yang miring itu pun seketika langsung menguap setelah dia harus mempersiapkan segalanya, apalagi adrenalin yang harus dia hadapi beberapa detik lagi.


TEET....


Lampu berwarna merah tiba-tiba sudah menyala. Secara serentak mereka semua langsung mengambil posisi mereka dengan kedua tangan sudah bersiap di stir mobil mereka semua, setelah lampu merah, begitu lampu kuning menyala, kaki kanan mereka sudah mulai menginjak pedal gas, tapi dengan posisi pedal rem juga masih di injak.


TEETT.....


Dan begitu lampu sudah berganti berwarna hijau, secara serentak mereka langsung melepaskan pijakan kaki kirinya dari rem, sehingga dalam sekejap mata, tepat di saat bendera yang di pegang oleh wanita tersebut di kibarkan, semua mobil di arena pun langsung melaju dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


WHUSSS....


Seperti angin ****** beliung yang memiliki kecepatan tinggi dalam mengarungi semua jalan yang dilewatinya, mereka semua pun dalam sekejap langsung bergerak dengan cukup cepat.


BRMMMM.....


BRMMMM.......


Perlombaan yang menantang adrenalin serta maut itu tetap di lanjutkan oleh mereka yang menginginkan kemenangan.


Namun, tidak semua orang yang ikut dalam kompetisi itu akan bisa berjalan dengan baik, karena belum baru mendapatkan tikungan pertama saja, ada yang sudah keluar jalur.


Dari 100 Km/ jam, kecepatan itu terus naik ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.


Apalagi yang namanya bisa menemukan tikungan, mereka semua seketika langsung berlomba untuk menyalip lawannya agar bisa berada di depan.


BRMMM....


BRRMM.....


"Ah~ Malam-malam seperti ini saja, mereka masih sempat-sempatnya mau menyerempet mobilmu, apa tidak masalah jika mobilmu terserempet oleh mereka yang ingin bertindak curang?" tanya Ashera, melirik ke arah Arvin yang nampaknya sedang mengawasi dua kendaran yang ada di samping kanan dan kiri mereka.


Hal itu pun sudah pasti akan membuat mobil mereka akan terhimpit. Sebuah cara curang agar mereka tidak dapat pergi menemukan kemenangannya.


"Khihihi, bukan meyerempet sih, tapi mau menghimpit kita jadi kerupuk," imbuh Ashera dengan kekehan nya.


Sambil mengemut permen hasil rampasan dari Arvin, Ashera pun bersikap seperti Arvin yang mengawasi sekitar kanan dan kirinya dengan lewat spion mobil. Termasuk dengan kamera belakang mobil yang memperlihatkan mobil berwarna biru tapi dengan desain gambar api membara di belakangnya persis tengah mencoba untuk bergerak ke depan terus, dengan maksud ingin menyeruduk mobilnya Arvin, Ashera pun menunggu instruksi apa yang akan di keluarkan oleh mulut beracun itu.


"Berikan aku kemenangan, maka aku akan memberikanmu hadiah besar. Jika bisa menghindari mobilku lecet, separuh uang dari hasil kemenangan itu akan aku berikan kepadamu, jadi jika kau memang punya kemampuan seperti yang di katakan oleh Luna, perlihatkan padaku, maka aku akan janji tidak akan meremehkanmu lagi, termasuk jika kepribadianmu yang satunya lagi bangun," tutur Arvin.


Dengan menjanjikan dengan sedemikian banyak hadiah itu kepada Ashera dengan ekspresi wajah seriusnya, Ashera pun tersenyum senang.


Bagi Ashera, dari sudut pandangnya itu, jelas kalau ekspresi wajah serius yang diperlihatkan oleh Arvin kepadanya itu adalah ekspresi dari kemarahan yang tidak bisa di keluarkan secara langsung.


Tentu, sebagai pria yang baru saja di tantang, di permalukan di depan banyak orang, Arvin termasuk bukan orang yang akan tinggal diam saja.

__ADS_1


Dan dengan cara mengalahkan mereka semua yang meremehkannya, itu akan jadi balas dendam paling bagus yang pernah ada.


"Dengan kata lain, kau ingin mempergunakan kemampuan Istrimu ini bisa melakukan sampai sebatas mana, ya kan?" imbuh Ashera sekali lagi.


"Anggap saja begitu. Kau maupun aku, jika bisa saling menguntungkan satu sama lain, bukannya itu hubungan yang lebih bagus?" lirik Arvin. Matanya yang terus memperlihatkan tatapannya yang cukup tajam itu, terus saja membuat Ashera terngiang dengan mata dari burung Elang yang dia titipkan kepada Luna.


"Kau benar sih, sepakat ya, jika kepribadianku yang satunya lagi bangun dan membuatku tidur, kau harus menjaganya. Dia bukan orang yang bisa sekuat aku, tapi dia juga tidak selemah puding yang bisa hancur kapanpun," pesan Ashera memperingatkan Arvin yang suka seenaknya itu.


"Lakukan saja," jawab Arvin singkat.


BRRMM.....


BRRMM.....


"Ahahah, sebentar lagi, aku seruduk mobil kalian," ucap pemuda yang naik mobil mobil berwarna biru ini, ketika di depannya adalah musuh yang harus dia singkirkan pertama kali, karena baginya mobil sedan yang digunakan oleh Arvin itu cukup merusak pemandangan dari pemain lain.


Dari dua meter jadi satu setengah meter, dan terus mendekat sampai sedikit lagi bisa dia seruduk.


Tidak hanya sampai di situ saja, dua mobil berwarna kuning yang di jalankan oleh dua anak kembar yang berada di sisi kanan dan kiri mobilnya Arvin, mereka pun sama-sama punya niat yang sama dengan mobil di belakangnya Arvin, dengan cara ingin menyerempet dan menghimpit mobil putih yang di gunakan oleh Arvin.


"Apa kalian berdua dengar?" tanya remaja laki-laki yang ada di dalam mobil berwarna biru kepada dua orang anak kembar di depan sana.


Karena dengan sengaja membuat kesepakatan bersama sebagai sesama pengendara yang tidak ingin terusik dengan mobil yang terlihat tidak berkelas itu, dia menghubungi kedua anak kembar itu.


-"Ya, kami dengar,"- jawab mereka berdua secara serentak.


"Aku hitung sampai tiga, kalian berdua langsung saka himpit mobil itu, dan aku akan menyeruduknya," ucap anak ini kepada teman sesama pembalap.


-"Baik,"-


-"Ok, jangan biarkan mobil buluk ini lolos,"-


"Ok," kata pemuda ini dengan senyuman tipisnya. "Satu,"


Mereka berdua sudah bersiap, termasuk pemuda di mobil berwarna biru ini.

__ADS_1


"Dua," ucapnya sekali lagi. "Tiga!"


BRRMMMM....!


__ADS_2