Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
73 : Perhatian


__ADS_3

Ledakan itu membuat kedua orang itu langsung terkejut, pasalnya di dalam gedung itu masih ada dua orang, Arvin dan satu orang lagi yang menjadi target mereka.


KLANG...


Lalu tiba-tiba saja ada suara kaleng yang baru saja di lempar ke arah mereka. Jika saja Divrin dan Arin tidak segera menghindar, mereka berdua jelas sudah kena lemparan kaleng.


"Divrin, bantu kenapa?" Dan suara milik Arvin berhasil membuat kedua orang tersebut lega, sebab rupanya Arvin si bocah gila ini selamat dari ledakan itu.


Divrin buru-buru menghampiri Arvin dan membantu laki-laki yang ia gendong dengan susah payah itu.


"Arvin, kenapa kau sangat membahayakan sekali ya?" Rutuk Arin.


"Jika tidak begitu, tidak seru lah." Tukas Arvin lalu dia melepaskan penutup kepalanya, sampai wajah tampan penuh keringat itu menjadi pemandangan seksi yang mereka berdua dapatkan.


"Bahkan sebagai sesama laki-laki, aku sampai memujimu tampan ya? Apa kau suka?" Tanya Divrin. Sama halnya seperti Arin yang punya wajah datar, Divrin pun memang sama-sama memiliki ekspresi seperti dinding, dan hanya Arvin saja yang normal.


"Ya, tentu saja aku suka, sampai kau saja memujiku, berarti aku memang benar-benar tampan, mempesona sampai-"


"Sampai Alien pun suka." Sindir Arin, menyela ucapannya Arvin dengan tepat.


"Ya, anggap saja begitu." Jawab Arvin dengan malas. "Ayo kita pergi sebelum ada polisi kesini." Perintah Arvin.


Lalu Divrin pun menggendong laki-laki itu, sedangkan Arvin dia memungut kaleng yang merupakan bom asap yang sempat ia gunakan untuk melumpuhkan lawannya, serta Arin, dia menyimpan PC nya kedalam tas serta drone yang ia bawa itu.


Dan kebakaran itu pun terus melalap seluruh bangunan dari pabrik itu.


______________


Sedangkan di rumah.


"Tinggal satu nih." Lirik Ashera pada kotak popocky yang masih utuh. "Tapi ngga enak juga jika aku mengurung dia di kamar. Dan sudah jam setengah delapan? Dia belum makan malam kan ya?" Gumam Ashera seraya melihat ke arah jam yang terpampang cukup jelas di atas televisi, karen jam nya cukup besar.


Ashera yang merasa kasihan si pemilik rumah di kurung, dia pun pergi menuju ke kamarnya Arvin, dan membuka pintu untuk pria itu.


KLEK....

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Arvin juga baru saja menutup pintu jendela kamarnya dan buru-buru membuka pakaiannya sampai ia sudah separuh telanjang, dan setelah itu, ia pun menyeka keringatnya itu dengan menggunakan handuk yang ada di sana sampai akhirnya dengan sengaja tepat setelah Ashera masuk, Arvin langsung melempar handuk itu ke arah Ashera.


"Ar-'


PLUK....


Kepalanya pun langsung tertutup dengan handuk tersebut. "Arvin! Handuk kotormu kenapa malah di lempar ke arahku?!" Ashera sontak langsung mengambil handuk yang ada di kepalanya itu, dan segera melemparnya balik ke arah Arvin.


"Itu kan artinya kau harus mencuci bersih handukku." Jawab Arvin dengan entengnya.


"Memangnya apa yang kau lakukan sampai handuknya basah seperti ini sih? Bau juga. Huekk..." Ashera yang tidak tahan dengan aroma masam dari keringatnya Arvin, tiba-tiba saja langsung mual dan segera pergi mencari parfum milik anak itu. "Baunya sekali. Ada aroma asap juga, memangnya kau baru saja di jadi daging asap?"


Begitu menemukannya, Ashera langsung menyemprotkan parfum nya ke punggung tangannya dan segera menghirupnya.


'Apa aku terlalu berpikir jauh? Hidung dia, apakah sesensitif itu? Tapi semoga saja tidak ketahuan kalau aku memang baru saja jadi daging asap.


"'Hahh, ini wangi, sana mandi lalu makan. Aku tidak mungkin membiarkanmu mati kelaparan disini hanya karena aku tidak memperbolehkanmu pergi." Ucap Ashera penuh perhatian lalu dia pun pergi dari sana.


Ya, dengan tugasnya sebagai seorang pelayan, secara tidak langsung dia pun memenuhi tugasnya menjadi seorang istri yang melayani kebutuhan dari Arvin yang sekarang sudah menjadi suaminya.


Arvin menimbang-nimbang pikiran itu, dan jawabannya merujuk ke arah Daseon.


'Dia terlalu banyak larangan, cerewet juga, lebih Daseon saja yang ada di sini.' Pikirnya lagi, lalu dengan tubuhnya yang sudah separuh telanjang, dia pun pergi keluar dari sana menuju kamar mandi.


Sebagai laki-laki, dia memang tidak begitu lama untuk sekedar mandi. Tidak seperti perempuan yang mandinya bisa sampai seabad, Arvin kurang dari sepuluh menit langsung beres, wangi, dan rambut basahnya itu pun berhasil menjadi teman penggoda yang serasi dengan wajahnya yang tampan.


