
Di tuntut dalam ancaman yang tidak bisa dia lawan dengan benar, dalam mode ketakutan, Ashera pun mengucapkan kalimatnya dengan terbata-bata. "P-punyamu, punyamu bes-"
Belum selesai bicara, akhirnya ucapannya pun langsung terpotong saat jari-jemari Arvin mengusik kehidupan yang ada di area bawah sana.
'Perasaan ini lagi.' detik hati Ashera dengan wajah membeku, saking kagetnya dengan sentuhan yang di berikan oleh Arvin ini kepadanya. 'Apa..., dia benar-benar akan melakukannya? Kenapa anak ini begitu berna*fsu? Katanya aku sama sekali tidak menarik, tapi yang dia lakukan kepadaku-
Ah, tidak, jika dia suka dengan seperti ini, berarti dia memang sudah cukup terbiasa dengan perilakunya yang bar-bar itu.'
Tidak bisa berkata apapun lagi ketika dirinya saat ini sangat terganggu dengan apa yang di lakukan oleh Arvin, Ashera yang merasa sudah cukup lemas, dia pun hanya bisa diam tanpa bisa mengucapkan sepatah kata apapun lagi.
'Ya, ini sudah jadi tugasku jikalau dia memang menginginkannya, jadi aku tidak boleh menolaknya, ya kan? Karena meskipun aku menolaknya sekalipun, Arvin pada akhirnya akan terus memaksakau,' pikir Ashera.
Dan Arvin yang awalnya cukup bersemangat untuk melakukannya, seketika mood nya menjadi benar-benar jelek.
'Padahal ini sudah mulai basah, tapi dia bahkan tidak mende*sah sedikitpun. Apa pada akhirnya dia sudah pasrah?' batin Arvin.
Dia yang merasa ada sesuatu yang aneh kepada Ashera yang menjadi diam, padahal beberapa saat tadi dirinya menyuruh Ashera untuk bicara lagi, akhirnya menjauhkan tangan kanannya itu dari bawah sana dan mencoba menilik ekspresi wajah Ashera.
"...!" namun, begitu Arvin mencoba melihatnya, dia harus melihat Ashera yang sudah tidak membuka matanya lagi. "Ashera-" panggil Arvin.
Hanya saja, si empu sendiri hanya tetap diam tanpa merespon panggilannya. Hal itu pun membuat Arvin secara otomatis langsung memasang ekspresi wajah membekunya.
"Ashera, hei-" wajahnya yang memperlihatkan ekspresi paniknya, Arvin mencoba untuk membangunkan Ashera.
__ADS_1
Tapi, bahkan setelah Arvin mencoba untuk mengguncang-guncang tubuh Ashera, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Ashera.
'Apa dia pingsan? Aku memang tahu kalau dia ini sedang sakit, dan aku pun hanya bicara dan bercanda saja, tapi apa hal itu benar-benar membuat Ashera pingsan karena traumanya?' pikir Arvin, masih belum paham kenapa Ashera bisa tidak sadarkan diri, padahal demamnya saja sama sekali tidak begitu tinggu, tapi Arvin pun tetap mencemaskan nya. "Ashera, Ashera- kau dengar aku kan?"
Arvin segera bangun dari baringannya, memangku tubuh bagian Atas Ashera, Arvin terus mencoba untuk menepuk-nepuk pipinya Ashera.
"'Ashera, bangun. Ashera, hei-" melihat Ashera benar-benar tidak menyahut ucapannya sama sekali, Arvin pun hendak berteriak "Das-"
GREPPP....
Teriakannya Arvin langsung terhenti, begitu Ashera tiba-tiba mencengkram pergelangan tangannya.
"Jangan memanggil dia lagi, aku tidak apa-apa," ucap Ashera dengan mata sendu, gara-gara kelopak matanya yang benar-benar cukup berat untuk terus terbuka.
"Siapa yang mengerjaimu? Aku kan hanya mengantuk, jadi aku sempat tidak sadar karena tadi sempat lelap tidur." jawabnya.
"'Kau ini-" tangannya itu sebenarnya ingin sekali mengacak-acak dan setidaknya mengguncang tubuh Ashera dengan kuat, tapi karena melihat kondisi Ashera yang terlihat mengantuk berat akibat obat yang di minumnya, Arvin pun terpaksa harus menahan dirinya itu.
