
“Fiz! Kau mau pergi kemana?” tanya perempuan ini kepada temannya yang memiliki rambut pirang, dia adalah perempuan yang sempat menerobos ingin foto berdua dengan Arvin, sebelum akhirnya Ashera berhasil mempermalukannya.
“Aku ingin cari orang itu.” sahutnya, sambil membawa segelas anggur merah seperti darah itu.
Dia sebenarnya tidak puas dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu, maka dari itu, sekarang dia ingin mencarinya.
Namun, belum juga berjalan pergi, tiba-tiba saja dia diperlihatkan oleh tiga orang yang sedang naik lift yang terbuat dari kaca. Sehingga orang dari luar pun bisa melihat orang yang menggunakan lift tersebut.
“Orang itu siapa lagi?” lirih perempuan ini, hingga disaat yang bersamaan, mereka semua sama-sama merasakan kalau kapal yang mereka naiki tiba-tiba saja berhenti.
“Eh? Kenapa kapalnya berhenti?”
“Apa kapalnya memang sengaja berhenti atau karena punya masalah mesin?”
“Mungkin saja karena tempat ini indah dan tenang, kapten kapal sengaja berhenti di sini.” jawab salah satu dari mereka, mencoba untuk menenangkan orang-orang yang punya pikiran berbeda dengannya.
TINGG….
Begitu lift yang tersebut berhenti, ketiga orang itu pun keluar bersama.
Daseon, Arvin, dan Ashera, itulah ketiga orang yang di maksud.
Tapi tidak seperti saat mereka masuk, Ashera kini sedang di gendong ala bridal oleh Arvin. Arvin sengaja melakukannya karena dia tidak ingin ada yang mendekatinya, sekaligus memperlihatkan kalau Ashera adalah objek yang cocok untuk menjadi tamengnya.
“Sepertinya mereka akan pergi dari sini.”
“Fiz, apa kau sudah tidak bisa apa-apa lagi, lihat betapa mesranya mereka berdua. Apa kau mau menerobos saja, di saat mereka berdua saja sudah bertunangan? Belum lagi melihat mereka pulang pergi dengan helikopter tersebut, pasti dia bukan orang biasa. Kau harus tahu, kau tidak sepadan dengannya, Fiz.” ucap temannya itu kepada perempuan berambut pirang.
“Tapi- tapi aku benar-benar ingin kenalan dengannya lebih dalam lagi.” ucapannya jadi lirih, karena merasa cukup iri tapi juga bercampur dengan rasa marah, sebab dirinya tidak bisa mendapatkan keinginannya bisa foto berdua dengannya.
“Hmm? Tapi-”
“Dia seperti seorang aktor, atau mungkin saja dia seorang model di majalah terkenal di luar negeri, siapa yang tahu coba? Aku sangat ingin bisa foto berdua bersama dengannya.”
“I-itukah sebabnya tadi kau menyerobot masuk karena hanya ingin sekedar berfoto?” tanyanya, mencoba mengkonfirmasi tebakannya.
__ADS_1
“Ya, tapi perempuan itu mah jadinya secara tidak langsung menyindirku, apa kau tidak merasa kesal juga?”
“Hahh~” perempuan ini pun menepuk jidatnya, “Dia sendiri pasti punya rasa kesal juga, lagian dia kan tunangannya, bagaimana kira-kira jika ada perempuan tiba-tiba malah nempel-nempel ke tunangannya, siapa yang tidak marah? Kau ini, pikir dulu pakai otak, apa-apa jangan langsung menyerobot, minta izin dulu.” tegurnya.
“Jadi aku salah? Begitu?” tanya perempuan berambut pirang ini kepada temannya.
“Ya iyalah, pakai tanya lagi.”
WHOSHH….
WHOSHH….
WHOSHH….
Di tengah pembicaraan mereka berdua, helikopter itu pun akhirnya kembali terbang dengan membawa Arvin dan Ashera.
Tidak seperti sebelumnya, dimana Arvin datang dengan mengendalikannya sendirian, sekarang Daseon lah yang mengendarai helikopter tersebut sendirian, sedangkan Arvin dan Ashera, duduk di kursi penumpang.
BRAK….
“Kenapa aku pula sih? Kan kau sendiri yang kenapa tiba-tiba mendengar ceramahku?” balasnya dengan nada tidak puas hati juga.
_____________
Di dalam helikopter
Ashera pun duduk terlebih dahulu, namun di saat yang bersamaan ketika Arvin hendak duduk dia harus melihat kenyataan yang membuatnya tiba-tiba harus mengerutkan dahinya karena dia hampir saja menduduki sebuah kain berwarna hitam berbentuk segitiga.
