Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Hati Yang Terjerat


__ADS_3

"Ashera, apa kau tuli?"


Ashera menggelengkan kepalanya juga, dia tidak tuli, tapi dia sedang berusaha untuk menata hatinya yang sedang berantakan, kacau balau seperti gelas yang jatuh.


"Kalau begitu kenapa kau diam? Apa aku menyuruhmu untuk diam?" Arvin bertanya dengan ekspresi wajahnya yang begitu datar. "Apa ini soal videomu itu?"


DEG ...


Perkataannya cukup tepat sasaran.


Ashera tidak bisa menyangkalnya, karena itu adalah salah satu dari sekian banyak cerita yang ada di dalam pikirannya Ashera.


Arvin tidak bisa mengalihkan pandangannya, sampai dia akhirnya kembali teringat dengan perkataan yang sempat di katakan oleh dokternya kemarin malam.


----->>


"Jika kejadiannya seperti itu, kedepannya kemungkinan besar, Nona tidak akan pernah memiliki keberanian untuk masuk dalam lingkar masyarakat lagi.


Butuh waktu yang lama untuk menangani permasalahan psikologisnya.


Karena pandangan dari banyak orang terhadapnya, jelas Nona pasti tidak akan kuat untuk menerima kondisinya yang pasti akan terus jadi buah bibir orang-orang." penjelasan dari dokter ini membuat Arvin semakin diam dan terus mendengarkan.


Akibat dari peristiwa yang terjadi, membuat sebagian besar lapis pikiran orang-orang akan memberikan cap kepada Ashera sebagai perempuan ja*ang tentunya.


"Jadi, sebaiknya. Karena tempramental anda begitu buruk, mulai sekarang anda harus lebih memperhatikan Nona lagi,"


"Heh, apa nenekku yang menyuruhmu untuk mengatakan itu kepadaku? Beraninya kau-" timpal Arvin, tidak sudi dengan kata-kata dari dokter tersebut, karena terdengar cukup menuntut.


Dokter ini menggeleng pelan, dan berkata, "Tidak, ini perkataan dari lubuk hati saya yang terdalam.


Karena tidak mungkin ada yang berani menegur anda, maka saya beranikan diri untuk menegur.


Lagi pula Nona Ashera juga bukan seorang gadis yang bisa saya anggap sebagai pasien biasa, mengingat anda sendiri ada hubungannya dengan Nona tersebut, jadi apa boleh buat?"


"Ternyata kau cerewet juga, tapi- apa kau pikir Ashera yang itu hanya akan diam saja?" kata Arvin, membuat dokter di depannya itu jadi bingung.


"Apa maksud an-"


Menyela perkataan dari dokter yang lebih tua darinya, Arvin langsung bangkit dari tempat dia duduk, "Sudahlah. Kau menyuruhku untuk bersikap sabar dan berharap untuk terus ada di sisinya kan? Akan aku lakukan, tapi apa kau bisa mengatakan yang sebenarnya kepadaku?


Apakah dia-"


Arvin sedikit sungkan dengan kalimat yang hendak ingin dia katakan itu.


Tapi demi terbebas dari rasa penasarannya, tentu saja dia mau tidak mau harus bicara dengan terus terang.

__ADS_1


"Apakah dia benar-benar hamil?"


"Yah itu-" dokter ini agak ragu untuk menjelaskannya, karena tampang preman dari wajah Arvin itu cukup mengganggunya, dan membuat nyalinya sedikit demi sedikit menciut. "Jika anda tidak percaya, anda baca saja sendiri, ini hasil tes yang sudah saya selidiki."


Dokter tersebut memberikan sebuah amplop kepada Arvin untuk dia baca.


Arvin dengan tampang cuek, langsung merebutnya dan segera membacanya.


Sampai tiba saatnya, kedua alisnya itu akhirnya mengernyit dan membuat mulut yang dari tadi mengutarakan kata pedas, kembali membuat suara, "Bagaimana bisa?"


"Ya?" tanya balik dokter ini, bingung dengan maksud dari pertanyaannya Arvin tadi.


"Aku sudah sempat menyuruhnya meminum obat kontrasepsi, tapi bagaimana bisa-" untuk bicara pada kalimat selanjutnya, Arvin sempat melirik ke arah jam dinding, "Bagaimana bisa dia tetap bisa hamil?"


"Itu- efektivitas obat kontrasepsi dalam mencegah kehamilan bisa mencapai 92 persen. Namun, nyatanya wanita masih bisa hamil saat konsumsi pil KB. Ini terjadi lantaran mereka kurang disiplin dalam mengonsumsi pil KB secara rutin.


Mungkin ini sedikit lancang, tapi jika melihat dari kondisi tubuhnya saat ini, sepertinya karena anda dan Nona sering melakukannya, hal itu juga jadi penyebab dari kegagalan dari obat itu sendiri.


