
Setelah berhasil dikeluarkan dari apartemen yang di tinggali oleh Arvin, Ashera pun di bawa masuk kedalam mobil dan duduk bersama dengan nyonya majikan nya serta satu orang bodyguard yang terus mendampingi Nenek Tina, yaitu Luna.
Di dalam perjalanan tidak ada pembicaraan apapun.
Dan hal itu pun membuat Ashera jadi semakin terbebani.
"Luna, kita pergi ke mall, dan suruh salah satu temanmu untuk membelikan baju biasa untuk anak ini." Perintah Nenek Tina kepada salah satu anak buahnya itu.
"Baik Nyonya." Dari balik kacamata hitam yang di pakainya, sudut matanya sempat mencuri-curi pandang Ashera yang masih menyembunyikan tubuh dan bahkan kepalanya di dalam selimut itu.
'Nyonya besar memang menanyakan apa yang aku inginkan setelah kejadian ini. Tapi ujung-ujungnya pasti hanyalah omong kosong saja.
Aku tidak boleh berharap lebih pada seseorang, tidak boleh Ashera. Mau bagaimanapun mereka berdua adalah majikanku, dan aku yang hanya berstatus pelayan, tidak boleh memiliki harapan lebih seperti itu.
Tidak boleh Ashera, atau kau benar-benar akan di anggap kalau semua ini rencana yang aku persiapkan.' pikir Ashera, dia masih dalam keterdiamannya.
Walaupun di dalam mobil cukup canggung, tapi Ashera sendiri sama sekali tidak berani berkata-kata lebih dari berbagi nafas di dalam mobil itu dengan kedua orang yang paling harus di takuti.
Sedangkan Nenek Tina, hanya diam seraya menatap Ashera dengan tatapan datar. Ia sama sekali tidak ingin berbicara juga, sebab baik itu suasana, maupun waktunya, sama sekali kurang sesuai.
Jadi ia pun akan memberikan Ashera sedikit waktu untuk menenangkan dirinya.
_____________
PRANKK.....
Botol yang Arvin ambil dari atas meja di ruang tamu, langsung Arvin lempar dengan begitu kasar, sehingga pecahan beling itu pun menyebar lebih luas.
"Ashera! Baru bertemu sekali setelah dua tahun ini, dia malah menyeretku kedalam situasi seperti ini! Arrgghh! Dia memang benar-benar perempuan licik, diam-diam menghanyutkan." Racau Arvin, setelah melempar botol alkohol ke jendela full glass sampai botol itu pecah, lalu ia mengacak rambutnya dengan ekspresi antara kesal juga frustasi. "Kenapa dia tahu apartemenku? Dari mana dia bisa tahu?!" Pekik Arvin.
Dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena berbuat sesuatu yang sungguh merugikan dirinya.
Apa yang membuat dirinya kali ini paling merugi adalah sebab neneknya sudah tahu apa yang ia perbuat kepada Ashera, makannya ia pun di suruh untuk menikah. Padahal sebelum ini, dirinya juga pernah meniduri beberapa wanita lain. Namun karena kemungkinan neneknya tidak tahu soal itu, jadi rahasia itu pun masih cukup aman, dan secara kebetulan kedua wanita yang pernah Arvin tiduri juga bisa di ajak kerja sama, karena sama-sama ingin mendapatkan kesenangan tanpa ada tujuan lain.
Tapi kali ini berbeda, dirinya...
__ADS_1
Ah- seorang pelayan, yang harusnya melayani, malah akan di angkat dengan status lebih tinggi.
Itu pun jika Arvin memang benar-benar mengiyakan perintah dari Neneknya.
"Bagaimana ini? Dia itu, aku benar-benar jadi membencinya, aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini, tapi jika aku menolak-" Konsekuensi sudah mulai terbayangkan oleh Arvin sendiri.
