
"Tidak mau?" Nenek Tina mendelik tajam Arvin yang begitu gigih untuk tidak menikahi perempuan yang bahkan sudah menjadi bahan untuk memuaskannya.
"Iya! Aku tidak mau! Lagi pula aku kan sudah punya pacar, pacarku bahkan lebih cantik ketimbang dia, dia lebih baik, punya status setara denganku, pintar, baik pula. Sedangkan dia-"
"Pacar yang mana Arvin? Kau bahkan sering gonta ganti pacar, memangnya nenekmu ini bisa kau kelabui?" Nenek Tina semakin menatap Arvin dengan tajam, ia tahu kalau Arvin memang memiliki banyak hubungan dengan banyak wanita di luar sana.
Meskipun masih sekolah, tapi karena cucu nya itu termasuk populer, jadi tidak mungkin Arvin tidak jadi anak nakal yang sering bergonta ganti pasangan.
'J-jangan-jangan nenek sudah tahu segalanya?' Arvin yang sedang memasang wajah terkejut tidak percaya, melirik dan membalas tatapan dari neneknya itu.
Ia menemukan di mata neneknya itu sebuah sorotan mata penuh dengan keingintahuan yang besar, dan semua itu membuat neneknya itu memiliki segala informasi yang cukup untuk memuaskan rasa penasarannya.
Dan sekarang ini, neneknya menginginkan kepuasan dari jawabannya (Arvin) bahwa keputusan yang sudah keluar untuk Arvin, sama sekali tidak bisa di ganggu gugat.
"Arvin, apa jawabanmu?" Tanya Nenek Tina lagi, ingin mendengarkan kembali keputusan yang di ambil oleh Arvin.
"Aku menolak."
"Yakin?"
"Aku yakin, aku menolak untuk menikahinya. Lagi pula tinggal beri uang kepadanya, semuanya jadi beres." Tegas Arvin.
"Padahal kau sudah mendengar sendiri, jika tidak ada wanita, jika tidak ada Ibumu, kau tidak mungkin lahir di dunia ini, dan kau bahkan tidak akan menikmati apa yang namanya hidup di dunia ini, apalagi kau- menikmati kemewahan dari kedua orang tuamu, termasuk dariku, jadi apa balasanmu sebagai pria tulen terhadap wanita adalah seperti ini?
Kau menganggap kalau aku, ataupun Ibumu itu adalah barang bekas yang bisa di buang seenaknya setelah di gunakan? Iya? Begitu?"
DEG....
Seketika hati Arvin jadi seolah tertusuk oleh benda tajam. Tidak terlihat tapi sangat terasa.
Begitu juga dengan Ashera, dia malah lebih terasa sakit hati sendiri sebab Arvin benar-benar bersikeras untuk tidak mau bertanggung jawab, dan menganggap kalau semuanya bisa beres dengan uang.
__ADS_1
"Arvin, jika kau menolak perintah dariku, itu artinya kau juga menolak untuk hidup terus di sini, terutama menjalani semua kemewahanmu itu. Semuanya akan aku tarik, sampai biaya semester sekolahmu, kau urus sendiri." Ancam nenek Tina terhadap keputusan yang kemungkinan besar tidak akan di ambil oleh Arvin.
Karena Arvin tetap masih muda, dan masih bergantung kepada orang yang lebih dewasa.
Dan gertakkannya itu...
'Sialan, kenapa aku harus mendapatkan hari seburuk ini? Gara-gara dia datang, aku jadi kena imbasnya.' Batin Arvin tidak suka dengan keberadaan dari Ashera yang membuat jalan hidupnya jadi ada batu sandungan cukup besar. 'Kalau seperti ini, aku sama sekali tidak bisa bebas.
Jika aku menerimanya, statusku yang lajang malah jadi sudah menikah. Apa jadinya jika teman-temanku tahu soal keadaanku ini? Seharusnya dari dulu itu perempuan itu di usir, dia tidak cocok untuk bekerja sebagai pelayan di rumah.Tapi sekarang, aku jadi harus menanggung ini juga. Menyebalkan.'
Avin yang sedang di landa dilema, hanya terdiam sambil menatap bengis sosok perempuan yang sedang terduduk di sisi lain tempat tidur tersebut.
Ashera, nama tanpa sebuah marga, dia adalah seorang anak dari pelayan rumahnya, itu saja.
Tidak ada yang spesial, karena pada dasarnya pekerjaan pelayan ya tentu saja hanya bekerja ini dan itu, kegiatan sepele untuk melayani dan membersihkan rumah dari majikannya sendiri.