Apakah ada pertanyaan lain?" jelas dokter ini sambil menahan keringat dingin yang sebenarnya sudah menyelimuti tubuhnya. "Lagian anda, kenapa anda tidak menggunakan alat pengam-"


"Itu jauh lebih enak,"


"I-iya sih, tapi setidaknya, anda juga harus berpikir lebih jauh lagi sebelum bertindak. Anda dan Nona itu kan masih sekolah, ini tidak baik-"


"Jangan bahas lagi. Aku mengerti, sepertinya aku kurang ilmu, kalau begitu rawat dia lebih dulu, aku harus pergi," pungkas Arvin, lalu dia pun pergi dari sana.


Sambil meremas amplop dan juga surat itu, tanpa menoleh ke belakang, Arvin pun menjawab, "Aku harus mengurus si berang-berang betina itu. Barulah, jika sudah selesai, aku bisa mengurus si kucing betina itu,"


BRAK ...


"Berang-berang? Memangnya siapa yang Tuan muda maksud?" gumam pria ini, dia cukup penasaran.


------->>


Flashback Off.


"kau begitu yakin, ingin terus jadi bisu seperti itu?" perkataan Arvin lagi-lagi cukup menusuk hati nuraninya Ashera. "Apa yang kau takutkan?"


"Apa kau akan marah?" gerutu Ashera.


Walaupun dia bicara dengan nada yang begitu lirih, tapi Arvin yang punya indera pendengaran yang cukup baik, tetap bisa mendengarnya dengan jelas.


Tapi, Ashera dengan buru-buru langsung menarik ujung lengan dari pakaian yang di gunakan oleh Arvin dan berkata, "Tidak, m-maksudku, apa kau akan marah kepadaku jika-, aku mengatakannya?" imbuh Ashera, dia begitu ragu untuk bicara dengan pria itu, karena dia sama sekali tidak ingin berdebat dengan orang ini.


Arvin diam, dia menunggu dan terus memperhatikan Ashera dalam pandangan yang membuat pikirannya semakin menumpuk dengan segala pertanyaan yang terlintas.

__ADS_1


Arvin sesaat melirik ke arah bawah, tangan Ashera yang ramping dan gemetar itu, sesaat menjadi pusat perhatian Arvin itu sendiri.


Memperlihatkan kalau Ashera benar-benar takut, tapi tetap pada keberanian yang tetap di paksakan untuk sekedar menjawab tuntutan yang di berikan dari Arvin terhadapnya.


"Selama kau bicara apa yang sedang membuatmu gelisah, aku tidak akan marah," itulah janji yang di katakan oleh Arvin kepada Ashera.


Sekilas, Ashera tertegun. "Apa kau tidak bohong?"


"Ayolah, katakan, jangan membuatku mati penasaran," tegas Arvin, dia memang benar-benar sudah tidak bisa menunggu lagi apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya Ashera kali ini. "Jika itu masalah Video itu, aku sudah mengurusnya. Yang ada di Video itu bukan kau,"


Namun, meskipun Arvin sudah bicara seperti itu, tampaknya Ashera masih begitu tertekan dengan masalah yang lain.


Apa itu?


Arvin sungguh terganggu dengan ekspresi wajah Ashera yang begitu menyedihkan.


Ekspresi orang yang begitu putus asa.


"Tapi-" Ashera terdiam sejenak. Lidahnya kelu, dia ingin bicara lagi, tapi seakan ada yang mengganjal di dalam tenggorokannya.


"Tapi apa?" Arvin semakin ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin di katakan oleh Ashera ini.


"Tapi w-walau," Ashera semakin menundukkan kepalanya, dia tidak mampu untuk bicara lebih banyak lagi.


Tapi, situasi terus saja menekannya untuk mengatakan yang sebenarnya.


"..." Arvin mulai jengkel lagi. "Tapi?"


"Wa-walaupun, ka-kau berkata orang... Yang ada di dalam Video itu, bu-bukan aku, tapi-" hatinya seperti terjerat, dia semakin terjepit dalam situasi yang terus menekannya.


Sudah kehilangan kesabarannya, Arvin pun menepis tangan yang sempat mencengkram ujung lengan pakaiannya dan melangkah pergi.


"A-arvin! Tunggu, ak-"


"Kau terus saja mengulur-ulur waktu. Jika pada akhirnya kau tidak ingin bicara padaku, aku mau pergi," memancing kepanikannya Ashera, Arvin pun berjalan pergi.


Dan Ashera sendiri yang begitu takut untuk di tinggal pergi oleh Arvin, seketika panik sampai akhirnya Ashera berteriak, "Arvin! Jangan pergi! Aku- A-aku... aku akan mengatakannya, ja-jadi...jadi jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendirian..., jangan!


Aku salah, tapi jangan pergi! Aku akan menjawabnya, ja-jadi jangan tinggalkan alu sendirian, aku salah..., aku seharusnya tidak pergi kesana.


M-maaf, maafkan aku. Aku sungguh-"


Ashera semakin bicara dengan terbata-bata.


Dia sangat gelagapan dengan suasananya yang harus dia hadapi, ingin meluruskan keraguan di dalam hatinya, dia terpaksa bicara dengan jujur.

__ADS_1


Arvin yang memperhatikan setiap sikap dan tingkah Ashera saat ini, sekejap mata membuatnya jadi diam.


__ADS_2