
Siulan demi siulan, serta tepuk tangan yang menyerukan rasa iri dan juga lucu karena bisa melihat pemandangan antara dua orang anak muda yang baru saja muncul dengan cara mereka yang begitu antara keren, tapi bercampur dengan konyol juga romantis.
Dan suara tepuk tangan yang begitu meriah itu, membuat Ashera diam sejenak, sembari menatap wajah Arvin yang lagi-lagi serius.
"Apa kau masih kurang setelah tadi pagi mendapat jatah dariku?" tanya Arvin dengan nada menggoda.
"S-siapa yang kurang?!" panik Ashera, dia pun jadinya keceplosan dengan ucapannya yang terdengar sudah jelas sedang bicara mengarah ke satu hal yang langsung di pahami oleh mereka yang sempat mendengarnya.
"Tapi, bahkan tatapan matamu tadi saja, sepertinya kau butuh energi lain dariku." cibir Arvin, dengan sengaja dia benar-benar meledek Ashera dengan ucapannya yang membuat orang lain pasti punya pikiran yang sama.
"S-sudahlah, jangan membicarakan itu lagi-" malu Ashera, dia pun menyingkir dari atas tubuhnya Arvin, lalu dengan cepat segera mengancing kemeja yang dia pakai itu.
Namun, karena Ashera terlihat kesusahan untuk mengancingkan pakaiannya sendiri, Arvin pun bangkit dan segera membantu mengancing nya.
"Arv-"
Kalimatnya langsung terpotong, begitu Arvin menatapnya dengan cukup sengit, bahwa sekarang namanya bukan lagi Arvin.
Tepatnya Edolv, dan Ashera sendiri adalah Hera.
"Edolv, setelah kita ada di sini, lalu kau mau apa?"
Serius mengancingkan satu per satu kancing baju yang tersisa itu, dia pun menjawab : "Mencari uang tambahan."
"Bagaimana caranya? Jangan-jangan kau mau menipu lagi seperti yang di lakukan beberapa hari lalu ya?"
"Kalau bicara jangan sembarangan, siapa yang menipu siapa? Dia kan hanya orang bodoh yang mau-mau saja percaya dengan ucapanku, karena dia sendiri yang gengsi.
Kau harus ikut denganku sampai ke dalam, jangan pernah sendirian, atau seret kau ke kamar lagi dan menghabisimu." kata Arvin, mengancam.
"'Memangnya aku salah apa sih, apa-apa di matamu aku serba salah," gerutu Ashera tanpa sadar.
Arvin yang mendengarnya, hanya diam tidak memperdulikan keluhan yang keluar dari mulut yang baru saja Arvin cium itu.
__ADS_1
Setelah selesai bicara, mereka berdua pun turun dari helipad dan segera di kerumuni oleh puluhan perempuan yang segera berkumpul, layaknya baru saja menemukan artis untuk di mintai tanda tangan.
"Dia turun- ayo samperin dia,"
"Ayo!"
"Jangan desak-desakan ih!"
"Akh! Kau menginjak kakiku!"
Melihat mereka semua berbondong-bondong ke arah mereka berdua, Ashera yang ketakutan dengan reaksi wajah mereka semua yang nampak begitu antusias untuk menghampiri Arvin, Ashera pun spontan langsung memeluk lengannya Arvin.
"M-mereka-"
"Walaupun kau jadi terlihat seperti seorang penakut, tapi tindakanmu ini bisa jadi kode untuk mereka semua," bisik Arvin di atas kepalanya Ashera yang sedang memeluk lengan kirinya dengan begitu erat.
Ashera yang sedikit terkejut dengan cara Arvin yang menghargai sikapnya kali ini, sontak hatinya tiba-tiba saja jadi tersentuh.
Tapi Ashera tetap harus sadar, kalau sikap dari pria ini selalu berubah jadi seratus delapan puluh derajat, maka dari itu Ashera pun harus tetap menahan angan-angannya kalau Arvin akan bersikap seperti ini terus ke depannya.
Arvin dan Ashera yang baru saja menuruni anak tangga itu, segera menjawab : "Aku Adolv, dan dia adalah Hera,"
'Ya ampun, dari sekian banyak laki-laki, aku pikir dialah yang punya postur tubuh paling bagus, tapi perempuan bernama Hera ini, kira-kira siapa ya?' pikir salah satu dari mereka, mencoba menyelidiki dua orang di depannya itu dari atas sampai bawah.
