
Pukul sembilan malam.
Di dalam rumah mewah milik Arliana. Arliana yang sedang asik berbaring sambil nonton tv, tapi dia tetap di suapi keripik oleh Doni, tiba-tiba saja suara pintu utama yang terbuka, berhasil menarik perhatian mereka berdua.
KLEK....
"Kau kenapa? Babak belur seperti itu lagi? Masih kurang, dengan kejadian waktu itu?" tanya Arliana kepada sepupunya yang baru saja pulang, alias mampir menginap di rumhanya, dia adalah Enzo.
Enzo yang langsung di tanyai seperti itu, langsung menjeling tajam ke arah Arliana.
"Apa aku harus melapor padamu?" tanya balik Enzo, seraya menyeka darah yang ada di sudut bibirnya yang pecah akibat dia baru saja berkelahi.
Lantas siapa yang baru saja Enzo jadikan sasaran perkelahiannya?
Dengan siapa lagi dia bisa berkelahi sampai babak belur seperti itu kalau bukan dengan Arvin?
"Pasti kau baru saja berkelahi dengan Arvin kan?" tanya Doni dengan tatapan berani, karena dia bicara dengan santai kepada Enzo, yang posisinya sebagai sepupunya Arliana, dan yang berarti sama saja dengan kerabat dari majikannya, yang seharusnya, Doni itu bicara dengan sopan kepada mereka.
"Tuh, babumu bahkan sudah jawab." Enzo dengan kasar menaikan dagunya ke arah Doni sebagai penggantinya untuk menunjuk ke arah Doni tersebut.
"Tuan muda, kenapa wajah anda babak belur?" tanya salah satu pelayan yang datang dan memberikan kekhawatirannya kepada Enzo.
"Kenapa? Itu bukan urusanmu, berikan saja kotak obatnya kepadaku." perintah Enzo dengan ketus, lalu dia pun berjalan ke arah sofa. Duduk di kursi single, dan langsung menyambar jus jambu miliknya Arliana.
"Woi, itu minumanku," Arliana langsung memberikan tatapan membunuh kepada Enzo.
"Apa peduliku soal itu minumanmu atau bukan, ku haus, ya aku minum saja toh." jawab Enzo dengan lugas, lalu dia pun menyeka wajahnya yang kotor itu dengan handuk hangat yang baru saja di bawakan oleh pelayan barusan.
"Ini Tuan, handuk dan kotak obatnya. Apa anda butuh bantuan."
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa sendiri, urus saja-urusanmu."
"Datang-datang langsung marah seperti itu, jangan-jangan kau kalah ya~" ledek Arliana dengan senyuman meremehkan.
Dan dari situlah, ekspresi Enzo pun jadi semakin lebih suram dari yang tadi, yang artinya itu benar, kalau Enzo kalah dari Arvin.
"Hah, ketahuan, dia itu kalau di sekolah sudah jadi seperti preman. Dan kau itu salah pilih sasaran Enzo." ungkap Arliana, lalu dia pun kembali di suapi oleh Doni untuk memakan keripik tempe.
"Apa kau bisa diam? Atau nanti aku jahit juga, itu mulut." geram Enzo, sambil memperlihatkan jarum yang sudah dia ambil untuk mengancam Arliana.
Arliana yang tidak suka di ancam, apalagi oleh sepupunya sendiri itu, dia pun langsung melemparkan bantal sofanya ke arah Enzo.
BRUK....
Tepat sasaran, bantal itu pun terkena kepalanya Enzo, membuat betadine yang hendak dia teteskan di kapas, langsung jatuh.
"Arliana! Aku mau obati bibirku dulu, kau mau tanggung jawab kalau bibirku kenapa-kenapa?!" marah Enzo.
"Tuan muda kalau bertemu dengan Nona muda, pasti akhirnya jadi berantem terus," ucap salah satu pelayan yang ada di dapur, ketika mereka menemukan kedua majikan mereka kembali berantem, meskipun sesaat.
'Walaupun aku kalah, tapi kenapa aku merasa puas? Arvin, mending kita adu tinju di dalam arena ring saja.' gumam Enzo dalam benak hatinya.
____________
Esok paginya.
Samar-samar mata yang tadinya terpejam, sudah terbuka dan melihat langit-langit sebuah rumah yang begitu familiar.
'Ehmm? Ha? Kenapa aku disini?!' Ashera yang terkejut dengan plafon dari langit-langit di atas sana, membuatnya langsung terbangun. "Hah?! I-ini kan di rumah? Bagaimana bisa?!"
__ADS_1
Padahal yang ada di dalam ingatannya, dia jelas, kalau dia pergi ke bar dan di tiduri oleh seseorang di sana. Tapi yang jadi buah pertanyaannya Ashera sendiri adalah kenapa dia sekarang bisa berada di rumah?
'Apa aku hanya bermimpi saja?' Ashera pun sama sekali belum bisa percaya dengan ingatannya yang masih bisa dia ingat dengan jelas, kalau dirinya di jebak di dalam bar.
Akan tetapi, dia sendiri sekarang ada di rumah, dan pakaiannya, bahkan dia memakai seragam sekolah?
'Hahhh?' Ashera jadinya melongo sendiri. Mulutnya separuh terbuka, tapi di melamun dan mencoba untuk mencerna situasinya sendiri.
Lalu tidak lama setelah itu, Ashera mendapati alarm nya berbunyi, yang menandakan pukul setengah tujuh pagi!
"Gawat! Aku terlambat!" tanpa memikirkan soal Arvin, Ashera yang tidak suka bolos sekolah itu pun beranjak dari sofa.
Tapi baru juga bangun, pinggulnya langsung sakit.
"Ahh~" rintih Ashera. 'Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadaku? Di dalam ingatanku, aku bahkan di jebak oleh orang lain, sampai aku di tiduri seseorang. Tapi kenyataannya, aku malah ada di rumah, bahkan aku sudah memakai seragam sekolah, dimana terakhir kali dia memakainya itu, saat dia pulang dan langsung tidur di sofa seperti sekarang ini.
Jadi apa yang salah?
"A-aku tidak bisa...jika tidak sekolah." tapi demi bisa menuntut ilmu lagi, Ashera pun masuk ke dalam kamar, dan mengganti pakaian da lam nya.
Tentu saja, dengan berjuang keras, karena tubuhnya seperti remuk, dia pun harus kuat.
'Aneh, aku merasa aku memang seperti baru saja melakukan olahraga itu. Tapi yang aku tidak mengerti, aku justru ada di rumah.
Atau Arvin diam-diam-' Ashera langsung menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau memikirkan soal Arvin lagi, karena dia tidak mau pikirannya itu terjerumus masuk kedalam kandang penuh sesat.
Setelah Ashera mengganti pakaian da lam dan kembali memakai seragamnya, tapi menggunakan seragam yang lainnya, karena dia merasa risih jika harus menggunakan seragam yang dia pakai semalaman, Ashera pun akhirnya berangkat juga.
Tapi- ada sesuatu yang tidak di ketahui oleh Ashera, kalau ada yang sudah menunggu kedatangannya.
__ADS_1