
Gara-gara apa yang di lakukan oleh Ashera terhadapnya, pagi-pagi sekali Nenek Tina sudah berada di apartemen milik Arvin. Dan sekarang di dalam rumah itu, sudah seperti medan perang dingin, sebab Nenek Tina benar-benar menatap Arvin dengan tatapan yang cukup mengintimidasinya.
"Aku sudah mendengar semuanya, jadi mana surat kontrak yang kau buat untuk di tandatangani oleh Ashera itu?" Tanya Nenek Tina kepada Arvin.
'Tch, dia ini, mulutnya ember sekali.' Arvin mendelik tajam Ashera, tapi Ashera sendiri hanya melihat ke arah Luna yang senantiasa berdiri di belakang Nenek Tina.
Karena Nenek Tina memiliki kekuasaan lebih dari pada mereka semua, bahkan kedua orang tua nya, Arvin pun tidak bisa menghindar dari apa yang sedang di minta oleh sang Nenek kepadanya.
Tapi, karena Arvin kebanyakan berpikir, Nenek Tina pun tidak memaksa kepada Arvin untuk memberikannya, melainkan langsung memberikan perintah kepada Luna. "Luna, geledah kamarnya Arvin dan temukan surat kontraknya." Perintahnya, bahkan sampai Nenek Tina sendiri sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Arvin yang tidak terlihat adanya tanda-tanda untuk berbicara.
"Baik Nyonya." Jawab Luna, lalu dia pergi dari tempatnya dan segera menuju ke kamar milik sang Tuan muda Arvin itu.
Dalam waktu yang tidak begitu lama, Luna akhirnya menemukan surat kontraknya.
"Nyonya, saya sudah menemukannya." Luna memberikan surat kontrak tersebut kepada majikan besar nya tersebut."
"Bagus, ayo kita lihat, apa yang sudah kau cantumkan di dalam kontrak ini." Sampai beberapa kali ia membacanya, Nenek Tina akhirnya memberikan sebuah reaksi yang cukup mengejutkan sampai dahinya berkerut-kerut. "Arvin, apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan pada Ashera di dalam kontrak ini? Menganggapnya sebagai pelayan, sebenarnya kau masih waras atau tidak sih? Arvin, Arvin, badan saja yang besar, tapi otakmu kecil. Bagaimana kau melakukan itu kepada Ashera?" Ucap Nenek Tina kepada Arvin, satu-satunya cucu yang sudah dia besarkan selama lima belas tahun, karena dua tahun terakhir ini, dia hanya menjaga Arvin dari kejauhan saja.
"Itu-" Baru saja mengucapkan sepucuk kalimat, Arvin jadi kesal sendiri sebab dia kehabisan kata-kata, karena ia tidak tahu harus membuat alasan apa, karena otaknya tiba-tiba saja blank. 'kenapa aku malah tidak bisa bicara apapun seperti ini?! Aku harus membela diriku sendiri, harus.' Dengan sederet paksaan di dalam hati dan pikiran, Arvin langsung berkata : "Itu saran Daseon, makannya aku menurutinya."
"Daseon? Kau pikir aku akan percaya? Mana mungkin dia memberikan saran yang tidak bermutu seperti ini. ini sama saja untuk menjerumuskanmu pada hal yang tidak baik." Kata Nenek Tina.
Mendengar neneknya itu tidak percaya dengan ucapannya, Arvin langsung membalas : "Apa itu artinya nenek bahkan tidak percaya dengan apa yang aku katakan? Apa nenek lebih mempercayai orang itu ketimbang aku? Jadi percuma ya, kalau aku menjelaskan lebih dari ini, kalau apa yang nenek pegang itu adalah karena itulah saran dari Daseon kepadaku?"
__ADS_1
Nenek Tina langsung melirik ke arah Luna, dan Luna pun membalas tatapan mata dari sang Nyonya, sampai Luna akhirnya membungkuk dan memberikan sebuah bisikan kecil kepadanya.
Selesai membungkuk dan mengutarakan bisikan kecil kepada sang majikan, Nenek Tina langsung kembali menatap Arvin dan Ashera secara bergantian, lalu menganggukkan kepalanya sebagai sebuah jawaban atas ucapan yang di katakan oleh Luna kepadanya.
'Apa yang sudah dia katakan kepada Nenek? Pasti saran yang bukan-bukan.' pikir Arvin, tidak percaya dengan apa yang barusan di ucapkan oleh Luna, jelas adalah sebuah saran yang berisi hasutan.
___________
"Apa kau puas? Kau puas sudah membuatku susah seperti ini?" Tanya Arvin kepada Ashera.
