
Tok…Tok…Tok…
“Hei! Apa kau tidur di dalam kamar mandiku?” Tanya Arvin dengan tangan terus mengetuk pintu kamar mandi, yang mana didalamnya Ashera sedang menggunakannya.
“Tidak.”
“Aku ingin menggunakannya, keluar sekarang!” Arvin sudah mulai kebelet. Walaupun di dalam rumahnya ada dua kamar mandi, tetapi karena Arvin lebih leluasa menggunakan kamar mandi yang paling atas, dia tetap akan merebut kamar mandinya dari Ashera.
“Sebentar lagi.”
“Kau menyuruhku untuk menunggu? Keluar sekarang! Kau pakai kamar mandi yang ada di bawah saja, cepat keluar!” Arvin yang sudah tidak tahan itu,dari ketukan menjadi sebuah gedoran pintu.
“Tapi aku masih belum selesai, dua menit lagi, tidak, satu menit lagi.” Jawab Ashera dengan wajah panik.
Dia baru saja mandi, dan sedang menggunakan pakaiannya lagi di dalam kamar mandi. Namun, Arvin yang begitu dongkol, langsung menendang pintu tersebut dengan keras.
BRAKK….!
“Cepat! Walaupun Daseon bilang ini rumahmu juga, kau sama sekali tidak ada kaitannya dengan rumah ini. Posisimu tetap saja pelayan, jadi gunakan yang ada di bawah!” Setelah berkata demikian, Arvin kembali menendang pintu.
BRAKKK…!
“Cepat!”
“I-iya…aku akan cepat.” Dengan wajah khawatir, Ashera segera memakai celananya, pakaian dengan cepat, lalu mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu. Tidak lupa dengan jaket yang sudah ia bersihkan.
Barulah, setelah ia selesai, Ashera bergegas keluar dari sana.
KLEK…..
Ashera keluar, dan Arvin pun berjalan melintasi Ashera sambil berkata “Satu jam, kau benar-benar tidur di kamar mandi orang. Apa di tempatmu sebelumnya kau bertapa dulu dan ketiduran di kamar mandi juga?”
BRAK…!
Pintu kamar mandi yang tidak bersalah apapun, menjadi bahan pelampiasan Arvin yang marah.
Karena saking terkejutnya, Ashera sampai mengangkat kedua bahunya secara refleks. ‘Padahal jika bukan karena dia, aku tidak perlu menyuci selama ini.’ Ashera dengan raut wajah sedihnya, menatap kantong plastik yang ada di tangannya, dimana kantong tersebut berisi jaket yang sudah ia cuci begitu lamanya.
___________
Esok harinya.
Untuk pertama kalinya, setelah hubungan mereka saat ini beralih status menjadi suami dan Istri, dari situ pula rutinitas mereka sebagai seorang pelajar pun di mulai juga.
Ashera, dia duduk bangku kelas 11-B sedangkan Arvin berada di 11-A
Setiap kenaikan kelas, semua siswa dan siswi akan di acak untuk mendapatkan kelas yang berbeda, ataupun tetap di kelas yang sama tapi memiliki rekan kelas yang berbeda.
“Wah…wah…., Ashera, tiga hari yang lalu, kenapa kau tidak sekolah?” Tepat di saat Ashera duduk di kursi, salah satu orang perempuan berjalan menghampirinya dengan satu pertanyaan yang berhasil membuat semua orang yang ada di kelasnya juga ikut penasaran.
Dari awal Ashera masuk sekolah, ia sama sekali belum pernah absen, hingga di hari jum’at di minggu yang lalu, Ashera untuk pertama kalinya libur.
Tentu saja yang bertanya itu Dini, teman alias anak buah Arlina.
__ADS_1
Dini dan Doni berada di kelas yang sama dengan Ashera, setidaknya kelas yang cukup dekat dengan kelas milik Arlina, teman sekaligus majikannya itu.
“Kenapa diam ha? Apa kau tuli?” Tanya Dini lagi, lebih memojokkan Ashera yang sebenarnya sedang terkejut, sebab di hari jum’at itu adalah hari dimana ia mengantarkan makanan pesanan dari Ibu nya Arvin, menjadi malapetaka. Kesuciannya di pagi hari itu direnggut, sehingga jam yang seharusnya digunakan untuk sekolah, malah di gunakan untuk melakukan dosa besar. “Kau bahkan tidak izin dengan wali kelas, kau di anggap bolos sekolah, benar-benar …, di hari itu kau pasti melakukan sesuatu yang tidak biasa, ya kan?” Seringai Dini.
