Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
109 : Keberadaannya yang berbeda


__ADS_3

"Ibu~ Ayah~" Satu panggilan dari anak laki-laki, tidak membuat kedua orang tua yang sedang berdiri di depannya itu, menyahutnya selain hanya menatapnya. "Apa Ibu dan Ayah mau pergi lagi? Tidak mau bermain denganku?" imbuhnya.


Begitu sudah selesai menatapnya, wanita yang di panggil ibu itu pun angkat bicara : "Arvin, kau itu sudah mulai besar, sedangkan Ayah dan Ibu punya pekerjaan kami masing-masing, jangan jadi anak manja, kau itu laki-laki, harus bisa mandiri ya, jangan main terus," jawabnya.


"Dengar kata Ibu mu, kami bekerja juga untukmu, jadi kau harus mulai mandiri sekarang," sahut pria ini, suami dari Ibunya Arvin.


Lalu anak kecil berusia enam tahunan itu pun hanya diam, mendengarkan apa yang di katakan oleh Ayah dan Ibu kepadanya.


"Jika kau mandiri, kau akan dianggap sebagai laki-laki sejati, apa kau mengerti?" ucap Nurisnya, Ibu dari Arvin seraya mengusap puncak kepalanya.


Dengan mata bulat seperti mau menangis, karena lagi-lagi akan di tinggal oleh kedua orang tuanya pergi, lagi dan lagi, apalagi kali ini kedua orang tuanya mau pergi keluar negeri, dan entah akan pulang berapa lama lagi, Arvin pun hanya menjawab dengan sebuah anggukan, dan barulah di susul dengan suara yang terdengar kecil. "Iya,"


Arvin pun jadinya menggenggam dengan erat sepucuk surat yang dia letakkan di belakang tubuhnya sampai surat itu cukup kusut.


"Arvin mengerti. Ayah dan Ibu, hati-hatilah," jawab Arvin sekali lagi, dia sudah begitu malas untuk mendongak ke atas, melihat wajah dari kedua orang tuanya yang nampak enggan untuk mendengarkan permintaan dari Arvin yang sebenarnya, dan begitu buru-buru ingin pergi dari hadapannya.


"Jaga dirimu baik-baik dengan nenek ya," setelah berkata demikian, mereka berdua pun pergi meninggalkan Arvin sendirian, di rumah yang cukup besar.


KLEK....


Setelah kedua orang tuanya itu pergi, Arvin pun akhirnya mengeluarkan surat yang dari tadi dia pegang, dan membaca ulang isi surat itu.


Surat yang berisi agar kedua orang tuanya itu hadir ke sebuah acara penerimaan raport.


Tapi, semua itu seperti hanya angan-angan belaka, sebab Arvin, di balik dia hidup di tempat yang bagus dan bergelimpangan dengan harta, kasih sayang yang ingin dia miliki dari kedua orang tuanya, sama sekali tidak bisa dia gapai.


"Padahal aku ingin menunjukkan kalau aku juga punya kedua orang tua pada merek," gumam Arvin dengan raut wajahnya yang cukup sedih, sebab tidak bisa membuat kedua orang tuanya hadir di muka umum.


Karena itu itu pula, Arvin di sekolah pun terus di anggap sebagai anak yatim piatu, karena setiap sesi untuk menghadirkan kedua orang tuanya daam acara-cara tertentu, yang datang justru adalah butler nya.


_________


Sebuah kisah masa lalu, yang akhirnya melekat pada diri Arvin yang saat ini sudah menjadi orang yang cukup mandiri.

__ADS_1


Dan karena kehidupan pribadinya tidak seindah yang di bayangkan oleh orang luar, meskipun dirinya sama sekali tidak begitu di kenal sebagai cucu dari keluarga Ravarden, justru hal itu di jadikan sebagai buah kesempatan untuk Arvin, untuk tidak menunjukkan identitas dirinya yang sebenarnya di muka umum.


*


*


*


Tapi, dari semua kisah hidup yang terus membuatnya untuk bisa mandiri di setiap waktu, rupanya, sekarang dia tidak akan pernah lagi sendirian seperti hari-hari yang dia lewati selama puluhan tahun ini.


Karena sejak dari seminggu yang lalu, ada seseorang yang tidak sengaja hadir dalam hidupnya, yaitu Ashera.


Arvin dan Ashera pun saling pandang memandang. Satu kesalahan, bisa membuat banyak perkara, sampai rumor pun beredar.


Salah satunya, jika Arvin menunjukkan dirinya, keluar dari dalam tirai dan berhadapan dengan Lia, kemungkinan besar Lia akan bertanya terus, alasan kenapa Arvin ada di UKS, dan siapa yang sedang terbaring di tempat tidur di ujung ruangan itu.


'Tapi- jika aku melakukan ini-' Ashera yang tidak punya rasa minder ataupun takut pada Arvin ini, tanpa persetujuan dari Arvin, Ashera tiba-tiba saja langsung menarik dasinya Arvin.


