Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
69 : Perpustakaan.


__ADS_3

"Apa kau sedang sok baik di depan banyak orang tadi?" Tanya Arvin.


Karena sekarang secara serentak semua guru sedang menjalankan rapat, dan akhirnya membuat dua jam pelajaran kosong, Ashera menggunakannya untuk mengunjungi perpustakaan.


Dan begitu pula Arvin, dia pun berada di sana lebih dulu, sebelum akhirnya Ashera datang menyusulnya.


"Kenapa kau menganggapnya begitu?" Tanya balik Ashera.


Dia sedang memilih buku yang ingin dia baca. Tapi karena letaknya ada di rak paling atas, dia pun harus menggunakan tangga agar dia bisa mengambilnya. Tapi di satu sisi, Arvin yang menemukan buku di rak bawah tepat di samping tangga yang di gunakan oleh Ahsera, membuat mereka berdua melakukan percakapan singkat.


"Biasanya, seseorang akan memarahinya."


"Jadi termasuk kau, jika aku tidak sengaja menumpahkan makanan sampai menyiram kakimu dengan sup panas, apa kau juga akan marah seperti kakek penyihir?" Ejel Ashera, kembali memancing perdebatan diantara mereka.


"Kakek penyihir ya? Berarti kau nenek penyihir, rambutmu kan ada yang putih." Sindir Arvin balik.


Merasa tersinggung karena mengungkit rambut putih terus, Ashera pun mengeluarkan handphone nya dan meletakkannya di depan buku, membuka kamera, dia pun sedang bercermin untuk menemukan rambut miliknya yang mana ada satu helai yang berwarna putih.


"Hayoo. Kau mau apa? Jika kau mencabutnya, rambut putihmu tambah banyak." Ucap Arvin sambil menggerakkan tangga yang di gunakan oleh Ashera dengan sebuah getaran yang langsung membuat Ashera tidak bisa bercermin dengan benar.


"Apa kau mau membuatku jatuh?!" Lirih Ashera dengan nada penuh dengan penekanan.


Di perpustakaan tidak diperbolehkan untuk berisik, tapi anak laki-laki yang ada di bawahnya itu justru malah mau membuat perkara dengannya.


"Makannya, lebih baik jangan di cabut, kalau di cabut dan tambah banyak, baru tahu rasa loh."

__ADS_1


"Suka-suka aku lah! Mana mungkin rambutku yang putih jadi tambah banyak." Tidak suka di ancam kalau ia akan jadi nenek lebih awal dari pada usianya, hanya karena mencabut satu helai rambut putih yang mengganggu itu.


"Itu bagus untuk gayamu, tidak usah di cabut bocah."


"Bocah? Kau yang bocah, kenapa nyuruh-nyuruh aku ini dan itu dan tidak boleh ini dan itu?!"


"Kau tahu itu? Posisimu itu sekarang apa?" Tanya Arvin, dia menyeringai tiba-tiba merasa bangga karena ada mainan yang bisa dia gunakan sesuka hatinya.


Walaupun dia pun saat ini juga harus waspada pada perempuan di depannya ini, tapi karena Arvin adalah orang yang tidak suka menahan diri untuk melakukan apapun yang ia inginkan itu, ia pun lebih suka menjahili nya saat ini juga. Dan salah satu kejahilan yang bisa ia lakukan adalah dengan membuat perempuan itu turun dari tangga dengan cara menggetarkan tangga tersebut.


"Hei, kau ingin aku jatuh? Jangan getarkan tangganya dong." Dengan wajah paniknya, kedua tangannya Ashera pun langsung mencengkram pegangan kayu dari tangga itu.


"Makannya, jika aku suruh jangan cabut, ya jangan cabut. Ini perintahku dariku bodoh." Tukas Arvin, kembali menuai kontroversi dengan menyebut Ashera bodoh lagi, bodoh lagi.


