Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
134 : Marah terus


__ADS_3

"Uhukk...uhukk.." Ashera benar-benar pintar berakting, sampai karena tidak tahan lagi melihat Arvin terus menciumnya, dia memilih untuk bisa segera bangun.


"Kau merepotkan ya?"


"Uhukk..uhukk..uhuk... Apa? Aku tidak dengar, uhukk..." tanya Ashera, terbatuk-batuk dengan kondisi ternyata kedua telinganya kemasukan air! "'Uhukk..., ini..telingaku kemasukkan air," ucap Ashera lagi, tapi di saat yang bersamaan, hidungnya pun sebenarnya sempat kemasukan air juga, jadi dia benar-benar merasa bindeng dengan hidung bagian dalam yang terasa sakit.


Arvin terdiam, tidak ada gunanya dirinya bicara dengan orang yang sedang tidak bisa mendengar ucapannya.


"Ahh, kenapa kau tidak bisa dengar?" dumel Ashera, dia terus menepuk-nepuk telinga kanannya lebih dulu, akan tetapi Arvin yang sebenarnya merasa bersalah, dengan sewot sendiri, dia langsung menjewer telinganya Ashera. "A-aduh, apa yang mau kau lakukan? Sakit!"


Tanpa sepatah katapun, Arvin tiba-tiba saja meniup telinga kanannya,


PHUHHH....


"Hiii!" bulu kuduknya seketika berdiri semua saat telinga kanannya di tiup dengan nafas milik Arvin yang begitu panas dan cukup menyengat.


Tapi, berkat ide dari Arvin ini, akhirnya air yang sempat masuk kedalam telinganya, berhasil keluar dengan cara menetes.


"Sini telinga kirimu," perintah Arvin lagi. Lantas Ashera pun menoleh ke arah kanan dan telinganya pun kembali di tiup oleh Arvin. "Bagaimana?"


Ashera melamun, dia tidak menyangka kalau Arvin berbuat kebaikan. "Aku pikir kau hanya bisa berbuat kejahatan,"


"Pikiran macam apa yang kau miliki bodoh,"


CTAK...


"Aduh..!" Ashera langsung mengaduh kesakitan, karena dahinya yang di sentil cukup kuat oleh Arvin.


"Apa tampangku seperti orang jahat?" Arvin menatap tajam Ashera yang sedang mengusap dahinya itu.


"Iya, kau seperti preman,"


"Tapi setidaknya aku ini preman baik hati." jawabnya dengan rasa percaya dirinya yang cukup tinggi itu.


Bahkan sudut bibir yang terlihat hanya terangkat setinggi tiga sentimeter saja, cukup membuat senyuman itu nampak begitu seksi.


Ashera yang antara minder juga malu, hanya terdiam dengan kepala menunduk.


'Apa dia sudah lebih baik dari sebelumnya?' batin Ashera. Dia tidak terbiasa dengan suasana yang terjadi kali ini, karena ini pertama kalinya bisa mendapatkan kebaikan dari Arvin, yang padahal sebelum-sebelum ini, selalu saja berbuat jahat kepadanya.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar tidak tahu arti dari bulan madu?" tanya Arvin dengan terus terang kepada Ashera yang masih di landa dengan rasa malu yang cukup tinggi itu.


"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?"


"Aku kan bertanya karena aku ingin tahu apa kau tahu atau tidak dengan pertanyaanku tadi itu, jawab saja kenapa, tidak usah malah tanya balik seperti itu," cetus Arvin, tidak suka.


'Tuh kan, dia orang yang gampang sekali sewot.' tidak mau berdebat lagi, Ashera pun mengatakan hal yang sejujurnya kepada Arvin. "Aku memang tidak tahu bulan madu itu apa. Aku itu tidak pernah nonton berita atau mencari hal seperti itu, jadi wajar lah, jika aku tidak tahu. Kenapa? Apa kau menyesal kalau aku perempuan bodoh yang pernah kau hadapi?" ungkap Ashera, dia pada akhirnya mengatakan yang sebenarnya kepada Arvin.


"..." Arvin yang terus menatap ke arah Ashera, terlihat sedikit menahan tawanya, sampai karena tidak menyangka saja, kalau Ashera tidak tahu apapun soal dua kalimat itu, Arvin pun jadinya menundukkan kepalanya.


Dia ingin sekali memberitahunya, tapi cukup konyol juga, karena gadis yang seusianya yang seharusnya tahu apa itu bulan madu, tapi ini tidak sama sekali, Arvin jadi merasa gila sendiri, betapa polosnya Ashera yang satu ini.


'Ahh, kenapa aku benar-benar di uji dengan perempuan yang bahkan punya dua kepribadian yang bertolak belakang seperti ini?' gerutu Arvin dalam hati. Dia pada dasarnya terus saja mengeluh dalam diam, karena kepribadian dari Ashera yang satu ini terasa membosankan ketimbang yang satunya lagi.