"Jadi aku tanya sekali lagi Arvin, apa keputusanmu?" Tanya Nenek Tina lagi, benar-benar menuntut Arvin agar segera menjawabnya.
Dia tidak mau kehilangan semuanya, hartanya, serta fasilitasnya. Itulah yang ada di benaknya, ia sama sekali tdiak mau kehilangan apapun yang sudah Arvin dapatkan selama ini.
"Tapi, apa aku harus menikahi si dekil itu?"
"............." Nenek Tina jadi merasa enggan untuk bicara lebih banyak lagi dengan Arvin karena mulut Arvin yang begitu blak-blakan. "Ya."
"Apa tidak ada cara lain lagi selain menikah? Aku itu dan dia itu masih terlalu muda untuk menjalaninya, dan...., aku membenci hubungan serius seperti itu." Kernyit Arvin, seakan keputusan tersebut adalah sesuatu yang cukup menjijikan.
"Ternyata kau masih saja tidak mengerti." Gerutu Nenek Tina, lalu melirik kembali ke arah Ashera yang sudah terdiam meringkuk di samping tempat tidur. "Ashera, kau maunya seperti apa untuk Arvin ini?"
"Aku hanya ingin dia bisa tanggung jawab." Gumam Ashera dengan wajah sudah bersembunyi di atas tumpukan kedua tangannya yang terlipat di atas kedua lututnya.
".........." Arvin terdiam mendengar jawaban Ahera. 'Dia pasti ingin seperti itu hanya untuk mencari untungnya saja.' Detik hati Arvin.
__ADS_1
Nenek Tina lantas menoleh ke arah Arvin lagi yang benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya terhadap Ashera yang sedang duduk di atas lantai itu dengan tatapan penuh kebencian.
Itu sudah terlihat jelas, baik dari sorotan mata, ekspresi wajah, dan kedua tangan yang terus mengepal dengan sedemikian eratnya.
"Kenapa kau tidak memilih uang sa-"
"Arvin! Apa kau benar-benar mau meninggalkan tanggung jawabmu?!" Tanya Nenek Tina dengan nada sedikit lebih tinggi, sampai Arvin jadi langsung termangu.
"Nenek, aku-" Arvin menggertakkan giginya, ia benar-benar tidak memiliki niat untuk menjalin hubungan seperti itu.
Karena, kebebasannya sudah pasti akan direnggut, makannya ia sama sekali tidak sudi untuk menuruti perintah dari neneknya.
Namun, jika dirinya tidak menuruti perintah dari sang pemilik kuasa terbesar di keluarganya, resiko pun akan di tanggung oleh Arvin sendiri.
Bahkan keputusan kedua orang tua Arvin, juga sama sekali tidak mampu untuk menentang keputusan dari wanita tua ini, sebab Neneknya itu masih memegang semua kekuasaan ketimbang anak-anaknya yang sudah menikah dan diberikan cucu, seperti salah satunya adalah Arvin sendiri.
Itulah, alasan Arvin pun jadi merasa tertekan, takut, dan terancam dengan sang nenek.
Dengan masih mempertahankan tatapan elangnya, Nenek Tina ini berkata lagi : "Aku berikan kau waktu satu hari, jika keputusanmu tidak berubah sama sekali, berarti kau memang sudah siap untuk menanggung semua resikonya." Ucapnya.
Dan Arvin pun hanya terdiam.
Melihat hal itu, Nenek Tina langsung memanggil seseorang. "Luna, masuk dan bawa Ashera pergi dari sini."
Dan seorang wanita cantik dengan penampilan lengkap ber jas hitam formal, rambut hitam lurus yang di ikat satu ke belakang, datang masuk kedalam kamar dan langsung menghampiri Ashera.
"Ashera, kau bisa berdiri?"
Ashera tetap terdiam. Jelas, dia saat ini sedang dilanda malu, serta keadaan dengan tubuh yang terasa hancur remuk layaknya baru aja di lindas buldoser, membuat Ashera tidak mau memberikan responnya.
"Permisi, aku akan menggendongmu." Dan Luna dengan tubuh ramping, seksi, tapi mempunyai kekuatan yang cukup kuat untuk menggendong tubuh Ashera ala bridal, akhirnya berhasil membuat Ashera di bawa pergi dari sana, beserta selimut yang menggulung tubuhnya.
__ADS_1
"Aku tunggu jawabanmu, jadi renungkan semua perbuatanmu, termasuk semua sampah yang ada di ruang tamu." Kata terakhirnya, sebelum ia berjalan pergi mengikuti Luna yang sudah lebih dulu keluar dari kamarnya Arvin.