"Lau- kira-kira gadis yang ada di sampingmu ini, apakah-"
Arvin, sambil sedikit menunduk dia pun sempat tersenyum remeh dan berkata : "Pfft, dia adalah tunanganku,"
'Tunangan? Y-yah, itu tidak masalah sih, karena masih mau menymebunyikan rahasia besar kita. Tapi aku tidak menyangka, kenapa Arvin malah memilih menganggapku sebagai tunangan, ketimbang pacar saja?
Apa dia benar-benar berubah? Bahkan kelihatannya ini cukup pas dengan perubahan kepribadianku. Hera, sebenarnya apa yang sudah kau lakukan kepadanya?
Kenapa dia tiba-tiba saja mau bekerja dan perlahan mulai memperhatikanku seperti ini?' batin Ashera. Dia cukup penasaran dengan apa yang di lakukan oleh kepribadiannya yang satunya lagi, sebab setiap kali perubahan kepribadian Hera selesai, maka sebagian besar ingatannya saat menjadi Hera, akan di segel oleh kepribadiannya Ashera yang satu itu.
__ADS_1
'Yah, kenapa dia malah sudah punya tunangan sih? Hah, aku pikir walaupun dia sudah bertunangan, bukannya artinya hubungan seperti itu bisa di buat retak ya? Aku sangat menginginkan anak ini, setidaknya membuatnya jadi terikat denganku.
Apalagi melihat dia datang dengan helikopter mewah seperti itu, sudah jelas kalau dia pasti anak orang kaya, yang melebihi teman-temanku.' pikir perempuan berambut pirang ini, melihat Arvin sedang mengusap ujung kepalanya Ashera dengan senyuman lembut.
"'Apa boleh kita berfoto denganmu?"
"Yah, kalau itu di izinkan sih-" jawab Arvin seraya melirik ke arah Ashera yang ada di sampingnya persis. "Hera, bagaimana nih? Mereka terlihat ingin berfoto denganku,"
"Silahkan saja, tapi hanya ada satu kali kesempatan saja," jawab Ashera. Sebenarnya dia tidak suka dengan keputusannya, namun begitu melihat mereka begitu menantikan bisa berfoto bersama dengan Arvin, maka dia pun memberikannya kesempatan kepada Arvin.
"Yes, kita bahkan bisa dapat fotonya," satu per satu dari mereka merasa senang dengan keputusannya Ashera.
"Kalau begitu aku dulu ya? Kalian mengantri," tiba-tiba saja satu orang gadis berambut pirang dengan kepang satu ini, menghampiri Arvin, dan sudah siap dengan kameranya.
"Kau curang! Kau tadi kan ada di belakang, kau harus mengantri!" seseorang mulai mengutarakan protes nya kepada gadis berambut pirang itu.
"'Tapi siapa cepat kan dia yang dapat," sahutnya, dengan kalimat yang membuat mereka semua semakin terprovokasi.
Namun, yang tidak terduganya adalah, ketika gadis berambut pirang itu sudah mau mengambil foto bersama dengan Arvin, bahkan sampai memeluk lengan tangan kanannya Arvin, Ashera tiba-tiba saja merebut handphonenya.
"Hei! Handphoneku!" tuturnya dengan nada sedikit tinggi. "Kembalikan! Kenapa kau tiba-tiba seperti itu kepadaku? Tadi bukannya sudah di izinkan untuk foto satu kali dengan Adolv?"
'Benar juga, kenapa dia tiba-tiba merebut handphone nya?' padahal Arvin sendiri juga sudah siap, tapi begitu melihat istrinya itu merebut handphone dari gadis tersebut, dia pun jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Ashera ini?
"Siapa yang bilang kalau ucapanku bermakna kau dapat satu foto dengan tunanganku? Aku kan bilang satu, artinya kalian emua hanya punya satu kesempatan foto bersama satu kali dengan Adolv,"
DEGG....
Jawabannya itu pun sukses membuat semua orang di sana seketika jadi terguncang sendiri, karena jawaban Ashera yang memang cukup mencengangkan.
"...?!" sampai Arvin sendiri, seketika ekspresi wajahnya yang awalnya terlihat cukup terkejut juga berbuah menjadi tawa yang begitu renyah. "Hahaha, ternyata- tunanganku bahkan punya pikiran tidak terduga seperti itu, bagaimana? Pasti tidak ada yang tahu dengan ucapannya tadi kan? Bahkan aku sendiri juga sama."
"Kau- menertawakanku ya?" bisik Ashera, melirik Arvin yang sedang tertawa itu dengan tatapan mata tidak puas hati.
__ADS_1