
"Haih~ Hanya karena satu perempuan, kenapa jadi seribut ini?" tiba-tiba Ashera angkat suara.
"Berarti apa kau sudah menganggap kalau aku adalah pembawa masalah? Jika kau tidak ingin ketegangan ini berlarut, sebaiknya kau tur-"
Dengan cepat, Ashera lebih dulu langsung menyentil dahinya Arliana dengan keras.
CTAK..
"Ahhw..!" rintih Arliana, secara otomatis dia jadi langsung melepaskan cengkraman tangan dari kalung yang sempat dia pegang itu, dan segera menjauh dari mobil sambil menyentuh dahinya yang terasa sakit.
"Ah ya ampun, bedaknya tebal sekali? Kau sedang pakai topeng ya?" ledek Ashera sambil mengusap kedua jarinya itu, untuk menghilangkan bedak yang menodai ujung jarinya tersebut.
"Pfftt..." Arvin refleks jadi tertawa, begitu dia mendengar sindiran dari Ashera yang begitu berani itu.
"Kau bahkan masih tidak pandai berdandan? Dari pada tidak bisa dan memaksa sampai mempermalukan diri sendiri, lebih baik kau tidak usah berdandan," papar Ashera dengan senyuman sinisnya.
"K-kau, kurang ajar sekali, kau menghinaku?! Awas saja kau in-"
"Arliana, kau diam saja, biar aku saja yang urus, kau pergi saja jangan dekat dengan mereka berdua lagi," ucap laki-laki remaja berkacamata ini kepada Arliana untuk tidak usah mengurus Arvin ataupun Ashera lagi, karena tidak ada gunanya lagi. "Keluar sekarang-"
"Tanpa disuruh pun, aku akan keluar," tanpa ada rasa takut sama sekali di wajah Arvin, dia dengan percaya dirinya yang tinggi itu, Arvin pun keluar dari mobil.
Namun, begitu Arvin keluar dari mobil dan berdiri di depan laki-laki berkacamata itu, rupanya tinggi Arvin jauh lebih mencolok dari orang yang hendak menantangnya itu.
"W-wuih, kenapa dia setinggi itu?" bisik salah seorang perempuan yang seketika langsung terpedaya dengan pesona dari Arvin yang langsung menyebar ke segala penjuru dari tempat tersebut.
"L-lihat itu, walaupun dia memakai baju hoodie, tapi aku pikir dibalik pakaiannya itu, dia punya body tubuh yang cukup bagus."
"Aku salah mengira dengan dia. Aku pikir dia punya wajah pas-pasan, tapi kenapa bisa setampan itu?!"
__ADS_1
"Ih gemeshh! Aku ingin kenalan dengannya, tapi ya itu, kelihatannya tidak bisa, sikapnya saja arogan dan kasar seperti itu kepada Arliana, apalagi kepada kita ya?"
Mereka yang satu pemikiran, hanya menganggukkan kepalanya.
"Hadeh~" sedangkan Ashera, dia langsung menepuk dahinya sendiri sambil menghela nafas dengan kasar.
Betapa rumitnya jika dirinya pergi bersama dengan Arvin. Dan ini sudah ke sekian kalinya, kalau entah dimanapun mereka berdua berada, jelas kalau Arvin pasti akan masuk dalam satu masalah yang membuatnya ingin menantang lawannya saat itu juga.
Tapi karena Ashera sendiri ada di tempat yang sama dengannya, jelas Arvin pada akhirnya mau tidak mau harus menahannya.
Akan tetapi, apakah ketahanan untuk tidak melayangkan tinju ke wajah dari lawan bicaranya itu masih lama?
Karena Arvin merasa bangga sendiri dengan penampilannya yang biasa saja tapi tetap saja menampilkan seperti seorang model yang sedang lewat, Arvin pun langsung memberikan senyuman mengintimidasi pada lawan bicaranya itu.
"Hayoh~ Kenapa mulutmu tertutup rapat? Aku sudah keluar dari mobil, bahkan sudah berdiri di depanmu, tapi kenapa malah diam saja?" ucap Arvin, justru memprovokasi remaja tersebut dengan untaian kata yang cukup menghina, sehingga suasana di sana akhirnya jadi semakin panas.
Tapi, bahkan jika dia menggunakan semua kekuatannya, Arvin justru masih mampu untuk berdiri tegak, sekalipun nantinya pakaiannya robek.
