
“Ahh~ B-berhenti, apa…, apa yang sedang kau lakukan di sana? Aku mohon berhenti, aku tidak ingin di sen- ahw...”
Belum selesai bicara, Arvin yang malas mendengar ocehan yang keluar dari mulut gadis di dalam pelukannya itu, seketika langsung mencubit kulit dari perutnya Ashera.
“Kenapa kau berisik sekali? Aku kan sudah bilang, aku hanya memelukmu, kenapa kau banyak bicara sekali?” bisik Arvin tepat di belakang telinganya Ashera, membuat telinga itu seketika langsung merah padam seperti tomat yang sudah matang.
“T-tapi tanganmu itu-” kalimatnya langsung di sela oleh Arvin.
“‘Tanganku kenapa? Apa ada yang salah dengan tanganku?” Arvin malah dengan sengaja bertanya balik seolah tidak tahu, dan di balik pertanyaannya itu, Arvin pun kembali mengusap perut itu dengan gerakan yang penuh sensual, membuat Ashera yang tidak kuat dengan sentuhan yang di berikan oleh Arvin itu seketika langsung menggeliat.
“Tanganmu, jangan cubit, awhh~”’ Ashera langsung merintih sakit dengan cubitan kedua yang di lakukan Arvin itu. “Hah..hah…hah, hentikan…a-aku lelah, jangan…la-kukan lagi,” mohon Ashera kepada Arvin dengan nafas yang sudah mulai memburu, karena selain perlakukan Arvin kepadanya, Ashera yang memang sedang dalam kondisi yang kurang baik itu, jadinya semakin terganggu.
“Tubuhmu semakin panas, apa kau akhirnya merasa tera*ngsang dengan semua sentuhanku ini?” tanya Arvin tanpa merasa bersalah. Dan sampai saking senangnya bisa mengerjai Ashera dengan caranya seperti itu, Arvin pun tanpa sadar jadi melupakan kalau Ashera yang seharusnya istirahat itu.
“Diam, aku tidak mungkin teran*sang. Kau kan tadi menyu..ahw…menyuruhku istirahat, tapi ini ken- akhh..!”semua ucapan yang keluar dari mulutnya Ashera pun jadi terdengar seperti sudah tidak berguna lagi untuk Arvin yang sudah mulai menikmati permainannya sendiri bisa mengerjai Ashera ini.
CUP….CUP….
Ashera semakin bergidik dengan setiap kecupan yang dilakukan oleh Arvin itu sangatlah mengganggu akal sehatnya yang sedang berusaha Ashera pertahankan.
‘Tubuhnya semakin panas saja.’ tatap Arvin saat dia saat ini hanya bisa melihat punggungnya Ashera yang begitu kecil dan nampak rapuh, tapi dari pada itu di balik pakaian yang di gunakan leh Ashera, dia menemukan setiap inci aroma yang cukup memabukkan akal sehat milik Arvin sendiri.
__ADS_1
Dan akibat dari itu juga, tatapan mata Arvin yang semakin menyipit itu pun menandakan kalau dia baru saja merasakan sesuatu yang luar biasa di bawah sana.
Sebenarnya itu bukanlah masalah untuknya, tapi karena Arvin masih punya kontrol diri dan akal sehat yang masih menyatu dengan dirinya, Arvin hanya diam sambil terus memeluk Ashera dalam dekapannya dengan sangat erat.
‘Perempuan ini memang cukup berbahaya. Diam-diam menghanyutkan ya? Hanya dengan memeluknya seperti ini dan sedikit mempermainkannya, aku benar-benar bisa mendapatkan sesuatu yang luar biasa di bawah sana.’ pikir Arvin, dengan melihat tengkuknya Ashera yang nampak sangat mempesona?
Arvin seketika langsung menutup matanya dan berusaha untuk mengontrol perasaannya yang sebarnya sudah cukup menginginkan makan.
“Arvin, itu apa?!” pekik Ashera saking terkejutnya dengan area bawah sana yang begitu menekannya.
“Masa kau sendiri tidak tahu ini apa? Timun yang pernah kau makan waktu itu. Sudah tumbuh dengan subur lagi, apa kau tidak ingin mencicipinya lagi?” goda Arvin lagi terhadap Ashera yang lagi-lagi sudah memasang wajah terkejutnya.
