
"Ugh...!" Rintih Ashera dengan rasa sakit di panta*t sekaligus tubuhnya itu.
"Makannya, jangan melawan suami."
"Sejak kapan kau menganggap dirimu itu suai? Bahkan selama beberapa hari ini, tidak ada satu pun sikapmu yang memperlihatkan sebagai seorang suami. Bukannya kau benci, kenapa tiba-tiba?" Oceh Ashera. Gara-gara punggung dan pant*atnya terasa cukup sakit, Ashera pun saat ini jadinya berbaring dalam posisi tengkurap.
Tentu saja, rasa sakit karena jatuh, tidak bisa Ashera apa-apakan selain istirahat.
'Padahal hanya ingin mandi, tapi kenapa pakai jatuh segala?' kutuk Ashera di dalam hati.
"Aku memang tidak suka dengan hubungan ini. Tapi karena sudah terlanjur, jadi apa masalahnya?" Seringai Arvin, dia begitu licik, karena sudah punya rencana lain di balik wajah beracun nya itu.
'Ini melelahkan, bayi besar yang harus aku didik jadi anak baik, perjalananku masih panjang.' Keluh Ashera.
Karena dalam beberapa hari ini tubuhnya, serta mentalnya benar-benar menghadapi banyak masalah yang datang secara berurutan, Ashera jadi diam termenung.
Lelah ada, dan itu ada pada tubuhnya, tapi yang lebih lelah lagi adalah ketika ia mencoba memejamkan matanya, banyak pikiran yang terus masuk untuk membuatnya terus berpikir.
Sangat licik, sampai perutnya yang lapar, ia abaikan dan berakhir dengan tidur.
Dan Arvin yang begitu berharap bisa makan yang di masak oleh perempuan yang ada di depannya itu, berakhir dengan tidurnya sang istri?
"Istri?" Dengan suara yang sangat pelan, kalimat itu akhirnya keluar dari mulutnya. 'Masih kelu.' Pikir Arvin begitu ia menyentuh bibirnya sendiri, mulut itu pun masih saja kelu untuk mengatakan panggilan yang seharusnya belum dia ucapkan di usianya yang masih muda itu.
Tapi, semuanya apa boleh buat? Gara-gara kesalahan, juga gara-gara neneknya itu, nasib dari masa muda nya pun hancur sebagai seorang lajang.
"Daseon, bawakan aku makanan." perintah Arvin setelah ia menghubungi pria yang bertugas menjadi pelayan pribadinya itu.
______________
__ADS_1
"Nyam..nyam...nyam..." Mulut yang tadinya terdiam itu, tiba-tiba bergerak dan mengunyah sesuatu yang Ashera kira adalah makanan. Padahal yang di kunyah itu adalah rambutnya sendiri.
Dan di malam itu, tepatnya jam setengah delapan malam, rumah yang kini biasanya di huni dua orang saja, ada satu tambahan yang Arvin suruh untuk datang dan membawakan makanan untuknya, yaitu Daseon.
Sebagai pelayan pribadi nya Arvin, pria ini tetap berada dekat dengan Tuan nya itu.
Tapi, dikarenakan keinginan dari sang Nyonya besar agar mereka berdua tidak begitu di manjakan dengan layanan yang bisa Daseon berikan, Daseon pun hanya akan datang dan membantunya jika memang di perlukan saja. Itulah tugasnya saat ini, sebab bagaimanapun anak muda yang harus Daseon layani itu harus bisa mandiri juga, walaupun tidak sepenuhnya bisa mandiri juga, sebab Arvin tetaplah Tuan muda yang harus di layani nya.
"Tuan, apa anda tidak sebaiknya membawanya kedokter? Terjatuh karena terpeleset, itu bukan lagi kecelakaan yang di anggap sepele." Ucap Daseon, memperingatkan Arvin yang saat ini sedang makan malam.
"Jika kau bersimpati padanya, bawa saja dia ke rumah sakit. Aku tidak mau karena setelah ini aku mau tidur." Cetus Arvin, ia tidak begitu ingin terlalu terlibat dalam setiap kebutuhannya Ashera, karena untuk mengurus dirinya sendiri saja Arvin sudah lebih dari cukup, jadi ia tidak ingin begitu repot.
Dan setelah bicara seperti itu, setelah semua makanan yang di bawa oleh Daseon sudah ludes, Arvin pun pergi meninggalkan Daseon di sana, sehingga saat ini hanya tinggal Daseon dan Ashera saja yang ada di ruang tamu.