"Hahh..., aku bisa tidur nyenyak ini." Gumam Arvin, melangkah turun dari dari lantai dua menuju lantai satu. "Ashera, kau bisa buatkan aku salad buah sekalian?" Tanya Arvin. Tapi selepas Arvin keluar dari balik sekat kayu sebagai pemisah antara lantai satu dengan anak tangga yang menghubungkan lantai dua, Arvin justru melihat Ashera sedang merangkak di bawah selimut tebal yang terbentang di atas sofa yang sudah di rubah menjadi tempat tidur.


Jadi, saat Ashera merangkak di bawah selimut persis, gelak tawa yang hampir terlepas itu langsung membuat Arvin berbalik dan menutup mulutnya.


"Ha? Apa? Salad buah? Kau sendiri memangnya stok buah di dalam kulkas?"


Lalu dengan cepat, Arvin langsung mengkondisikan raut wajahnya jadi biasa saja sebelum ia akhirnya berbalik dan bertanya balik, "Tapi waktu itu bukannya kau beli buah segar juga?"


"Waktu itu ya untuk waktu itu. Aku sudah membuatnya jadi es krim. Jadi sudah habis. Apa kau sebagai pemilik rumah bahkan tidak membuka kulkas sama sekali? Aku mau tidur, lelah, jangan ganggu." Sambil bicara sambil menguap lebar, Ashera yang sudah mengantuk itu pun langsung jatuh tepar di atas sofa dan mengabaikan keberadaan dari Arvin yang mau makan malam.

__ADS_1


"Masa kau mau tidur duluan? Aku ini masih belum makan, temani aku makan!" Tidak mau makan sendirian, alias iri melihat Ashera mau tidur lebih dulu, Arvin langsung bergegas menghampiri Ashera dan menarik selimutnya dengan kasar, dan sekali tarik, selimutnya sudah melayang dan mendarat di atas sofa yang satunya lagi.


"Tapi aku sudah makan, kau mau aku kena diabetes?"


Salah satu alisnya pun terangkat, dengan ucapannya Ashera kali ini.


'Apa hubungannya dengan diabetes? Dia sendiri sudah makan sebagian besar popocky punyaku, hanya menememaniku makan apanya yang kea diabetes?' Arvin melirik ke arah tong sampah yang sudah ada sepuluh kotak makanan miliknya yang berani di makan oleh Ashera ini. "Nah, karena kau sudah makan popocky punyaku, kau harus tanggung jawab, temani aku makan, atau aku tidak segan-segan sekalian mengisi perutmu dengan makanan milikku."


Lagi-lagi sebuah ancaman tertuju untuk Ashera.


Arvin menarik tangannya Ashera, dan Ashera yang tadinya tidak mau bangun karena sudah mengantuk berat itu, justru jadi kembali di buat melek saat Ashera mendengar perutnya akan di isi makanan milik Arvin?


Makanan yang sudah siap sedia untuk di makan asal bisa membenamkan nya kedalam perut lewat jalur bawah?!


Hanya memikirkan itu saja, Ashera bergegas untuk bangun.


"Jangan bercanda, sana makan, aku temani kau makan." Jawab Ashera, dia akhirnya mau menemani Arvin makan. Tapi karena ia memang sudah ngantuk tapi harus di paksa bangun, ekspresi wajahnya pun jadi tidak karuan lagi, dan justru sudah mulai memusuhinya.


"Makannya, cepat berdiri, jangan sekedar janji mulut saja." tuturnya lagi seraya menarik salah satu tangannya Ashera dan akhirnya ia seret untuk duduk di depan meja makan. "Duduk." perintah Arvin kepada manusia yang sudah sekarat ingin tidur, gara-gara ia cukup lelah.


"Kalau begitu ambilkan Ice Cream nya." Pinta Ashera kepada Arvin.


Arvin yang kebetulan sudah duduk itu langsung berkata : "Ambil sendiri."


"Tch." Berdecih kesal, Ashera pun mau tidak mau harus berjalan menuju kulkas dan mengambil makanan yang ia mau.


Dengan langkah malasnya, Ashera berhasil kembali dengan selamat dan duduk di depan Arvin persis.


Tapi dengan mata kantuknya itu, ia pun memanggut manggut sambil mengemut ice cream miliknya.


Namun, di tengah-tengah Arvin sedang makan dengan lahap, ia menyempatkan dirinya untuk melirik ke arah Ashera yang sudah menyangga kepalanya dengan tangan kirinya, mata yang terpejam tidak membuat tangannya itu mengatur ice cream yang di pegang nya untuk di **** kedalam mulutnya.


Sudut mata Arvin pun melihat bibir merah ranum itu terus bergerak, mengikuti bentuk ice cream yang sedang di **** itu. Yang mana, hal tersebut membuat Arvin tiba-tiba saja mendapatkan kilatan dari ingatan waktu itu, waktu di mana ia melu*at bibir itu dengan begitu rakus.


Dan sekarang, tiba-tiba saja Arvin sagat ingin mencoba rasa manis yang ada pada mulut yang sedang mengemut Ice Cream tersebut.

__ADS_1


'Ada apa denganku? Padahal dia hanya sedang makan Ice Cream, tapi otakku justru mencerna kalau bibir itu lebih enak ketimbang Ice Cream itu sendiri.' Pikir Arvin.


__ADS_2