"Apa kau tidak ada kata-kata lain selain menyebutku bodoh?! Arvin, kau melanggar ketentuan yang pernah kau katakan kepadaku sambil marah-marah saat itu. Apa yang akan kau lakukan dengan tingkahmu yang melanggar ucapanmu sendiri? Hayo.." papar Ashera. Dia sedang mengungkit Arvin yang pernah mengatakan untuk bersikap seperti orang asing, tapi kenyataannya sekarang mereka berdua di samping mereka tengah beradu mulut lagi, Ahsera pun merasa kalau dirinya dan Arvin ini jadi terlihat dekat.


"Eh?!" Ashera yang tiba-tiba saja kehilangan keseimbangan dari pijakan dari tangga tersebut, sontak terkejut dan panik karena ia akan jatuh.


Bukan hanya Ashera, Arvin yang menjadi biang keroknya pun tiba-tiba jadi kaget juga, dan dengan sigap dia pun mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Ashera yang mau jatuh.


Tapi, kenyataan apa yang terjadi pada Ashera, di samping Ashera memang mau jatuh ke belakang, Ashera pun memilih untuk segera melompat ke belakang, dan ...


BRUKKK.....


Dengan posisi berlutut, Ashera berhasil mendarat dengan selamat dengan gaya yang cukup keren. Tapi tidak dengan Arvin yang langsung mematung, karena kedua tangan yang sudah terulur ke depan itu, hanya berhasil menangkap angon kosong saja.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Ashera sambil mendongak ke atas, melihat ekspresi wajah Arvin yang terlihat terkejut, seperti yang diperlihatkan kemarin ketika ia jatuh dari lantai tiga.


'Dia, mempermainkanku?' Karena geram mempermalukan dirinya sendiri, memperlihatkan kekhawatirannya melihat Ashera mau jatuh tadi, Arvin langsung berdiri tegak, menarik tangannya kembali sambil mengepalkan tangannya.


"Apa jangan-jangan ka-"


"Arvin, Ashera, apa yang sedang kalian berdua ributkan? Apa kalian tidak membaca aturan paling penting untuk tidak berisik?!" Seorang petugas perpustakaan tiba-tiba datang dan menegur mereka berdua.


"Maaf Bu, tadi saya hampir jatuh, jadi maaf karena membuat berisik." Permintaan maaf pun di lontarkan dari mulutnya Ashera dengan segera. "Kami tidak akan membuat berisik lagi." Imbuhnya.


'Tidak biasanya Arvin dekat dengan Ashera. Ada apa ini? Jadi mencurigakan.' Pikir wanita ini, masih memberikan tatapan menyelidik kepada kedua pemuda di depannya itu. "Apa kau bahkan tidak mau minta maaf seperti yang di lakukan oleh Ashera?" ia menatap ke arah Arvin yang bahkan tidak meminta maaf juga kepadanya.


"Maaf." Singkat, jelas dan padat.


Karena ia tahu siapa Arvin, ia kali ini pun akan memaafkan kelancangan dari anak laki-laki itu karena tidak meminta maaf dengan benar. "Jika kalian berisik lagi, aku akan mengusir kalian dari sini, dan tidak di perbolehkan masuk selama satu minggu. Paham?"


"Paham bu." All.


"Jaga sikap, dan tenang." Peringatnya lagi dengan tatapan sengit, lalu ia pun pergi dari sana.


"Ashera? Arvin? Mereka berdua ada disini? Kenapa kedengarannya sedang berduaan?"


Sebab ada beberapa yang mendengar teguran itu di tunjukkan untuk Ashera dan Arvin, mereka pun sempat mencoba mencari tahu dengan menghampiri long rak lemari yang tadi di singgahi Arvin dan Ashera, hingga ketika mereka berdua sampai di tempat kejadian perkara tadi, mereka sama sekali tidak melihat dua orang tersebut, sebab Arvin dan Ashera diam-diam sudah pergi dari sana.


"Gara-gara kau sih!"

__ADS_1


"itu kan juga gara-gara kau sendiri?!"


Mereka berdua pun kembali berdebat dengan kode tatapan mata mereka, sampai mereka memutuskan untuk meminjam buku dan segera pergi dari sana saat itu juga.


__ADS_2