“Dini, apa maksudmu? Ashera memangnya bolos karena apa?” Salah satu teman dari Dini pun penasaran, sehingga berani bertanya.
“Mungkin tanpa kita ketahui, dia mempunyai rencana yang tidak terduga. Seperti malam minggu kemarin, dia diam-diam ikut menonton di turnamen balapan motor, loh …., bahkan dia jadi gadis taruhan di sana.” Ucap Dini, membuat semua orang yang ada di kelas menjadi riuh karena tindakan tidak terduga dari seorang Ashera?
“Ashera, apa itu benar?” Tanya seorang perempuan yang duduk di paling depan, tapi letaknya di pinggir persis pintu masuk.
“Aku jadi penasaran, apa iya, Ashera sampai bebuat seperti itu?”
“Ashera, kenapa kau diam saja? Ada yang tanya, seharusnya kau itu menjawabnya.” Protes rekan sebangku Doni.
“Mungkin saja dia malu, karena rahasianya di bongkar.” Sindir Doni.
Dini pun tertawa cekikikan, “Seperti yang di katakan oleh saudaraku, karena ketahuan, makannya tidak berani bicara. Ya kan? Ashera ku yang malang?” Dini tertawa sambil mencengkram bahu Ashera dengan kuat.
“Ih, jadi Ashera ternyata seperti itu. Diam-diam menghanyutkan juga.”
“Padahal aku tidak melakukannya.” Gumam Ashera seraya menahan rasa sakit di salah satu bahunya yang di cengkram kuat oleh Dini.
“Hahaha. Apa kalian dengar itu baru saja menjawab kalau dia tidak melakukan sebagai gadis taruhan? Aku, Doni, Brian, kita ada di sana juga, bahkan Arlina pun ada di sana, apa kau mau menyangkal apa yang kami lihat ha?” Dini pun semakin mengencangkan eratan dari cengkraman tangan di bahunya Ashera, membuat Ashera semakin meringis. “Kalian berdua, benar kan apa yang aku katakan?” Dini menoleh ke belakang.
Brian pun angkat bicara : “Iya, aku melihatnya sendiri, dia ada di sana sebagai gadis taruhan. Dan yang menang adalah pemain misterius, jadi dia secara otomatis mendapatkan orang itu. Dan-”
“AH! Benar, ngomong-ngomong apa yang kau lakukan dengan orang itu? Apa kalian berdua bersenang-senang?” Sela Dini dengan wajah penuh semangat.
Banyak mata yang memandang, berharap jawaban langsung dari Ashera.
“Kayanya dia jadi bisu setelah rahasianya di bongkar olehmu.” Temannya Dini pun berbicara dengan mata terus menatap tajam Ashera.
“Oh~ Benar, dia jadi tidak pintar bicara, lantas bagaimana caranya agar seseorang yang bisu bisa besuara ya?” Tanya Dini, dia sekarang sudah mulai mengancam Ashera, sebab Ashera tidak banyak merespon semua ucapannya untuk memprovokasinya. “Mungkin harus seperti ini.”
GREPPP….
“Arhh…!” Rintih Ashera, setelah mendapatkan cengkraman kuat yang cukup menyakitkan bahunya. “B-berhenti, itu sa..kit!”
Ashera berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Dini dari bahunya. Tapi Dini benar-benar mempunnyai tenaga lebih besar, sampai Ashera yang tidak tahan dengan tekanan serta cengkraman yang begitu kuat, tubuh Ashera pun langsung terhuyung ke samping kanan dan akhirnya terjatuh.
BRUKK….
_____________
Di saat yang sama. Di gedung olahraga, lapangan basket.
BRAK…..
Bola basket yang di lempar, hanya menabrang pinggiran dari ring tersebut, sehingga bola basket pun langsung memantul jauh dari ring bola tersebut.
Tapi Arvin yang baru saja datang, berhasil menangkap bola tersebut, dan hanya dengan satu tangannya, Arvin pun melemparnya balik dan percobaan pertama itu pun berhasil besar.
“Kau licik.” rekan satu tim nya Arvin hanya bersilang tangan di depan dada sambil menatap Arvin yang sukses memasukkan bola dalam sekali coba saja.
__ADS_1
“Hmph…licik apanya? Aku hanya melemparnya saja karena percobaanmu gagal, jadi aku cuman membantu. Jadi apa yang licik?” Tanya Arvin dengan sombongnya.
