
Sudah, berarti ini sudah jadi milikku kan?"
"Ya, tepatnya kau hanya menyewanya dalam dua hari saja," Arvin kemabli menggunakan bahasa korea lagi. Sempat melirik ke arah salah satu pelayan yang tadi hendak membawakan kartu kunci itu kepadanya, Arvin pun menambahkan, "Jika sudah lewat jam ini di dua hari berikutnya, kau usir dia, atau berikan tambahan biaya,"
"Kau, somb-"
"Jangan mengatakan orang lain sombong, padahal dirimu lebih sombong dariku, silahkan, nikmati harimu dengan menyenangkan," kata Arvin, lalu dia pun merebut koper dari salah satu pegawai hotel dan kemudian pergi dari sana, "Ayo pergi, tujuan kita berubah," ucap Arvin terhadap Ashera yang sedang duduk itu.
"Iya, iya," dengan nada malas, Ashera pun pergi mengekori Arvin.
"Tuan muda, anda mau pergi kemana?"
"Mau keliling sambil cari tempat tidur," kata Arvin.
Setelah Arvin dan Ashera memutuskan untuk pergi dari sana, wanita ini pun langsung menghadap ke arah resepsionis dan beberapa pelayan lainnya yang masih berdiri mematung di lobi.
"Apa tidak ada diantara kalian yang akan mengantarku pergi ke ke kamar tujuanku?" liriknya, matanya yang melirik mereka dengan tatapan yang cukup tajam, sontak saja membuat mereka tidak bisa membantah ucapannya lagi, karena setidaknya satu masalah selesai, karena tamunya itu sudah mendapatkan apa yang dia mau.
_____________
Di pinggir pantai, dimana Arvin dan Ashera sedang duduk berdua di pinggir jalan.
"Yang tadi itu, apa yang sebenarnya kau lakukan pada perempuan itu?" Ashera kembali bertanya, karena satu-satunya orang yang bisa di andalkan saat ini benar-benar Arvin.
"Aku dapat dua juta won, dari harga sewa yang dia lakukan denganku,"
"A-apa? Apa kau memerasnya? Bagaimana jika dia menuntutmu, jika kau berhasil di lacak atau apapun itu?" tanya Ashera khawatir.
"Tidak mungkin, manajer di sana sudah tahu tempat macam apa yang aku beli lebih dulu, jadi saat ada orang yang menyewanya, jelas itu sudah harga setara dengan kelas kamar yang dia inginkan," jawab Arvin dengan senyuman licik, lalu dia pun meminum air soda dari kaleng yang sedang dia pegang itu.
Tidak seperti Arvin yang beli air soda, Ashera justru beli air jus jeruk, karena dia sedang ingin yang segar-segar.
"Beli ya? Kenapa kau beli?" satu pertanyaan yang cukup singkat itu pun mengundang Arvin pun menoleh ke samping kirinya.
Wajah polos dengan mata sendu, terlihat kalau Ashera seperti orang yang sedang tersenyum kecut, tengah menertawai dirinya sendiri.
Menertawai karena apa? Tentu saja posisi.
__ADS_1
Ketika Arvin sendiri adalah cucu dari majikan yang di layani, Ashera justru adalah orang dari kalangan bawah, ada perbedaan besar dari segi kebiasaan karena perekonomian diantara mereka berdua yang bertolak belakang.
Arvin bisa beli ini dan itu dengan mudah, sedangkan Ashera, ingin beli ini maka harus pikir panjang lebih dulu.
"Semakin cepat bisa beli properti di negara maju seperti ini, justru akan lebih bagus untuk di gunakan sebagai investasi yang menjanjikan. Aku bukan membeli karena ingin beli, tapi karena ingin berinvestasi, jadi jangan salah tanggap dengan tujuanku yang terlihat seperti menghamburkan uang, itu tidak benar," jelas Arvin. Untuk pertama kalinya bisa bicara baik-baik dengan Ashera yang ini.