Dan ketika Arvin mengangkatnya dia pun langsung tahu itu apa. Maka dari itu Arvin pun langsung memperlihatkannya kepada Ashera sambil bertanya
"Apa kau sengaja melakukan ini?" tanya Arvin
Ashera pun langsung menatap barang yang sudah disodorkan ke depan wajahnya itu dan menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.
Tapi seketika itu juga Ashera langsung sadar dengan jawabannya sendiri, "Bukan itu yang aku maksud, aku bukan sengaja tapi tidak sengaja." ralat Ashera.
__ADS_1
"Jawaban pertama tetap saja jawaban, kau tidak usah menyangkalnya lagi kalau kau memang sengaja melakukannya padaku kan? Untuk memancing ku?"
Ashera langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dia benar-benar baru menyadari kesalahan jawabannya itu.
"Alasannya karena kau memang menginginkannya kan?" gerutu Arvin dia tetap pada pendiriannya.
'Hah ya sudahlah terserah kau mau mengatakan apa aku tidak memperdulikannya aku lebih memperdulikan apa yang aku lihat tadi.' hatinya berkata dengan sangat lirih penuh dengan penyesalan. Benar sangat menyakitkan batin Ashera, kalau sesaat lalu dimana Arvin dengan lihainya mencium dan menyentuh tubuh Jellyna, Ashera tersinggung sangat banyak.
Namun apa yang dia rasakan itu, dia tidak berani mengatakan yang Sejujurnya kepada Arvin, kalau Apa yang dilakukan Arvin saat mempermainkan Jellyna benar-benar membuat hatinya seperti tertusuk pisau sakit tapi tidak berdarah.
"Ashera kau dengar tidak apa yang aku katakan? Kau dengan sengaja melakukannya kan?" Arvin malam dengan sengaja mengayun-ayunkan celana da lam milik Ashera di depan wajahnya sendiri.
Ashera kembali melirik ke arah Arvin, tetapi sesaat kemudian dia kembali menatap ke arah depan lalu berakhir dengan menunduk ke bawah sambil memperlihatkan jarinya sedang bermain-main sendiri.
Sejujurnya jarinya masih sakit tapi dia tidak akan mengatakannya lagian apa gunanya itu?
'Tapi sungguh, ternyata ada yang lebih menyakitkan lagi daripada tulang yang patah ini.' Ashera yang selalu memendam perasaannya hanya bisa diam dan diam.
Arvin, melihat Ashera terus terdiam entah kenapa membuat perasaannya tiba-tiba saja terusik. Dan salah satunya adalah kesabarannya Arvin sadar kalau dirinya punya kesabaran setipis tisu yang dibagi menjadi tiga, dan Ashera adalah orang yang selalu mencoba menguji kesabarannya dan dia juga sedang melakukannya kepadanya.
'Kenapa aku jadi merasa jengkel sendiri ya?dan maksudnya apa ini? Kenapa tubuhku tiba-tiba terasa gerah?' kata hati Arvin, dia yang merasa terusik dengan gerah di tubuhnya, membuat jari jemarinya itu melepas satu persatu kancing bajunya. "Hahhh...., apa hari ini jadi hari terpanas?" ucap Arvin pada dirinya sendiri.
Ashera kembali dibuat melirik ke arah pria tersebut sungguh kenapa setiap tindakan spontan yang dilakukan Arvin selalu saja terlihat keren.
'Ya Tuhan kenapa aku harus diberikan cobaan seperti ini?' pikir Ashera, sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Arvin saat ini.
Mengingat sebelum ini Arvin telah dicekoki sebuah obat perangsang oleh anak buahnya Jellyna, tapi Arvin sendiri ternyata malah memberikan obat yang sempat ada di mulutnya ke Jellyna, maka sudah jelas kan? Kalau Arvin masih mendapatkan efek samping dari obat tersebut meskipun Arvin tidak memakannya namun tetap saja air liur itu sudah terkontaminasi obat itu.
dan hasilnya sekarang ini adalah Arvin mulai tersiksa dengan suasana hati dan suhu dari tubuhnya sendiri yang merasa panas
'Jangan-jangan nanti aku akan jadi tumbal lagi.' bisik ashera di dalam hati dia masih cukup trauma apa yang terjadi malam tadi, dan apakah setelah ini dirinya akan mengalaminya lagi?
"Hah..." Arvin terus mendengus kesal, tubuhnya merasa gerah dan suasananya perlahan jadi merasa panas. 'Padahal aku hanya menelan paling tidak sedikit air liur yang terkena obat perangsang padi, tapi kenapa efeknya bisa sekuat ini?' pikir Arvin, dia pun jadi cemas dengan dirinya sendiri walaupun sebenarnya bisa saja sih melampiaskannya pada perempuan di sampingnya itu. 'Apakah aku harus memaksanya lagi untuk tidur denganku lagi?'
Namun Arvin ingin menunggu kira-kira apakah Ashera akan bersedia?
__ADS_1