
Malam harinya.
Setelah melakukan pekerjaan berat, yang menyatakan kalau itu adalah pekerjaan dari pria jantan, Arvin akhirnya bisa istirahat dengan tenang di dalam kamar mandi dengan berendam air hangat.
Karena sampai ketiduran di dalam kamar mandi, Arvin baru keluar setengah jam kemudian.
KLEK....
"Padahal seminggu lalu aku hidup dengan sangat tenang, tapi sekarang, aku bisa-bisanya hidup dengan pelayanku sendiri. Takdir macam apa yang aku dapat ini?" Gerutu Arvin. Dia tidak ingin mendapatkan takdir seperti ini, tapi seolah apa yang ada di atas sudah menentukannya dengan begitu benar?
Arvin bahkan berpikir takdirnya bisa menikah dengan pelayannya sendiri adalah sesuatu yang cukup sembrono.
"Jadi seperti itu ya? Masih tidak bisa menerima takdirmu itu? Arvin, itu artinya karma, kau tahu? Karma." Sela Ashera tanpa di duga-duga sudah ada di samping pintu kamar mandi nya Arvin yang letaknya ada dilantai atas.
Arvin hanya menahan keterkejutannya, karena tidak merasakan hawa kehadiran dari Ashera yang satu ini. "Kenapa kau disini? Dan raut wajahmu?"
Arvin ingin tertawa, karena baru pertama kali melihat wajah pelayannya ini tersenyum paksa dengan wajah horornya. Sehingga Ashera pun terlihat cukup suram untuk ukuran sedang baik-baik saja.
"Bukan apa-apa." Ashera langsung melengos tidak menjawab pertanyaan Arvin dengan benar, karena ia tidak ingin bicara jujur dengan apa yang sedang di alaminya.
Tapi, baru juga Arvin ingin pergi, sayangnya ada sesuatu yang membuatnya ingin meminta penjelasan lebih daripada apa yang sedang di lihatnya ini. "Kau kan punya baju? Kenapa kau pakai bajuku?"
Untuk suatu alasan yang penting, Ashera tentu saja memakai kaos besar milik Arvin, bahkan tanpa memberitahu ataupun meminta izin dulu dari Arvin, karena dari tadi Arvin di dalam kamar mandi dan ketiduran.
"Bajuku? Itukan gara-gara kau. Jika saja kau menolong bajuku yang di jemur itu, mana mungkin bajuku kebakar karena sambaran petir, dan hanya menyisakan dua setel baju dan CD." ucap Ashera menjelaskan dengan penjelasan yang cukup singkat, jelas juga padat.
'Ada juga yang seperti itu? Padahal aku sudah mau memakai kaos baru itu, tapi karena dia sudah memakainya, aku tidak mungkin memakai pakaian bekas orang lain. ' Pikir Arvin. "Kau kan bisa minta Daseon untuk membelikanya kan?"
Ashera melirik ke arah Arvin. "Walaupun aku begini-begini, memangnya masuk akal jika aku beli barang dari uang yang bahkan orang itu entah mengizinkanku menggunakan uangnya juga atau tidak."
'Memangnya aku punya hak beli barang dari uang suamiku, bahkan di saat suamiku mengizinkannya menggunakan uangnya atau tidak?' Itulah yang Ashera ingin katakan kepada Arvin.
__ADS_1
DEG....
Kejutan di dalam jantungnya, tidak bisa membuat Arvin untuk tidak terkejut.
"Lagian, seperti yang kau katakan, aku bisa beli barang yang aku inginkan dari pekerjaanku saat aku melayani nenekmu." Ungkap Ashera. Kedua tangannya terus bertumpu di atas tutup dari mesin cuci, sebab dia memang tengah menunggu cucian bajunya selesai. "Jadi aku tidak perlu memin-"
"Maksudku, kau beli dengan uangmu dan minta Daseon yang membelinya. Kau terlalu salah paham, Geer sekali ya kau ini."
Ashera menggertakkan giginya. Lagi-lagi mulutnya di gunakan untuk menyakiti hatinya.
Itu bukan hatinya, tapi hati dari Ashera yang satunya lagi.
Meskipun dia bisa bersikap tegar, tetap saja, yang namanya perasaan di hina terus, selalu butuh proses untuk menerimanya dengan lapang dada.
"Aku hanya lupa. Makasih sudah mengingatkan." balas Ashera.
