Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
70 : Dapat satu gratis satu


__ADS_3

"Ehem..." sebuah deheman itu berhasil mengejutkan dua orang yang terlihat baru saja keluar dari perpustakaan secara bersama-sama.


'Fajar?' Detik hati Ashera saat orang yang berhasil memergoki mereka berdua saat keluar dari perpustakaan secara bersama-sama, adalah fajar pemilik jabatan wakil ketua Osis.


Arvin yang merasa itu bukan urusannya, dia pun pergi dari sana meninggalkan Ashera dan Fajar berdua di depan perpustakaan.


'Dia benar-benar pergi. Ya sudahlah, kebetulan sekali dia pergi, jadi aku tidak harus berdebat dengan dia sementara waktu dulu, karena Fajar ini-' Ashera kembali melirik ke arah Fajar yang sedang tersenyum ke arahnya. 'Dia kelihatannya ingin bicara denganku. Apa mungkin ini pembahasan apa yang terjadi kemarin, sebab aku tiba-tiba meneleponnya?'


"Apa minggu nanti kau ada waktu?"


"Waktu untuk apa?" tanya Ashera.


"Ap-mphh..!" Ashera tiba-tiba saja membungkam mulutnya Fajar agar tidak bicara terlebih dahulu.


"Tunggu, kalau mau bicara, kita harus pindah tempat dulu." Kata Ashera sambil waspada pada orang di sekitarnya.


Tapi, karena Fajar mulutnya tiba-tiba saja di bungkam, dia pun jadi separuh terkejut dengan tindakan Ashera yang cukup berani itu. 'Padahal waktu itu, dia terlihat seperti orang yang pendiam, tapi sekarang dia bahkan menutup mulutku dengan tangannya, sejak kapan nyalinya bisa sebesar ini?'


"Pergi, mundur-mundur.." Bisik Ashera sambil menginstruksikan Fajar untuk mundur dan tidak menghalangi pintu yang sebentar lagi terbuka itu.


______________


Karena suatu alasan yang nantinya jelas akan membuat kesalahpahaman untuk banyak orang jika Ashera menyuruh Fajar pergi ke area taman yang sudah sepi, Ashera pun menyuruhnya untuk pergi ke salah lorong di depan ruang lab komputer yang satu arah dengan lorong yang mengarahkannya pergi ke gedung berikutnya.


Di sana masih sedikit ramai orang, jadi tidak akan menimbulkan kesalahpahaman yang akan memancing kecurigaan banyak orang.


Walaupun, sebenarnya ia tidak akan begitu peduli dengan gosip yang nantinya akan beredar, tapi itu setidaknya ia hanya bersikap untuk sedikit mengantisipasi nya.


"Jadi kau mau bicara apa tadi?"


'Jika tujuannya bukan ke tempat sepi, kenapa dia pakai membungkam mulutku segala? Dia sungguh berbeda dengan yang terakhir kali aku lihat.' Pikir Fajar. "Aku hanya tanya, apa kau minggu nanti ada waktu?" Sambil menyerahkan sebuah undangan kepada Ashera.


'Lah? Jika dia hanya mau menyerahkan undangan, aku seharusnya tadi tidak melakukan itu dengan tergesa-gesa.' Ashera sendiri, dia pun menyesal apa yang sudah ia lakukan kepada tangannya itu, berhasil membuat ia membungkam mulut sang wakil ketua Osis. "Ulang tahun? Kenapa aku di undang? Kita bahkan tidak dekat satu sama lain, tapi tiba-tiba mengundangku ke acara ulang tahunmu, aku pikir ini agak berlebihan." Ucap Ashera.


Dia tidak akan menyangka kalau ia akan mendapatkan sepucuk surat undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun yang akan di adakan di akhir bulan nanti, tepat setelah hari terakhir ujian semester.

__ADS_1


Karena tidak mungkin pesta di tengah-tengah dirinya dan teman-temannya ujian, Fajar pun mengundur waktu perayaan tersebut satu minggu kemudian.


Dan itu terjadi di akhir bulan ini, yaitu tanggal 30 April.


"Apa kau tidak bisa?" Tanya Fajar. Meskipun ia tidak memperlihatkan ekspresi wajah kecewa, tetapi pertanyaan dari Fajar ini tetap saja mengisyaratkan berharap kalau Ashera mau pergi ke pestanya.


'Tiba-tiba? Aku juga ingat dia juga yang membantuku mengambilkan jaket yang terlindas di jalan. Tapi- apakah aku harus sampai mendapatkan undangan ini?' Dengan menghela nafas secara pelan, Ashera pun tetap memegang undangan tersebut.


Kebaikan yang di perlihatkan Fajar kepadanya, sebenarnya cukup mengganggu. Tapi apa boleh buat, ia tidak mungkin bisa menolak kebaikan seperti itu, apalagi Fajar.


Dia terkenal baik kepada semua orang, bahkan sama rata.


Jika saja Fajar jadi ketua Osis nya, sudah pasti akan sangat cocok. Tapi karena posisinya itu saja sudah melekat pada diri Fajar, jadi harus bagaimana lagi?