Namun apa boleh buat? Arvin sendiri tidak bisa menentukan apa yang harus terjadi pada Ashera ini, karena mau bagaimanapun perempuan ini adalah manusia.


"Kalau kau memang hanya ingin merendahkanku, silahkan saja, aku pergi," bosan sendiri dengan situasi tersebut, Ashera yang tidak tahan terus di rendahkan oleh laki-laki ini, dia pun bangkit dari tempat dia duduk dan segera beranjak dari sana.


"Hei, siapa yang menyuruhmu pergi?!"


"Aku sendiri," jawab Ashera dengan cepat.


"Tapi aku ingin pergi!" pekik Ashera lalu melangkah pergi dengan kaki lebih cepat.


Di balik wajahnya yang masih basah karena air, pelupuk matanya pun sudah mulai tergenang air mata yang harus dia tahan. Rasa sakit yang entah kenapa terus saja terjadi, membawanya hatinya untuk terus berlindung di dalam tubuhnya yang masih saja memiliki lemah mental.


Lelah, tentu saja.


Siapa yang tidak lelah jika setiap hari saja dirinya harus menghadapi laki-laki dengan kepribadian yang kacau seperti Arvin itu.


BRAKK...


"Padahal aku tidak mengatakan apapun padanya, kenapa dia menganggap aku terus merendahkannya?" gerutu Arvin, tidak sadar kalau wajahnya yang begitu serius itu, sudah menjadi wakil dari perasaannya sendiri terhadap Ashera.


_____________


ZRASSHH....


"Apa dia tidak bisa diam saja seperti patung? Setidaknya di luar. Tapi kenapa dia berada di dalam kamarku?" gumam Ashera.

__ADS_1


Gara-gara tadi tubuhnya terjatuh ke dalam air, sekarang Ashera pun memutuskan untuk segera mandi sebelum masuk angin.


"Aku masih dengar suaramu,"


"..." Ashera memilih menutup mulutnya saja, dan fokus untuk mandi sampai bersih. 'Apa dia punya telinga kelelawar? Suaraku yang lirih saja bisa terdengar olehnya.'


Namun, ketika Ashera hendak mengambil handuk yang seharusnya sudah tergantung di dinding, dia malah justru tidak melihat hal itu saat ini selain pakaian basah miliknya.


'Kalau aku minta bantuan padanya, dia pasti sok sokan kalau aku sengaja meninggalkannya.' karena Ashera tidak mau di anggap demikian oleh Arvin, Ashera pun dengan terpaksa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian basahnya itu lagi.


KLEK...


Hanya saja, begitu Ashera baru saja mengambil satu kali langkah keluar, dia tiba-tiba saja di hadapi oleh Arvin.


"Kenapa kau memakai baju basah lagi?"


"Kenapa itu bukan urusanmu," jawab Ashera dengan ketus. Masih ngambek dengan Arvin ini. 'Aku harus cepat ambil handukku.' pikirnya.


Tapi di saat Ashera mencoba membuka pintu lemari di sana, Arvin tiba-tiba melempar handuknya tepat ke arah Ashera, sampai mendarat di atas kepalanya itu.


"Kau butuh itu kan? Padahal bisa suruh aku mengambilkannya, tapi malah milih keluar dengan pakai pakaian kotor lagi, jadinya percuma mandi kan?" tutur Arvin.


"Tidak butuh! Kau mandi saja sana pakai handuk itu!


Lagi pula memangnya jika aku menyuruhmu, kau tidak akan bicara aku sedang memberikan kode padamu?


Kau kan biasanya punya pikiran untuk terus menjawab semua alasan yang aku katakan, jadi percuma saja aku menyuruhmu jika ujung-ujungnya aku akan di pandang seperti itu olehmu," ungkap Ashera setelah melempar kembali handuk yang di lempar oleh Arvin kepadanya tadi.


Lalu setelah Ashera bicara dengan kemarahan yang benar-benar terlihat di raut wajahnya yang pucat itu, Ashera segera mengambil satu handuk lainnya yang tersimpan di dalam lemari. Mengambil pakaian bersihnya, dia pun pergi dari sana dengan air dari baju basah yang dia pakai, terus memberikan jejak kepergiannya.


BRAKK...


"Padahal aku sedang mencoba baik-baik dengannya, Ashera ini, hih!" Arvin yang sempat terbawa emosinya lagi, langsung melempar handuknya itu dengan begitu kasar ke lantai.


Dia berkacak pinggang sambil mencoba mengatur nafasnya, dan melihat tubuhnya sendiri juga masih basah kuyup.


Pada akhirnya, karena tidak mau membuang waktu terlalu lama diruang ber AC, Arvin pun terpaksa memungut kembali handuk yang ada di lantai itu dan segera masuk kedalam kamar mandi.


BRAKK....

__ADS_1


__ADS_2