
"Apa?! Kenapa tidak ada kamar kosong?! Aku ini member di sini, bisa-bisanya aku tidak mendapatkan kamar, apa-apaan dengan pelayanan kalian ni? Mau membuatku terlantar di sini?!"
sampai salah seorang wanita yang sedang memarahi salah satu resepsionis, karena tidak bisa mendapatkan kamar.
"Aku harus bertemu dengan manager kalian sekarang!" pekiknya, menuntut untuk di pertemukan dengan atasan dari mereka semua.
"Maafkan kami Nona, beliau saat ini sedang keluar, jadi anda tidak bisa bertemu dengannya," jawab resepsionis ini kepada tamu tersebut.
"Halah, banyak alasan," tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh resepsionis tersebut.
"Atas nama Arvin," Arvin yang tidak memperdulikan dengan pertengkaran itu, hanya menunjukkan bukti pemesanan hotel atas namanya.
Lalu karena pelayan tersebut sudah melihat tanda bukti itu lewat layar handphone yang di perlihatkan oleh Arvin, dia pun langsung percaya, dan segera mengambil kartu khusus yang masih tersimpan di dalam laci yang ada di meja resepsionis.
"Hei, kau kenapa memberikannya kunci pada orang yang baru saja datang, sedangkan aku tidak?!" meskipun cantik, tapi punya wajah amarah yang begitu seram, perempuan ini pun benar-benar bicara kasar kepada pelayan tersebut. "Kau itu harus adil, aku disini itu sudah jadi member dan sering datang kesini, tapi berani juga memberikan kunci pada orang tidak di kenal,"
Karena tidak rela jika kunci kamar khusus itu di berikan kepada Arvin, dengan begitu tidak malunya, perempuan ini langsung merebut kunci tersebut.
"Sini,"
"Nona, anda ternyata tidak sopan sekali. Ini untuk Tuan yang ada di sana, jadi anda sama sekali tidak boleh merebutnya," ucap pelayan ini kepada perempuan tersebut.
"Tapi aku yang lebih dulu sampai di sini, berarti ini kunci kamar untukku," sela perempuan ini dengan cepat. Masih tidak rela, sekaligus tidak puas hati dengan cara pelayanan yang di berikan oleh pihak hotel, perempuan ini pun terus bersikukuh untuk memiliki kartu kunci tersebut.
"Nona, dari pada anda yang baru pesan kamar hotel kami tadi malam, Tuan yang ada di sana itu sudah pesan kamar lima hari yang lalu, jadi anda tidak berhak untuk memiliki itu di tangan anda," akhirnya pelayan laki-laki ini pun mulai bertindak tegas.
"Begitu ya? Kalau seperti ini, aku hanya tinggal minta izin padanya untuk memilik kamar hotel miliknya saja kan?" tanpa kehabisan akal, perempuan ini pun berjalan ke arah Arvin dan Ashera yang sedang menonton pertunjukkan itu.
"No-nona!"
__ADS_1
Namun, karena mereka semua tahu, siapa orang yang dia hadapi itu adalah anak dari salah satu butik terkenal yang ada di Seoul, tidak ada yang berani untuk menghentikannya.
Dengan jalannya yang layaknya seorang model, wanita ini pun berjalan ke arah Arvin dan bertanya : "Tuan, apa kau bisa bahasa korea? Atau inggris?"
'Menyebalkan sekali, aku bahkan tidak tahu apa yang baru saja dia ucapkan kepada Arvin. Jangan-jangan dia sedang menggodanya ya?' Ashera yang tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh wanita cantik sepeti artis korea itu, hanya bisa diam dan terus memperhatikannya dengan begitu lekat.
"Aku bisa keduanya," sahut Arvin detik itu juga. "Jadi ada apa? Kau mau mengambil kunci itu?"
"Bukan mengambil sih, aku akan membayarmu seharga kamar hotel yang sudah kau bayar di sini, jadi apa kau mau menyerahkan kartu kunci ini kepadaku?" tanya wanita ini, dia terus bermain dengan kartu berwarna biru yang tidak lain adalah kunci dari pintu kamar yang akan di gunakan oleh Arvin.
Bukannya merasa kesal ataupun sinis, Arvin justru malah tertawa geli dengan tawaran yang di berikan wanita tersebut kepadanya.
"Padahal jika dari segi orang kaya, kau bisa pergi dari hotel bintang lima ini untuk pergi ke hotel bintang tujuh yang lebih bagus, jadi kenapa kau mau memilih membayarku dari pada pergi mencari hotel yang bagus dari yang aku pesan itu?" tanya balik Arvin.
"Aku sudah lelah karena kerja dari semalam, jadi mana mungkin aku berkeliaran lagi. Katakan saja, berapa yang harus aku bayar padamu agar aku bisa dapat kamarmu," balas wanita ini.
"Tergantung, kau mau menyewanya sampai berapa hari?" tanyanya lagi.