Hal tersebut berhasil membuat pria yang sudah membungkuk ke arahnya itu langsung mendaratkan wajahnya itu tepat di depan Ashera persis, dan menciptakan sebuah momentum dari dua orang yang terlihat tengah berciuman.


"Huh?" Lia dan temannya itu seketika membulatkan matanya, saat melihat ada dua orang tengah berciuman di balik tirai itu.


"Lia~" dan laki-laki teman dari Lia ini, langsung memanggil nama Lia dengan bisikan dengan nada yang di tekan kuat, sebab perempuan tersebut berhasil mengganggu dua orang yang sedang berbagi kasih dengan sebuah ciuman.


"Ternyata dua orang sedang pacaran, bisa-bisanya ciuman di dalam UKS, merus-" belum sempat bicara dengan penuh, teman dari Lia ini seketika langsung menarik tangan Lia agar menjauh dari sana.


"Lia- Jangan ganggu mereka," peringatnya, dan menarik tangan Lia agar segera pergi dari sana, sebab apel pagi belum selesai.


"Siapa yang ganggu? Kan aku hanya melihat dan bicara sendiri," rungut Lia.


"Itu sama saja, ayo pergi," sahutnya.


BRAK...

__ADS_1


Setelah pintu tertutup, akhirnya sekarang tinggal mereka bertiga saja yang ada di ruang UKS.


WUSSHH....


Sayup-sayup angin dari jendela yang sedikit terbuka itu, menghembuskan angin yang membuat tirai jendela di sana langsung berkibar.


Sensasi sejuk dari pagi hari yang sudah mulai terik, menunjukkan suasana dingin yang cukup memikat perasaan, bahwa pagi itu adalah pagi yang cukup menenangkan.


Namun, di balik itu semua itu, Arvin dan Ashera justru tengah menciptakan suasana yang mulai memanas.


"Aku pikir kau mau menciumku," bisik Arvin, sebenarnya mereka berdua tidak berciuman, melainkan hanya cuman saling memandang wajah mereka satu sama lain.


"Untuk apa aku menciummu? Posisi seperti ini saja sudah berhasil menipu mereka," balas Ashera lagi, tentu saja dia berbicara dengan nada berbisik. Akibat dari satu alasan, dimana masih ada satu orang di dalam UKS, mereka yang waspada dengan satu siswi tersebut, hanya bisa bicara dengan lirih.


'Untungnya dia berpikir cepat, tapi kenapa juga aku bertanya seperti orang berharap seperti ini? Ada apa denganmu, Arvin?' pikir Arvin, dia sendiri tidak mengerti dengan ucapannya tadi, karena dari sudut manapun, terdengar kalau dia mengharapkan sesuatu pada perempuan yang ada di bawahnya itu. "Benar sih, tapi kalau bisa, kan sekalian saja, apa kau tidak tahu kebutuhan macam apa yang sedang aku inginkan sekarang ini, gara-gara posisi ini?" sahut Arvin, berhasil membuat Ashera terdiam sejenak, dan membalas tatapan matanya Arvin dengan tatapan mata heran sekaligus penasaran.


"Jadi kau mau?"


Lalu dengan bisikan yang begitu kecil, serta lirih, Arvin pun angkat suara : "Lakukan, ini perintah," tuntut Arvin kepada Ashera.


Dia memang bukan orang yang begitu peduli dengan image nya, karena yang terpenting di sini adalah kemauannya itu harus di turuti.


"Bayar aku dengan mulutmu, kau kan barusan menggunakan aku sebagai tamengmu juga," imbuhnya, tanpa memperlihatkan ekspresi wajahnya yang sebenarnya senang, tapi Arvin berhasil tutupi dengan cukup baik.


Sedangkan Ashera, yang sudah kehabisan kata-katanya, tanpa pikir panjang lagi dia pun memberikan kecupan singkat kepada Arvin.


CUP....


"...!" Arvin seketika membelalakkan matanya, padahal dia mengira kalau Ashera akan memberikan penolakannya lagi, tapi apa ini?


Dengan begitu mudahnya, Ashera berhasil memberikan apa yang di mau oleh Arvin, dan hadiah yang di berikan nya itu, justru adalah sebuah ciuman.


Ciuman yang rupanya, memang cukup manis, lebih manis ketimbang saat diri Arvin mencium Marlina beberapa beberapa hari yang lalu, sebelum perempuan itu akhirnya meninggal karena sesuatu yang masih belum Arvin pahami dengan pasti, karena dia belum menginterogasi pria yang berhasil Arvin tangkap itu.

__ADS_1


'Ini manis, lebih manis dari gula. Dasar, air liur aneh, padahal sama-sama air liur, tapi aku sadar, kalau cita rasa yang di miliki Ashera ini, memang cukup berbeda dari perempuan lain. Kenapa?' kata hati Arvin.


__ADS_2