Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
145 : Ashera Adalah Aromatherapy


__ADS_3

Esok harinya.


Di dalam rumah yang terasa hangat, tentu saja ada suara yang mendampingi kicauan burung di luar dengan suara nafas milik seseorang yang begitu terengah-engah.


"Hah...hah...hah...." suara nafas yang begitu cepat perlahan menyajikan suara yang begitu aneh untuk di dengar.


Tetesan demi tetesan air, jatuh dan mendarat di permukaan kulit dari wajah seseorang yang posisinya tengah terbaring di bawah persis.


'Kenapa ada yang membasahi wajahku? Air? Apa atapnya tiba-tiba bocor?' Ashera yang tadinya terlihat tertidur nyenyak, merasa terganggu dengan tetesan air yang terus jatuh ke wajah, leher maupun tangannya dengan deras, layaknya sedang dihujani oleh air hujan.


"Hahh...hah...hah..."


Suara nafas itu kian terdengar dengan jelas, tapi rupanya masih belum membuat Ashera ingin membuka matanya, karena masih mengantuk.


"Hah...hah...hah..."


Lagi-lagi suara dari nafas yang memburu itu terus terdengar dan sangat mengacaukan alam mimpi milik Ashera.


'Sebenarnya suara desa*an milik siapa ini? Mengganggu tidurku saja.' protes Ashera, masih memejamkan matanya, karena sedang berusaha keras agar mimpi indahnya itu dia sambung kembali detik itu juga.


"Kalau saja kau tidak tidur, mungkin aku sudah berhasil menanam sebanyak satu juta benih." suara berat milik seorang laki-laki pun datang menghantui Ashera yang masih berusaha untuk kembali tertidur.


Namun sayangnya, pusat perhatian miliknya yang sedang dia gunakan untuk fokus pada sambungan mimpi miliknya, tiba-tiba berhasil teralihkan dengan kata dari sebuah kode yang cukup keras.


Benih


"...!" kata yang cukup ambigu untuk di katakan dari suara yang sangat familiar di benaknya, sontak membuat Ashera seketika itu juga membuka matanya lebar-lebar.


"Dalam waktu kurang dari satu bulan itu sudah tumbuh menjadi objek yang cukup bagus," ucapannya kembali keluar, merusak citra dari dirinya sediri sebagai seorang pria yang cukup gengsi untuk mengatakan hal seperti itu kepada perempuan yang ada di bawahnya itu, karena dari segi penampilan, perempuan ini tidaklah menarik.


Tapi rupanya mulutnya terus mengatakan hal menakjubkan untuk menggoda perempuan di bawahnya itu.


Tentu saja, kata menarik- pada diri Ashera, bagi Arvin sendiri sebenarnya hanya pada satu hal saja, yaitu aroma tubuhnya yang cukup manis.


Cukup membingungkan, apakah itu seperti cerita dalam fiksi, kalau manusia serigala hanya terpikat pada satu orang yang memiliki aroma paling penarik diantara yang lainnya, yang biasa di sebut mate?


Jangan-jangan dirinya punya gen misterius, sampai membawa-bawa Ashera dalam latihan olahraga rutinnya?


Karena anehnya, aroma tubuh tanpa tambahan parfum yang dimiliki oleh Ashera, begitu cukup memabukkan.


Sampai-sampai, dengan sengaja Ashera di tempatkan di tempat yang lumayan hangat untuk membiarkan keringatnya muncul, dan menjadi aromatherapy di tengah-tengah Arvin sedang melakukan olahraga rutinnya, yaitu push up.


"Kenapa aku disini?" satu pertanyaan itu pun akhirnya keluar dari mulut yang dari tadi terus tertutup rapat.


Membuktikan dengan jelas, kalau si Putri tidur ini akhirnya terbangun juga.

__ADS_1


"Agar kau kepanasan," ledek Arvin dengan senyuman nakal, bahkan di kala Ashera hendak menyeret tubuhnya pergi dari sana, Arvin dengan segera langsung menurunkan tubuh separuh telanjangnya itu, dan membuat Ashera terhimpit antara lantai juga tubuh kekar miliknya.


