
'Pacar? Pacar apaan sih? Apa dia mengatakan itu soal Arvin?' Pikir Ashera, namun ia tetap di banjiri dengan semua kotoran yang sudah menempel pada tubuhnya, sampai ke rambutnya pun, jadi ada banyak sisa nasi yang menempel. 'Tapi kenapa juga aku yang jadi kena Imbasnya seperti ini?' imbuhnya, dan dia pun jadi merasa eneg, dan ingin pergi ke toilet.
"Hahaha, mampus. Memang yah, asal kotoran ini harus di kembalikan pada yang punya." Ejek pelayan ini, masih terus mengganggu Ashera yang sudah tidak kuat lagi dengan aroma tubuhnya yang begitu memuakkan, hingga akhirnya Ashera berusaha untuk turun dari tempat tidurnya dan berjalan pergi.
"Hei, aku belum puas, kau pikir bisa pergi dari ku." Mencengkram pergelangan tangan Ashera, tapi Ashera dengan tenaga yang masih ia miliki itu, Ashera mendorong tubuh pelayan itu dengan keras.
BRUKK...
'Sialan, kenapa ada orang gila yang di pekerjakan di sini? Kalau saja aku ini orang berkuasa, aku pasti sudah mengusirnya, walaupun dia bukan orang yang aku pekerjakan.
Tapi karena aku bukan siapa-siapa, memangnya siapa yang akan bisa membuat dia di pecat jika majikannya bisa saja sifatnya juga seperti dia.' Kutuk Ashera, merasa hari ini adalah hari yang cukup sial untuknya.
Setelah berhasil membuat pelayan tadi terjatuh karena Ashera dorong, Ashera pun bisa keluar juga dari ruangan itu, dan sekarang dia mencoba untuk mencari kamar mandi.
Ya, kamar mandi, bukan toilet kecil untuk buang air kecil atau besar, tapi benar-benar tempat yang di lengkapi dengan bak dan air yang berlimpah.
'Hanya saja, dia bilang Nona? Apakah yang di maksud itu dokter tadi? Pacar? Dan apa itu memang ada hubungannya dengan Arvin?
Hahah, jadi maksudnya Arvin dan dokter tadi pernah pacaran, tapi putus?
Dan mengira akulah penyebab dari dua orang itu putus, aku juga yang kena?
Kenapa aku hidup selalu tidak adil seperti ini sih? Apakah di dunia ni sama sekali tidak ada orang yang benar-benar waras?' Dan selagi berjalan di lorong yang entah, dirinya sedang berjalan ke arah mana, Ashera hanya mengikuti instruksi sebuah tanda jalan yang bisa mengarahkannya ke toilet.
Ya, setidaknya ia akan mencobanya lebih dulu, apakah ada yang bisa ia gunakan untuk membuat tubuhnya di bersihkan secara menyeluruh atau tidak.
Dengan langkah yang begitu susah, karena tubuhnya memang benar-benar menggigil kedinginan, bagaikan sebentar lagi tubuhnya akan membeku, Ashera sungguh harus ekstra kuat untuk berjalan dengan jarak yang entah kenapa jaraknya bisa sedikit jauh seperti itu.
Padahal dua puluh meter bukanlah jarak yang jauh untuknya, tapi apa ini?
Tanpa memperdulikan apapun yang ada di sekitarnya, karena memang sedang sepi, Ashera pun tetap berjalan.
Sedangkan di saah satu sisi lorong yang mengarah ke arah kanan, Arvin dan Vani tengah duduk bersama sambil bicara.
__ADS_1
"Aku ingin mengembalikan ini."
"Kenapa kau mengembalikannya kepadaku? Kalau memang sudah tidak mau, kau tinggal menjualnya saja atau membuangnya, kan mudah." Jawab Arvin, melihat Vani yang tiba-tiba melepaskan sebuah kalung dengan bandul dari sebuah cincin berwarna emas putih dengan satu kristal di atasnya.
Sungguh, itu adalah cincin yang cukup cantik, dan bahkan cukup mahal.
Tapi cincin itu sebenarnya adalah kenangan dari masal lalu mereka, sebab Arvin pernah memberikan cincin itu untuk menembak Vani.
Namun karena hubungan diantara mereka berdua sudah berakhir, maka Vani pun menyimpan cincin itu dan akan ia kembalikan kepada orangnya secara langsung, dan sekarang ini, Vani merasa kalau waktunya cukup tepat untuk mengembalikan cincin yang sudah bukan lagi hak nya lagi.
"Inilah yang aku tidak suka, jangan terlalu membuang-buang uang, kau itu sudah besar, seharusnya bisa dewasa sedikit." Papar Vani, merasa kalau Arvin memang perlu di didik lagi.
"Jadi maksudnya kau akhirnya menyesal pernah pacaran denganku, ya kan?" Dengan senyum kecut, Arvin menyambar cincin yang di pegang oleh Vani.
Vani terdiam sejenak, mencoba untuk mencerna ucapan dari pria ini. "Aku sih nggak terlalu menyesal, hanya merasa beruntung juga, setidaknya aku bisa punya pengalaman pacaran dengan orang sepertimu." Jawabnya, bahkan saat menjawab itu, Vani jadi tertawa sendiri karena masa lalunya dengan Arvin saat berpacaran, sungguh menggelikan hatinya, gara-gara Arvin yang menurut Vani itu masih bocil, sudah berani nembak kakak kelasnya sendiri.
Karena antara sekolah SMP dan SMA saling berjejeran, maka sudah pastinya, Arvin yang kala itu masih SMP berani menembak kakak kelas yang tingkatannya sudah SMA, dan itu bagi Vani sendiri adalah masa-masa paling konyol karena pacaran dengan adik kelas.
