Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
161 : Tuntutan


__ADS_3

Memutar tubuhnya ke arah samping kanannya, Arvin pun langsung menemukan si pembuat onar itu.


"Ashera, tenang saja, aku akan memberikanmu hadiah sesuai dengan nominal yang kau berikan itu kepadaku.


100 juta lebih kan? Ok, aku akan memberikan 100 juta lebih juga kepadamu sesuai nominal itu dengan caraku sendiri." senyuman sinis miliknya langsung membuat Ashera langsung merinding.


Melihat senyuman sinis penuh dengan pikiran picik, Ashera perlahan bangun dan satu demi satu langkah dia segera mundur ke belakang, bersamaan dengan Arvin yang berjalan maju ke arahnya dengan langkah perlahan, tapi tetap pasti, kalau langkah itu akan sampai ke tempat Ashera berada, jika dia tidak segera pergi dari tempatnya tadi.


"A-arvin, k-kau sudah mendapatkan uangmu, jangan sentuh aku," ucap Ashera dengan nada gemetar dan tangan yang terus menunjuk ke wajah Arvin yang nampak santai, dimana bahkan di detik itu juga Arvin nampak sudah bersiap dengan sesuatu yang sudah di persiapkan nya sedari tadi.


Apa itu, Ashera tidak tahu, tapi kelihatannya itu bukan sesuatu yang bisa di anggap remeh.


"Bukannya sesuai keinginanmu, kau benar-benar ingin mendapatkan servis dariku?" kata Arvin, dan senyuman maut penuh dengan godaan, membuat Ashera sangat tertekan dengan situasi yang di ciptakan oleh mereka berdua itu.


"T-tidak usah, kau ambil saja uang itu, yang penting jangan lakukan apapun kepadaku," langkah Ashera dalam berjalan mundur pun semakin cepat.


"Tidak bisa begitu, aku mana mungkin tidak membalas budi kebaikan dari orang yang memberikanku uang sebanyak itu kepadaku, kan?" balas Arvin. Karena di depannya persis itu ada meja dan sofa yang menghalangi jarak diantara mereka berdua, Arvin pun sudah mengambil ancang-ancang untuk melancarkan aksinya untuk menghampiri Istrinya itu. "Sini, sini," Arvin dengan entengnya benar-benar menawari Ashera untuk mendekatinya saja.


"Tidak-" jawab Ashera singkat.


"Sayangnya, kau bahkan tidak punya pilihan untuk menolakku!" Arvin yang bahkan tidak kehilangan akal itu, seketika langsung mengambil ancang-ancang, berlari dan detik itu juga Arvin pun segera melompati meja dan sofa yang ada dengan cukup cepat.


"...!" Ashera yang langsung di buat panik, segera berlari menghindari Arvin yang sudah seperti sekor macan kumbang. "Tidakk! Jangan lakukan itu!" jerit Ashera.


"Lari saja kalau bisa!" kata Arvin dengan semangat, karena pagi-pagi seperti itu, untuk pertama kalinya dia pun langsung di pancing oleh gadis belia yang masih segar itu.


Mendengar hal itu, Ashera pun semakin panik, dan semakin berlari untuk menghindari amukan Arvin yang nampak lain dari pada yang lain.


"Arvin!!!" pekik Ashera seraya berlari.


Tapi, Arvin yang punya pangkat sabuk hitam di bidang bela diri taekwondo itu, justru semakin tersenyum sinis melihat mangsanya yang ketakutan, dan dengan kemampuannya yang mampu untuk berlari lebih cepat, apalagi yang dia hadapi adalah Ashera dalam mode normal, maka Arvin pun tidak memiliki halangan sama sekali untuk menangkap tubuh dari gadis itu.


Tanpa basa-basi, dengan kedua kakinya yang panjang, Arvin pun dengan mudah menangkap Ashera.


"Kyaa!" Ashera langsung panik, saat salah satu tangannya berhasil di tangkap, dan begitu tangannya di tarik oleh Arvin, detik itu pula tubuhnya langsung di hantam ke kaca jendela.


BRUKKK...


"Akhw...," rintih Ashera saat punggungnya benar-benar menyambut kaca yang sudah tidak tertutup oleh tirai itu. "Jangan-"


"Jangan apa? Kan kau yang menyuruhku untuk melakukan ini? Dengar, aku akan penuhi keinginanmu sesuai dengan dengan jumlah uang yang kau berikan," bisik Arvin, saat wajah diantara mereka berdua sudah saling berhadapan satu sama lain.