Dan respon yang di berikan oleh Ashera sendiri adalah dia langsung menolak tawaran yang begitu membahayakan itu, meskipun pada kenyataannya Arvin dan dirinya sudah bukan lagi dua orang yang sedang pacaran atau apapun itu, selain bisa di katakan kalau hubungan diantara mereka berdua sudah di bilang legal untuk melakukan apapun yang mereka berdua inginkan.
Ups, ucapannya pun sampai tidak sengaja tidak dapat di kontrol dengan benar, sampai ucapannya itu menyatakan kalimat menantang untuk si monster di belakangnya itu.
Sedangkan Arvin yang sudah menebak apa kelanjutan dari ucapan yang hanya terdengar separuh itu, seketika jadi diam dan menatap wajah Ashera dengan begitu lekat.
“Kau, barusan mengatakan ingin memotong, apa maksudnya adalah memotong adikku?” tanya Arvin dengan nada yang begitu rendah, membuat aura yang ada di sekitarnya pun tiba-tiba saja berubah menjadi cukup dingin, sampai Ashera sendiri yang tadinya ketakutan karena akan di apa-apakan oleh Arvin, jadi semakin terancam dengan suhu di sekitarnya yang semakin dingin?
“T-tidak, lepaskan! Seharusnya tadi sudah cukup, jadi lepaskan aku,” kata Ashera, mencoba untuk menyangkal sekaligus merubah topik pembicaraan dari mereka berdua.
__ADS_1
“Ashera, mendengarmu bahkan menyangkal dan langsung mengalihkan topik pembicaraan kita, aku tiba-tiba jadi berubah pikiran mengenai aku hanya memelukmu saja,” sahut Arvin di saat itu juga.
“Apa?! Jangan-..!” tapi bahkan sebelum permintaannya di dengarkan oleh Arvin, Arvin tiba-tiba saja langsung menyusupkan tangan kanannya itu ke pangkal paha, sedangkan tangan kirinya itu dia gunakan untuk menarik sedikit dari pakaian yang di gunakan oleh Ashera jadi lebih tinggi dan mengekspose perutnya Ashera itu. “Arvin! Aku tidak mau! Apa kau sungguh ingin membuat orang yang sed- ukhh~”
Suaranya langsung berubah menjadi aneh, tepat di saat Ashera merasakan geli yang teramat sangat di bawah sana, akibat Arvin yang terus menggeseknya dengan jari-jemari lentiknya.
“Dengar, ini bahkan lebih menyenangkan tanpa membuatku kena beban pikiran, karena kita berdua sudah jadi legal,” tutur Arvin tanpa memperhatikan segala ekspresi wajah Ashera yang benar-benar sudah cukup tersiksa dengan kelakukan Arvin itu.
Arvin, yang sudah menyicipi segala kesenangan yang bisanya di lakukan oleh orang dewasa.
“Kau hanya tinggal menikmatinya saja, apa kau mau?”
“Tidak! Itu menakutkan! Punyamu itu seb-” merasakan mulutnya benar-benar tidak bisa mengontrol ucapannya sendiri, Ashera pun jadinya kemabli terdiam.
“‘Sebab apa?! Kenapa kau sering sekali bicara setengah-setengah seperti itu sih? Rasakan ini, jika kau tidak mengatakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan tadi, aku akan terus memberikanmu hukuman.
“Sebesar itu! Aku tidak mau, itu menakutkan, itu terlalu besar, jangan membuatku seperti orang gila dengan wajah menyedihkan lagi! Aku masih trauma, jangan lakukan itu padaku,” racau Ashera dengan nada yang begitu menggebu-gebu, saking marahnya dirinya terhadap sifatnya Arvin yang sangat menguji mentalnya.
Lantas apa yang Arvin ekspresikan setelah mendengar pengakuan Ashera yang cukup mengejutkan itu, Arvin pun jadinya terdiam sambil menarik wajah Ashera agar gadis ini membalas tatapannya juga.
“Coba kau tatakan lagi?” tiba-tiba saja Arvin pun meminta kepada Ashera yang sudah delapan puluh persen itu takut kepadanya.
__ADS_1
“Untuk apa aku melakukan itu?” ingin menolaknya, karena sangat memalukan.
“Apa lagi kalau bukan mendengar kalimat pujian untukku, coba katakan lagi sebelum jariku ini kembali berulah lagi ke tempat rahasiamu ini,” ancam Arvin detik itu juga.