"Entahlah, tapi akan aku pikirkan." Jawab Ashera sambil menyimpan undangan tersebut di dalam blazer miliknya. "Tapi aku tetap mengucapkan terima kasih, dan maaf soal yang kemarin, aku pasti sudah mengganggumu." Imbuh Ashera, kemudian ia pun pergi.


____________


"Apa yang kau bicarakan dengan anak itu?" Begitu sepulang sekolah, Arvin langsung menginterogasi Ashera tepat setelah Ashera membuka pintu.


"Begitu- aku tidak mengizinkanmu pergi." kata Arvin detik itu juga, bahkan tanpa pikir panjang.


Tapi dengan santainya, Ashera menjawabnya lagi : "Apa alasanmu melarangku?"


Arvin yang sedang duduk sambil menonton tv dengan kedua kaki bergoyang di atas meja kaca itu, ia pun menjawab : "Kau kan pelayanku. Jika ka-"


Melihat Arvin duduk santai dengan kaki di atas meja seperti itu, Ashera dengan langkah tegas langsung mengangkat salah satu kakinya dan mengangkat salah satu kaki Arvin dengan caranya sendiri agar kaki itu turun.


"Walaupun kau menganggap aku pelayanmu juga, tapi jam kerjaku juga hanya sampai sabtu, dan acara ini di adakan hari minggu, apa kau bah-"


"Aku kan suamimu."


Ashera sedikit melongo, sejak kapan laki-laki yang bahkan menolak mentah-mentah saat harus terpaksa menikah beberapa hari lalu, sampai membentaknya juga, kini tiba-tiba mengakui dirinya sebagai suami?


"Apa kepalamu akhirnya sudah terbentur sampai mengaku dirimu suami?" sindir Ashera.

__ADS_1


"Padahal situ sendiri ngaku istri, kenapa kau yang bisa ngaku seperti itu, aku bahkan tidak di perbolehkan? Pikiran saja setiap orang selalu saja berbeda seiring waktu berlalu, apa kau mulai mempermasalah apa yang barusan aku katakan?" Lirik Arvin. Begitu salah satu kakinya sudah di turunkan dengan menggunakan kakinya Ashera, dan satu lagi mulai di turunkan, maka dengan jahilnya, Arvin pun kembali meletakkan kedua kakinya itu di atas meja.


Ashera terdiam sejenak. "Kalau begitu, apakah hatimu akan berubah seiring waktu berlalu? Jika awal tidak cinta, maka akhirnya jadi cinta?" Tanya Ashera dengan gamblang.


Dia selalu saja mempunyai kalimat balasan yang selalu sukses membuat Arvin sendiri kehabisan kata-kata, dan sebaliknya juga.


Makannya, setiap kali berdebat, maka jika tidak menggunakan ucapan yang langsung memukulnya dengan telak, maka perdebatan diantara mereka berdua tidak akan ada habisnya.


Arvin lantas menyipitkan matanya ke arah Ashera, lalu berkata : "Apa kau akhirnya sekarang sedang butuh cinta dariku?"


Ashera menatapnya, dan menjawab : "Aku hanya tanya saja. Jangan salah paham. Kau yang sudah mau bertanggung jawab denganku itu, sudah lebih dari cukup untuk membayar apa yang sudah kau lakukan kepadaku."


Begitu Ashera selesai bicara, mereka berdua pun saling menatap satu sama lain.


Sampai, Ashera yang tadinya mulutnya sudah bungkam, tiba-tiba saja ia angkat bicara lagi. "Atau jika kau bahkan akhirnya jatuh cinta kepadaku, aku akan menerimanya kok, jadi tenang saja, walaupun kau punya pacar sampai satu kebun, aku akan menerimamu.


Meskipun, aku tidak yakin kalau milikmu itu benar-benar bersih." Arah sorotan matanya pun tertuju pada satu harta berharga yang terbungkus rapi di sana. "Setidaknya aku tidak akan menerima itu."


"Ashera, mulutmu bagus sekai ya kalau bicara." Kata Arvin dengan tawanya. "Aku akan beritahu kau, aku memang punya beberapa pacar, dan bahkan aku juga beberapa kali ****, tapi apa kau pikir aku mau membawa penyakit pada diriku sampai aku tidak menggunakan pengaman?


Hanya kau satu-satunya yang langsung aku jebol tanpa menggunakan pengaman apapun, jadi apa kau merasa puas karena kau dapat satu gratis satu dariku?"


BLUSHH...


Untuk kali ini ucapannya Arvin benar-benar tidak di filter, dan bahkan bicara apa adanya tanpa ragu.


Karena itu, begitu Arvin selesai bicara, wajah Ahsera pun langsung tersipu malu.


'Mulutnya, kenapa dia bisa memfilternya sih?' Tapi karena Ashera melihat kedua kakinya Arvin lagi-lagi mendarat di atas meja, seketika Ashera pun langsung bertindak dengan tegas.


"Dapat tubuhku, tapi juga pasukanku. Ashera, kau bahkan waktu itu terlihat sangat menikmatinya, apa kau yakin tidak mau mencobaya la-" Begitu ia akan menyelesaikan ucapannya, dua pukulan pun mendarat.


PLAK...


PLAK....

__ADS_1


"Akhh..!" Rintih Arvin. .


__ADS_2