Tepat di jam setengah tujuh pagi, saat itulah mereka berdua akhirnya bebas dari interogasi dari Nenek Tina. Tapi sebagai ganti karena mereka berdua ada dalam pengawasannya sesaat tadi, pagi itu, untuk pertama kalinya Arvin pun terpaksa untuk membonceng Ashera untuk berangkat sekolah bersama.
"Hahahah, susah apanya? Kan asal kau menuruti perkataanku, kau bisa membuat dirimu hidup dengan nyaman." jawab Ashera dengan senang, karena ia akhirnya bisa menikmati membonceng motor dengan Arvin, dan apalagi seperti saat ini, Arvin menempatkan kecepatan yang cukup tinggi agar mereka berdua sampai dengan cepat di tempat tujuan. "Atau kau khawatir dengan tanggapan dari teman-temanmu, kalau kita sebenarnya punya hubungan hmm? Kau takut ya?" ledek Ashera sambil mencubit perutnya Arvin.
Arvin yang kala itu sedang mengendarai motor dengan kecepatan yang cukup tinggi, sontak langsung menurunkan kecepatannya itu dan akhirnya berhenti di tengah jalan.
"Turun."
"Heh~ Kau menyuruhku turun? Kau mau menurunkan Istrimu ini? Yang benar saja Arvin, masa kau setega itu pada perempuan sepertiku? Walaupun aku tidak manis, tapi tetap saja sebentar lagi kan mau masuk kelas, tapi masa kau menurunkanku disini, kalau ada yang menculikku bagaimana? Kau mau tanggung jawab?" Oceh Ashera dengan ucapannya yang cukup panjang lebar.
"Turun,"
"Tidak mau." Ashera langsung memeluk Arvin dengan lebih erat.
__ADS_1
Tapi dengan kekuatan yang Arvin miliki, dia pun melepaskan kedua tangan yang saling berkaitan di depan perutnya itu agar bisa lepas. "Cepat turun dari motorku, kau pergi saja sendiri ke sekolah pakai sepatu rodamu kan?"
"Tapi kan sekarang waktunya sudah hampir jam masuk sekolah." balas Ashera, dia sama sekali tidak mau turun dari motor yang sudah dia idam idamkan dari lama, sebab selama ini dirinya menginginkan bisa naik motor bersama dengan seorang pria dengan motor sport seperti itu.
"Tetap saja, aku tidak mau kau semotor denganku." ungkap Arvin dengan terus terang, lalu dengan begitu memaksa, Arvin pun kembali melepaskan tautan dari kedua tangan milik Ashera itu agar terlepas dari depan perutnya itu.
"Masa kau begitu sih dengan Is-mphh..!" Arvin tiba-tiba saja langsung membungkam mulutnya Ashera untuk berhenti bicara soal istri lagi. "Kalau kita di luar, kau bukan Isrtiku."
"Berarti aku bisa jadi pacarmu."
"Kau bahkan tidak cocok sama sekali jika kau jadi pacarku. Lihat dulu, kau punya penampilan macam apa, dan tinggi seberapa, memangnya kau pantas bersanding di sisiku?" Papar Arvin.
Dan seperti yang di katakan oleh Arvin barusan, Ashera tidak secantik gadis lain yang ada di kelas Arvin ini, atau semua perempuan yang ada di sekolah, lalu untuk tinggi, dirinya termasuk mempunyai tinggi badan seratus enam puluh sentimeter.
"Sebentar, jika kau mempermasalahkan soal aku yang kelihatan tidak cantik, aku bisa memakluminya, karena diriku yang satunya lagi suka apa adanya, dan tidak suka perawatan.
Tapi jika kau bahkan mempermasalahkan tinggi badanku yang bahkan sudah punya ketinggian seratus enam puluh, itu cukup keterlaluan, kau sendiri yang punya tinggi seperti tiang listrik, jadi jangan salahkan aku, jangan menghinaku seperti itu, tapi salahkan dirimu sendiri itu." Jawab Ashera panjang lebar, membuat mereka berdua akhirnya jadi kembali berdebat, bahkan di tengah jalan seperti ini.
Lalu balasan dari respon Arvin terhadap ucapannya Ashera barusan langsung di tanggapi dengan tatapan matanya yang menyipit itu.
Sungguh, Arvin harus menghadapi gadis cerewet.
"Tidak, mau kau perawatan sekalipun, jelek tetap saja jelek. Dan kau menyalahkanku ketinggian? Itu salah, kau yang kependekan, tipe idealku itu punya tinggi badan seratus enam puluh lima, bukan enam puluh seperti bocil." tutur Arvin.
__ADS_1
Lantas, Ashera yang hendak mengucapkan sepatah kata lagi, tiba-tiba saja di pagi yang cerah itu, ada awan tidak terduga yang membawa hujan.
ZRASSHHH.....