
"Enam, enam, lima, tiga, empat, dan satu, dua, tiga, lima enam, dua. Pemenangnya adalah Tuan Heros,"
"Yeahh! Tuan Heros menang,"
Suara tepuk tangan langsung menyeruak memeriahkan suasana di dalam tempat judi.
"Yah, kenapa aku kalah terus?!"
"Aku berhenti!"
"Aku sudah cukup, silahkan yang mau menantangnya, aku tidak bisa lagi."
Satu per satu dari mereka yang mengambil permainan judi, langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi dari sana, karena sudah tidak ingin taruhan lagi.
"Tuan Heros, apa yang akan anda lakukan dengan semua uang hasil kemenangan anda?"
"Iya. Tuan kan sudah kaya raya, tapi apakah anda masih memerlukan semua uang ini?"
Satu per satu dari penonton yang tidak lain adalah para perempuan, langsung memberikan pertanyaan kepada si empu yang sedang memungut semua tumpukan chip kedalam kantong. Dimana chip itu jika di tukar dengan uang, maka akan menjadi puluhan juta rupiah.
Jika di hadapkan dengan puluhan orang, maka bisa mencapai ratusan juta.
Lantas pria awal tiga puluh tahunan ini pun menjawab : "Uang selalu di perlukan, lagian modalku jadi kembali lagi. Kalau di tanya mau buat apa, aku akan menggunakannya untuk bersenang-senang saja, apa kalian bertanya karena ingin bisa mendapatkan chip ini?" tanyanya, sambil memperlihatkan chip berbentuk bulat berwarna hitam.
Chip berwarna hitam punya angka 100 yang menandakan kalau setiap satu chip itu berarti seharga seratus ribu, dan seterusnya.
Lain hal jika berwarna coklat, maka nilainya sama saja dengan satu juta.
Dan dia memiliki banyak chip berwarna coklat, hitam, tapi ada juga berwarna biru dan merah. Namun karena dia memiliki banyak chip, dia tetap mendapatkan untung yang lumayan.
Dan posisi Arvin di sini adalah ingin mencari peruntungan di tempat judi itu.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain yang lebih baik ketimbang berjudi?" tanya Ashera sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Pekerjaan macam apa ya? Aku lupa tuh," saking senangnya Arvin, dia pun berjalan pergi menuju ke tempat penukaran uang sambil menyeret Ashera agar bisa pergi bersama, selain untuk meminimalisir Ashera hilang dari pandangannya.
"Arvin, kalau nenekmu tahu dia pasti akan marah kepadamu."
"Maka dari itu, jika kau tidak ingin nenekku yang sudah tua itu marah kepadaku, kau harus merahasiakan ini darinya. Walaupun aku belum yakin dengan si Luna itu," sahut Arvin, lalu dia pun menyodorkan uang sepuluh juta kepada pegawai tersebut, dan Arvin pun langsung diberikan satu kantong chip dalam beberapa isi, karena setiap kantong punya varian isi yang berbeda layaknya permen punya aneka rasa, maka itulah yang di dapatkan oleh Arvin.
__ADS_1
"Arvin, permainan ini ilegal, haram juga, itu tidak berkah tahu!" peringat Ashera, mengoceh seperti emak-emak.
"Terserah aku dong, kan aku sendiri yang punya uang, jadi terserah mau aku buat apa, apa kau punya hak untuk menghentikan aku untuk mendapatkan uang lagi?"
"Tapi-"
"Sudahlah, jangan tapi-tapi an lagi. Semenjak penampilanmu sudah aku rubah jadi seperti jala*ng seperti ini, secara tidak langsung kau itu sudah tunduk untuk menuruti apapun yang aku lakukan," omel Arvin, memberikan peringatan kepada Ashera, kalau Ashera sekarang tidak bisa menolak apapun yang akan di lakukan olehnya, karena semenjak Ashera sudah di rias dari ujung rambut sampai ujung kaki, maka itulah kesepakatan diantara mereka berdua.
"Licik," ketus Ashera, dia akhirnya baru menyadari niat sebenarnya Arvin kepadanya, dan itu di gunakan untuk membuat kesepakatan yang bahkan Ashera sendiri tidak tahu apa-apa seperti orang bodoh. 'Kenapa aku percaya sekali kalau dia berubah? Bahkan memanfaatkan perasaanku samapi seperti ini.
Padahal waktu dia mendandani aku, jantungku sampai berdebar sangat cepat, gara-gara setiap gerakan dan sentuhan yang dia lakukan terhadap wajahku, seperti orang lain yang sedang memberikanku perhatian lebih.
Tapi kenyataannya? Aku sendiri yang sangat berharap. Padahal tujuannya adalah aku di jadikan teman untuk berbuat hal yang tidak seharusnya di lakukan.
Arvin, sebenarnya kau ini sadar atau tidak sih dengan posisimu itu?' batin Ashera dengan perasaan kecewa yang teramat sangat besar sebab dia hanya di jadikan sebagai alat saja untuknya.
"Hei nak, kau mau ikutan judi disini?" tiba-tiba saja seorang perempuan paruh baya mengajaknya berbicara.