"Apa maksudmu?" kernyit Ashera, dia terus berusaha untuk pergi dari bawa tubuhnya Arvin, tapi yang ada dia malah semakin di jepit!


Masih pagi, tapi Arvin seolah- sedang mencoba memicu iblis di dalam tubuhnya, dengan mempermainkan Ashera yang baru sadar dari tidurnya itu.


"Ya, agar kau berkeringat juga, tapi dengan cara lain, bukan dengan cara mengguncang ranjang," ucapan yang begitu bertele-tele, padahal ia hanya ingin membuat Ashera berkeringat saja, dengan maksud agar bisa mencium aroma tubuhnya itu, tapi ia selalu saja terbesit ingin mempermainkan perempuan ini dengan segala kalimat yang membuat orang langsung berpikir pada satu hal yang pasti akan langsung muncul, jika orang itu peka.


Dan ciptaan dari ucapannya itu pun sukses membuat rona dari kedua telinganya Ashera langsung bersemu merah layaknya tomat.


Sangat menakjubkan, kalau telinga itu bisa bertransformasi untuk menjadi sesuatu yang terlihat manis untuk Arvin gigit.


"A-apa sih yang kau katakan itu? Minggir," Ashera berusaha untuk menepis tubuh Arvin dari atasnya.


Tapi, perbandingan tenaga diantara mereka berdua, benar-benar membuat Ashera jengkel sendiri.


"Aku masih belum puas baby, dan kalau bisa kau tidur saja lagi, ini akan mempermudah kita berdua untuk mendapatkan tujuan kita masing-masing. Kau yang masih ingin tidur untuk melanjutkan mimpimu, dan aku yang masih ingin aromatherapy milikmu, jadi adil kan?" tutur Arvin sekaligus memberikan perintah kepada Ashera yang ada di bawahnya persis.


"Tapi ini sesak, jangan main-main ya, nanti aku pukul,"


"Hah? Kau mau pukul aku dengan tangan sekecil itu? Silahkan saja kalau kau memang punya tenaga besar untuk membuatku sakit." Awalnya Arvin bicara dengan tawanya, tapi begitu dia menambahkan ucapannya lagi, seketika itu juga suaranya langsung jadi rendah, "Tapi sebaiknya jangan di tempat itu lagi, kalau tidak aku tidak akan segan-segan memakanmu hidup-hidup," ancam Arvin, dia mau tidak mau harus menakut-nakuti perempuan ini agar bisa tahu kalau sebenarnya menyentuh tubuhnya saja, bisa membuat perkara diantara merek berdua akan jadi lebih jauh, jika Ashera memang berani untuk memukulnya, sebagai salah satu, buah dari perhitungan Ashera untuk membalasnya.


Ashera yang keburu takut dengan tatapan matanya Arvin yang cukup tajam itu, seketika kepalan tangan yang sudah siap untuk membogem mentah tubuh Arvin, nyalinya berubah menjadi ciut.


Dia tidak seperti kepribadian miliknya yang satunya lagi, makannya setiap ancaman apapun yang di berikan oleh Arvin ini, detik itu juga ucapan itu berhasil langsung mengenai hatinya dan berakhir dengan ketakutan yang terlihat tanpa alasan.


DEG....


Bahkan ketika surat kontrak diantara mereka berdua sebenarnya sudah di sita oleh Luna, Ashera masih saja bisa mengingat dengan jelas salah satu dari isi surat kontrak itu.


Tapi, apakah itu juga, yang menjadi landasan kenapa Ashera mau ikut kemanapun dan tidak ingin ini dan itu, padahal mereka berdua saat ini sebenarnya sedang bulan madu?


Arvin jadi tidak bisa berkata-kata, selain diam dan akhirnya kembali melanjutkan olahraganya, serta diri Ashera yang merelakan untuk menjadi penampung keringatnya Arvin.


_____________


Siang itu, di saat Ashera sebenarnya sudah tidur siang, diam-diam Arvin pergi keluar untuk menemui Vani, tentunya.


"Apa perasaanku saja, dia akhir-akhir ini jadi sering tidur?" Arvin sudah mengamatinya selama beberapa hari ini. Pekerjaan Ashera yang sudah seharusnya memang di kerjakan, memang di lakukan dengan baik, tapi begitu sudah selesai justru dianya langsung tidur.