Tapi semua sudah berakhir, dan maka dari itu, Vani pun mengembalikan satu-satunya barang tersisa yang harganya mahal itu ke tangan si pemilik yang asli.
"Kau, seandainya kau tidak tahu siapa aku, pasti kau masih mau denganku kan?" Tanya Arvin dengan lugas, senyuman miringnya itu di susul dengan tangan Arvin yang tiba-tiba saja memegang tangan kiri Vani, dia ingin mencari tahu apakah masih muat?
Sama sekali tidak, itu sudah cukup kekecilan, karena tubuh Vani sendiri sudah lebih berisi daripada yang dulu.
"Ya, itu bisa jadi." Senyum Vani, melihat kenyataan kalau cincin itu memang sudah tidak muat di jari manisnya, sehingga Arvin pun mencoba untuk melepaskannya, tapi di saat yang sama, tiba-tiba saja Ashera datang dan bertanya.
"Maaf menyela, apa ada kamar mandi berisi bak mandi juga?" Tanya Ashera dengan tatapan mata yang cukup sayu, dia tidak begitu peduli dengan apa yang sedang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri itu, melihat Arvin, sedang memasang cincin cantik di jari manis nya Vani. 'Jadi memang benar ya, mereka berdua ada hubungan?' Pikirnya.
"....!" Vani dan Arvin terkejut, selain dengan kehadirannya tentu saja dengan penampilan Ashera yang begitu berantakan.
Sedangkan Ashera, dia hanya ingin mencerna situasi dari dua orang yang ada id depannya itu, karena pemandangan itu sebenarnya memang cukup menyakitkan hatinya, karena Arvin sendiri sudah menjadi suaminya.
Namun, apa daya?
__ADS_1
Memangnya seorang pelayan, punya hak untuk protes dengan Arvin yang notabene nya juga adalah majikannya juga?
Ashera merasa tidak memiliki hak itu sendiri, makannya dia pun mencoba bersikap biasa saja.
Meskipun- tidak dengan Arvin dan Vani yang langsung terkejut dengan kehadiran Ashera yang tidak tepat, karena jadi memperlihatkan mereka berdua punya hubungan dan sedang bermesraan sampai membuat Arvin menyematkan cincin kepadanya.
'Kenapa dia bisa ada di sini? Padahal aku baru bilang agar tidak keluyuran.' pikir Arvin.
Lalu untuk Vani sendiri, dia langsung menarik cincin itu dan ia berikan ke tangan Arvin lagi, setelah itu Vani dengan buru-buru langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri Ashera.
'Padahal jika di pakai di jari kelingking saja, juga bisa. Apa Vani takut salah paham dengan perempuan itu?' benak hati Arvin, melihat di tangan kanannya saat ini sudah ada cincin milik Vani yang akhirnya kembali ke tangannya lagi.
"Ashera, apa yang terjadi kepadamu? Penampilanmu ini-"
"Tidak ada apa-apa. Tunjukkan saja kamar mandinya." Ucap Ashera dengan sedikit menunduk dan mundur ke belakang, karena ia tidak ingin menularkan bau tak sedap itu pada Vani yang punya aroma cukup wangi, karena parfum mahal yang di pakai oleh Vani memang adalah parfum dengan aroma yang bisa bertahan cukup lama.
Dan secara tidak langsung, tentu saja Ashera jadi merasa tersindir sendiri.
'Pasti dia salah paham denganku. Ini gara-gara Arvin sih, dia pakai membuatku mencoba cincin itu lagi, padahal jelas-jelas sudah aku kembalikan ke tangannya.' Batin Vani sambil melirik ke arah Arvin yang sedang menyimpan cincin itu ke dalam sakunya.
'Kenapa dia menatapku seperti itu?' Arvin yang baru saja menyadari tatapan dari Vani, langsung kebingungan dengan maksud dari tatapan yang sedemikian tajam itu.
'Heh, kelihatannya memang benar. Jika aku terus di sini, aku akan di kira benar-benar menjadi orang ketiga dari hubungan mereka berdua. Aku seharunya tadi langsung meminta pulang saja.' Pikir Ashera, dia pun jadi merasa tidak enak hati dengan kehadirannya yang sudah mengganggu kencan nya Arvin dengan Vani ini. "Saya ingin ke kamar mandi, bolehkan saya tahu tempatnya?'
"O-oh, iya..akan aku antarkan." Jawab Vani dengan gugup, karena kembali di sadarkan dari lamunannya tadi, gara-gara mencoba membuat perhitungan dengan Arvin tadi, jadi ia pun sedikit terkejut dengan permintaannya Ashera ini.
Dan dengan baik hati, Vani pun menunjukkan sebuah kamar mandi untuk Ashera, meninggalkan Arvin yang tetap diam di tempatnya dan melihat kepergian dari mereka berdua.
"Pasti anak itu salah paham." Lirih Arvin. Lantas dia melirik ke samping kanannya, dimana di balik dinding yang ada di depan sana, ia tahu ada Daseon yang sedang berdiri dan menunggu di sana. 'Tapi apa peduliku, dia yang membuat kesalahpahaman sendiri, jadi aku tidak perlu harus menjelaskannya.' Batin Arvin, lalu dia pun beranjak dari kursinya dan memanggil Daseon. "Daseon."
"Ya tuan?"
"Kenapa anak itu malah jadi kotor seperti masuk kedalam comberan?" Tanya Arvin.
__ADS_1
"Itu karena pelayan yang di tugaskan untuk membersihkan lantai karena muntahan tadi, memberikan pelajaran kepadanya, karena berpikir alasan anda dan Nona Vani putus adalah karena Nona Ashera." Jawab Daseon.