Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
32 : Pendek jadi panjang


__ADS_3

"Ngomong-ngomong apa kau bisa membersihkannya sekarang?" Arvin melirik kearah piring yang sudah jatuh dan berserakan di lantai.


Meskipun kali ini suara Arvin tidak setegas tadi malam, tetap saja, anak ini terus memberikannya perintah kepada Ashera.


"Kira-kira, piringnya harganya berapa ya?"


"Memangnya kau bisa menggantinya?" Tanya lagi Arvin, dan menyuapi mulutnya dengan satu suapan dari makanan yang cukup enak itu. 'Lumayan, terlepas dia yang jelek, hasil masakannya tidak sejelek wajahnya. Tapi tetap saja, aku harus merahasiakan dia dari orang-orang kalau aku sudah punya Istri.


Oh ya, kira-kira apa yang akan aku lakukan dengannya ya? Selama masa skors nya itu' Dan Arvin pun kembali makan. "Satu piring harganya dua ratus ribu sih, tapi karena itu piring favoritku, harganya jadi naik jadi lima ratus ribu lagi.'


Berkerut-kerut dahi Ashera mendengar kalau harga piringnya semahal itu, bahkan harga lima ratus ribu saja bisa untuk membeli piring biasa lebih dari sepuluh lusin.


"Akan aku ganti," Jawab Ashera. Dia tidak mau berdebat lagi, bahkan bicara lebih banyak pun, rasanya sudah enggan, karena kepalanya yang sedang sakit itu, menuntut untuk lebih baik diam saja, walaupun dirinya akan mendapatkan kerugian yang tidak pasti, gara-gara piring 500 ribu.


Arvin mengerjapkan matanya, melihat Ashera tidak punya protes atau penolakan seperti membentaknya atau apapun itu seperti yang pernah di lakukan Ashera pertama kali, bahkan sampai menggunakan bahasa informal kepadanya.


"Kau yakin? Bisa membayarnya?"


"Kan anda bilang sendiri, saya punya gaji besar di kediaman Nyonya besar," Tanpa memperdulikan apapun ekspresi wajah yang sedang di perlihatkan oleh Arvin kepadanya.


"Apa kau sedang menyombongkan diri, sampai mengungkitnya di depanku? Heeh, ternyata kau punya mulut dan otak yang luar biasa ya?"


Ashera sebenarnya sudah merasa jengkel, karena ucapannya jadi terasa di putar-putar terus oleh Arvin, padahal sudah jelas, yang lebih dulu mengatakan kalau Ashera punya uang banyak adalah Arvin itu sendiri.


'Aku ingin sekali bisa memukul kepala dan mulutnya itu. Tapi jika aku melakukannya, aku juga yang rugi.' Tentu saja, dirinya tahu konsekuensinya.


Biarkanlah konsekuensi harga dirinya sebagai seorang perawan sudah direnggut, tapi tidak dengan kali ini, dia tidak akan melakukan apapun untuk menyahut ucapannya yang terus saja memancing emosinya, sebab tubuhnya sudah lelah, pikirannya pun sudah tidak kalah lelahnya, apalagi jika memikirkan soal skors yang dirinya dapatkan, serta tuduhan tentang pencurian.


"Hei, kau tidak tuli kan?'


"Tidak."

__ADS_1


"Terus kenapa kau tidak menjawab ucapanku tadi?"


"Memangnya kalau aku bicara, akan ada yang berubah?" Ahsera sibuk untuk memungut pecahan beling piring yang besar dan bisa dia ambil dengan tangan.


"Tidak juga sih, tapi-"


"Ah..!" Ashera langsung melototi ujung jari telunjuknya yang terkena pecahan itu sendiri, ada darah yang sempat mengalir, tapi langsung Ashera seka dengan mengusapnya dengan ujung dari rok yang dia pakai, sebelum dia kembali melanjutkan pekerjaannya itu.


"Ternyata kau bodoh ya? Kenapa harus memungut pecahan piringnya, kan tinggal di sapu."


"Refleks."


"Jika tahu itu refleks, seharusnya jika sudah kena luka, kau itu sadar, jangan menggunakan tanganmu lagi untuk memungut sampah itu." Oceh Arvin, tanpa sadar jadi memberikannya peringatan dalam sudut pandang Arvin sendiri, tapi tidak dengan sudut pandang Ashera yang justru sebenarnya terdengar cukup perhatian.


"Tanggung." Jawab Ashera secara singkat lagi.


"Pantas saja, itulah karena otakmu bodoh, hal seperti itu saja kau lakukan terus, kau memungut piring dengan jari terluka, mau merusak tanganmu itu? Biar kau tidak mau memasak lagi, karena alasan terluka? Begitu?" Dan entah kenapa, Arvin justru jadi terus menyahutnya dengan panjang lebar.


"Tahan bagaimana? Kalau kau menahannya, sama saja dengan kau mencoba untuk menampung luka itu menjadi lebih parah. Atau kau melakukan itu agar aku nantinya jadi merasa bersalah, setelah melihat lukamu tambah parah?" Kata Arvin lagi, terus saja mengoceh, dan mengabaikan makanannya yang tinggal separuh itu, demi menjawab segala jawaban Ashera dengan jawaban lain yang Arvin miliki itu.


"Negatif sekali sih." Gumam Ashera, ia berhasil membuat jawabannya begitu singkat, tapi berhasil Arvin pahami dengan cukup baik.


"Makannya, coba gunakan otakmu, sudah jagan gunakan tanganmu yang sedang luka itu, pakai saja sapu." Tekan Arvin, begitu merasa jengkel dengan perbuatan Ashera yang terlihat tidak menggunakan otak, untuk sekedar membersihkan lantai.


