
“Mesra lagi nih, dasar, bikin orang lain iri saja.” decih wanita berambut pink itu, karena merasa terhina secara tidak langsung, sebab jarak antara Ashera dan Arvin dalam berbicara memang sungguh terlampau cukup dekat.
“Kau hanya perlu pria, agar kau bisa punya pasangan dengan posisi seperti kami berdua,” Arvin menjawab ucapan dengan dengusan kesal dari wanita itu dengan santainya.
Ashera yang masih termakan oleh kata-katanya Arvin, lantas akhirnya kembali di dudukkan oleh Arvin untuk di pangku kembali.
“Maaf, aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.” beritahu Ashera, mencoba untuk merenggangkan ketegangan diantara mereka berdua.
“Begitulah yang seharusnya kau lakukan, berusaha untuk tidak menunduk di depan orang lain adalah salah satunya.” tegas Arvin. “Ingat posisimu itu, jika kau memang seseorang yang sudah di paksa untuk di sisiku, maka aku harus memaksamu untuk bisa setara denganku,” semakin dekat dengan leherenya Ashera, semakin lirih pula ucapannya Arvin kepadanya. “Walaupun kau berasal dari anak pelayan, selama kau bisa bisa bersikap percaya diri seperti semua perempuan yang sering aku temui, kau sudah bisa termasuk dalam tahap pengembangan.
Dengar, aku menuntutmu untuk bisa jadi lebih baik dari pada hanya seperti gadis lemah yang menyedihkan. Kau sekarang ini Hera, mengerti?”
“Hei-hei, kau sedang pamer ya?”
“Kalau aku mengatakan iya, kenapa?” tanya Arvin bali dengan delikan matanya yang tiba-tiba saja menjadi tajam, sekaan kalau mereka berempat adalah musuhnya.
Padahal baru pertama kali bertemu, tapi bagi Arvin sendiri, dia tahu siapa ke empat orang yang ada di depannya itu.
Sebenarnya tujuan dari Arvin datang bukan sekedar untuk berjudi, tapi juga tujuan lain yang dia miliki untuk sekedar menyelidikinya secara langsung.
‘Tatapan matanya, seolah aku seperti baru saja bertemu seorang predator. Apa ini perasaanku saja?’ batin pria paruh baya ini, tiba-tiba saja dia pun menyeret kursi dan duduk di depan meja kasino, dan di susul dengan ke tiga temannya itu.
“Apa kalian mau bermain denganku? Aku cuman punya tujuh juta, jadi kurang tiga juta, agar modalku kembali-” tiba-tiba suasana hati Arvin berubah, seolah dia tidak pernah sekalipun memberikan aura hitam yang mengancam kepada mereka berempat.
“Kau ini, memang benar-benar masih anak polos ya? Kalau uangmu tidak mau hilang, ya jangan judi,” ucap salah satu dari keempat tamu tidak di undang itu.
Selagi Arvin berbicara dengan mereka berempat secara bergantian satu sama lain, maka tidak dengan Ashera yang terus saja kepikiran dengan ucapannya Arvin.
‘Dia benar. Padahal aku sendiri yang mengatakan kepadanya untuk bertanggung jawab atas yang dia perbuat kepadaku, tapi jika aku bahkan tidak pantas disisinya, lalu apa gunanya itu? Bukannya aku yang seorang pelayan ini sama saja seperti merendahkan posisiku sekarang?
Walaupun aku memang tidak pernah sekalipun mengharapkan agar aku bisa menjadi Istrinya, tapi karena sekarang posisiku bahkan sudah berbeda dari sebelumnya, aku harus bisa tahu dengan tempatku sekarang.
__ADS_1
Aku tidak boleh mempermalukannya terus, dan membuatnya terus kerepotan dengan sikapku yang sensitif karena perkataannya yang terus saja menusuk hatiku.
Hal seperti ini pasti bukan apa-apa untuknya, karena sudah terbiasa. Jadi aku harus bisa terbiasa, aku tidak boleh memperlihatkan kelemahanku untuk mendapatkan simpatinya lagi.
Ashera, kau harus berubah, jadilah seperti Hera yang bisa punya percaya diri yang tinggi.’ kata hati Ashera secara panjang lebar.
“Ok, aku akan pertaruhkan semua uangku,” tantang Arvin.
“Apa?!” terkejut Ashera, dia langsung menarik segala pikirannya tadi masuk kedalam mode tercengang, karena Arvin benar-benar seperti orang yang sudah begitu kecanduan dengan judi.