____________
Di dalam hotel.
"Dua juta won, orang itu gila ya, benar-benar memerasku. Aku akui kalau dia pria yang tampan, dilihat dari tubuhnya saja jelas sangat bagus. Tapi walaupun begitu, memerasku di depan semua orang, dia itu benar-benar cukup menyebalkan," gerutu wanita ini, tengah berada di lift untuk naik ke lantai tiga puluh sembilan.
TING...
Setelah sampai di lantai tujuan, wanita yang sempat membuat kegaduhan di lantai bawah, kini berjalan menuju ujung dari koridor, mengekori satu satu orang pelayan yang akan menunjukkan tempat dari kamar hotel yang akan dia gunakan.
"Nona, tempatnya di sini," ucapnya.
Tanpa basa-basi, wanita ini pun segera memasukkan kartu itu kedalam mesin pemindai, untuk menunjukkan kalau kartu itu adalah kunci yang pas.
Tett...
Tapi apa reaksi dari wanita ini, ekspresi wajah terkejutnya itu langsung memuncak saat tahu kalau yang dia sewa bukanlah kamar hotel, melainkan sebuah rumah besar dan mewah.
Akan tetapi, karena itu adalah apartemen dari sebuah rumah yang cukup mewah, maka di dalam sana pun sudah ada satu orang penjaga yang sudah berdiri menunggu di sana, yaitu Daseon.
"Selamat datang Tuan, saya sud-" Daseon sendiri, dia langsung menghentikan ucapannya saat dia cukup tercengang dengan satu orang tamu tidak di kenal itu, masuk kedalam rumah milik sang Tuan muda nya. "Apa kau bisa menjelaskan siapa yang baru saja melewati pintu itu?" suaranya seketika berubah dengan drastis, layaknya orang yang tengah menginterogasi tawanannya.
"M-maaf Tuan Daseon, Tuan Arvin menerima tawaran dari Nona Yeong, untuk menyewakan tempat ini kepadanya, dan Tuan Arvin sudah pergi beberapa puluh menit yang lalu," jawab pelayan ini kepada Daseon.
Deseon pun langsung menatap dingin wanita asing tersebut.
"Wahh, aku tidak menyangka, kalau rupanya aku justru tinggal di sini. Dua hari dua juta won, kalau seperti ini aku tidak mempermasalahkannya," ucapnya, lalu dia pun berhenti tepat di depan Daseon, menatapnya dari atas sampai bawah. "Berarti apakah kau yang akan menjadi pelayanku mulai detik ini?"
Mendengar hal tersebut, Daseon justru tersenyum miring, dan menjawab : "Tidak, justru karena kau datang ke sini tanpa persetujuan dari pemilik rumah secara langsung di depan mataku, kau akan di tempatkan di kamar pelayan,"
Sontak wanita ini langsung membelalakkan matanya, saking terkejutnya, dia seperti mau pingsan, tapi dia dengan sekuat hati dan tenaga, mencoba untuk bertahan, dan akan menghubungi seseorang detik itu juga. "Kalau begitu aku akan menuntut anak itu, beraninya mau memperlakukan aku seperti pelayan di tempat ini, padahal aku sudah mengeluarkan dua juta won!"
__ADS_1
Tapi, belum juga wanita tersebut menekan tombol untuk menghubungi kekasihnya, Daseon justru bertindak mengambil handphone tersebut lebih dulu dan dengan sengaja langsung melemparnya.
BRAKK...
"Kyaa!" terkejut wanita ini, dia mulai takut melihat Daseon yang berjalan menghampirinya dengan tatapan matanya yang cukup dingin.
"Mau menuntut siapa? Tuanku? Kalau kau memang berani mau melakukan itu, berari aku tidak akan sungkan untuk menuntutmu sebagai orang yang baru saja menerobos rumah orang lain," kata Daseon, satu langkah maju, berhasil menghampiri wanita itu.
