Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
155 : Gara-gara aroma


__ADS_3

Malas untuk berdebat dengan Arvin yang benar-benar menguji kesabarannya, Ashera pun pergi dari sana.


Niatnya memang seperti itu, akan tetapi begitu Ashera hendak pergi dari sana, salah satu tangannya itu langsung di cengkram dengan kuat oleh Arvin dan seketika itu juga dia pun langsung di tarik dengan kuat sampai akhirnya Ashera langsung terhuyung ke belakang.


“Walaupun begitu, memangnya siapa yang menyuruhmu pergi dari pandanganku?” kata Arvin dengan bisikan kecil tap detik pertama ketika Ashera langsung jatuh ke dalam pelukannya.


Ashera yang terkejut dengan tindakan yang di lakukan oleh Arvin kepadanya, sampai akhirnya dirinya harus jatuh kedalam jebakannya Arvin, seketika itu juga Ashera langsung melamun dengan ekspresi wajah terpegun. 


“Tidak! Arvin! Jangan lakukan itu!”


“Kau sangat menginginkan ini, ya kan? Terima saja, tidak usah sok jual mahal, karena tujuanmu kesini memang hanya ingin tidur denganku.” 


“B-bukan, kau salah paham! Aku- aku sama sekali tidak punya niat seperti ini! Tidak! Arvin! Jangan!” satu teriakan yang begitu keras langsung keluar dari mulutnya. 


Kalimat demi kalimat yang berakhir dengan teriakan seketika itu juga terus mengisi kepalanya kecilnya, menarik semua nostalgia yang tiba-tiba saja muncul dan menyelimuti otaknya yang secara mendadak, bahwa momen di hari itu terasa cukup nyata, dan itu serasa seperti yang terjadi pada waktu ini, waktu dimana tangan yang begitu kuat dan nampak otot yang begitu terlihat cukup jelas itu kembali melingkar di depan perutnya. 


“L-lepas,” pinta Ashera dengan mata masih melotot ke arah tangan kanannya Arvin yang memang sudah melingkar di depan perutnya.

__ADS_1


Karena ketakutan yang di milikinya akibat dari apa yang terjadi hari itu, Ashera pun berusaha untuk menyingkirkan tangannya Arvin dari depan perutnya. 


Namun apa? Tangan yang bahkan punya kekuatan lima kali lebih kuat dari tenaga yang di miliki Ashera saat ini, membuat mentalnya Ashera jadi semakin tipis seperti selembar tisu, jikalau tangan itu tidak melepaskan dari tubuhnya Ashera, dia sangat yakin kalau laki-laki yang berada di belakangnya itu akan berbuat hal yang lebih jauh lagi.


“Kenapa aku harus melepaskanmu? Ini itu tanggung jawabmu, tugasmu, harus ingat itu. Walaupun aku tidak suka dengan penampilanmu, tapi aku akan jujur, kalau aromamu ini memang cukup unik ketimbang aroma perempuan lain,” bagaikan seorang predator yang baru saja menemukan mangsanya, suara Arvin yang begitu rendah itu, sontak saja membuat bulu kuduk Ashera jadi merinding. 


Seperti baru saja melihat hantu, sepasang matanya pun jadi semakin melotot seolah mata itu akan keluar dari tempatnya, karena saking terkejutnya dengan ulasan Arvin soal alasan di balik sikapnya yang tiba-tiba saja berubah seperti menginginkan sesuatu kepadanya. 


‘A-aroma? Dia tidak menyukaiku, tapi pada akhirnya ingin menempel padaku karena tubuhku? Jadi itu yang yang dia inginkan selama ini? Dia tiba-tiba baik kepadaku karena ini?’ pikir Ashera saat itu juga. 


CUP…


Tapi karena kuatnya tenaga Arvin dalam memeluknya, Ashera pun tidak bisa pergi dari tempatnya, selain rasa geli ketika wajah Arvin yang secara mendadak sudah mengusel di belakang punggungnya Ashera. 


‘Hmm, dia memang sudah mandi, aroma sabun nya bahkan masih ada. Tapi tetap saja, dia punya aroma lain dari perempuan lain. Kenapa aku baru menyadari kalau perempuan ini memang mengundang kode untukku?’ kata hati Arvin dengan indera penciumannya yang cukup nyaman, ketika dia bisa merasakan aroma manis itu sendiri. 