“Semua uang.” sahut Arvin, melemparkan semua isi chip di dalam kantong itu ke atas meja, dan ke empat orang itu pun saling pandang satu sama lain, sebelum beberapa orang diantaranya, langsung muncul dengan kantong berwarna hitam yang berisi hasil jarahan tadi, melawan tanding dengan orang lain.
“Kau- keterlaluan, masa semua uangmu akan di pertaruhkan? Kalau kal-”
“Shhhttt~” Arvin langsung menutup mulut Ashera dengan jari telunjuknya. “Kalau bicara setidaknya jangan sembarangan dulu,” pinta Arvin.
“Padahal kau sendiri sering bica-”
“Hahhmm~” Ashera yang kesal dengan sikapnya Arvin, langsung melahap jari telunjuknya dan mengigitnya dengan perasaan gemas, ingin bisa menggigitnya lebih kuat lagi, atau bahkan kalau bisa sampai jarinya putus?
Oh, tidak bisa, jika jarinya putus, lantas bagaimana anak ini akan menyenangkannya?
‘Ha? Kenapa aku tiba-tiba jadi punya pikiran sekotor itu?’ terkejut dengan pikirannya yang tiba-tiba saja punya imajinasi liar soal jari telunjuknya Arvin, Ashera pun segera melepaskan jari itu dari dalam mulutnya.
“Kenapa kau tidak melanjutkannya?”
“Tanganmu mau aku gigit terus?”
“Boleh, dengan begitu aku bisa mengaduk isi mulutmu.”
BLUSHH….
__ADS_1
Ashera langsung menampar tangannya Arvin agar menjauh darinya.
“Ya ampun, kenapa aku harus menhadapi dua orang seperti ini? Ini membuatku jadi gila-” racau wanita berambut pink ini, benar-benar lemah dengan pasangan yang bertingkah seperti Arvin dan Ashera tadi, karena merasa iri, dan memang sudah ingin bisa menjalin kasih dengan seorang pria.
Akan tetapi tidak ada satu pun yang mau dengannya, karena satu alasan, yaitu ada tiga orang pria di sampingnya yang tidak lain adalah kakaknya.
Karena perawakan seram merekalah, tidak ada yang mau dekat dengannya.
“Hahaha, makannya sudah aku bilang, buat dirimu punya penampilan normal. Jangan sokk imut, karena kurang pas. Pertahankan saja gaya rambutmu berwarna pink itu, tapi tidak dengan fahsion, kemudian rayu tiga orang di sampingmu itu dengan caramu sendiri.”
“Hah?! Apa-apaan dengan perkataanmu itu?!” pekik wanita ini, tidak suka dengan perkataannya.
“Adolv, cukup, aku tidak ingin mendengar suara berisik lagi.” tegur Ashera.
“Kau mau aku melakukan apa agar kau tidak bisa mendengar kicauan dari mereka? Mendengar kembali suara des*h*nku?”
BLUSHH….
“Diamlah Adolv baj*ngan! Janga buat aku terus merasa iri!” wanita ini yang hanya punya kesabaran setipis tisu, langsung melemparkan kartu poker yang masih berada di dalma kotak itu ke arah Arvin.
Tapi Ashera yang entah kenapa baru menyadari dengan cara pandangnya terhadap satu objek cepat itu bisa dia lihat dengan cukup jelas, Ashera pun refleks saja mengeluarkan handphone nya dari saku jaketnya, lalu mengarahkannya tepat ke depan wajah Arvin, sebelum akhirnya kotak poker itu langsung berhantaman dengan punggung handphonenya Ashera.
PRAKK….
“Kasar sekali.” ucap Ashera singkat, dan akibat dari aksinya yang mengejutkan itu, mereka semua pun kembali di buat tercengang. “Padahal kan hanya tinggal cari pria saja, kenapa kau begitu emosian?” imbuh Ashera.
Ekspresi, nada bicara, dan caranya berbicara kepada wanita itu seketika jadi berbeda seperti orang lain.
‘Hm? Apa dia benar-benar Hera?’ detik hati Arvin, karena dia hanya tahu satu hal, kalau Ashera tiba-tiba punya sikap dan cara bicara serta tatapan mata yang begitu lain dari pada yang biasanya, maka itu adalah kepribadian Ashera yang satunya lagi.
Makannya, Arvin pun punya kesimpulan demikan terhadap Ashera yang berhasil menghalangi kotak kartu itu menghantam ke wajahnya.
__ADS_1