“Ya, kau licik karena kau bisa memasukkannya dalam sekali lempar.” Sebenarnya laki-laki ini iri dengan kepiawaian Arvin dalam bermain basket, sampai-sampai meskipun Arvin melempar bola dengan cara memunggunginya, bola tersebut akan tetap bisa masuk.
Arvin pun menunduk, diselingi dengan senyuman remeh yang menghiasi bibir seksinya.
“Memang ya, kalau tangan emas pasti bisa melakukan apapun dengan mudah.” salah satu orang lagi datang, membuat suasana perlahan semakin ramai, apalagi selepas pintu masuk yang ada di bagian atas yang diperuntukan untuk penonton sudah terbuka dan memasukkan semua orang kedalam gedung olahraga tersebut.
“Lihat itu, dia tersenyum sombong. Ingin sekali aku menjahit bibirnya itu.” Satu teman lainnya pun datang.
Arvin yang mendengar hal itu, segera menoleh ke samping kanan, wakil dari tim nya pun datang juga, dan di ikuti empat orang lainnya.
Pagi ini, menjadi pagi yang membuat para semua wanita di sekolah SMANJA, bersemangat untuk menonton turnamen dari pertandingan basket.
Karena pertandingan kali ini, adalah permainan untuk memeriahkan hari awal dimulainya semester kedua mereka. Jadi setidaknya harus ada hiburan yang bisa memanjakan mata para penonton kaum hawa, sekaligus meningkatkan semangat antusiasme para adik kelas sebagai bahan promosi ekstrakurikuler basket ini.
Dan pertandingan kali ini, dipimpin oleh dua kubu.
Yang satu dari kubu yang dipimpin oleh wakil ketua Osis, yaitu Fajar. Sedangkan yang satu lagi dari tim keamanan sekolah yang dipimpin oleh Arvin sendiri.
Dan sesuai dengan jam, dua kelompok itu pun berdiri saling berhadapan satu sama lain.
PRIIITTT….!
Seorang wasit meniup peluit, dan berdiri di tengah-tengah mereka semua.
“Baiklah, pertandingan ini dibuat jadi dua sesi. Dan pertandingan hanya digunakan untuk promosi bahwa ekstrakurikuler basket adalah bidang paling menyenangkan. Jadi bapak harap tidak ada kecurangan dalam bentuk kekerasan atau apapun itu. Kalian bersiap?” Wasit ini memegang bola basket di tangan kanannya.
“Kami siap pak!” Jawab mereka semua secara serentak.
“Kalau begitu, mulai! Setelah berteriak demikian, wasit ini segera melempar bola ke atas, meniup peluit sebagai tanda permulaan, dan di saat yang sama pertandingan pun dimulai dengan Fajar juga Arvin yang langsung mencoba merebut bola tersebut.
“Kyaa…! Arvin! Kau harus menang!”
“Wakil ketua! Kalian harus menang! Kalahkan tim keamanan!”
Teriakan mengisi gedung olahraga, membuat suasana semakin meriah.
Perebutan, mencari nilai dengan menciptakan poin dari bola yang berhasil masuk ke ring lawan. Pagi ini pun menjadi pagi yang paling menyenangkan untuk mereka semua.
“Aku yakin, Arvin yang menang. Tim mereka kan kuat, bahkan untuk menjadi sebuah geng, mereka mampu menjadi tameng untuk kita semua.”
“Mana mungkin, yang menang pastinya wakil ketua Osis kita. Walaupun isinya orang-orang yang seharusnya suka duduk, tapi mereka punya kemampuan lebih.”
Di tengah-tengah pembicaraan mereka berdua, ada satu perempuan yang langsung menyela dengan sebuah tawa : “Hahaha. Kita jadi di buat penasaran, antara tim yang suka dengan adu otot atau tim yang selalunya menggunakan otaknya untuk bekerja dibalik meja.”
Antara tim keamanan sekolah atau dari tim yang berasal dari anggota osis, seperti sekretaris, bendahara, dan lainnya.
___________
Tapi ketika banyak orang yang sedang bersenang-senang dengan menonton pertandingan, maka tidak dengan Ashera.
“Ashera! Itu kan dompetku?!” Satu teriakan langsung menggema di dalam ruang kelas itu.
__ADS_1
Lidia, dia yang baru saja masuk ke dalam kelas, melihat dompet lipat berwarna biru ada di tangannya Ashera.
“..........!” Ashera yang terkejut, langsung menoleh ke belakang, dan melihat ekspresi wajah Lidia yang begitu marah.