Dari tampilannya yang cukup glamor, Arvin pun menebak kalau wanita tersebut memang seorang yang kaya?
Jangan hanya di lihat dari dari penampilan luar saja, tapi lihat dengan teliti apa yang di pakainya.
'Bohong, kau bahkan punya banyak chip di dalam laci kamarnya-? Heh? Kenapa aku tahu kalau dia punya simpanan chip di dalam kamarnya? Padahal perasaan aku tidak pernah sekalipun masuk kedalam kamarnya yang ada di atas, tapi kenapa seakan aku sering pergi ke sana?' Ashera yang terkejut dengan pikirannya sendiri akhirnya membuatnya terdiam seperti patung.
Seperti baru saja menemukan uang dalam jumlah banyak, saking terpukau nya karena pikirannya tadi, Ashera pun jadinya terlihat seperti orang aneh di depan banyak orang.
"Hmm, begitu ya? Apa kau mau main poker denganku? Itung-itung latihan." ajak wanita ini kepada Arvin.
"Boleh saja, setidaknya pemanasan dulu, sebelum aku bisa bermain lebih mahir di kursi panas." timpal Arvin saat itu juga. "Hera, kau pegang ini-" Arvin berbalik dan meminta Ashera untuk memegangi kantong berisi chip yang banyak itu.
Hal itu membuat Ashera jadinya langsung tersadar dari lamunannya.
"Iya," tanpa sadar dia pun mengiyakan memegangi uang yang menjadi haram itu. "Tidak! Kau kan punya tangan sendiri, kenapa tidak kau saja?" ralat Ashera, buru-buru mengembalikan kantong chip itu ke tangannya Arvin.
"Dia kenapa? Padahal minta bantuan untuk di pegangi saja, kenapa menolaknya? Kalau dia tidak mau, mending aku saja yang memeganginya." kata gadis ini, tidak suka dengan respon Ashera yang tiba-tiba saja berubah sebanyak sembilan puluh derajat, karena menolak membantu Arvin, padahal di sana banyak yang ingin bisa berdiri dekat dengannya, tapi Ashera malah terlihat sangat enggan.
"Hah, tidak tahu diri sekali perempuan itu, kalau tidak mau sini, aku saja. Aku juga mau memegangi kantong itu dan rela berdiri di sisinya berjam-jam," ucap gadis yang lainnya lagi.
'Kenapa aku malah teledor seperti ini?' merasa bersalah dengan tindakannya sendiri, Ashera yang sebenarnya sudah di tatap oleh Arvin dengan cukup tajam, langsung menarik kembali tangannya yang masih memegangi kantong berisi chip itu.
__ADS_1
"Ashera, kau mengacaukannya lagi." itulah arti dari tatapan matanya yang menatap Ashera dengan sangat serius.
Ashera yang takut, hanya menunduk. Tapi Arvin yang tidak suka dengan Ashera yang menundukkan kepalanya, langsung mencengkram dagunya dengan kuat dan kemudian menariknya dengan kasar.
"Ashera- apakah aku menyuruhmu untuk menundukkan kepalamu di depan banyak orang seperti ini?" tanya Arvin dengan bisikan kecil, tepat di depan matanya Ashera.
Ashera yang diam dan hanya menjawab tidak dengan kedipan matanya, tiba-tiba mendapatkan ciuman.
CUP...
"Kau doakan saja aku bisa dapat lebih banyak uang," bisik Arvin sekali lagi.
"I-iya," jawabnya dengan cepat.
"Wih, dia malah di cium, apa-apaan itu? Jangan-jangan dia kekasihnya."
"Yah, apa aku salah target lagi? Kenapa orang yang menurutku sudah cukup pas dengan tipe idealku selalu saja sudah punya pasangan?" gerutu gadis ini, merasa kecewa dengan apa yang baru saja dia lihat itu.
Lalu Arvin pun duduk di kursi depan meja besar yang sudah di sediakan oleh pihak penyelenggara.
"Ok, kalian sekarang bisa tentukan besaran nominal chip yang ingin kalian pertaruhkan." ucap si panita. Dia seorang wanita dengan pakaian ber jas hitam yang nampak rapi dari atas sampai bawah.
Dengan tangannya yang cukup terampil, dia bisa mengocok kartu yang baru di buka itu dengan begitu lihai, dan juga dalam berbagai cara yang membuat Ashera sendiri cukup takjub, karena bisa selihai itu dalam bermain poker.
"Aku dua juta,"
"Lima juta,"
"Tiga setengah juta."
"Aku satu juta saja-" jawaban dari Arvin pun membuat semua orang di sana jadi menahan tawanya, karena dia membuat taruhan uang yang begitu kecil.
"Hahaha, memangnya dia bisa ya?"
"Makannya, coba lihat saja bagaimana anak baru itu bermain."
Satu per satu dari penonton pun saling berbisik satu sama lain, mencibir Arvin dari belakang.
Tapi semua itu tidak ada gunanya untuk Arvin yang memang sengaja menghemat uangnya lebih dulu.
__ADS_1
'Arvin, kau mau makan uang haram ya?' batin Ashera dengan tangisan di dalam hati.