Ashera yang tidak bisa lepas dari cengkraman kedua tangannya Arvin itu, hanya bisa melengos ke arah lain, karena suaranya yang sangat rendah dan cukup menghasut pikirannya, membuat Ashera tidak kuasa untuk menahan akal sehatnya sendiri.


"Dan- aku tidak akan mengecewakan servis dariku, mengerti?" imbuh Arvin, seraya mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Ashera. 'Benar saja, jika dia tidak tahu apa yang sudah di lakukannya, berarti yang sudah melakukannya hanya ada satu saja. Hera, kau yang melakukannya kan? Kau yang menggunakan uangku untuk pergi ke tempat salon kecantikan? Merawat diri dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan bahkan menggunakan aroma wisteria yang paling aku sukai, kau berharap aku bisa memberikan perhatianku secara penuh kepada Ashera kan?'


"Arvin, lepas-" pinta Ashera dengan wajah sudah tersipu merah.

__ADS_1


"Begitu aku sudah berhasil menangkap mangsaku, maka aku tidak akan pernah melepaskannya, kecuali aku sudah merasa puas," lirih Arvin, memberikan bisikan menggoda di telinganya Ashera persis.


Mendengar ucapannya yang sangat ambisius itu, Ashera menunduk ke bawah dan mencoba untuk meronta.


Tapi, usaha kecil yang begitu sia-sia itu sangat tidak bisa di andalkan sama sekali.


"Terima saja, lagi pula ini kewajibanmu untuk memberikanku jatah kepadaku. Ingat, waktu itu kau menuntutku untuk tanggung jawab, aku sudah mau bertanggung jawab kepadaku atas apa yang aku lakukan, jadi sekarang? Ini giliranmu memberikan tanggung jawabmu, kau pasti mengerti apa yang aku katakan ini, apa kau bahkan mau menghindar dari kewajiban yang sudah nenekku atur untuk kita?"


"Tapi-,"


Tidak puas dengan ucapannya tadi, Arvin mencengkram dagu Ashera dan membuat wajah Ashera yang tadinya menunduk itu, untuk menatap wajahnya. "Tapi apa? Kau ini harus patuh kepadaku, jangan ambil seenak jidatmu. Aku ini siapa?"


Wajah mereka berdua pun saling bertatap satu sama lain.


"Arvin,"


"Kau itu seharusnya memanggilku Tuan muda Arvin. Tapi aku tidak menuntutmu untuk melakukan itu, jadi nama panjangku siapa?" tanya Arvin lagi, dia sangat menuntut agar Ashera menjawab pertanyaannya, untuk membuat gadis yang ada di depannya itu benar-benar sadar dengan posisinya sekarang.


"Arvin Akhtair Bagaskara," jawab Ashera. Dengan mulut sudah manyun,gara-gara cengkraman tangan Arvin pada wajahnya, benar-benar cukup kuat.


"Dan aku siapanya kau sebelum kau ada di depanku seperti ini?"


"K-kau, kau majikanku, kau adalah cucu dari Nyonya besar yang aku layani," tatapannya pun semakin sayu, saking takutnya dengan suara Arvin yang begitu rendah, seakan dia sedang menghadapi penjahat yang di takuti di kota tersebut.


"Dan sekarang kau siapanya aku?"


Arvin langsung menelan ludahnya sendiri, karena Ashera benar-benar bisa membuat jawaban yang begitu unik. "Bukan itu bodoh. Secara status, kau lihat ini apa?" Arvin langsung melepaskan cengkraman tangan dari wajahnya Ashera, dan beralih ke tangan kirinya Ashera, "Kau bahkan memakai ini, kenapa kau berpura-pura tidak tahu kau sekarang statusnya apa ha?" kata Arvin, dia pun menunjuk dengan jelas apa yang tersemat di jari manis miliknya Ashera.


Ashera yang melirik ke arah jari kirinya yang tersemat dengan cincin pernikahan mereka berdua, langsung menelan saliva nya sendiri.


"I-istri. T-tapi bu...bukannya kau bahkan tidak suka aku menyebut panggilan itu kepadamu?"


"Apakah aku terlihat peduli dengan apa yang pernah aku katakan sebelumnya kepadamu? Lihat? Apa ekspresiku terlihat peduli dengan ucapanmu tadi?" sela Arvin, dia menunjuk wajahnya sendiri sebagai patokan kalau ekspresi wajahnya yang begitu dingin dan terlihat tidak peduli itu, memang benar-benar adanya. "Apa kau melihat ini hm?"


Ashera pun terdiam, dia memang melihat ekspresi wajah Arvin yang terlihat begitu tidak peduli.