DRRTT....


DRRTT....


Melihat handphone miliknya bergetar karena ada panggilan masuk dari Vani, Arvin buru-buru menutup pintu kamar dan pergi keluar rumah meninggalkan Ashera sendirian.

__ADS_1


-"Arvin, kau sudah ada dimana?"-


"Aku sedang dalam perjalanan, tidak usah mengharapkan aku bisa datang tepat waktu juga,"


-"Iya, aku tahu kebiasaanmu juga, santai saja, aku akan menunggumu di pinggir danau,"-


Selesai bicara Arvin langsung meluncur pergi dengan mobilnya.


____________


"Ahh! Stop! Jangan membuatku seperti pelayan!" teriak wanita ini kepada Daseon yang sedang menyuruhnya untuk mengepel.


"Tapi kau kan sudah jadi pelayan, tuh," sahut Daseon, sebagai pelayan pribadi Arvin, dia tetap mengawasi rumah area dari tempat pribadi majikannya dari orang luar seperti wanita yang akhir-akhir ini ia jadikan seorang pelayan untuk membantu pekerjaannya.


Wanita manja yang menawarkan dua juta won dua hari untuk menginap di hunian pribadi milik Arvin ini pun emosinya akhirnya memuncak.


BRAK...


"Aku ingin uangku kem-"


"Jika tidak tahan kau sebenarnya bisa keluar, tapi jika mengharapkan uang kembali, itu tidak mungkin, karena kau sendiri yang memaksa ingin tinggal di sini, karena alasannya cukup sederhana, kau sudah memberikan dua juta won kepada Tuanku." jawab Daseon.


"Argghh! Aku tidak peduli, aku ak-" matanya langsung melotot saat melihat nomor milik Ayahnya, ternyata sudah di simpan di handphonenya Daseon.


"Aku akan menelepon Ayahmu sekarang juga, jika memang mau menuntut aku ataupun Tuanku," ancam Daseon, dia tidak segan-segan untuk menuntut balik pada kedua orang tua wanita di depannya itu, kalau memang wanita itu mau melaporkan soal dua juta won itu.


Sebenarnya ini bukan masalah soal uang, lebih tepatnya pada dua orang ini, yaitu Tuan mudanya yang melakukan hal memalukan mau menipu orang lain di kala statusnya cucu keluarga Ravarden, dan di satu sisi lagi, wanita ini terkenal banyak membuat onar, jadi jika sesekali memberikan pemahaman dan ancaman seperti itu, Daseon berharap kalau wanita itu ada perasaan takut kepadanya, sekaligus menutupi kelakuan Tuan muda nya itu.


"Ok, aku pergi saja sekarang! Aku benar-benar repot disini, bukannya bisa istirahat, tapi aku malah di buat kerja seperti pembantu." omel wanita ini, lalu dia melepaskan sarung tangan, kain penutup kepala, masker, dan celemek.


Dan seperti itulah, begitu sudah muak di tempat yang di kira akan terlihat memuaskan dengan kenyamanan yang ada di dalam rumah mewah di dalam hotel bintang lima itu, wanita tersebut pun akhirnya pergi juga dengan kopernya.


BRAKK..


"Hahh, wanita memang merepotkan. Untung saja dia bisa pergi dari sini, kalau tidak dia akan lebih memperburuk keadaan.


Tapi aneh juga, kalau dia tidak suka, seharusnya dari awal dia pergi saja, tapi karena ancamanku waktu itu, dia mau-mau saja aku perintah untuk tinggal di sini dan bekerja ini dan itu.


Yah itu tidak masalah, yang penting aku tidak berurusan dengannya lagi," ucap Daseon dengan perasaan lega serta bebas.


Namun, baru juga bisa menghela nafas sejenak, tapi pekerjaan Daseon selanjutnya, dia pun harus mendengarkan permintaan dari Nyonya besarnya lagi.


Handphone nya yang berdering itu, langsung Daseon angkat tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Halo Nyonya apa ad-"

__ADS_1


-"Kak Luna,"-


__ADS_2