Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
51 : Pelemparan


__ADS_3

-"Halo?"-


"Oh, ya. Ada apa?"


-"Aku ingin minta bantuanmu."- pinta Ashera.


Fajar yang awalnya senang karena Ashera meneleponnya, tiba-tiba saja jadi bertambah senang karena perempuan ini akhirnya meminta bantuannya?


Bantuan macam apa yang di inginkan oleh Ashera kepadanya?


'Padahal waktu itu dia menangis sampai saat dia melihatku, dia terlihat ketakutan. Tapi- kenapa dia tiba-tiba saja ingin minta bantuanku? Aku dengar, dia di skors jadi delapan hari sih, apa dia mencoba untuk membicarakan soal itu?' Pikir Fajar. "Tapi sebelum itu, aku akan memberitahu, permintaan tergantung kan di kabulkan atau tidak sebelum yang meneleponku memperkenalkan diri."


-"Eh, iya. Aku Ashera, aku meneleponmu karena hanya kau yang bisa menolongku."-


"Apa nanti aku akan dapat imbalan?" Tanya Fajar saat itu juga.


-"Apa? Ternyata kau-"-


"Pfftt, di zaman sekarang, mana ada yang gratis. Jika minta bantuan, tentu saja harus ada imbalannya." Ledek Fajar, merasa lucu dengan imajinasi nya saat ini kala Ashera sudah pasti sedang terkejut, karena tidak menyangka kalau Fajar sendiri akan bersikap demikian, ingin imbalan dari suatu permintaan. "Iya atau tidak?"


Sebenarnya Fajar bukan orang yang seperti itu. Namun, karena orang yang berhasil mengajaknya bicara lebih dulu adalah Ashera yang tidak terduga ini, tanpa sadar Fajar ingin mengerjainya.


-"Padahal aku belum mengatakan permintaanku."-


Fajar jadi tersenyum sendiri, sampai beberapa teman-teman sekelasnya, menatapnya dengan tatapan heran.


"Begitu ya? Aku jadi lupa kalau aku belum tahu apa isi permintaanmu. Katakan, nanti akan aku pertimbangkan apa balas jasa yang harus kau lakukan kepadaku." Tutur Fajar, menghela nafas lega karena berhasil menghentikan tawanya sendiri sebelum menjadi-jadi.


-"Permintaanku hanya ingin, agar skors ku bisa lebih di persingkat. Aku tidak bisa teru-terusan di rumah, ketika aku harus sekolah dan membiarkan orang yang menjebakku masih berkeliaran di sekolah."-

__ADS_1


"Jadi, apa maksudnya kau ingin menuntut hak keadilan? Apa kau tahu siapa yang melakukannya kepadamu?" Tanya Fajar, perlahan dia merasa nyaman untuk berbicara dengan Ashera?


Sebenarnya awalnya tidak begitu mungkin, karena selama ini, Fajar sudah mengmatinya cukup lama dari kejauhan, dan sifat dari Ashera ini tidak akan mungkin meminta tolong sesuatu kepada orang lain seperti ini.


'Aku memang merasa aneh, tap apa salahnya jika mencoba percaya dengannya, ya kan?' Pikir Fajar. "Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi jangan salahkan aku jika aku gagal, karena aku hanya sekedar membujuknya saja, dan sisanya tangani sendiri."


-"Iya, makasih. Dan kirimkan aku apa yang kau inginkan, asal itu masih ada di batas kemampuanku."-


Setelah pembicaraan itu selesai, sambungan diantara mereka berdua pun terputus, dan langsung memberikan kesan mendalam untuk Fajar sendiri.


'Aku jadi penasaran, apa yang akan dia lakukan nanti.' Tawa cekikikan milik Fajar itu, sontak langsung menghantui seluruh koridor sekolah, karena sekarang hanya Fajar saja satu-satunya orang yang masih berdiri di koridor, sedangkan yang lainnya, sudah masuk kedalam kelas.


"Apa yang membuat Fajar tertawa mengerikan seperti itu?"


"Walaupun dia juga tampan, karena dia orang yang tidak mudah di tebak juga, aku jadi khawatir dengan isi kepalanya itu."


Mengingat Fajar sendiri adalah ketua Osis, tentu saja teman-teman sekelasnya merasa selalu diselimuti kekhawatiran mereka, karena Fajar selalu saja memberikan mereka kejutan lebih dulu ketimbang kelas lain.


_______________


"Apa sih! Kau itu menggangguku terus! Aku ini sedang ada di sekolah!" Tekan Arvin, karena berulang kali Ashera terus saja meneleponnya.


Benar, Istrinya itu terus saja menerornya.


-"Tapi aku tahu, sekarang ini kan sedang jam istirahatmu. Jadi aku hanya memastikan kalau kau baik-baik saja?"-


"Hah? Kau hanya ingin bicara seperti itu setelah menerorku?!" Arvin yang begitu frustasi itu, menggaruk belakang kepalanya yang memang gatal, sudah ingin mandi dan menyuci rambutnya karena keringat.


-"Memang apa salahnya, aku ini kan Istrimu, jadi aku harus tahu apa yang sedang kau lakukan sekarang. Anggap saja karena aku tidak berangkat sekolah, sebagai gantinya aku akan terus menelponmu."-

__ADS_1


"Kau ini~ Aku tiba-tiba jadi ingin mengigit mulutmu sampai habis, biar kau tidak usah bicara lagi." Cetus Arvin, kesabarannya jadi terancam akan lepas semua jika tidak di lampiaskan segera.


-"Sini saja kalau kau berani."- Ejek Ashera yang ada di ujung telepon.


Sekarang sudah jam setengah satu siang, banyak dari mereka yang akan berkeliaran untuk beristirahat, berbincang dengan teman atau kekasih, makan, maupun orang yang kelewat rajin, sudah pasti akan belajar lagi.


Sedangkan Arvin, dia sudah berada di luar sekolah. Pergi ke toko minimarket yang ada di depan sekolahnya untuk mencari makanan yang ingin dia beli, tapi semua itu harus Arvin halangi lebih dulu gara-gara ada nomor tidak di kenal yang meneleponnya.


Dan tanpa di duga, yang meneleponnya adalah Ashera.


'Darimana dia tahu nomorku? Padahal aku sama sekali belum memberikannya nomorku. Jangan-jangan Daseon si pengkhianat itu.' Pikir Arvin, karena satu-satunya orang yang lebih tahu tentangnya adalah Daseon sendiri.


Hingga dimana, kemarin Daseon berhasil mengkhianatinya dengan menerima perintah dari Ashera.


"Aku akan be-"


KLLANGG.....


Arvin yang sebentar lagi mau masuk kedalam minimarket, tiba-tiba saja kepalanya di lempar botol kaleng.


Dengan wajah paling bengis, Arvin langsung menoleh ke arah kanannya.


"Jadi kau yang barusan melemparnya?" Tanya Arvin dengan nada paling rendah, sampai satu kasir yang ada di dalam minimarket itu, tiba-tiba merasakan aura kematian yang langsung menusuk punggungnya.


'Kenapa punggungku serasa dingin sekali?' Pikir kasir ini, sedang berdiri sambil menunggu kopinya selesai di buat.


-"Hei, Arvin?! Apa yang terjadi di sana? Kau dengar aku kan?! Arvin!"- Cemas Ashera.


Sedangkan orang yang namanya terus di panggil, tidak mengalihkan tatapannya kepada sang tersangka kasus pelemparan botol kaleng ke kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2