Baginya, itu adalah sesuatu yang cukup mengerikan, sampai membuat Arvin merasa jika dirinya menolak perintah itu, dengan kata lain dirinya akan di tendang dari kartu keluarga?
Karena dulu pernah ada kejadian yang sama, yaitu tidak menuruti perintah dari Nenek nya, kakak dari Ibu nya Arvin pun di keluarkan dari daftar kartu keluarga, dan sudah tidak memiliki hubungan keluarga Ravarden lagi.
'Walaupun aku masih sekolah pun, jika tidak menurut, Nenek sudah pasti akan benar-benar mengeluarkanku dari daftar keluarga, bahkan Ibu dan Ayahku juga sama sekali tidak bisa menentangnya.' Lagi-lagi jalan buntu, Arvin sama sekali tidak memiliki titik terang karena kepalanya masih saja tidak bisa berpikir dingin.
TOK...TOK....TOK.....
"Tuan, saya pelayan, datang untuk membersihkan apartemen anda." Seorang laki-laki berpakaian seperti seorang butler pun datang.
Arvin segera beranjak dari tempatnya dan membukakan pintu rumahnya untuk orang ini.
"Masuk, dan jangan banyak tanya. Juga jangan jadi mulut seperti ember bocor." Perintah Arvin terhadap pelayan tersebut.
Pelayan ini pun langsung menghentikan langkah kakinya saat ia hampir saja menginjak salah satu daging sapi yang tergeletak di lantai.
Daging sapi dari sup yang tumpah, nasi, bahkan ada sambal, lantai rumah milik sang Tuan muda pun sudah seperti tempat pembuangan sampah yang benar-benar mengerikan.
Setelah melihat lantai kotor itu begitu merusak pemandangan, pria ini dengan hati-hati demi menghindari lantai kotor itu, terus berjalan masuk lebih dalam, dan akhirnya tempat yang sudah seperti kapal pecah membuat pria ini benar-benar tertegun, sampai akhirnya ia harus tersenyum getir dengan, apalagi selepas tangannya menyeret jari telunjuknya di permukaan salah satu nakas, meja marmer, dan jendela, ia benar-benar harus di buat kerja keras.
Apartemen sekaligus rumah pribadi milik Tuan muda nya pun sungguh tidak terawat, banyak debu yang menempel di permukaan sarung tangan yang dipakai oleh butler ini.
"Apa yang kau senyum-senyumkan?" Lirik Arvin, benar-benar curiga terhadap pelayan tersebut, sebab senyuman yang terlihat cerah itu seperti menyimpan sesuatu yang cukup mendalam.
Lantas, butler ini pun menjawab pertanyaan dari Tuan muda nya dengan tenang. "Padahal Tuan muda cukup populer, tapi bagaimana seorang Tuan muda yang tampan ini, mengabaikan kebersihan? Sungguh tidak terduga, anda membuat saya harus banyak bekerja di rumah sekotor ini."
Arvin menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu bersandar ke dinding dan menjawab, : "Aku terima pujian soal aku ini tampan, tapi bagian yang terakhir itu, itu adalah tugasmu, jadi jangan banyak komentar, dan bersihkan." Ujar Arvin tanpa memperdulikan soal senyuman yang cukup mengganggu itu.
Dengan tag nama bernama Daseon, pria ini pun lagi-lagi tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, dengan arti dia akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
"Oh, aku ingatkan, lakukan pekerjaanmu, tapi anggap juga tidak pernah melihat apapun yang ada di sini. Kau paham kan?" Kernyit Arvin, menuntut agar Daseon itu menjawabnya dengan cepat, dan benar-benar mengerjakan semua tanggung jawabnya itu dengan baik dan benar.
