
"YEAHH! Arvin! Ayo kalahkan Enzo!"
BHUAK....
Dua belas orang di bagi menjadi dua tim, dan masing-masing dari mereka berada di dua posisi saling berlawanan.
Satu di sebelah kanan dan yang satu di sebelah kiri.
Dengan adanya kolam dengan air yang cukup hangat itu, maka tidak akan ada yang merasa kedinginan meskipun hari memang sudah menjadi malam.
Ketika Arvin sedang bergelut dengan Enzo untuk memenangkan permainan Voli air, maka Ashera saat ini sedang mengocok sebuah minuman alkohol menjadi satu. Dengan racikan yang bisa dia buat, membuat minuman miliknya memiliki nuansa cerah seperti biru langit yang memperlihatkan kesan yang cukup indah.
Begitu dia meletakkannya di wadah dari sebuah gelas, dia sedikit memberikan potongan jeruk dan kulit jeruk serta Cherry di pinggir gelas tersebut dan memberikannya ke Yuli.
"Mereka terlihat sangat bersenang-senang." Ucap Ashera seraya menyerahkan segelas alkohol kepada Yuli.
"Lagian, kau bukannya meminta untuk di undang, kenapa kau malah ingin bekerja di sini?" Tanya Alfian, dia pun menerima gelas dengan isi yang sama.
"Kau pintar meracik Cocktail ini jadi warna warni ya?" Puji Yuli, dia tidak menyangka kalau perempuan yang tadinya harus mengahadapi kasus soal pencurian dan kekerasan, kini berhasil lepas dari hukuman skors, dan lebih dari itu, Ashera punya kemampuan menjadi seorang bartender yang cukup profesional.
"Aku hanya belajar dari guruku saja. Dan soal aku memilih bekerja karena aku pikir lebih baik aku bisa mendapatkan uang lebih ketimbang membuang waktu seperti mereka." Jawab Ashera dengan tenang.
Tapi, begitu dia menoleh ke arah bawah sana dan melihat betapa Arvin berjuang keras untuk mendapatkan poin dalam permainan Voli air itu, Ashera pun jadi merasa kalau ia adalah orang yang benar-benar akan membatasi kehidupannya Arvin, sebab misinya adalah agar Arvin tidak lagi banyak bermain dengan hal yang tidak berguna seperti itu.
Dia akan melakukannya dengan perlahan, tapi, dia tetap merasa tiba-tiba bersimpati jika wajah Arvin yang terlihat jahat karena memperlihatkan ekspresi garangnya, tiba-tiba jadi seperti anj*ing kecil yang ingin bebas dari majikannya sendiri.
"Lagi pula aku bukan orang seperti kalian. Tapi karena kalian setidaknya memaklumi orang sepertiku untuk berbicara santai dan mau memperkerjakan aku di sini, aku sudah merasa senang, dan merasa kalau kalian berdua cukup baik.
Semoga hubungan kalian berdua langgeng sampai ke depannya.
Itu hadiah dariku untukku, Blue Lagoon Cocktail." jelas Ashera.
Dia pun tersenyum simpul melihat hubungan Yuli dan Alfian yang begitu akur dan sama-sama memiliki sisi yang bisa di ajak bekerja sama. "Aku permisi dulu." Dan dengan hormat, Ashera pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Alfian dan Yuli yang baru saja di ceramahi oleh Ashera, tiba-tiba saja langsung melamun.
__ADS_1
"Alfian, kau dengar itu? Ashera, dia bahkan mendoakan kita agar bisa hubungan yang langgeng." ucap Yuli, dia tidak percaya kalau ada juga yang mau mendoakan akan hubungan mereka berdua
"Makannya, jika kita berlaku baik pada orang, aku yakin kita juga akan mendapatkan kebaikan juga. Setidaknya aku tidak salah mau memperkerjakan Ashera yang ternyata punya bakat seperti ini." Ucap Alfian sambil memandang wajah cantik milik Yuli.
Yuli dan Alfian pun sama-sama mengambil gelas mereka, lalu dengan hubungan mereka juga sambutan dari pesta kali ini, mereka berdua bersulang dan kedua lengan mereka berdua saling mengunci sampai akhirnya mereka berdua saling meminum alkohol mereka berdua dengan wajah yang saling berhadapan satu sama lain.
"Untuk kita berdua." Ucap Alfian dan Yuli secara bersamaan.
______________
TAP...TAP....TAP....
"Ashera, apa alasanmu datang ke sini? Disini itu bukanlah tempat yang cocok dengan orang sepertimu." Ucap Arliana, dia kini sedang duduk di depan meja bartender, dan membuat suasana diantara mereka berdua semakin mencekam, mengingat Arliana adalah orang yang berhasil membuat Ashera menjadi bahan taruhan.
"Arliana, apa urusanmu dengan aku yang bisa datang kesini?" Tanya balik Ashera, dia kembali ke posisinya, duduk di depan Arliana persis sambil membuka tutup botol alkohol untuk dia tuangkan di dalam gelas pendek yang sudah ia beri bola es batu, dia pun memberikan beberapa carian lain tapi berwarna bening.
KLANG....
Suara dentingan dari minuman alkohol dengan es batu yang berbentur dengan dinding gelas pun terjadi.
Dia lantas memberikan gelas tersebut kepada Arliana.
Karena umur minimal dari orang yang di perbolehkan minuman cocktail adalah tujuh belas tahun, dia pun sengaja menyajikannya untuk Arliana.
Lagi pula dia juga tahu batasan untuk memasukkan alkoholnya berapa persen, jadi dia tidak termasuk melanggar peraturan.