"Ayo, coba saja. Mau aku dulu atau kau dulu?" tawar Arvin, masih saja berdiri dengan gagahnya.
Ashera yang tidak ingin ada pertengkaran di sana, akhirnya dia pun turun dari mobil dan mencengkram pergelangan tangan kanannya Arvin.
"Ini bukan arena tinju, jangan mengubah tempat ini jadi lebih buruk lagi," bujuk Ashera kepada Arvin.
Dan tentu saja, keberadaan Ashera yang baru saja keluar dari mobil BMW berwarna putih itu juga pada akhirnya menjadi sorotan utama para kalangan perempuan yang sama-sama langsung terpesona, sebab kontur tubuh yang tinggi, wajah, dan rambut serta style dari pakaiannya, benar-benar membuat mereka merasa kalau dia adalah pria tulen yang sempurna.
"Whoah, gila, ternyata yang keluar dari mobil itu, justru pangeran ya?" puji salah satu dari mereka.
"A-apa-apaan ini? Kenapa dia bisa punya penampilan sempurna seperti laki-laki idaman yang biasa aku tonton di game yang aku mainkan ya? Apa itu wajah asli atau hasil oplas ya?"
__ADS_1
Entah itu pujian atau bukan, tapi dari matanya tetap menunjukkan kekagumannya terhadap penampilan Ashera yang berhasil mengundang perhatian mereka semua.
"Dengarkan itu, jika kau memang mau melawan dia, kenapa tidak dengan merebut kemenangan dari balapan mobil?" satu suara yang cukup familiar itu sukses mencuri perhatian semua orang di sana, termasuk Arliana yang sedang memperbaiki make up bagian dahinya yang terlihat memerah tadi, gara-gara sentilan keras dari Ashera.
"B-bukannya dia Julio?"
"Wah, Julio sudah datang!"
Dengan berbondong-bondong para perempuan langsung berbaris di samping kanan dan kiri juga belakangnya Julio yang baru saja hadir dalam rapat mendadak mereka semua.
Tidak seperti mereka semua yang merasa kagum dengan kedatangan Julio di sana, Arvin dan Ashera justru sama-sama membuat muka serius, yang mengartikan keterkejutan mereka berdua terhadap remaja muda yang terus saja ditakdirkan untuk terus bertemu.
'Kenapa aku terus bertemu dengan anak ini terus?' detik hati Arvin.
'Julio, kenapa dia di sini juga? Apa dia juga mau ikut balapan juga?' pikir Ashera.
"Arliana, bisa-bisanya hanya karena kau menghampiri laki-laki itu, kau bisa membuat keributan seperti ini?" tanya salah satu temannya Arliana yang tiba-tiba saja menghampirinya.
"Entahlah, aku sendiri sebenarnya tidak tahu, kenapa dia terlihat seperti punya dendam padaku. Tapi yang paling pasti, aku sangat penasaran siapa orang yang Arvin bawa itu," jawab Arliana, dia sebenarnya masih marah karena dahinya yang benar-benar di jentik kuat oleh Ashera.
Tapi karena Arliana tahu, kalau Arvin dan Ashera akan ikut dalam lomba balapan mobil, Arliana pun akan membalaskan dendamnya di pertandingan malam ini.
"Aku pasti akan mengalahkan mereka berdua, dan membuat mereka menurut padaku," kata Arliana secara tiba-tiba, membuat temannya itu, sedikit takut dengan ekspresi wajah Arliana yang tiba-tiba berubah menjadi cukup serius itu.
"Apa kau yakin?" tanya temannya Arliana dengan ragu.
"Tentu saja aku yakin, aku bahkan sudah punya sim sendiri, dan aku bisa memacu mobil sampai seratus dua puluh bahkan lebih," jawab Arliana dengan entengnya.
"Ya ampun Arliana~" temannya Arliana ini pun seketika langsung menepuk jidatnya. "Ini itu balapan, bukan siapa cepat dia dapat, tapi jalurnya lurus terus. Apa kau bahkan bisabelok di tikungan tajam tanpa menghentikan kecepatan mobilmu?" tanyanya, dia pun semakin ragu dengan kedatangan Arliana yang begitu mencolok dan menarik banyak perhatian orang banyak, tapi dia tidak yakin dengan skill Arliana dalam menyetir, jika untuk di gunakan dalam mode balapan.
__ADS_1