Makannya, tangan kanan yang sudah sempat mengepal itu, langsung Arvin simpan dan dia buang jauh-jauh, sebelum Ashera tahu kalau Arvin ingin membalas dendamnya dengan main pukul.
'Arvin sabar-sabar, jangan terpaku dengan rasa kesal dan dendam yang sudah tumbuh sendiri ini hanya karena gara-gara pelayan ini. Tapi tetap saja, entah itu dia atau kau, kalian berdua tetap saja sama-sama selalu saja mengerjaiku, Harus aku apakan perempuan yang menyusahkan kehidupan pribadiku ini?' ucapnya di dalam benak hatinya sambil memperhatikan Ashera yang sudah separuh malu.
'Arvin, kenapa dia diam saja? Apa dia masih marah soal aku yang terlihat mengerjainya tadi? Padahal kalau mau menyalahkan, jangan menyalahkanku, tapi salahkan obat yang aku makan ini, karena obatnya ini benar-benar membuatmu sangat mengantuk.' gerutu Ashera dalam hati, dia tidak bisa bergerak kemanapun, sebab Arvin yang masih memeluk tubuhnya. 'Sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi dengan anak ini terus, aku ingin tidur saja susah.'
__ADS_1
Berusaha untuk kembali bangun dari tempatnya, Ashera lagi-lagi kembali di tarik oleh Arvin, sehingga tubuhnya pun langsung kembali mendarat di samping tubuhnya Arvin.
Dan mau berapa kali pun Ashera melakukannya, Ashera terus saja di tarik sampai di percobaannya yang kelima kalinya, Arvin langsung memeluknya seperti sebuah bantal guling.
'Kenapa nasibku seperti ini? Dia bahkan bukan orang yang bisa konsisten dengan ucapannya. Katanya dulu dia membenciku, tidak suka aku, tapi kenapa akhir-akhir ini dia terus memperlihatkan sisi baiknya kepadaku?
Jika dia terus melakukan itu, aku bisa saja terus terperangkap dalam genggamannya.' pikir Ashera.
Walaupun tubuhnya sudah terlihat cukup pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Arvin kepadanya saat ini, tapi tidak dengan hatinya yang terus bimbang dengan perasaannya, yang tidak boleh terlalu percaya dengan segala ucapan yang keluar dari mulut Arvin yang beracun itu.
Apalagi saat dia harus melihat kenyataan dari Arvin yang terlihat cukup dekat dengan mantan pacarnya sendiri. Meskipun hasil dari video yang di unggah oleh orang-orang, tapi karena hal itu pula, Ashera pun jadi semakin ragu untuk mempertahankan perasaan sukanya, selain untuk terus berpikir kalau Arvin adalah orang yang mau bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepada mereka berdua terakhir kali itu.
"Dari mana kau tahu kalau Daseon ada disini?"
"Aku tidak tahu, aku pikir aku menelepon kak Luna, tapi ternyata aku salah menghubungi orang," jawab Ashera dengan nada yang begitu lirih.
Arvin yang sedang mengendus-endus aroma Ashera itu pun langsung membuka matanya, betapa cueknya saat Ashera menjawab pertanyaannya.
'Apa yang sedang di pikirkan nya saat ini? Apa dia masih marah karena aku jalan dengan Vani, atau karena aku memperlakukannya seperti ini?' batin Arvin dengan tangan nakalnya yang rupanya tidak mau berhenti untuk bekerja di bawah sana.
'Ngomong-ngomong aku muntah-muntah, aku memang haid, tapi kenapa aku rasanya terus gelisah ya? Pikiranku yang paling menganggu adalah kalau aku bisa saja hamil.
Jika itu terjadi, apakah aku akan ikut bahagia? Bahkan dengan orang yang punya sifat nakal seperti Arvin ini?'' merasa kacau dengan pikirannya sendiri, Ashera tiba-tiba saja memejamkan matanya dan menggeleng kepalanya dengan kuat, saking takut serta tidak berharap kalau yang di pikirkan nya terjadi, sebab mau bagaimanapun karena peristiwa ini juga, hari demi hari dirinya merasa terganggu, dan tidak ada kata damai.
__ADS_1
Meskipun ada, itu hanya berlangsung sesaat saja sebelum akhirnya semua itu kembali di hancurkan oleh Arvin sendiri yang terus bertingkah di luar sana.