"Baik, saya paham dan akan mengingatnya." Jawab Daseon. 'Padahal pemandangan seperti ini adalah hal yang tidak akan pernah di lupakan. Bagaimana bisa Tuan Muda punya kebiasaan jorok seperti ini, kira-kira bagaimana jika teman-temannya tahu kalau orang yang mereka banggakan adalah orang yang punya kebiasaan buruk seperti ini?' Pikir Daseon, lalu ia tiba-tiba melirik ke arah pintu kamar yang terbuka, dan melihat bahwa di tempat tidur itu pun seperti baru saja ada sebuah pertarungan yang tidak terelakan, sampai manik mata berwarna hitam itu menemukan secercah warna merah yang sangat di kenalinya, yaitu darah.
Dengan begitu, Daseon pun akhirnya tahu apa yang sudah terjadi di tempat ini, saksi bisu atas peristiwa panas?
Hanya memikirkan hal itu, Daseon tiba-tiba tersenyum lagi.
'Dia juga sudah lama bekerja di sini, dan paling tahu aku itu punya sifat dan kebiasaan seperti apa, jadi aku percaya kalau mulutnya itu tidak membeberkan rahasia di rumahku ini.' Pikir Arvin sambil memberikan tatapan penuh selidik kepada butler tersebut.
____________
Seperti yang diharapkan oleh Daseon, walaupun bekerja membersihkan semua ruangan sendiri, tapi hasilnya cukup mengesankan, sampai Arvin yang baru saja mandi itu, sudah disiapkan makan malam untuknya.
Arvin tanpa sungkan pun duduk dan menikmati sarapan paginya itu dengan nuansa rasa penuh nostalgia.
'Dia selalunya seperti ini.' Merasa puas dengan makanan yang di makannya, Arvin pun akhirnya angkat bicara. "Aku berikan kau kesempatan untuk bertanya, katakan apa yang ingin kau tanyakan,"
Daseon yang sedang membersihkan kaca jendela dengan menggunakan tangga, lantas terus bekerja dan mulut pun bertanya balik : "Saya pikir, Tuan lah yang ingin menanyakan sesuatu kepada saya."
"Hmm?" Arvin jadi terpancing, bahwa kemungkinan besar kalau Daseon sudah tahu apa yang sedang di cemaskan nya (Arvin).
"Saya, sebagai satu-satunya orang dewasa disini, sepertinya adalah orang yang lebih layak untuk diberikan pertanyaan oleh anda, terutama apa yang baru saja terjadi antara anda dengan Nyonya besar. Bukan begitu, Tuan muda?" Toleh Daseon ke belakang, dan melihat ekspresi wajah majikannya yang terlihat begitu serius.
"Kau- Memangnya tahu apa soal tadi pagi dengan nenekku?" Matanya menyipit, ia ingin mendengar sesuatu dari mulut yang terlihat seperti orang yang mengetahui segalanya.
"Saya tahu sifat dari Nyonya besar itu seperti apa, dan melihat kondisi apa yang terjadi di kamar pribadi anda, sudah jelas kan kalau anda tadi pagi jadi langsung di desak untuk menuruti keinginan dari Nyonya besar?"
'Yah~ Itu memang sudah cukup jelas sih. Tapi-' Arvin kembali merenung, hatinya masih saja tidak percaya kalau di rumahnya ini, ia bisa kehilangan semuanya jika dirinya menolak perintah itu. "Coba bicara lagi."
Arvin jadi memberikan kesempatan kepada Daseon untuk bicara lebih banyak.
"Saya pikir, anda sedang memerlukan solusi kan? Saya ada saran, tapi itu tergantung anda juga."
"............!" Mendengar hal tersebut, sontak Arvin jadi terpegun sekaligus tiba-tiba jadi seperti menemukan sebuah harapan besar yang sedang menunggunya. "Katakan."
__ADS_1
Melihat Tuan muda begitu antusias nya ingin mendengar saran yang ingin dikatakannya, Daseon pun tersenyum lalu memutar tubuhnya, dan duduk di atas tangga sambil melihat ke arah bawah, dimana Tuan muda nya juga membalas tatapannya ke arahnya langsung dari posisinya yang sedang duduk di belakang meja dapur.