"Ashera-" Panggil Daseon dengan perlahan, lalu dia pun beranjak dari tempat ia berdiri dan pergi menghampiri Ashera yang sedang tidur di sofa yang memang bisa di ubah menjadi tempat tidur.
Daseon begitu memperhatikan wajah Ashera yang sudah tertutup oleh rambutnya sendiri, makannya Ashera saat ini tidur dengan kondisi mulut sedang memakan rambutnya sendiri.
Dengan perlahan, dia pun menggendong tubuhnya Ashera dan membawanya pergi dari apartemen untuk di periksa ke rumah sakit.
___________
"Tenang saja, untungnya tidak apa-apa dengan semua tulang punggung dan ekornya. Tapi-"
"Tapi apa dok?"
"Sepertinya dari ronsen ini, ada salah satu jari nya yang retak. Bisa sembuh dalam beberapa minggu, tapi sepertinya anda tidak tahu soal ini ya?" ucap dokter ini.
Daseon pun melirik ke arah Ashera yang saat ini sedang duduk melamun ke arahnya persis.
__ADS_1
Karena tidurnya Ashera cukup lelap, Ashera pun jadinya baru bangun setelah mendengar suara milik mereka berdua yang jelas pasti sudah mengusiknya.
"Ya, saya memang tidak tahu. Karena dia memang tidak pernah memberitahu saya." Jawab Daseon.
Dokter ahli tulang itu pun memperlihatkan bagian dari jari-jemari tangannya Ashera, dimana salah satu dari kesepuluh jari itu sedikit retak.
"Jadi jariku retak Dok?" Tanya Ashera, dia malah bangun dari tempat ia duduk tadi.
"Anda tidak perlu memaksakan diri untuk berjalan jika tubuh anda sedang sakit." kata Daseon, memberikan peringatan juga kepada anak muda itu.
"Apa jika aku tidak turun, aku akan kembali di gendong?" Balas Ashera terhadap peringatannya Daseon. Orang yang diam-diam sebenarnya Ashera sukai, setidaknya ada pada kepribadiannya yang satunya lagi.
"Itu kan sudah jadi tugas saya."
Ashera dan Daseon pun saling menatap satu sama lain, sampai Ashera memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraannya itu kepada sang Dokter. "Dokter."
'Sebenarnya apa hubungannya Tuan Daseon dengan gadis ini? Tuan Daseon kan pelayan pribadinya Tuan muda Arvin, tapi bagaimana-' Tapi kalimatnya seketika menghilang setelah ia terus di tatap oleh Ashera. "Seperti yang anda lihat, salah satu jari anda, tepatnya jari tengah kiri anda itu retak, apa anda tidak merasakan sakit atau apapun itu?"
Ashera sedikit mengernyitkan matanya, ia mencoba untuk mengingat penyebab dari salah satu jarinya yang rupanya retak itu. 'Jangan-jangan ini karena kejadian yang waktu itu aku bertengkar dengan Dini dan Lidia.' pikirnya. "Sakit sih, tapi aku pikir hanya sakit kebanyakan mengerjakan tanganku ini."
Daseon dan dokter tersebut pun terdiam.
Padahal jika tulang retak, jelas akan ada rasa sakit yang cukup lumayan, tetapi Ashera, dia menahannya dan hanya membuat dugaan yang tidak berdasar sama sekali.
Karena gadis di depannya itu terlihat cukup mengkharatirkan, dokter ini pun memberikan beberapa obat, suplemen.
"Tunggu, kenapa aku dapat obat sebanyak ini?" Ashera jadi sedikit tercengang. "Kan yang sakit tubuh luarku, bukan organ dalamku." Tambahnya.
"Karena sepertinya anda baru saja sembuh dari demam, sebaiknya anda memakan suplemen ini. Setidaknya tubuh anda jadi lebih tercukupi dengan beberapa vitamin ini.
__ADS_1
Meskipun anda mau mengatakan anda bak-baik saja, tapi jangan menyalahkan mata dari seorang dokter sepertiku. Makan yang teratur, jangan terlalu banyak bergerak, karena anda pasti baru saja mengalami banyak hal pada kehidupan anda, saya sarankan untuk perbanyak istirahat juga. Tapi itu jika memang mau anda gunakan, kata-kata dari dokter ini." Jelas dokter ini panjang lebar.