"Dua juta won," jawab Arvin.
"Apa?!" wanita ini seketika langsung terkejut setengah mati dengan harga yang di sebutkan oleh Arvin ini.
Dua juta won, itu sama saja dengan dua puluh dua juta lima ratus jika di sebutkan dalam rupiah. Dan Arvin menghargai kamar yang Arvin pesan untuk di tinggali selama dua hari itu dengan harga yang tidak masuk akal!
Dua juta won adalah uang dari gajinya setengah bulan, dan dirinya harus menghabiskan biaya setengah bulan itu untuk dua hari sewa kamar milik Arvin?
"Kau mau memerasku ya?!"
Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Arvin pun hanya diam dan terus menatap wanita tersebut, hingga wanita itu jadi salah tingkah.
__ADS_1
'Ah! Mau seberapa lama lagi kita akan berdiri di lobi seperti ini? Mau tawar menawar kunci kamar saja kenapa jadi seribut ini, memangnya apa yang sebenarnya mereka berdua bicarakan, sih?' Ashera yang sebenarnya sudah cukup lelah itu, tiba-tiba menguap, dan menatap semua orang di sana dengan tatapan datar serta cukup malas. 'Rasanya aku ingin rebahan, tapi aku harus tahan dulu, tahan dulu,.'
Walaupun sudah bicara sedemikian rupa di dalam hatinya, tapi karena punggungnya merasa sakit, karena duduk terlalu lama, serta berdiri juga lumayan lama, Ashera yang tidak kuat untuk berdiri seperti patung itu, memilih untuk menari tempat duduk dan segera duduk sendirian di tempat antrian, yang terdiri dari sofa empuk yang cukup nyaman itu.
"Harganya memang segitu. Kan aku hanya menjawab dari apa yang kau tanyakan, tapi kenapa kau seterkejut itu? Apa kau berharap aku memberimu diskon? Jika memang tidak mampu, lebih bak tidak usah sok sombong di depanku," bebel Arvin kepada wanita tersebut, seraya mengambil kartu itu dari tangan wanita itu tepat di depan semua orang di sana.
'Sialan, jika aku tidak menerima tawaran ini, kedepannya pasti mereka akan memandang rendah aku, di kira aku tidak punya uang, padahal kedua orang tuaku saja punya butik dan brand sendiri. Ini seharusnya bagi mereka bukanlah apa-apa, jika aku menerimanya, mereka pasti tidak akan memperlakukan aku seperti ini.' pikirnya.
Karena pikirannya terus di tekan oleh sudut pandang orang lain, yang jelas akan meremehkannya, jika tidak mampu mengeluarkan dua juta won kepada Arvin, wanita ini pun akhirnya merebut kembali kartu dari kunci kamar hotel milik Arvin.
"Sini, hanya dua juta won, aku bisa membayarmu detik ini juga," katanya, dengan sorotan mata berani. Sebuah tatapan angkuh yang mengartikan kalau dirinya punya banyak uang, jadi semua persyaratan apapun, asal bisa terwujud, tidak akan di permasalahkan lagi.
"Ok, kirim uangnya ke rekening ini, jangan kurang, kalau mau lebih itu jauh lebih baik," cetus Arvin, sebuah rencana licik pun tidak bisa Arvin hindarkan untuk tidak di gunakan.
"Hoaammh, apa kau masih lama?" tanya Ashera secara bersamaan.
Sampai Arvin pun segera menoleh ke samping kanan dan menjawab : "Sebentar lagi. Tapi apa kau tidak masalah jika kita pindah tempat? Ada tempat yang lebih cocok dari hotel ini,"
"Ya, tidak masalah, aku hanya ikut saja kemanapun kau pergi, itu saja," setelah menjawab jawaban Arvin, Ashera tiba-tiba menggeliat, meregangkan tubuhnya dengan memutar separuh tubuhnya ke kanan lalu ke kiri, sampai semua tulang punggungnya langsung bunyi secara serentak.
KRETEK....
"Awas, kecetit baru tahu rasa," ledek Arvin di sela-sela dirinya baru saja mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat.
Tiba-tiba di lihat banyak orang, Ashera langsung kembali duduk diam. 'Apa mereka semua suka menonton?' batinnya.
Akhirnya Ashera pun jadi merasa malu sendiri, sebab tulang punggung miliknya jadi bunyi semua, akibat terlalu tegang.
"Tapi ini kan yang namanya peregangan, lagian, punggungku rasanya seperti berat," sahut Ashera.
__ADS_1
"Sebentar lagi, kalau sudah sampai, aku akan injak-injak punggungmu itu," kata Arvin, membuat Ashera tercengang takut.
'Di injak? Yang ada aku malah akan jadi gepeng!' detik hati Ashera, khayalannya jadi benar-benar seperti nyata, kalau tubuh setinggi sekaligus sebesar itu, menginjak tubuhnya. Bukannya sembuh, yang ada, semua tulangnya langsung remuk.