Sejujurnya Ashera ingin pergi dari sana untuk mengambil handphone nya untuk menelepon Daseon. Tapi kakinya terlalu malas untuk bergerak dari sana, karena ada sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan dengan terang-terangan, kecuali satu hal.
Satu pertanyaan berisi permintaan kepada Arvin, Arvin saat itu juga langsung kabur dari sana meninggalkan Ashera yang kesulitan menemui hidup damainya gara-gara sekarang ini, dirinya malah datang bulan, dan semua pakaiannya, tidak ada satupun yang benar, karena sedang dia cuci ulang.
"Arvin! Aku pinjam dulu, nanti aku kembalikan dengan bersih dan wangi!" teriak Ashera.
"Mana mungkin! Kau pikir aku bodoh! Masa aku meminjam barang pribadiku kepadamu! Dasar perempuan mesum!" Teriak Arvin dari dalam kamar, karena ia memang sedang berpakaian.
"Mana yang lebih mesum ketika kau bisa meniduri perempuan lain daripada aku."
'Ternyata, gara-gara demam, otaknya jadi tidak beres juga.' Gerutu Arvin di dalam hati. "Jadi maksudmu kau ingin aku tiduri?"
"Aku hanya bicara saja, lagian mana mungkin, kau bukannya benci meniduri pelayan sepertiku?"
"Tapi kau sendiri mengatakan aku ini suamimu."
__ADS_1
"Hei, padahal aku masih ingat dengan jelas, kau itu benci bahkan saat tahu aku ini sudah jadi istrimu. Kenapa jadi mengaku-ngaku suamiku?"
"Kau ini, ja-"
"Sudahlah, jangan bicara tentang suami istri, jika kau tidak mau meminjamkanku CD mu, biar aku beli. Berapa harganya?"
"Kenapa kau terus mengatakan CD ku sih? Memangnya tidak ada kata lain?" tanya Arvin, begitu dirinya harus mendengar kata CD lagi dalam waktu yang cukup berdekatan itu.
"Kan sekarang yang aku butuhkan memang CD mu. Kalau saja punyaku kering, aku juga tidak akan tanya kepadamu kan?"
Persetan dengan image, demi kepentingan nya sendiri, Ashera pun berani mengambil mulut orang gila saja, karena hanya itu saja yang dia butuhkan.
"Seratus ribu? Dua ratus atau setengah juta, karena kau adalah laki-laki berharga keluarga Ravarden?"
Terpancing dengan nama Ravarden yang sama sekali tidak ingin di bahas jika berbicara dengannya, Arvin akhirnya keluar dari kamarnya dengan wajah datar.
"Katakan saja apa yang sebenarnya kau inginkan." tutur Arvin, sudah cukup lelah menghadapi satu orang perempuan di rumah nya ini.
Hanya satu yang Arvin inginkan, dan itu adalah tidur. Tapi perempuan ini, malah terus saja berisik tidak karuan seperti burung beo.
"Yang penting jang-" Mata Arvin akhirnya melirik ke bawah. Melihat tepat di bawah pakaian atasan milik Arvin yang menggantung di tubuh kecilnya Ashera, Arvin sempat melihat adanya darah yang mengalir dari pangkal paha menyusuri salah satu kaki yang terlihat sepenuhnya hampir telanjang itu. "Kau kenapa?"
"Bukannya kau sudah tahu? Harapanmu, bahwa aku tidak hamil, terwujud." seringai Ashera. Menganggap kalau kali ini adalah harapan yang paling di tunggu-tunggu oleh Arvin.
Mulut Arvin gemetar, dia ingin bertanya namun hampir mengeluarkan nada tinggi.
Itu rasanya kurang pantas?
Tunggu, sejak kapan dirinya memikirkan perasaan dari lawan bicaranya itu?
Jadi tanpa basa basi lagi, Arvin pun bertanya, "Kau menggugurkannya?"
__ADS_1
"Apa kepalamu jadi bodoh, syok aku jadi tidak hamil? Karena saking senangnya?" Ashera jadi ingin menggetok kepala Arvin, kemana akal sehatnya itu? Apakah karena sudah berubah menjadi bagain dari semua otot yang berhasil terbentuk, Arvin jadi melupakan satu fakta kalau alasan dibalik dirinya berdarah itu bukan karena menggugurkannya, tapi karena haid.