"Kau- kau pikir aku takut? Hei, asal kau tahu saja, aku ini anak dari kel-"
"Membuat kekacauan di lobi, dengan bodohnya mau tawar menawar dengan Tuanku, dan mau menempati rumah orang lain yang statusnya tidak pantas untuk orang sepertimu? Itu termasuk pelanggaran privasi dan tempat umum, yang kelihatannya layak untuk di ketahui oleh banyak orang.
Kira-kira kalau kedua orang tuamu tahu, reaksinya akan seperti apa ya?" imbuh Daseon, mengambil langkah maju lagi, sampai wanita bernama Yeong itu, hampir jatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, gara-gara memakai sepatu high heels serta Daseon yang terus saja melangkah mendekatinya dengan wajah seram.
'Arrggh! Kenapa malah jadi seperti ini? Aku di jebak! Kalau seperti ini, berarti aku sudah kehilangan dua juta won dengan sia-sia! Anak itu, sebenarnya dia itu siapa? Huh, kalau tahu akan seperti ini, aku mending pergi ke hotel lain, tapi gara-gara aku tidak mau di anggap rendah oleh orang lain, jika mengeluarkan uang dua juta won saja tidak mampu, aku jadi seperti ini.' pekik Yeong pada dirinya sendiri.
Dia sungguh menyesal karena merasa minder di anggap tidak mampu oleh pandangan orang lain yang bekerja di sana, dirinya pun jadi harus kena tipu besar-besaran.
Daseon yang melihat sifat dari Yeong benar-benar keluar, dengan sengaja, Daseon pun langsung membungkukkan tubuhnya ke samping kiri dari Yeong, dan kemudian dia pun berbisik lirih, "Dengar, orang bodoh tidak mungkin akan berbuat seenaknya di bawah pengawasan Cctv. Tapi jika kau memang benar-benar mau menuntut, silahkan, hanya saja jangan salahkan aku akan menuntut balik kepadamu, dan memberitahu kedua orang tuamu tentang masalah yang kau buat di hotel ini, paham?" peringat Daseon sekali lagi, seraya menepuk pelan bahu dari Yeong yang sudah mematung, seperti orang yang baru saja kesambet setan.
"Tuan?" panggil pelayan ini kepada Daseon, karena baru kali ini ada yang benar-benar berani melawan Nona Yeong yang keras kepala dan sombong itu.
"Kau pergi saja, biar aku urus orang ini," jawab Daseon.
Pelayan tersebut pun membungkukkan tubuhnya ke arah Daseon, dan kemudian dia segera pergi dari sana.
"'EH, t-tunggu!" melihat pelayan tersebut pergi, Yeong pun jadi ingin pergi.
BRAKKK...
Tapi, bahkan sebelum itu terjadi, pintu itu justru sudah di tutup lebih dulu oleh Daseon, tanpa membuat Yeong mendapatkan kesempatan untuk bisa memberontak keluar dari rumah mewah tapi akan penuh dengan kekejaman itu.
"Siapapun yang sudah masuk ke sini, tidak akan bisa keluar setelah waktu perjanjian itu sendiri habis, jadi, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," bisik Daseon, tepat di belakang kepalanya Yeong dengan suaranya yang cukup rendah.
Bagaikan masuk kedalam neraka, dan Daseon itu sendiri adalah Iblisnya, Yeong pun jadi langsung pasrah sendiri.
"Ya~" tanya Daseon lagi, sebelum bisa mendapatkan jawaban dari Yeong, dia pun akan tetap berada di posisinya.
__ADS_1
Yeong sendiri yang sudah cukup ketakutan itu, hanya menganggukkan kepalanya. 'Apes sekali hari ini, bukannya bisa santai-santai, aku malah kena tipu dua juta won, dan masuk kedalam rumah neraka ini.' pikirnya.