Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Fajar


__ADS_3

"Merasakan bibirku," timpal Hera dengan senyuman miringnya. "Bukankah ini yang kau inginkan? Pria yang suka dengan wanita yang agresif,"


"Jangan salah paham. Walaupun aku suka dengan wanita yang seperti itu, karena kau bukan dia, aku tidak akan menantikan hal semacam itu darimu," jawab Arvin, mendorong pelan bahunya Hera dan berniat untuk pergi.


"Baiklah, tapi-"


GREPP...


Hera langsung mencengkram tangan Arvin sebelum pria itu benar-benar pergi dari sana, lalu berkata lagi, "Tapi kau harus tahu, Arvin. Aku tetap bagian dari Ashera, jika kau tidak bisa belajar untuk menghargaiku dengan baik, jangan pernah harap kalau Ashera akan kembali,"


Menarik tangannya Arvin, Hera kemudian mengecup punggung tangan suaminya itu, dengan ciuman yang cukup lembut tapi memiliki banyak makna dari sebuah ancaman.


CUP...


Arvin menatap Hera dengan tatapan yang begitu datar. Begitu cengkraman tangannya di lepas, tanpa sepatah kata lagi Arvin pun beranjak pergi dari sana, meninggalkan Ashera dengan kepribadian Hera itu, sendirian di dalam sana.

__ADS_1


KLEK ...


"Arvin-" memanggil namanya dengan pelan dan lembut, tatapan matanya yang tajam layaknya mata penuh dengan kejahatan, perlahan menghilang dan tergantikan dengan senyuman lemah yang menyiratkan kesedihan. "Kau sepertinya harus bersiap untuk menghadapi ujianmu yang sebenarnya," gumam Hera.


Lalu dia pun melirik ke arah bubur yang ada di meja, di hadapannya persis.


'Kalau saja aku waktu itu bangun lebih cepat, aku mungkin tidak akan dalam kondisi tinggal di rumah sakit seperti ini.


Aku benci aroma obat. Tapi- apakah tangan ini benar-benar patah?! Kenapa sakit sekali?! Kalau seperti ini, aku jadi tidak bisa bebas!' protes Hera, dia dengan bersusah payah mencoba untuk makan sendiri, sampai tangan nya pun gemetar saking masih lemah nya tenaga yang dia miliki dalam tubuhnya itu.


Karena kondisi dari salah satu tangannya yang patah, hal tersebut membuat Hera jadi kesulitan makan.


"Arggh!"


Hera yang kesal karena tidak bisa menggunakan sendok dengan benar, langsung melemparnya ke dinding, setelah itu langsung menundukkan kepalanya, sampai di akhirnya bisa menyentuh bibir mangkuk.

__ADS_1


"Makan saja susah. Sudahlah, aku makan dari mangkuknya langsung!" seru Hera, dia cukup frustasi karena baru kali ini dia harus mendapati kondisi dari tubuhnya yang benar-benar tidak bisa dia gunakan dengan benar.


Dan dia pun terpaksa makan dari mangkuknya langsung dengan mangkuk yang sedikit di miringkan.


"Unghm..., nyam... Bagaimanapun jika mau sehat ya harus makan, kenapa Ashera ini malah puasa? Menyusahkan aku saja. Kalau begitu, aku akan membuat tubuh ini lebih sehat dari pada sebelumnya. Jadi aku harap kau berterima kasih kepadaku, Shera," ucap Hera, lalu melanjutkan makan buburnya lagi, sampai sudah masuk separuh mangkuk saja.


KLEK ...


"Apakah aku mengganggu waktu makanmu?"


Dengan tatapan malas, Hera menghentikan aksinya yang makan dengan cukup rakut, sampai ketik dia menatap wajah dari Fajar, yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya, Hera sedikit terkejut.


"Fajar?"


Seperti anak kecil yang ketahuan baru saja barmain yang kotor-kotor, Ashera benar-benar tidak tahu kalau akan ada tamu yang datang kepadanya.

__ADS_1


Dia memang tidak pernah berharap kalau akan ada orang lain lagi yang akan menjenguknya, apalagi di tambah dengan posisinya saat ini dimana dia baru saja melampiaskan amarahnya dengan membanting sendok.


'Aku kira dia tidak akan datang kesini lagi.' detik hati Hera.


__ADS_2