Walaupun terbesit rasa sebal, karena perempuan yang sedang dia cegat untuk tidak pergi itu tidak memiliki body bagus seperti tipe idealnya seperti Marlina, serta wajah yang sebenarnya bahkan tidak menarik perhatiannya jika bukan karena waktu-waktu tertentu saja, Arvin sejujurnya malas untuk dekat. Tapi sayang sekali, aroma tubuh dari Ashera ini memnag lain dari pada yang lain, seperti opium yang cukup memabukkan. 

__ADS_1


“A-arvin, lepaskan,” pinta Ashera sekali lagi, dia pun terus mencoba untuk menepis tangannya Arvin dari tubuhnya, tapi sayangnya usahanya itu bahkan tidak membuahkan hasil, selain Arvin yang justru malah membuat ulah lebih parah lagi dengan menaruh lengan tangan kanannya itu ke depan dadanya untuk menggapai bahu kiri Ashera, sedangkan tangan kirinya melingkar ke depan perutnya dengan lebih erat, membuat Ashera pun semakin sulit untuk lepas dari pelukannya Arvin. “L-lepas, aku mohon, lepaskan tanganmu dari tubuhku,” pinta Ashera lagi dan lagi. 


Meskipun dia menyadari akan perbedaan besar dari tenaga yang mereka berdua miliki, tetapi tidak membuat Ashera diam, karena dia terus mencoba dan mencoba agar dirinya bisa lepas dari pelukannya Arvin. 


“Apa yang sebenarnya kau khawatirkan? Aku hanya memelukmu saja, kenapa kau terdengar ketakutan seperti ingin kabur mengindari setan?” sindir Arvin. 


“S-setannya kan kau sendiri, lepaskan, aku mohon Arvin.” sahut Ashera dengan nada yang sudah bergetar, serta matanya yang sudah berderai dengan air mata ingin menangis, karena saking takutnya dirinya jikalau Arvin akan melakukan sesuatu terhadapnya. 


“Ashera, diam, jika kau banyak bergerak, aku tidak yakin akan sekedar memelukmu saja,”  ancam Arvin, menakut-nakuti Ashera yang memang sudah separuh takut itu. “Aku hanya ingin membuatmu jadi bantal pelukku, jadi kau tidak usah khawatir. Tapi akan jadi lain cerita jika kau terus banyak bergerak, karena kau secara tidak sadar sebenarnya sudah menyenggol milikku terus,”


DEG…


Ashera pun jadinya diam mematung setelah mendengar penjelasan dari Arvin yang begitu mengancam, sampai membuat Ashera tidak bisa melakukan hal apapun selain diam saja dan membiarkan Arvin yang benar-benar mengusel-usel wajahnya di punggungnya Ashera. 


“Aku bicara jujur seperti ini agar kau bisa tahu saja apa yang bisa kau lakukan jika aku sedang bosan, paham? Aroma tubuhmu bisa jadi candu, jadi aku pikir sekarang kau jadi tahu apa kegunaanmu untukku, ya kan?” setelah berkata seperti itu, Arvin pun sungguh membenamkan wajahnya di punggungnya Ashera, selain itu pula, tangan kiri yang tadinya hanya diam melingkar di depan perutnya Ashera, justru sekarang sudah tidak diam lagi, karena tangan itu justru dengan sengaja menelusup masuk kedalam pakaiannya Ashera. 


‘K-katanya hanya memeluk, tapi kenapa tangannya malah masuk kedalam sana?’ pikir Ashera dengan polosnya. Meskipun begitu, ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan perlakukan yang di berikan oleh Arvin kepadanya, sebab setiap sentuhan yang terus menyapu di setiap permukaan kulitnya, hal itu menimbulkan sensasi geli yang cukup menyita akal sehatnya Ashera sendiri. 

__ADS_1


Dan begitu tangan kiri Arvin berhasil masuk ke dalam dan menyentuh salah satu asetnya, mata Ashera pun jadinya mengernyit dan akhirnya menimbulkan suara aneh yang sangat menyita perhatian Arvin detik itu juga. 


__ADS_2