"Tidak, itu hanya omong kosongmu saja," jawabnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari tatapan mata Arvin yang begitu menusuk itu.


GLUK....


Arvin yang sudah terlanjur tergoda dengan aroma yang dari tadi melambai-lambai untuk minta di makan, membuat Arvin pun tidak akan memperdulikan apa yang Ashera jawab tadi.


'Tch, apa harus sampai seperti ini? Hera, aku akui kalau kau memang benar-benar pintar menggoda pria.' gerutu Arvin, cara Hera, kepribadian Ashera yang lain, membuatnya begitu di mabuk dengan aroma tubuh hasil dari perawatan kulit yang belum lama ini di lakukan oleh Ashera membuat Arvin benar-benar semakin gila sendiri jika di tahan.


Padahal jika bersama dengan perempuan lain, dirinya sama sekali tidak akan langsung tertarik jika sekedar mengandalkan aroma parfum atau apapun itu, selain saling menggoda satu sama lain.


Tapi yang ini, jelas sangat berbeda, Ashera yang bahkan hanya diam saja, langsung membuat Arvin termakan umpan.

__ADS_1


"Ok, aku tidak akan mempermasalahkan jawabanmu itu, tapi asal kau tahu, kau tidak akan bisa keluar dari sini dengan normal, kau harus siap dengan konsekuensi yang kau ambil itu, paham?" tutur Arvin lagi.


Ashera yang sebenarnya sudah paham betul dengan keputusan pertama yang Ashera ambil ketika dia menunutut Arvin untuk bertanggung jawab kepadanya, kini, dia akhirnya terdiam.


Menatapnya dengan sangat mendalam, Arvin pun berpikir, 'Sepertinya dia sudah paham dengan posisinya. Itulah konsekuensinya jika terikat denganku, kau harus siap kapanpun itu, Ashera.'


Dengan berakhirnya pembicaraan mereka berdua, Arvin pun akhirnya langsung mengeksekusi Ashera saat itu juga.


CUP...


Arvin memberikannya ciuman di bibir, tapi melihat Ashera bahkan tetap bergeming di tempatnya, Arvin pun memberikan salam sapanya lagi.


CUP....


"Hei, apa kau tidak bisa berciuman?" tegur Arvin.


"Aku memang tidak bisa berciuman, kenapa kau marah terus kepadaku sih?!" protes Ashera dengan air mata sudah lebih dulu membasahi sudut matanya.


Terpegun dengan jawabannya, Arvin pun tanpa sungkan lagi langsung merampas bibir itu lagi, lagi dan lagi.


CUP...


"Umphh...! Sudah! Aku tidak bisa bernafas!" jerit Ashera, seraya mendorong tubuh Arvin agar menjauh dari hadapannya, saking tidak kuasa menahan nafas, gara-gara tindakan Arvin yang begitu ganas.


"Ini bahkan baru permulaan, kenapa kau tidak bisa sih? Jangan menahan nafasnya dong, sini aku ajarkan lagi." tegas Arvin, meraih wajah Ashera, dan langsung menyambar bibir itu lagi.


CUP...


Tapi seperti biasa, tidak alam setelah itu, Ashera pun menjerit.


"Hahh! Berhenti! Aku tidakmphh..!" Ashera yang lagi-lagi tidak kuat itu, menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera meninju dada bidang Arvin.


"Phuahh! Hahh..hah...hah, ya ampun, kau ini, kau itu perempuan, masa tidak bisa ciuman sama sekali? Apa kau tidak pernah nonton drama orang berciuman?" racau Arvin.


Tidak berhenti di situ saja, sebelum Ashera angkat bicara, Arvin kembali memulainya.


"Hummphh!" ronta Ashera dengan suara dan nafas yang sudah tidak beraturan lagi. "Arvin! Sudah, aku ingin bernafamphh....!"


____________


Karena kamar itu benar-benar di lengkapi dengan peredam suara yang sangat bagus, bahkan Daseon yang sedang menyiapkan sarapan pun tidak bisa mendengar suara teriakan yang di lakukan oleh Ashera.


"Apa mereka berdua sudah bangun?" lirik Daseon pada satu kamar dengan pintu yang cukup besar, mewah tapi tetap menampilkan kesan yang elegan.


CESSS.....


Daging sapi yang sudah di potong dan di beri bumbu itu pun di letakkan di atas wajan, sambil mendengar musik yang di putar oleh sistem dari rumah pintar itu, Daseon pun sama sekali tidak mengetahui apapun yang sedang di lakukan oleh dua orang yang berada di kamar utama, selain mendengar masakan miliknya.

__ADS_1


__ADS_2