Kecuali, sekalipun minuman Cocktail itu punya sedikit persentase alkohol yang rendah, tapi jika di minum dalam jumlah banyak akan tetap mabuk juga, maka tiap orang yang menginginkannya pun memiliki batasan yang bisa Ashera buat.
"Ngomong-ngomong kau tidak usah meminumnya jika kau punya pantangan." Imbuh Ashera dengan senyuman sinisnya.
"Sebenarnya siapa kau? Aku melihatmu seperti bukan Ashera saja." Arliana yang ragu untuk meminum Cocktail itu, hanya mengaduk-aduk isinya dengan sedotan tersebut.
"Itu bukan urusanmu soal aku ini siapa atau kau menganggap aku ini Ashera atau bukan, tapi satu hal yang harus kau ketahui." Ekspresi wajah yang tadinya begitu terlihat polos, tiba-tiba saja sorotan mata itu seperti masuk kedalam kegelapan. "Apa alasanmu membuatku jadi bahan taruhan beberapa hari yang lalu? Walaupun aku punya tebakanku sendiri, lebih enak jika aku mendengarnya langsung darimu.
Lagi pula kau ini ya, beda dengan si Dini itu. Walaupun kau memang terlihat tidak begitu menyukaiku, yah~ raut wajahmu itu-"
Ashera pun menunjuk wajah Arliana dengan jari telunjuknya dan memutar mutar nya di udara, mengitarinya untuk memberitahu bahwa dia melakukan itu untuk mencakup area seluruh wajah dari Arliana sendiri.
__ADS_1
"Raut wajahmu sendiri yang mengatakan, kau termasuk orang yang bisa mengatur rencana berdasarkan situasimu. Setidaknya kau lebih mending dari si Dini yang suka seenaknya.
Jadi katakan, aku ingin mendengar alasanmu itu tidak menyukaiku."
Arliana yang tadinya merasa jengkel karena wajahnya di tunjuk-tunjuk dengan ujung jarinya Ashera, seolah sedang menantang sekaligus menghinanya, terlepas dari itu karena ia mendengar sedikit bumbu pujian dari Ashera, Arliana pun tersenyum tipis.
Dia menyangga dagunya dan mengangkat Cocktail pemberian Ashera itu ke mulutnya, dan akhirnya ia pun sedikit menyeruputnya.
"Aku tidak menyukaimu karena kau penyendiri. Kau target yang mudah untuk di bully, tentu saja Dini juga termasuk, tapi seperti yang kau katakan, aku lebih baik dari si Dini, karena anak itu memang selalu membuat onar sendiri.
Apalagi karena kau ternyata bekerja sebagai pelayan, dan kau bahkan bisa masuk ke sekolah elit seperti kita, itu benar-benar membuatku kesal.
Kenapa, mereka mau menerima orang miskin sepertimu, bahkan kau bodoh, jelek, dan punya pekerjaan yang cukup rendah, aku sangat tidak menyukainya. Kau itu seperti lumut yang mengganggu. Kau mengerti?" deretan ejekan pun menyertai semua kalimat yang ia ucapkan sebagai jawaban.
Dan Ashera, dia yang berhasil menginterogasi alasan dari Arliana membenci dirinya adalah karena Ashera adalah orang yang cukup beruntung, karena meskipun punya status rendah tapi punya banyak kesempatan bisa masuk ke sekolah mahal, hal itulah yang membuat Arliana sendiri iri.
Itulah maksud dari semua ucapan dari Arliana kepadanya tadi.
Dengan kata lain, Arliana iri ketika dia dari kalangan orang kaya, maka Ashera yang merupakan dari kalangan miskin, seolah justru seperti sebuah ancaman, karena orang rendahan memang bisa merangkak naik ke atas dengan caranya sendiri, dan Ashera termasuk kedalam golongan orang yang cukup beruntung bisa mendapatkan tunjangan yang cukup bagus, padahal ia adalah seorang pelayan.
"Hmm, ternyata kau memang orang baik yang sok jahat ya?" Ledek Ashera dengan senyuman mengejeknya.
Arliana pun sepintas emosinya berhasil terpancing.
TAK....
Arliana meletakkan gelas cocktail ke atas meja dengan sedikit kasar.
"Apa? Kau jangan sembarangan kalau bicara ya! Aku sangat, dan sangat sangattt membencimu. Dasar orang rendahan, ini bahkan tidak enak, sama seperti penampilanmu yang buruk itu, racikan cocktailmu juga sangat buruk.
Kau seharusnya dagang saja di pinggir jalan, dagang es cendol." Caci maki Arliana kepada Ashera, dan setelah itu Arliana pun langsung kabur dari sana.
Sontak, Ashera dalam diam langsung tertawa karena melihat Arliana yang salah tingkah itu.
'Meskipun aku mengatakan dia baik, tetap saja dia bukan orang yang setara denganku. Kecuali si Dini itu. Semoga saja dia membuat undangan yang sama bagusnya dengan undangan palsu yang aku buat itu, agar ia jadi bahan tertawaan karena tidak memiliki akses masuk ke pesta nya Fajar.' begitu dia memikirkan kembali soal Dini yang berhasil mendapatkan undangan palsu yang Ashera buat itu, Ashera pun hanya tinggal menunggu akhirnya saja.
'Tapi gara-gara Arvin tadi menepis tanganku dengan kasar seperti itu, bingkai kaca yang aku beli jadinya pecah. Hahhh, aku harus beli lagi. Padahal aku ingin mempersingkat waktu, tapi ternyata aku tidak di perbolehkan menyingkat pekerjaanku sendiri.' Keluh Ashera.
__ADS_1