'Pasti di dalam pikirannya aku terus di panggil bodoh, bodoh, dan bodoh.' Tidak suka di berikan ceramah panjang lebar seperti itu, Ashera akhirnya membersihkan dengan cara yang di sarankan oleh Arvin.


____________


Di sekolah.


BRUKK...

__ADS_1


"Akhh! Bagaimana sih kalau jalan ha? Apa matamu di letakkan di belakang kepala?" Marah Lidia kepada seorang junior yang tidak sengaja menabraknya dan membuat minuman yang dibawa oleh orang yang bersangkutan, jadi tumpah dan membasahi sepatunya. "Lihat ini! Sepatuku jadi basah kan?"


"M-maafkan aku, aku akan membersihkannya." Dengan ketakutan, ia mengambil tisu yang ia bawa di saku celana nya, dan mencoba untuk membersihkan sepatu Lidia yang kotor.


"Jangan jongkok, berlutut!" Perintah Lidia kepada laki-laki culun berkacamata persegi tapa bingkai itu, agar kakinya berlutut, sehingga saat kaki kanan Lidia yang basah ingin di bersihkan dengan benar oleh laki-laki tersebut, maka Lidia pun meletakkan kakinya di atas lututnya persis.


"Wah, kelihatannya setelah Lidia masuk ke ruang BP, amarahnya karena kejadian yang kemarin, jadi masih belum reda, sampai anak junior pun kena imbasnya."


"Makannya, jangan buat dekat-dekat dengan Lidia dulu, dia sedang sensitif."


Bisikan demi bisikan, semuanya terus saja membahas apa yang terjadi kemarin antara Lidia dengan Ahsera.


'Jika bukan karena Ashera membalas seranganku, dan membuat kita berdua ribut seperti itu, pasti tidak akan berakhir diruang BP, menyebalkan! Gara-garanya, aku di rumah jadi dimarahi oleh Ayahku.' Teriak Lidia di dalam pikirannya, dia masih tidak puas hati, sebab karena kejadian kemarin, dan Ayah nya juga tahu sebab Lidia jadi di bawa ke guru BK dan mendapatkan ceramah atau apapun itu, tetap saja membuat citranya jadi buruk, Lidia pun jadinya kena omel lagi di rumah.


Ketika banyak yang menonton Lidia sedang membuat adik kelasnya sendiri di permalukan seperti itu, Arvin yang ada di lantai atas, tepatnya di ruftoop sekolah, hanya diam saja sambil mendengarkan gitar yang sedang di mainkan oleh temannya itu.


"Hei Arvin, kenapa kau membantu anak yang kemarin itu?" Tanya temannya Arvin ini, dia adalah Arka, teman masa kecil Arvin waktu enam SD dan kebetulan bisa sampai masuk SMA yang sama juga kelas yang sama.


Makannya, dia pun jadi ikut dalam kelompok seksi keamanan yang di pimpin oleh Arvin ini.


"Jangan bicara ngawur, siapa juga yang membantu anak itu? Aku hanya mengerjakan pekerjaanku, memangnya ada yang salah dengan itu?" Ucap Arvin, dia pun berbalik dan bersandar ke jeruji besi pembatas, dan melihat ke ke atas, langit yang lagi-lagi mendung.


"Eleh, alasannya. Kedengarannya memang masuk akal sih, tapi-" Arka dengan sengaja menggantungkan kalimatnya, dia bertekad ingin mengorek informasi apa yang sebenarnya sedang di sembunyikan oleh Arvin ini. Tapi prosesnya harus ia kerjakan dengan pelan-pelan, karena Arvin ini adalah orang yang cukup waspada. "Kenapa hatiku selalu berkata lain ya? Oh ya, Arvin, bagaimana dengan balapan yang aku tawarkan dua hari yang lalu, kau ikut kan?" Dengan cepat Arka mengubah topik pembicaraannya.


"Tidak."


"Hehh~ kenapa tidak? Padahal tawarannya kan lumayan loh." Rungut Arka, padahal dirinya sudah susah payah mendapatkan informasi mengenai pertandingan balapan motor yang di adakan dua hari yang lalu, tapi apa jawaban dari Arvin ini?


"Aku waktu itu juga punya urusan yang cukup mendadak, jadi aku tidak jadi ikut." Alasan demi alasan Arvin lakukan. Meskipun Arka adalah teman waktu SD nya, tapi karena setiap manusia saja pastinya memiliki satu rahasia, maka Arvin pun sama sekali tidak memberitahu Arka, kalau sebenarnya dirinya ikut balapan motor. Tapi karena dirinya menggunakan identitas berbeda dengan sosok yang masih misterius di depan banyak orang, maka dari itu, Arka pun tidak tahu soal itu.


"Urusan mendadak?" Arka malah jadi penasaran dengan kelanjutan cerita milik Arvin ini. "Memangnya urusan apa?" Imbuhnya, menghentikan tangannya yang tadinya bermain gitar.

__ADS_1


"Pikir saja sendiri! Kenapa juga aku harus memberitahumu." Ketus Arvin, mengacak rambutnya yang tidak gatal, selain sebenarnya ia sedang penasaran dengan apa yang sedang di perbuat oleh Ashera di dalam rumahnya, karena baru kali ini ada orang tinggal di rumah tanpa dirinya. 'Kira-kira dia sedang apa? Semoga saja dia tidak membuat kekacauan seperti terakhir kali.' Pikir Arvin.


__ADS_2